
Bintang dan Hanako masih berbincang santai di kafe itu hingga waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Dari kejauhan terdengar suara adzan Zuhur berkumandang. Hanako nampak bergegas meraih tasnya kemudian mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya. Melihat apa yang dilakukan Hanako membuat Bintang mengerutkan keningnya.
“ Apa yang Kamu lakukan...?” tanya Bintang.
“ Membayar makanan dan minuman yang Aku habiskan tadi, apalagi memangnya...?” tanya Hanako sambil menatap Bintang sekilas.
“ Ck, Aku tau. Tapi untuk apa...?” tanya Bintang.
“ Maksudmu...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Aku udah bayar semuanya tadi. Simpan saja uangmu itu...,” kata Bintang sambil mendorong uang milik Hanako agar lebih dekat kearah gadis itu.
“ Aku ga mau berhutang sama orang asing...,” sahut Hanako sambil berdiri dari duduknya dan bersiap pergi.
Mendengar ucapan Hanako membuat Bintang tersenyum. Ia makin kagum pada prinsip yang dianut gadis cantik di
hadapannya itu. Biasanya gadis-gadis akan membiarkan lawan jenisnya mentraktir mereka. Karena selain merupakan kebiasaan, hal itu juga bentuk apresiasi kaum wanita pada kaum pria dengan membiarkan para pria menunjukkan sisi dominan mereka sebagai pemimpin. Namun nampaknya hal itu tak berlaku untuk Hanako.
“ Tapi Aku udah terlanjur membayarnya. Mungkin Kau bisa gantian membayariku kopi lain kali...!” kata Bintang lantang mencoba menawar.
Hanako menghentikan langkahnya lalu menoleh. Ia tahu jika urusan akan bertambah panjang jika menolak. Dengan tenang Hanako membalikkan tubuhnya lalu meraih uang miliknya yang tergeletak di atas meja sambil tersenyum.
“ Baik, insya Allah Kita punya kesempatan untuk ketemu dan Aku bisa memenuhi tantanganmu itu...,” kata Hanako.
“ Deal...,” sahut Bintang sambil tersenyum puas.
Hanako lalu memasukkan uang pecahan seratus ribu rupiah itu kembali ke dalam tasnya. Setelahnya ia melangkah cepat kearah pintu diikuti Bintang. Mengira Bintang sedang mengekorinya membuat Hanako tak nyaman.
“ Kenapa masih mengikutiku...?” tanya Hanako tak suka.
“ Aku ga ngikutin Kamu, Aku mau sholat Zuhur di musholla itu...,” sahut Bintang sambil menunjuk musholla yang terletak di samping kanan kafe Matahari.
“ Oh, maaf. Silakan...,” kata Hanako sambil menepi.
Bintang mengangguk lalu bergegas keluar dari kafe dan melangkahkan kakinya menuju musholla. Hanako menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa malu telah mengira Bintang akan mengikutinya tadi.
“ Pede banget sih Kamu Ci. Dia mau sholat bukan mau ngikutin Kamu...,” gumam Hanako sambil tersenyum lalu ikut masuk ke dalam musholla melalui pintu khusus jemaah wanita yang terletak di samping musholla.
__ADS_1
\=====
Hanako pulang ke rumah dengan lesu dan itu membuat Efliya sedikit bingung. Setelah meletakkan tas dan berganti pakaian, Hanako pun menemui sang bunda yang menunggunya di ruang makan.
“ Masak apa Bun, Aku lapar nih...,” kata Hanako.
“ Masak sayur bayam sama pepes ikan mas Kak. Gimana, Kamu mau makan...?” tanya Efliya.
“ Mau dong Bun...,” sahut Hanako cepat sambil duduk di samping Efliya.
Hanako menerima piring yang telah diisi nasi dan lauk pauknya dari tangan sang Bunda. Lalu dengan lahap ia menyantap makanan itu hingga membuat Efliya menggelengkan kepalanya. Menyadari tatapan sang bunda yang tak biasa membuat Hanako tersenyum lalu memperlambat tempo makannya.
“ Sorry Bun, abisnya ini enak banget sih...,” kata Hanako dengan mulut penuh.
“ Tapi ga gitu juga dong makannya Kak, ga enak ngeliatnya...,” sahut Efliya.
“ Iya Bun, maaf. Lho, Haikal kemana Bun...?” tanya Hanako.
“ Lagi kerja kelompok sama teman-temannya. Terus gimana interviewmu tadi Kak...?” tanya Efliya sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
“ Payah Bun...,” sahut Hanako cepat.
“ Iya payah. Masa Aku datang ke sana interviewnya udah selesai. Kata securitynya sih Aku telat. Ga tau tuh kenapa...,” sahut Hanako dengan enggan.
“ Tunggu deh, telat gimana sih Kak. Bukannya Kamu berangkat pagi ya tadi. Atau jangan-jangan Kamu nyasar dan ga nemu tempatnya...?” tanya Efliya penasaran.
“ Ga nyasar Bun. Tapi Aku telat aja datangnya. Interviewnya udah selesai setengah jam dari waktu Aku sampe kantor itu...,” sahut Hanako.
“ Kenapa bisa telat...?” tanya Efliya tak mengerti karena Hanako bukan lah type gadis yang tak disiplin soal waktu.
“ Aku tadi mampir beli bahan bakar dulu di SPBU Bun...,” sahut Hanako.
“ Kan udah diisi bareng sama Ayah kemarin...,” kata Efliya.
“ Iya Bun, tapi mendadak bahan bakarnya abis di tengah jalan, terpaksa deh Aku mampir ke SPBU di pinggir jalan untuk beli bensin...,” sahut Hanako sambil menatap Efliya.
“ Terus...?” tanya Efliya penasaran.
__ADS_1
“ Ternyata lagi ada promo di SPBU itu. Semua jenis bahan bakar gratis hari ini, makanya aku seneng banget Bun...,” sahut Hanako mengulur waktu hingga membuat Efliya gemas.
“ Kakak...,” panggil Efliya sambil mencubit pipi Hanako dengan gemas.
“ Awww..., iya Bun. Sabar dong...,” kata Hanako sambil memegangi pipinya yang memerah akibat cubitan sang bunda.
“ Kamu nih kebiasaan ya kalo cerita tuh ga sampe tuntas. Bikin Bunda penasaran plus kesel aja...,” kata Efliya kesal hingga membuat Hanako tertawa lalu melanjutkan ceritanya.
“ Seinget Aku tadi, Aku cuma sebentar kok di SPBU itu Bun. Aku juga sempet ngeliat jam, masih jam setengah sembilan lewat dikit. Nah pas Aku selesai ngisi bensin kan Aku langsung jalan ke kantor tempat Aku mau interview itu. Ga taunya sampe sana udah jam sebelas Bun. Padahal jarak dari SPBU ke kantor itu deket banget ga sampe setengah kilometer lah. Mana mungkin kan jarak sedeket gitu menghabiskan waktu berjam-jam untuk sampe ke sana, apalagi sampe ngabisin waktu dua jam setengah. Mustahil kan Bun...,” kata Hanako berapi-api.
“ Jangan-jangan Kamu masuk ke SPBU hantu Kak...,” kata Efliya sambil bergidik.
“ Kayanya sih gitu Bun. Apalagi Aku juga ketemu orang yang pernah ngalamin nasib sama kaya Aku yang masuk ke SPBU itu Bun...,” sahut Hanako.
“ Oh ya...?” tanya Efliya.
“ Iya Bun. Namanya Bintang. Dia masuk ke SPBU itu beberapa malam yang lalu. Katanya sih saat itu suasana di SPBU terang benderang karena banyak lampu, tapi sepi dan ga ada siapa-siapa di sana. Cuma ada satu karyawan SPBU yang melayani. Padahal biasanya kan justru untuk menghindari kejahatan di malam hari SPBU mengerahkan beberapa security. Tapi anehnya saat itu justru ga ada siapa-siapa. Selain itu suasananya juga mencekam gitu Bun, kaya di kuburan...,” kata Hanako sambil bergidik.
“ Masa sih Kak...?” tanya Efliya sambil ikut bergidik.
“ Iya Bun...,” sahut Hanako mantap.
“ Ya Allah, untungnya Kamu bisa keluar dari tempat itu dengan selamat ya kak...,” kata Efliya sambil memeluk Hanako erat.
“ Iya Bun. Alhamdulillah Allah masih melindungi Aku. Soalnya kata security tempat Aku batal interview tadi, banyak orang yang masuk ke lokasi SPBU itu ga pernah bisa keluar lagi alias tinggal nama aja Bun...,” sahut Hanako.
“ Inna Lillahi wainna ilahi roji’uun..., semoga arwah mereka mendapat tempat yang layak di sisi Allah ya Nak...,” kata Efliya sedih.
“ Aamiin..., iya Bun...,” sahut Hanako.
“ Kayanya Kamu harus ceritain ini sama Ayah dan Papa Kamu Nak...,” kata Efliya.
“ Iya Bun. Aku juga punya rencana mau ngeliat tempat itu lagi bareng Papa sama Opa nanti...,” sahut Hanako yang
diangguki Efliya.
Meski pun Hanako batal mengikuti test masuk menjadi karyawan di salah satu perusahaan di Jakarta, namun dalam hati Efliya bersyukur karena sang anak kembali dalam keadaan selamat dan sehat wal afiat. Efliya pun menatap Hanako sambil tersenyum dan tak henti mengucap hamdalah dalam hati.
__ADS_1
\=====