
Bobi yang tahu pangkal masalah yang menyebabkan ketegangan tadi mencoba bersikap dewasa. Ia mengingatkan ketiga temannya untuk membicarakan hal ini sebelum mereka pulang nanti.
“ Ga perlu lah Bang, masalah kecil doang kok...,” kata Wina.
“ Justru masalah kecil kalo dibiarin bisa jadi gede Win. Buktinya tadi, Lo sama Hanako berdebat di depan gudang kan...,” kata Bobi.
“ Gue cuma ga mau Hanako ketakutan terus berhenti kerja kaya yang lain Bang...,” sahut Wina mengemukakan alasan.
“ Tapi Hanako juga punya hak untuk tau Win. Dia kan karyawan sini juga. Ini udah hampir sebulan dia kerja bareng sama Kita dan buktinya dia masih bertahan. Itu artinya dia bukan orang penakut kaya yang lain itu...,” kata Bobi gusar.
Wina terdiam kemudian mengangguk. Wina merasa tak punya alasan lagi untuk menolak.
“ Ok, Gue setuju...,” kata Wina.
“ Bagus. Gue juga udah bilang sama Hanako dan Madani. Mereka juga mau ngobrolin masalah ini ntar...,” kata Bobi sambil berlalu.
\=====
Hanako menghubungi ayahnya dan mengatakan jika ia akan pulang sedikit terlambat malam ini. Heru yang tengah berada di dalam perjalanan pun memutuskan menjemput putri sulungnya itu karena khawatir.
“ Kalo gitu Ayah jemput Kamu, kebetulan Ayah udah di jalan nih...,” kata Heru.
“ Ga usah Yah...,” tolak Hanako.
“ Hanako...,” panggil Heru.
Tubuh Hanako menegang karena tahu panggilan seperti itu hanya digunakan sang ayah jika sedang marah atau saat ia melakukan kesalahan.
“ Ok Yah. Aku masih di dalam toko ya...,” kata Hanako di akhir kalimatnya.
“ Hmmm...,” sahut Heru sambil menutup telephon.
Hanako menatap ponselnya sejenak kemudian menoleh saat Bobi memanggil namanya.
__ADS_1
“ Sini Han, ngobrol di sini aja ya...,” panggil Bobi.
“ Iya Bang...,” sahut Hanako sambil melangkah mendekati Bobi, Madani dan Wina.
Hanako duduk di samping Wina tanpa canggung, sedangkan Wina hanya menundukkan wajahnya seolah menyembunyikan rasa kesalnya karena Hanako melanggar larangannya tadi.
“ Ehm, siapa yang mau ngomong duluan nih...?” tanya Madani membuka percakapan.
“ Lo aja Dan...,” sahut Bobi.
“ Jadi Gue nih yang cerita, kenapa ga Wina aja sih Bob...?” protes Madani.
“ Udah lah Dan, sama aja kan...,” sahut Bobi yang diangguki Hanako.
“ Ok lah. Gini ya Hanako Sayang...,” kata Madani.
“ Stop, ga usah pake bilang Sayang juga dong Bang. Gue ga setuju ya Lo deketin Hanako. Play boy cap kardus kaya Lo tuh ga pantes buat Hanako...!” kata Wina galak.
yang tak gatal.
“ Ck, itu kan ungkapan sayang Gue sama Hanako sebagai Adik Win. Cuma Adik...,” kata Madani membela diri.
“ Ga boleh...!” sahut Wina sambil menatap tajam kearah Madani.
“ Hei udah dong. Kok malah ribut sendiri sih. Buruan ngomong Dan...,” kata Bobi melerai perdebatan Madani dan
Wina.
“ Ok. Gini ya Han. Dulu di kios kosong di sebelah toko ini ada mini market. Otomatis ada kasirnya juga kan. Namanya Tania. Nah karena sama-sama kasir, Tania dan Wina jadi dekat dan memiliki hubungan persahabatan gitu lah. Suatu hari Tania dikabarin sakit sampe ga masuk berhari-hari. Wina ga percaya, terus datang ke rumahnya si Tania itu. Bukan rumah sih, ya kost an gitu lah. Kan Tania pendatang jadi tinggal ngekost sama teman-temannya. Pas Wina datang ke sana ternyata Tania lagi sekarat...,” kata Madani lalu menghentikan ceritanya saat ia melihat Wina mengusap air matanya.
Kemudian Bobi melanjutkan cerita Madani yang terhenti.
“ Wina ngajak teman sekost Tania untuk bawa Tania ke Rumah Sakit tapi mereka nolak. Alasannya mereka juga
__ADS_1
sibuk. Terus Wina mutusin bawa Tania ke Rumah Sakit sendiri tanpa bantuan siapa pun. Untungnya supir Taxi yang nganterin mereka mau bantuin gendong Tania dari dalam rumah kost. Tapi sayangnya pihak Rumah Sakit bilang kalo Tania terlambat dibawa ke Rumah Sakit. Dan Tania meninggal saat baru sepuluh menit dirawat di UGD...,” kata Bobi.
Suasana hening pun menyeruak sesaat. Madani kembali membuka mulut untuk melanjutkan ceritanya namun dipotong oleh ucapan Wina.
“ Yang Gue inget, sehari sebelum Tania sakit dia bilang kalo dia abis dimarahin sama atasannya karena salah ngitung. Makanya Tania harus lembur buat ngitung ulang semua pendapatan toko hari itu. Besoknya Tania ga masuk, Gue kira hanya sehari. Kok ga taunya sampe empat hari Tania ga masuk kerja. Makanya Gue inisiatif buat jenguk dia...,” kata Wina sambil mengusap air matanya yang kembali menitik.
Hanako mengusap punggung Wina untuk menenangkannya. Wina pun menoleh kearah Hanako sambil tersenyum.
“ Setelah kematian Tania Gue sering dengar suara key board mesin hitung di sekitar Gue. Bahkan Gue pernah ngeliat Tania ada di mesin hitung toko buku ini seolah lagi menghitung belanjaan pembeli di tokonya...,” kata Wina sedih.
“ Ternyata Tania meninggal dengan membawa kesedihan ya...,” gumam Hanako.
“ Betul Han. Sampe semua karyawan mini market sebelah itu ketakutan karena sering ngeliat penampakan hantu Tania lagi di meja kasir. Jangan tanya gimana reaksi kasirnya pas ngeliat hantu Tania di sana. Mereka langsung ngibrit lah. Terus mereka juga resign atau minta dipindahin ke cabang lain karena ketakutan...,” kata Madani.
“ Yang ngeliat penampakan Tania juga bukan hanya karyawan aja Han. Beberapa konsumen toko mengaku pernah dilayani hantu Tania saat membayar belanjaan mereka di meja kasir. Dan itu sempat menggemparkan mini market. Karena kejadian itu mini market kehilangan pelanggan dan bangkrut. Akhirnya mini market tutup. Abang dengar sih mereka pindah ke tempat lain. Mereka pindah tanpa membawa serta mesin hitung yang ada di mini market itu karena takut hantu Tania bakal ngikut juga...,” kata Bobi.
“ Bisa ditebak gimana akhirnya kan Han. Karena ga ada yang bisa diganggu di lokasi bekas mini market itu, akhirnya hantu Tania memperlihatkan diri sama orang-orang yang masih stay di sini termasuk Kami...,” kata Madani.
“ Suara mesin hitung yang beroperasi sendiri itu nandain kedatangannya Tania Han. Gue tau, tapi Gue diem aja. Tapi karyawati lain takut dan milih resign dari toko ini. Gue cewek sendiri di sini sekarang, bahkan di deretan toko yang ada di sini cuma Gue karyawan cewek yang masih bertahan. Makanya ga salah kan kalo Gue ngelarang Lo supaya ga masuk ke gudang karena gudang itu berbatasan langsung sama toko sebelah dimana mesin hitung itu berada Han. Gue ga mau Lo ketakutan pas denger suara mesin hitung itu terus resign dari sini. Gue ga mau Lo resign juga kaya mereka. Maaf kalo cara Gue salah...,” kata Wina sambil menundukkan kepalanya.
Hanako tersenyum lalu menepuk tangan Wina dengan lembut.
“ Gapapa Win Gue maklum. Lagian Gue juga udah pernah liat penampakannya hantu Tania itu kok...,” kata Hanako santai.
“ Yang bener Han, kapan...?” tanya Bobi, Madani dan Wina bersamaan.
“ Minggu kemarin pas Kita ketemu sama security...,” sahut Hanako.
“ Pas Bobi minta satpam ngecek sikring listrik itu...?” tanya Madani dan diangguki Hanako.
Bobi, Madani dan Wina terdiam lalu saling menatap.
\=====
__ADS_1