Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
65. Ingatan Hendrik


__ADS_3

Hendrik masih berada di ruang kerjanya dengan perasaan yang sangat galau. Hendrik bahkan mengabaikan suara sekretarisnya yang memberitahu jika ia harus segera menghadiri beberapa pertemuan penting hari ini.


Tok tok tok...


“ Maaf Pak Hendrik, apa Bapak udah siap. Kita ditunggu di kantor pagi ini jam delapan, ada rapat dengan Komnas Perlindungan Anak dan Perempuan...,” kata sekretaris Hendrik.


Tak ada sahutan. Sang sekretaris pun menjauh dari ruang kerja Hendrik lalu duduk menunggu di ruang tamu. Setelah jam delapan terlewati, kembali sang sekretaris mengetuk pintu ruang kerja Hendrik.


“ Maaf Pak Hendrik. Saya hanya mengingatkan jadwal Bapak berikutnya adalah menjenguk korban bencana alam tanah longsor di daerah B. Apa Bapak berkenan hadir...?” tanya sang sekretaris.


Sunyi tak ada jawaban hingga membuat sang sekretaris bingung. Salah seorang asisten rumah tangga Hendrik pun mendekat kearahnya.


“ Mas Jaka, jangan ganggu Bapak dulu. Kayanya Bapak lagi marah karena tadi pagi bertengkar lagi sama Ibu...,” bisik sang asisten rumah tangga.


“ Tapi Saya harus ngingetin Pak Hendrik Bi. Kalo ga, Saya yang disalahin dan dipecat nanti...,” sahut sang sekretaris salah tingkah.


“ Iya, tapi jangan berharap Bapak bakal keluar kamar ya...,” kata sang asisten rumah tangga sambil berlalu.


Jaka hanya menatap kearah pintu dengan tatapan kosong. Ini bukan kali pertama Hendrik bertengkar hebat dengan istrinya. Tapi kali ini nampaknya Hendrik sangat terpukul hingga mengunci diri di dalam ruang kerjanya.


Jaka menjauh dari ruang kerja dan kembali duduk di ruang tamu. Dua jam kemudian Jaka kembali mengetuk pintu untuk memberitahu agenda Hendrik hari ini.


“ Maaf Pak Hendrik. Siang ini Bapak janji akan datang untuk memberikan donasi di sekolah Madrasah Ibtidaiyah di jalan K. Apa Bapak berkenan hadir...?” tanya Jaka hati-hati.


Pintu terbuka dan memperlihatkan wajah Hendrik yang kusut dengan tubuh terhuyung-huyung. Melihat penampilan sang atasan membuat Jaka terkejut. Jaka pun terpaksa menahan nafas karena tak tahan dengan aroma tak sedap yang menguar dari mulut Hendrik akibat minuman keras yang diminumnya tadi.


“ Kenapa selalu menggangguku Jaka. Aku mau istirahat hari ini. Pergi sana...!” kata Hendrik dengan marah.

__ADS_1


“ Baik Pak, maafkan Saya...,” sahut Jaka dengan tubuh gemetar.


Kemudian Jaka bergegas meninggalkan rumah Hendrik. Sedangkan Hendrik membanting pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara berdebum dan mengejutkan semua orang.


Setelah kepergian Jaka, Hendrik pun kembali mengunci pintu kamar. Ia membaringkan tubuhnya di atas single bed yang tersedia di kamar itu. Tatapan matanya menerawang jauh menembus ingatan masa lalu. Ingatan saat Hendrik merasa hasratnya terpuaskan oleh gadis yang merupakan calon istrinya sendiri yaitu Desiree. Hendrik teringat detik-detik saat ia memper**sa Desiree walau gadis itu berulang kali mengatakan jika dirinya masih suci karena tak pernah sekali pun melakukan hal itu dengan Hasman.


Hendrik tersadar jika itu adalah saat terakhir ia bisa menyalurkan libidonya karena setelah itu Hendrik tak pernah bisa menyalurkan hasratnya termasuk pada istrinya sendiri. Hendrik memejamkan matanya yang telah basah dengan air mata.


“ Maafkan Aku Desiree. Maaf karena tak percaya padamu dan membuatmu meninggal...,” rintih Hendrik sambil menangis.


Saat itu Hendrik memang dirasuki rasa marah dan cemburu karena Desiree terus menolak kehadirannya. Apalagi Hendrik mendapat penolakan saat ingin bicara berdua saja dengan Desiree. Melalui pelayan pribadinya Desiree mengatakan bahwa pernikahan mereka akan tetap terlaksana meski pun mereka tak saling mencintai.


Hendrik tak suka mendengarnya. Meski pun mereka menikah karena perjodohan, tapi Hendrik belajar mencintai calon istrinya itu. Sikap Desiree justru membuat Hendrik curiga jika saat ini Desiree tengah mengandung buah cintanya dengan Hasman apalagi tuan Scoot juga memaksa menggelar pernikahan secara tergesa-gesa. Hingga terjadi lah peristiwa tragis itu yang membuat Hendrik menyesal sepanjang sisa hidupnya.


Tiba-tiba udara di ruang kerja Hendrik terasa semakin dingin dan membuat Hendrik menggigil kedinginan. Diantara kesadarannya yang tinggal setengah Hendrik melihat seorang wanita berambut pirang tengah berdiri sambil menatap tajam kearahnya. Hendrik mengenali wanita itu sebagai Desiree karena belasan tahun Hendrik selalu dihantui bayangan wanita itu.


“ Dingiinnn..., dingiinnn, sakiittt...,” rintih hantu Desiree sambil melayang mendekati Hendrik.


Hendrik nampak terpaku sambil menatap nanar kearah hantu Desiree. Ia menggelengkan kepalanya untuk menepis suara rintihan Desiree namun gagal. Seperti malam-malam yang ia lalui penuh ketegangan, hari ini pun Hendrik kembali merasa ketakutan. Jika biasanya Hendrik mengalaminya dalam mimpi, kali ini Hendrik merasa apa yang dialaminya adalah nyata.


“ Pergi...,pergiii...!” kata Hendrik lantang sambil mengibaskan tangannya.


Karena terlalu kuat mengibaskan tangannya, Hendrik pun tersungkur jatuh dengan wajah mencium lantai. Darah segar mengalir keluar dari hidung dan mulutnya. Hendrik berusaha bangkit namun sulit. Rasa pusing akibat mabuk membuatnya tak mampu membantu dirinya sendiri untuk bangkit. Akhirnya Hendrik jatuh pingsan di lantai di ruang kerjanya.


\=====


Berita pengungkapan kembali kasus meninggalnya Desiree membuat keluarga tuan Scoot terkejut sekaligus senang. Mereka berharap bisa mengetahui siapa pembunuh Desiree sebenarnya.

__ADS_1


Istri tuan Scoot tampak menangis di kamar Desiree. Semua barang dan perabotan di kamar Desiree tetap dibiarkan seperti saat terakhir ditempati Desiree, tak ada yang berubah. Hal itu sesuai permintaan istri tuan Scoot yang ingin mengenang anak gadisnya yang mati terbunuh.


“ Sebentar lagi Sayang, sebentar lagi semua akan jelas. Mami selalu menunggu saat penjahat itu tertangkap. Meski pun Siti telah mati, tapi Mami belum puas. Mami ingin orang yang menyakitimu itu bertanggung jawab...,” kata istri tuan Scoot sambil mengusap foto Desiree dengan telapak tangannya.


Tuan Scoot tak mampu berbuat apa-apa saat menyaksikan istrinya bicara pada foto almarhumah Desiree yang ada di kamar itu. Bahkan saking sayangnya pada Desiree, istri tuan Scoot tak mengijinkan siapa pun mencuci baju terakhir yang dikenakan Desiree sebelum menghilang.


Tiba-tiba seorang pelayan mendekati tuan Scoot untuk memberitahu jika ada polisi yang ingin menemuinya. Tuan Scoot meninggalkan istrinya lalu bergegas menemui tamunya itu.


“ Apa ada kabar bagus yang Bapak bawa untuk Saya...?” tanya tuan Scoot antusias.


“ Kami sudah menangkap pelakunya Pak...,” sahut Darta.


“ Aneh, kenapa cepat sekali. Padahal dulu Saya sampe harus mengeluarkan uang banyak agar kasus ini segera terungkap. Apa Kalian yakin telah menangkap orang yang tepat...?” tanya tuan Scoot tak percaya.


“ Insya Allah Kami yakin Pak...,” sahut Darta cepat.


“ Apa Saya mengenalnya...?” tanya tuan Scoot penasaran.


“ Iya, Anda pasti mengenalnya...,” sahut Darta lagi sambil bangkit dari duduknya.


“ Siapa...?” tanya tuan Scoot lagi.


“ Datang lah ke kentor Polisi untuk melihat siapa pelakunya...,” sahut Darta sambil beranjak pergi diikuti rekannya.


“ Baik Aku pasti datang...,” kata tuan Scoot sambil mengepalkan telapak tangannya karena menahan geram membayangkan siapa pembunuh anaknya.


\=====

__ADS_1


__ADS_2