
Mikaila meraba dua orang di hadapannya dengan hati-hati kemudian tersenyum.
“ Ini Ibu, dan ini pasti Mama Inna...,” kata Mikaila sambil tersenyum saat jari mungilnya berhasil meraba wajah Iffa dan Inna bergantian.
“ Pinterrr...,” sahut Iffa sambil memeluk Mikaila dengan gemas hingga membuat Mikaila tertawa senang.
“ Sekarang apa yang Kamu rasain Mika...?” tanya Inna.
“ Sakit...,” sahut Mikaila cepat.
“ Sakit, apanya...?” tanya Inna penasaran.
“ Mata Aku Mama...,” sahut Mikaila sambil tersenyum.
“ Oh kalo itu Mama juga tau. Kan Mika abis operasi mata. Maksud Mama bagian yang lain sakit ga...?” tanya Inna.
“ Ga ada, cumaaa...,” ucapan Mikaila terhenti saat sekelabat bayangan hitam melintas di depannya hingga membuat Mikaila menahan nafas karena takut.
“ Cuma apa...?” tanya Inna.
“ Ibu, Mama, apa hantu itu nyeremin ya...?” tanya Mikaila tiba-tiba hingga mengejutkan Iffa dan Inna.
“ Kok Kamu nanya gitu. Emangnya Kamu tau gimana bentuk hantu...?” tanya Iffa.
“ Hantu itu mirip manusia juga kan Ibu. Punya badan, tangan, kaki, kepala, wajah. Iya kan...?” tanya Mikaila ragu.
“ Iya, tapi ga semuanya. Kadang sebagian diantara mereka juga punya sesuatu yang lebih atau kurang hingga disebut nyeremin...,” sahut Iffa sambil menggaruk kepalanya karena bingung bagaimana mendeskripsikan wujud hantu pada Mikaila yang baru ‘akan melihat’ dunia itu.
“ Kalo gitu yang barusan lewat itu hantu dong Bu...,” kata Mikaila dengan suara bergetar sambil mengulurkan tangannya untuk mencari pegangan.
Wajah Mikaila terlihat ketakutan dan itu membuat Iffa dan Inna panik. Keduanya saling menatap sambil tangannya menyambut tangan Mikaila yang terulur.
“ Harusnya Kamu jangan nakutin Mika dong Fa, kasian kan dia jadi ketakutan kaya gini...,” kata Inna kesal.
“ Aku ga nakutin Kak, Aku aja bingung kenapa Mika nanya kaya gitu tadi...,” sahut Iffa membela diri.
Tak lama kemudian Mikaila mulai meracau. Ia menyebutkan kata hantu berkali-kali sambil menunjuk ke sembarang arah hingga membuat Iffa dan Inna makin panik.
“ Di sana ada hantu Bu, di sana juga ada hantu, di situ juga...!” kata Mikaila hingga membingungkan Iffa dan Inna.
“ Tapi ga ada apa-apa di sana Mika, Kamu salah liat kali. Lagian kan perban di matamu belum dibuka, masa udah ngeliat yang aneh-aneh sih...?” tanya Iffa tak mengerti.
“ Takuutt... Bu, takuutt. Dia mau deketin Aku Bu. Suruh dia pergi Bu, aku ga mau deket-deket...,” kata Mikaila sambil menangis.
Khawatir jika air mata bisa membuat luka Mikaila terbuka, Inna pun keluar untuk mencari bantuan sedangkan Iffa
__ADS_1
tetap menemani Mikaila sambil berusaha menenangkannya. Perawat yang datang pun nampak terkejut dan khawatir melihat ada darah yang mengalir dari sela perban yang menutupi mata Mikaila.
“ Tunggu sebentar ya Bu, Saya lapor sama dokter dulu...,” kata sang perawat lalu bergegas melapor pada dokter yang menangani operasi mata Mikaila tadi.
Tak lama kemudian perawat itu kembali dan membawa Mikaila keluar menuju ruang operasi. Dan saat itu lah Mikaila berpapasan dengan Hanako yang juga tengah menuju ruang bersalin.
\=====
Mikaila sedang tertidur pulas usai lelah menangis. Iffa dan dokter yang mennagani operasi mata Mikaila pun nampak duduk sambil memperhatikan Mikaila.
“ Jadi apa yang dilihat Mikaila itu ada hubungannya sama apa yeng pernah dilihat sama si pendonor mata itu dok...?” tanya Iffa.
“ Hal seperti itu bisa aja terjadi Bu. Hanya Saya heran, kan perban di mata Mikaila belum dibuka bagaimana bisa dia melihat sesuatu apalagi hantu...,” sahut sang dokter.
“ Sebenarnya selama ini Mikaila itu juga punya teman khayalan dok...,” kata Iffa hati-hati.
“ Teman khayalan, maksudnya gimana ya Bu Iffa...?” tanya sang dokter tak mengerti.
“ Teman khayalan yang dianggapnya ada dan nemenin dia tiap saat dok. Saya sering kok ngeliat Mika lagi ngomong dan tertawa sendiri seolah lagi ngobrol sama seseorang. Kalo Saya tanya, Mika selalu bilang lagi ngobrol sama temannya itu. Mika juga ngenalin Saya sama temannya itu. Saya pikir itu wajar karena Mika kan ga punya teman makanya dia jadi berhalusinasi saking pengennya punya teman...,” sahut Iffa sedih.
“ Apa Bu Iffa ga takut...?” tanya sang dokter.
“ Awalnya takut lah dok. Tapi menurut Saya teman khayalannya si Mika itu lumayan baik. Dia selalu mensuport
Mikaila supaya mau minum obat, mau belajar, mau keluar rumah dan banyak lagi hal positif lainnya. Jadi Saya ga keberatan Mika berteman sama teman khayalannya itu...,” sahut Iffa.
“ Satu dok...,” sahut Iffa mantap.
“ Kalo teman khayalannya cuma satu kenapa dia bilang ngeliat banyak penampakan hantu di kamar rawat inapnya tadi...?” tanya sang dokter bingung.
“ Kalo itu Saya juga ga tau dok...,” sahut Iffa.
Kemudian Iffa dan sang dokter nampak menatap kearah Mikaila sambil mengamati perubahan wajahnya.
“ Kalo kaya gini Kita perlu bantuan seseorang yang paham sama hal ghaib Bu...,” kata sang dokter.
“ Tapi Saya ga punya kenalan orang yang ngerti hal ghaib dok...,” sahut Iffa gusar.
“ Kita bisa cari pelan-pelan nanti. Yang penting Mikaila bisa melihat dulu ya Bu...,” kata sang dokter.
“ Baik dok...,” sahut Iffa sambil mengangguk.
\=====
Empat tahun yang lalu.
__ADS_1
Mikaila sedang bermain di teras rumah seorang diri saat suara seorang anak perempuan yang Mikaila yakini seusia dengannya datang dan menyapanya.
“ Lagi main apa Mika...?” tanya suara itu hingga mengejutkan Mikaila.
“ Main rumah-rumahan. Kamu siapa, kok tau namaku...?” tanya Mikaila.
“ Aku, namaku Burna. Aku sering ngeliat Kamu main sendiri di sini...,” sahut gadis cilik itu.
“ Burna. Kamu pasti anak perempuan kan, berapa umurmu...?” tanya Mikaila.
“ Sama kaya Kamu. Aku enam tahun sekarang...,” sahut Burna sambil tersenyum.
“ Oh ya. Kamu tinggal dimana...?” tanya Mikaila.
“ Di sekitar sini. Apa Aku boleh main sama Kamu Mikaila...?” tanya Burna penuh harap.
“ Tentu saja. Sini, sini. Kamu duduk di sini ya...,” ajak Mikaila sambil mengulurkan tangannya seolah mencari sosok Burna.
Mikaila nampak mengerutkan keningnya karena tak bisa menjangkau Burna. Mikaila tak putus asa. Ia kembali mengulurkan tangannya, dan kali ini sambil berdiri. Lagi-lagi Mikaila tak berhasil menyentuh Burna dan itu membuat Mikaila kecewa.
“ Ternyata Kamu sama aja kaya yang lain Burna. Datang hanya untuk mengejek Aku. Buktinya Kamu pergi begitu aja setelah menyapaku tadi...,” kata Mikaila lirih dengan mata berkaca-kaca.
“ Aku masih di sini Mikaila. Aku ada di depanmu kok...,” kata Burna tiba-tiba hingga membuat Mikaila terkejut bukan kepalang.
“ Kalo Kamu masih di sini kenapa Aku ga bisa nyentuh Kamu Burna...?” tanya Mikaila tak mengerti.
Burna tertawa geli hingga membuat Mikaila bingung. Namun sesaat kemudian Burna menghentikan tawanya lalu berbisik di telinga Mikaila.
“ Ga semua orang bisa dan mau disentuh Mika. Dan Aku salah satu diantaranya. Biar aja tetap begini yang penting Aku akan selalu menemanimu setiap waktu, kapan pun dan dimana pun...,” kata Burna.
“ Kapan pun dan dimana pun...?” ulang Mikaila.
“ Iya...,” sahut Burna cepat.
“ Kalo gitu mirip hantu dong...,” kata Mikaila hingga mengejutkan Burna.
“ Emang Kamu tau gimana wujudnya hantu, kan Kamu ga bisa ngeliat...?” tanya Burna.
“ Kata Ibuku dan Mamaku, hantu itu ada dimana-mana. Ga peduli di tempat ramai atau sepi, tempat lama atau baru, malam atau siang, terang atau gelap. Pokoknya hantu bisa ada dimana-mana deh. Gitu Burna...,” sahut Mikaila dengan mimik lucu.
“ Oh kalo gitu terserah Kamu deh mau nganggap Aku apa. Yang penting Kita temenan ya sekarang...,” kata Burna.
“ Ok...,” sahut Mikaila sambil tersenyum manis.
Dan sejak saat itu Mikaila berteman dengan Burna. Sosok yang tak pernah dijumpai Iffa atau pun Inna selama mereka tinggal di rumah itu.
__ADS_1
Bersambung