
Setelah mengetahui apa yang terjadi, Iyaz dan Izar melaporkan temuannya kepada Erik. Saat menerima laporan
kedua cucunya itu Erik pun marah. Erik merasa ‘kecolongan’ karena membiarkan Rusdi melakukan tindakan tak beradab itu. Faiq dan Fatur yang dihubungi pun tak kalah terkejutnya dan mereka memutuskan untuk membantu Erik menuntaskan masalah itu.
“ Apa Cici perlu dikasih tau Yah...?” tanya Izar.
“ Ga usah, biar Kita aja. Kasian dia kan baru aja pulang dari bulan madu, mungkin masih lelah...,” sahut Faiq.
“ Baik Yah...,” sahut Izar.
“ Jadi sebaiknya Kita mulai darimana penyelidikannya Bang...?” tanya Fatur sambil menatap Erik yang terlihat masih kesal itu.
“ Gue bingung Tur. Terserah Kalian aja lah darimana mau mulainya...,” sahut Erik sambil memijit pelipisnya.
“ Kalo Papa lelah sebaiknya istirahat aja Pa. Biar Kami yang urus semuanya nanti...,” kata Faiq.
“ Papa gapapa kok Nak...,” sahut Erik sambil tersenyum.
“ Nah ini biodata Pak Rusdi itu Opa...,” kata Iyaz yang sedang duduk di hadapan lap top miliknya.
Semua mata menoleh dan menatap kearah layar lap top. Izar yang paling antusias karena ingin segera menjebloskan Rusdi ke dalam penjara. Tak lama kemudian Heru datang dan ikut bergabung bersama mereka.
“ Maaf telat Pa, biasa si Haikal lagi musuhan sama Bundanya jadi ga mau ditinggal...,” kata Heru sambil mencium punggung tangan Erik dan Fatur bergantian.
“ Berarti sekarang udah baikan dong...,” kata Fatur.
“ Alhamdulillah udah Om. Gimana, ada kasus apa nih...?” tanya Heru.
Iyaz pun menceritakan apa yang terjadi dan apa yang mereka temukan di proyek itu. Juga tentang kejahatan Rusdi yang telah menghilangkan nyawa Jaya dan Boril.
“ Rusdi...?” tanya Heru.
__ADS_1
“ Iya. Apa Kamu kenal dia Nak...?” tanya Erik.
“ Mmm..., Aku juga lagi megang kasus lain yang tersangkanya bernama Rusdi Pa, tapi mungkin Aku salah. Kan nama Rusdi banyak di Indonesia ini...,” sahut Heru.
“ Yang ini orangnya Her...,” kata Faiq sambil menunjuk foto Rusdi yang terpampang di layar lap top Iyaz.
“ Betul Bang. Wah ternyata Kita lagi menyelidiki orang yang sama ya, kebetulan banget. Biasanya kan Lo yang minta kasus lama dibuka untuk menyelidiki sesuatu...,” sahut Heru hingga membuat Faiq tersenyum.
“ Emangnya Rusdi terlibat kasus apaan Her...?” tanya Faiq.
“ Kasus penggelapan dan penculikan Bang. Korbannya juga udah lumayan. Rusdi itu ngambil para pekerja dari kampung atau pelosok untuk dipekerjakan di proyek yang dia handle. Biasanya para pekerja yang kebanyakan berusia muda itu dibayar murah dengan alasan belum berpengalaman. Tapi diantara beberapa pemuda itu ada yang ga kembali ke kampung halaman mereka padahal teman lainnya kembali ke sana dengan selamat meski pun dengan tubuh kurus kering dan uang yang tak seberapa...,” kata Heru.
“ Apa mereka ga nanya nasib para pekerja lainnya Her...?” Tanya Fatur.
“ Pasti nanya dong Om. Dan bisa ditebak kan jawaban Rusdi. Padahal semua pemuda yang pulang ke kampung tau betul jika teman mereka ditahan oleh Rusdi dengan berbagai alasan. Dan Rusdi hanya bilang kalo dia ga tau menahu soal para pemuda yang hilang itu karena dia beralasan sudah membayar gaji mereka semuanya...,” sahut Heru.
“ Mungkin mereka yang hilang itu punya hari lahir yang dicari sama Rusdi yaitu Jum’at Kliwon Opa...,” kata Izar.
“ Jum’at Kliwon...?” tanya Erik.
“ Kurang ajar. Jangan-jangan semua proyek yang dipegang sama dia pake numbalin kepala manusia juga...,” kata Erik panik.
“ Mudah-mudahan ga semua Opa. Kan Opa bilang baru dua tahun ini memakai jasa Rusdi...,” sahut Iyaz mencoba
menenangkan sang opa.
“ Kamu benar, mudah-mudahan ga ada yang lain lagi. Kasian sekali orang yang ditumbalin itu juga keluarga mereka yang menanti di rumah...,” kata Erik sambil menggelengkan kepalanya.
“ Oh iya Opa. Aku dan Iyaz janji mau ngasih bantuan secara finansial kepada keluarga Jaya dan Boril nanti. Apa Opa mau ikutan nyumbang...?” tanya Izar.
“ Boleh Nak. Opa merasa bertanggung jawab dengan kejadian yang menimpa mereka. Semoga Allah mengampuni dosa Kita dan melindungi Kita dari berbagai macam bahaya dimana pun Kita berada...,” kata Erik cepat.
__ADS_1
“ Aamiin...,” sahut semua orang di dalam ruangan itu bersamaan.
\=====
Setelah mengantongi nama Rusdi, Heru dan teamnya pun bergerak cepat. Mereka memburu ke rumah kontrakan Rusdi lalu meringkus anak buah Rusdi yang terlibat dalam kasus penculikan dan penghilangan nyawa para pemuda kampung itu. sedangkan Rusdi berhasil melarikan diri jauh sebelum polisi datang.
Rusdi melarikan diri dengan menggunakan motor menuju ke sebuah wilayah di daerah Bogor. Saat memasuki kawasan dimana ia akan sembunyi, Rusdi mulai memperlambat laju motornya. Rusdi juga sempat mampir di sebuah warung nasi untuk mengisi perut.
Rusdi kembali melanjutkan perjalanan melewati perumahan penduduk. Saat itu menjelang Maghrib sehingga
perkampungan itu terlihat sangat sepi. Rusdi melewati deretan pohon kelapa yang berbaris di sepanjang pinggir jalan dengan tenang sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba sebuah kelapa jatuh dari pohon hingga membuat Rusdi terkejut dan langsung membanting stang motornya ke kanan untuk menghindari kelapa itu.
Rusdi baru akan menghela nafas lega saat berhasil lolos dari buah kelapa itu. Namun Rusdi harus kembali berjibaku menghindari buah kelapa yang berjatuhan dari atas pohon seolah sengaja dilemparkan kearahnya.
Saking banyaknya buah kelapa yang jatuh alias rontok dari pohonnya membuat Rusdi dan motornya jatuh terpelanting ke jalanan hingga menimbulkan suara yang sangat bising. Aneh, meski pun begitu tak ada satu warga pun yang keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Rusdi bangkit dengan sikut dan lutut yang berdarah, sekujur tubuhnya terasa sangat sakit dan itu membuat Rusdi meringis. Saat seperti itu lah Rusdi pun memaki.
“ Dasar kelapa sia*an. Bisa-bisanya rontok di jam segini...!” maki Rusdi sambil menendang salah satu kelapa itu.
Namun Rusdi terkejut bukan kepalang saat kepala yang ditendangnya tadi mengenai batang pohon kelapa dan memantul kembali kearahnya. Dan yang mengejutkan adalah kelapa itu berwujud kepala manusia yang menyeringai dengan wajah hancur berlumur darah dan mulut sobek. Rusdi menjerit sekuat tenaga lalu membalikkan tubuhnya dan lari. Namun langkah Rusdi terhenti karena buah kelapa yang tadi berjatuhan di jalan perlahan mulai menunjukkan gejala aneh.
Butiran buah kelapa itu perlahan melayang setinggi kepala Rusdi lalu bergerak menyerangnya secara bersama-sama. Mereka merubah wujudnya bukan lagi sebagai kelapa melainkan sebagai kepala tanpa tubuh dengan berbagai kondisi yang mengenaskan. Rusdi pun kembali menjerit namun tak seorang pun yang keluar untuk membantunya.
Rusdi terus menjerit dan lari tunggang langgang meninggalkan motornya di jalan desa begitu saja. Sedangkan butiran kepala yang mengelilinginya tadi terus mengikuti kemana pun Rusdi pergi.
Rusdi masih berlari dan baru berhenti saat tiba di pinggir jurang yang terjal. Diterangi cahaya bulan Rusdi bisa melihat keadaan di sekelilingnya. Saat itu lah Rusdi sadar jika ia telah berlari jauh dalam waktu yang lama karena ia ingat betul jika langit masih terang saat ia hampir ‘ketiban’ kelapa tadi.
Nafas Rusdi memburu. Ia sangat takut dan lelah. Di saat itu lah sebuah suara mengejutkannya.
“ Gimana, capek ya Pak...?” tanya sebuah suara yang berasal dari kepala yang melayang di samping Rusdi.
__ADS_1
Rusdi menoleh dan kembali menjerit karena melihat wujud kepala yang hancur dan berlubang dengan darah berbau busuk itu mendekat kearahnya. Sesaat kemudian Rusdi pun jatuh tak sadarkan diri di pinggir jurang itu.
Bersambung