
Obrolan Iyaz, Izar dan Usep pun terhenti saat adzan Ashar berkumandang. Ketiganya beranjak untuk pergi menunaikan sholat berjamaah di masjid yang terletak seratus meter dari lokasi proyek.
Setelah menunaikan sholat berjamaah di masjid, ketiganya kembali berbincang di teras masjid.
“ Kalo Pak Usep ngerasa faal in love sama Istrinya Pak Usep, terus gimana perasaan Istri Pak Usep selama make cincin batu itu...?” tanya Iyaz penasaran.
Usep sedikit bingung karena tak biasanya Iyaz dan Izar menanyakan hal pribadi seintens ini. Apalagi mereka juga menanyakan istrinya.
“ Apa ada masalah Mas. Kok, tumben nanyain Istri Saya segala...?” tanya Usep curiga.
“ Maaf kalo bikin Pak Usep ga nyaman. Tapi ini ada hubungannya sama batu topaz yang Pak Usep pake sekarang...,” sahut Izar.
Melihat mimik wajah Izar yang serius saat mengatakannya membuat Usep merasa tak nyaman. Ia khawatir jika batu topaz hijau yang dipakainya mengandung kekuatan mistis yang membahayakan diri dan keluarganya.
“ Apa ada sesuatu Mas...?” tanya Usep hati-hati.
“ Iya...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan hingga membuat Usep terkejut.
“ Mmm..., berbahaya ga...?” tanya Usep dengan suara bergetar.
“ Akan jadi berbahaya kalo ga cepet ditangani Pak...,” sahut Iyaz.
“ Ya Allah. Terus Saya harus gimana Mas...?” tanya Usep panik.
“ Boleh Saya liat cincin batunya Pak...?” tanya Izar.
“ Boleh Mas...,” sahut Usep cepat lalu melepas cincin yang dipakainya dan menyerahkannya kepada Izar.
Kemudian Iyaz dan Izar bergantian mengamati cincin itu. mereka menghela nafas panjang sebelum menceritakan kisah kelam batu topaz hijau itu kepada Usep.
“ Jadi begitu ceritanya Pak...,” kata Iyaz.
“ Ya Allah, Saya kok jadi takut beneran nih Mas. Apa jangan-jangan yang bercinta sama Saya semalam bukan Istri
Saya ya...?” tanya Usep.
“ Betul Pak. Itu arwahnya Mayang Jati yang memang sangat mencintai Wasal. Dia mengira Pak Usep sebagai Wasal yang bereinkarnasi...,” sahut Izar.
“ Jadi Saya ML sama setan dong Mas...,” kata Usep nelangsa.
Iyaz dan Izar kembali mengangguk hingga membuat Usep makin panik. Melihat keadaan Usep membuat Iyaz dan Izar iba. Iyaz menepuk punggung Usep dengan lembut untuk menenangkannya.
“ Cincin ini Saya sita dulu untuk dihilangkan pengaruh mistisnya ya Pak...,” kata Izar.
“ Kalo udah selesai Kami kembalikan kok...,” kata Iyaz menambahkan.
__ADS_1
“ Iya Mas. Terus gimana sama cincin Istri Saya Mas...?” tanya Usep.
“ Emangnya Istri Pak Usep diganggu juga...?” tanya Iyaz.
“ Saya ga tau itu gangguan mistis atau bukan. Tapi Istri saya bilang sejak make cincin itu dia selalu merasa kangen
sama Saya Mas. Katanya kangennya itu kaya ga ketahan gitu sampe bikin dia uring-uringan. Saya bilang sih wajar selagi kangen sama Suami sendiri asal bukan Suami orang. Eh, dia malah marah Mas. Saya tau dia emang cemburuan, tapi sekarang malah tambah gawat. Masa Saya harus sering telephon kalo bisa video call segala. Saya kan risih...,” sahut Usep malu-malu.
“ Tapi Pak Usep turutin kan...?” tanya Izar.
“ Ya ga lah Mas. Aneh aja video callan sama Istri yang udah dinikahin lima belas tahun lebih...,” sahut Usep sambil tertawa.
“ Kok aneh...?” tanya Izar tak mengerti karena kedua orangtuanya yang menikah puluhan tahun lebih pun masih melakukan itu hingga detik ini.
“ Aneh lah, norak lagi. Kaya anak ABG aja...,” kata Usep di sela tawanya.
“ Tapi orangtua Saya yang udah nikah hampir tiga puluh tahun aja masih ngelakuin itu Pak...,” kata Izar hingga membuat tawa Usep terhenti.
Usep nampak salah tingkah karena telah menyinggung Iyaz dan Izar. Usep pun berusaha memperbaiki keadaan dengan meralat ucapannya.
“ Saya ga bermaksud ngeledek orangtua Mas Izar dan Mas Iyaz lho ya. Saya emang ga pernah video callan sama Istri Saya. Apalagi Kami bukan type pasangan yang romantis Mas. Keliatannya orangtua Mas Izar adalah orang yang typenya romantis jadi melakukan video call untuk bicara sama pasangannya...,” kata Usep tak enak hati.
Meski pun tak mengerti dengan ucapan Usep, Iyaz dan Izar hanya menganggukkan kepala berpura-pura paham maksud pembicaraan Usep.
“ Kalo Pak Usep ga keberatan, cincin Istrinya Pak Usep juga Kami bawa dulu ya...,” kata Iyaz.
“ Ok, Kami ke sana nanti...,” sahut Iyaz yang diangguki Izar.
“ Serius Mas, hari ini kan...?” tanya Usep.
“ Iya Pak. Sekarang Kita balik ke proyek yuk. Udah hampir jam empat nih...,” kata Izar.
“ Iya Mas...,” sahut Usep antusias.
Kemudian ketiganya pun beranjak dari masjid untuk kembali ke proyek.
\=====
Tinah sedang menyimpan pakaian ke dalam lemari saat suara ketukan pintu terdengar. Tinah menoleh kearah jam dinding di kamarnya dan melihat jam tengah menunjukkan pukul 4.35 sore.
“ Tumben Bang Usep udah pulang jam segini...,” batin Tinah sambil merapikan rambutnya.
Setelahnya Tinah berjalan menuju pintu dan membukanya sambil memasang senyum manis di wajahnya. Namun senyum Tinah memudar karena tak mendapati siapa pun di balik pintu.
“ Siapa sih, iseng aja...,” gerutu Tinah sambil melongok ke kana dan ke kiri rumahnya.
__ADS_1
Karena tak melihat siapa pun, akhirnya Tinah masuk ke dalam sambil mengunci pintu. Tinah memutuskan mandi
sebelum suaminya tiba sore itu. Saat sedang asyik membersihkan diri lagi-lagi Tinah mendengar suara ketukan. Tapi kali ini bukan di pintu rumah melainkan di pintu kamar mandi.
Mengira itu ulah suaminya Tinah pun mengabaikan dan memilih meneruskan mandi. Namun ketukan itu terus terjadi beberapa kali hingga membuat Tinah kesal.
“ Sabar dong Bang, antri. Bebek aja bisa antri masa Kamu ga...!” kata Tinah lantang.
Ucapan Tinah berhasil membuat ketukan itu berhenti. Tak lama kemudian Tinah keluar dari kamar mandi sambil mengusak rambutnya yang basah dengan handuk.
“ Aku udah selesai Bang. Buruan tuh kalo kebelet pipis. Bang Usep, Aku udah selesai nih...!” panggil Tinah.
Tak ada sahutan. Tinah pun melangkah ke ruang tamu. Saat melintas di meja makan ia melihat kopi yang ia
buat masih utuh dan itu artinya suaminya itu belum pulang. Tapi karena penasaran Tinah pun mengecek ke seluruh penjuru rumah termasuk di dalam kamar tapi ia tak menemukan Usep.
“ Siapa yang ngetuk pintu dong. Daritadi denger orang ngetuk pintu tapi ga ada orangnya. Masa iya hantu yang ngetuk pintu...?” gumam Tinah sambil bergidik.
Tak ingin larut dalam dugaannya itu, Tinah pun duduk sambil mengganti channel televisi. Tak lama kemudian Tinah
berdiri lalu melangkah menuju ke kamar untuk menyisir rambut.
Saat itu lah Tinah kembali mendengar suara ketukan pintu. Hanya saja kali ini dibarengi suara wanita yang mengucap salam sambil memanggil namanya.
“ Assalamualaikum Ceu..., Ceu Tinah...,” panggil suara itu.
Tinah bergegas keluar dari kamar. Ia berdiri sejenak sebelum membuka pintu untuk bersiap jika tak ada orang lagi yang akan dijumpainya nanti.
“ Wa alaikumsalam, siapa ya...,” kata Tinah sambil membuka pintu.
“ Saya Ceu, Ulfa...,” sahut Ulfa.
“ Eh Ulfa. Ayo masuk...,” kata Tinah sambil tersenyum.
“ Saya ga sendiri Ceu, Saya ngajak Ratih nih...,” kata Ulfa.
“ Gapapa, ayo masuk Mbak...,” kata Tinah dengan ramah.
“ Makasih Bu. Kebetulan Kami abis beli baso di depan. Kata Ulfa deket sama rumah Bu Tinah, makanya Saya minta
diantar ke sini...,” kata Ratih sambil meletakkan tiga bungkus baso yang dibawanya.
“ Kami mau numpang makan baso di sini Ceu. Nih Kita udah beli tiga bungkus lho...,” kata Ulfa.
“ Iya boleh, sebentar Saya ambilin mangkoknya ya...,” sahut Tinah sambil masuk ke dapur untuk mengambil mangkok.
__ADS_1
Ulfa dan Ratih mengamati ruang tamu itu sambil tersenyum . Meski pun kecil dan tak banyak perabotan, tapi ruangan itu terlihat apik. Tinah keluar dengan membawa mangkok dan sendok. Lalu ketiganya mulai menyantap baso dengan lahap sambil bercerita banyak hal.
\=====