Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
215. Kemarahan Sang Dukun


__ADS_3

Yori tiba di rumah sang dukun saat tengah malam. Yori mengerutkan keningnya karena terkejut melihat suasana di rumah sang dukun yang sangat ramai malam itu.


Dengan sabar Yori duduk menunggu di kursi seperti yang lain. Tapi Yori sengaja duduk agak jauh karena tak nyaman saat ditanyai pasien lainnya yang ada di depan rumah sang dukun. Kegelisahan nampak di wajah Yori. Ia khawatir jika tuyul peliharaannya terlanjur dibawa pergi jauh oleh seseorang.


Saat tiba gilirannya, Yori pun bergegas masuk ke dalam rumah sang dukun. Sang dukun yang sedang menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata itu pun nampak terkejut melihat Yori yang masuk tanpa permisi.


“ Ada apa, kenapa masuk sebelum kupanggil...?” tanya sang dukun dengan mimik tak suka.


“ Maaf Mbah. Tapi ini darurat Mbah...,” sahut Yori tak enak hati.


“ Semua yang datang ke sini juga dalam keadaan terdesak alias darurat...,” kata sang dukun sambil melengos.


“ Iya Saya tau. Tapi Saya ga sabar lagi Mbah...,” sahut Yori.


“ Katakan apa masalahmu...?” tanya sang dukun pura-pura tak tahu..


Sebelum menjawab Yori sempat menoleh ke kanan dan ke kiri seolah khawatir jika pembicaraannya didengar oleh orang lain.


“ Tuyul yang Mbah kasih ke Saya dulu hilang Mbah...,” kata Yori.


“ Hilang, kok bisa...?” tanya sang dukun.


“ Saya ga tau Mbah, Saya juga bingung. Saya udah nyari kemana-mana tapi ga ketemu. Saya khawatir dia diculik orang atau...,” ucapan Yori terputus saat sang dukun menggebrak meja dengan keras hingga beberapa benda di atas meja pun terjatuh ke lantai.


“ Dasar ceroboh, bodoh. Apa aja yang Kamu lakukan sampe mereka bisa hilang. Kau tau, Aku harus bekerja keras mendapatkan mereka. Sekarang seenaknya aja Kau datang dan bilang kalo mereka hilang...!” kata sang dukun lantang.


“ Maaf Mbah. Saya ga tau kemana lagi mencarinya, makanya Saya datang ke sini...,” sahut Yori dengan


suara bergetar.


“ Diam. Sekarang bilang dimana terakhir kali Kau melepaskan mereka...,” kata sang dukun.


“ Pagi tadi abis ngasih uang ke Saya mereka main Mbah. Biasanya main di sekitar rumah aja. Kan Saya udah


nyiapin arena bermain di samping rumah khusus untuk mereka. Tapi sampe Maghrib kok mereka ga keliatan, terus Saya nyari di sekitar perumahan tapi ga ada Mbah...,” sahut Yori sambil menundukkan kepalanya.


“ Mungkin di sekitar rumahmu ada yang punya bayi...,” kata sang dukun.

__ADS_1


“ Iya Mbah. Tapi maaf, apa hubungannya sama tuyul ya Mbah...?” tanya Yori tak mengerti.


“ Karena biasanya orang yang punya bayi kan menyediakan banyak mainan untuk bayinya dan itu bisa menarik perhatian mereka...,” sahut sang dukun.


“ Oh itu. Saya juga curiga sama rumah orang yang punya bayi itu Mbah. Saya ngerasa kalo tuyul itu sempat datang ke sana, tapi Saya ga liat apa pun di sana...,” sahut Yori.


Sang dukun menatap Yori sejenak lalu mulai melakukan ritual. Ia membakar kemenyan di atas bokor yang ia letakkan di bawah meja. Aroma pekat kemenyan pun menyeruak di dalam ruangan hingga membuat kepala Yori sedikit pusing. Namun Yori mencoba bertahan dengan menutup hidungnya agar tak menghirup aroma kemenyan terlalu banyak. Setelah sepuluh menit melakukan ritual, sang dukun pun memaki dengan keras.


“ Sia*an\, an*ing\, ban*sa*. Ternyata ada yang coba main-main...!” kata sang dukun lantang sambil meludah ke samping.


Yori bergidik jijik saat melihat sang dukun meludah sembarangan. Namun ia tepis rasa jijiknya itu dan bertanya.


“ Jadi gimana Mbah. Kemana dua tuyul peliharaan Saya itu Mbah...?” tanya Yori hati-hati.


“ Mereka udah pergi, Kamu ga usah nyari lagi, percuma...!” sahut sang dukun ketus.


“ Terus Saya harus gimana Mbah...?” tanya Yori panik.


“ Pulang lah dulu Aku pusing. Nanti Aku siapkan penggantinya...,” sahut sang dukun sambil melambaikan tangannya menyuruh Yori segera keluar dari rumahnya.


Yori pun mengangguk. Setelah meletakkan amplop coklat berisi uang di atas meja, Yori pun bergegas keluar dari rumah sang dukun.


\=====


“ Feeling Aku pemilik dua tuyul itu pasti lagi nyariin Yaz...,” kata Izar membuka percakapan.


“ Itu pasti. Keliatannya dia juga udah tau kalo peliharaannya itu udah kembali ke tempat seharusnya...,” sahut Iyaz.


“ Gimana nasib keluarganya Mas Ramdan itu ya Yaz. Apa Kita ga perlu ke sana untuk ngecek...?” tanya Izar.


“ Kamu betul Zar. Terus terang Aku juga merasa ga nyaman dan khawatir sama keluarga itu. apalagi bayinya. Kasian kan kalo anak sekecil itu harus jadi korban...,” sahut Iyaz.


“ Ya udah minta Cici buat nelephon Mas Pandu dong. Biar Kita datang ke sana ga dadakan, ntar bikin kaget kan ga enak...,” kata Izar.


“ Kamu aja lah yang telephon Cici...,” sahut Iyaz.


“ Ya Allah Iyaz, kaya ga tau aja gimana sikap Cici sama Aku. Belum apa-apa aja udah ngomel apalagi kalo sampe nyinggung soal gebetannya itu. Ogah ah, Kamu aja...,” sahut Izar dengan mata membulat.

__ADS_1


Iyaz tertawa geli melihat reaksi Izar saat ia meminta menghubungi Hanako. Sambil tertawa Iyaz segera mendial nomor ponsel Hanako dan tersambung.


“ Assalamualaikum Yaz, kebetulan Kamu telephon...,” kata Hanako.


“ Wa alaikumsalam. Kebetulan kenapa Ci...?” tanya Iyaz tak mengerti.


“ Mas Pandu bilang Kita diundang acara aqiqahan anaknya Pita besok siang. Pita juga udah ngabarin Aku sih. Gimana, Kalian bisa datang kan besok...?” tanya Hanako.


“ Insya Allah bisa Ci. Besok aku jemput Kamu sekalian ya...,” sahut Iyaz.


“ Ok...,” sahut Hanako lalu mengakhiri percakapan mereka.


“ Ada apaan besok Yaz...?” tanya Izar tak sabar.


“ Mbak Pita ngundang Kita buat hadir di acara aqiqahan Anaknya besok siang. Bukannya kebetulan banget ya Zar...,” sahut Iyaz.


“ Ga ada yang kebetulan Yaz. Semua kan udah diatur sama Allah...,” kata Izar bijak.


Mendengar ucapan kembarannya yang bijaksana itu membuat Iyaz mengangguk membenarkan. Kemudian Erik masuk dan melihat kedua cucunya sedang bicara serius. Setelah membicarakan beberapa hal mengenai posisi dan tugas mereka nanti di perusahaan sang opa, Iyaz dan Izar pun pamit undur diri.


Sementara itu di waktu yang sama tampak Yori sedang berhadapan dengan sang dukun yang memberikan bungkusan kecil kepadanya.


“ Ini apa Mbah...?” tanya Yori.


“ Letakkan itu di rumah orang yang Kau curigai telah melenyapkan peliharaanmu itu...,” sahut sang dukun.


“ Untuk apa Mbah...?” tanya Yori.


“ Tentu saja untuk balas dendam. Aku kehilangan prajuritku, maka mereka juga harus terima akibatnya...!” sahut sang dukun marah.


“ Terus Saya dapat apa Mbah...?” tanya Yori yang merasa pendapatannya menurun drastis sejak kedua tuyul itu hilang.


“ Kau akan dapat hadiah, tunggu saja di rumah...,” sahut sang dukun sambil tersenyum penuh makna.


“ Baik, makasih Mbah...,” sahut Yori dengan wajah berbinar lalu keluar dari rumah sang dukun dengan langkah cepat.


“ Kau pikir hadiah apa yang akan Kau terima setelah membiarkan dua prajuritku itu mati Yori. Nikmati saja hari-hari terakhirmu di dunia ini selagi bisa. Karena setelah ini mautmu akan tiba dengan cara yang lebih kejam. Cara yang tak akan pernah Kau bayangkan meski pun hanya dalam mimpi...,” gumam sang dukun lalu tertawa keras.

__ADS_1


Ternyata sang dukun menyimpan amarah dan dendam pada Yori karena telah lalai menjaga kedua tuyul itu. Dan kini dia bermaksud melenyapkan Yori setelah memanfaatkan tenaganya terlebih dulu.


\=====


__ADS_2