Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
71. Ada Yang Ngikutin


__ADS_3

Neta duduk di koridor kelas sambil memperhatikan ayahnya yang sedang melatih para santri. Ia merasa sedikit kurang nyaman karena sedang mendapat tamu bulanan. Awalnya Neta ingin tinggal di rumah untuk istirahat. Tapi saat mengetahui jika di rumah ia hanya sendiri, Neta memilih ikut ayahnya mengajar di pesantren.


Neta bukan gadis yang penakut apalagi ia menguasai ilmu bela diri. Baginya menghadapi orang yang punya niat jahat seperti pencuri adalah hal yang mudah.Namun ada hal lain yang membuat Neta takut jika sendirian.


Belakangan Neta merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Meski pun bukan hal besar tapi itu sangat mengganggunya. Bahkan sesuatu itu mengikutinya hingga ke kamar mandi dan saat Neta melakukan aktifitas pribadi. Neta ingin mengatakan perasaannya itu namun ia tak tahu bagaimana caranya. Ia khawatir jika orang tak percaya dengan apa yang ia ceritakan nanti.


Neta mengerutkan keningnya saat merasa sakit yang tak biasa pada perutnya. Ia bahkan mengusap-usap perutnya


untuk meredakan rasa sakit yang tak biasa itu. Bayan yang tahu jika putrinya sedang kurang sehat pun menghampiri Neta.


“ Kamu gapapa Nak. Apa terasa sakit banget...?” tanya Bayan cemas.


“ Gapapa kok Yah, sebentar lagi juga hilang sakitnya...,” sahut Neta sambil meringis.


“ Apa ga perlu ke klinik...?” tanya Bayan.


“ Ga usah Yah...,” sahut Neta lagi.


“ Sebaiknya Kamu ke klinik pesantren di depan sana. Minta obat pereda nyeri ya biar Kamu ga kesakitan kaya gitu.


Terus istirahat dan tunggu Ayah di sana...,” saran Bayan setengah memaksa.


Dengan berat hati Neta menuruti perintah sang ayah. Saat berdiri dari posisi duduknya, tiba-tiba tubuh Neta limbung dan hampir terjatuh. Bayan berhasil menangkap tubuh anaknya itu lalu menggendongnya. Para santri nampak menatap Bayan yang melangkah cepat menuju klinik sambil menggendong Neta.


“ Kenapa si Neta, kayanya lagi sakit ya...?” tanya Saeful.


“ Iya. Kasian sampe hampir jatuh tadi...,” sahut Mirza.


“ Mudah-mudahan sakitnya ga parah...,” kata santri lainnya.


Iyaz dan Izar nampak terdiam mendengar ucapan teman-temannya itu. Sesungguhnya Iyaz dan Izar melihat ada sesuatu yang tak wajar pada Neta sejak kedatangannya tadi. Mereka memilih diam karena tak ingin dicap sok tahu. Namun saat melihat Neta dibawa ke klinik, Iyaz dan Izar tergerak untuk membantu.


\=====


Latihan baru saja usai dan Bayan bergegas melangkah menuju ke klinik untuk melihat kondisi Neta. Wajahnya terlihat cemas karena ia merasa apa yang dialami Neta berbeda dari biasanya. Saat Bayan masuk ke dalam klinik, ia melihat Neta tengah tertidur akibat pengaruh obat pereda nyeri yang diminumnya tadi.


“ Bagaimana keadaannya dok, apa masih kesakitan...?” tanya Bayan.

__ADS_1


“ Alhamdulillah Neta bisa tidur setelah minum obat Pak...,” sahut dokter Maya.


“ Tapi apa yang bikin dia lemas kaya gitu...?” tanya Bayan.


“ Saudari Neta sedang datang bulan Pak. Karena mengeluarkan darah yang agak lebih banyak dari biasanya membuat Neta lemas. Apalagi keliatannya Neta kurang tidur. Jadi kondisi tubuhnya langsung drop...,” sahut dokter Maya.


“ Kira-kira berapa lama lagi dia tidur...?” tanya Bayan lagi.


“ Mungkin sejam lagi. Saran Saya, jangan bangunkan Neta sampe dia sendiri yang ingin bangun...,” kata dokter Maya.


“ Baik, makasih dok...,” kata Bayan.


“ Sama-sama. Saya permisi dulu Pak...,” sahut dokter Maya sambil berlalu.


Bayan pun menatap Neta dengan gusar. Ia yakin jika telah terjadi sesuatu yang tak wajar pada anaknya itu. Kemudian Bayan memutuskan keluar dari klinik untuk memberi kesempatan Neta istirahat. Ia melangkah ke taman di depan klinik lalu duduk menunggu di sana. Sesekali Bayan menatap langit malam yang dihiasi bintang sambil menghela nafas panjang.


Tiba-tiba Bayan tersentak kaget dan langsung bersikap siaga saat melihat sekelebat bayangan di samping klinik.


“ Siapa di sana...?!” tanya Bayan lantang.


“ Ini Kami Sabeum, Iyaz dan Izar...,” sahut Iyaz dengan suara lirih.


“ Sssttt..., Kami sembunyi dari teman-teman. Kami ga mau mereka ngira Kami lagi pedekate sama Neta. Padahal Kami ke sini mau bantuin Neta...,” sahut Iyaz.


“ Bantuin Neta, maksudnya gimana ya. Emang Kalian tau Neta sakit apa...?” tanya Bayan.


“ Ada sesuatu yang ngikutin Neta...,” sahut Izar.


“ Sesuatu itu apa...?” tanya Bayan tak mengerti.


“ Apa Sabeum percaya kalo Saya bilang ada makhluk halus yang ngikutin dan gangguin Neta...?” tanya Izar hati-hati.


Bayan nampak terkejut namun berusaha tenang. Ia tersenyum kemudian menepuk kursi kosong di sampingnya pertanda ia meminta Iyaz dan Izar duduk bersamanya.


Iyaz dan Izar mendekati Bayan kemudian duduk dan mulai menjelaskan apa yang mereka lihat tadi. Bayan nampak medengarkan dengan seksama uraian kedua anak kembar di hadapannya itu. Setelahnya ia mengangguk pertanda setuju dan memberi ijin pada Iyaz dan Izar untuk membantu anaknya.


“ Yuk Kita liat Neta, siapa tau dia udah bangun sekarang...,” ajak Bayan yang diangguki Iyaz dan Izar.

__ADS_1


Ketiganya masuk ke dalam klinik untuk menjenguk Neta. Saat itu Neta juga baru membuka matanya. Saat mendapati dirinya sendirian di ruangan itu, Neta terlihat panik dan hampir melompat dari tempat tidur.


“ Kamu kenapa Nak...?” tanya Bayan yang berhasil memegang tubuh Neta yang hampir tersungkur jatuh itu.


“ Kenapa Ayah tinggalin Aku sendirian di sini, Aku takut Yah...,” sahut Neta.


“ Takut apa. Di sini kan terang dan Kamu ga sendirian.  Ayah nemenin Kamu kok, yah walau pun nunggunya di taman itu. Kamu masih bisa liat juga kan dari jendela...,” kata Bayan sambil tersenyum.


“ Tapi Aku ga mau sendirian Yah...,” kata Neta lagi.


“ Iya, iya maaf. Udah jangan ngambek lagi. Kamu ga malu ya diliatin Iyaz sama Izar. Mereka datang buat jenguk Kamu lho...,” hibur Bayan hingga membuat Neta menoleh kearah si kembar.


“ Kalian di sini...?” tanya Neta.


“ Iya. Gimana keadaanmu Net, apa yang Kamu rasain...?” tanya Iyaz.


“ Aku ga sakit kok. Ini hanya sakit bulanan yang biasa dirasain sama cewek...,” sahut Neta malu-malu.


“ Sakit bulanan yang dirasain cewek tuh namanya sakit apa...?” tanya Izar tak mengerti.


“ Ehm, begini Anak-anak. Setiap orang mengalami perubahan fase kehidupan, dari anak-anak menuju remaja sama seperti Kalian juga. Dan masa peralihan itu biasanya disebut puber. Masa pubertas ditandai dengan perubahan bentuk tubuh dan suara pada anak cowok. Ditambah kumis dan jenggot pada sebagian anak. Sedangkan pada anak cewek, masa puber ditandai dengan perubahan bentuk tubuh dan keluarnya darah yang disebut menstruasi. Ini dialami tiap bulan. Dan sebagian cewek ngerasa sakit saat menstruasi begitu juga Neta...,” kata Bayan.


“ Ooo gitu. Tapi sakit yang dialami Neta harusnya ga sesakit ini. Neta begini karena diganggu makhluk halus yang sekarang lagi berdiri di sana...,” kata Izar sambil menunjuk kearah tiang infus yang ada di samping kiri Neta.


Neta terkejut namun Bayan terlihat tenang. Neta beringsut mendekati ayahnya sambil menatap sang ayah dengan wajah ketakutan.


“ Bawa Aku pergi dari sini Ayah...,” pinta Neta dengan suara bergetar.


“ Iya Nak...,” sahut Bayan.


Sesaat kemudian Bayan dan Neta melangkah keluar dari klinik. Sebelum meninggalkan klinik, Bayan menghampiri Iyaz dan Izar.


“ Insya Allah Saya datang ke sini lagi besok dan Kita akan bahas ini ya Anak-anak. Sekarang Saya bawa Neta pulang dulu...,” kata Bayan.


“ Baik Sabeum...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


Bayan pun pergi dengan membonceng Neta yang nampak memeluk sang ayah dengan erat. Setelah mendengar ucapan Izar tadi membuat Neta tambah ketakutan dan tak ingin berada di klinik itu lebih lama.

__ADS_1


\=====


__ADS_2