Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
31. Wahana Hantu


__ADS_3

Penemuan jasad Marco dan Ocit di rumah kontrakan yang ditempati Lilian dan Marco membuat gempar. Banyak desas desus beredar yang mengatakan jika Marco dan Ocit tewas karena menjadi tumbal ilmu hitam yang dianut seseorang.


Tak ingin larut dalam berbagai dugaan ‘nyeleneh’ warga, Lilian pun memutuskan pindah dari rumah itu dan mencari


tempat tinggal baru. Faiq dan Hendro pun membantu menyarikan tempat tinggal yang layak untuk Lilian.


“ Andai aja Lilian udah married, pasti ga akan melangsa kaya gitu ya Iq...,” kata Hendro sambil menatap punggung


Lilian yang menghilang di dalam rumah kost khusus wanita yang disewanya.


“ Maksud Lo...?” tanya Faiq pura-pura tak mengerti.


“ Yah, paling ga kan dia ga sendirian menghadapi semuanya. Ada Suami yang bakal nemenin dia di saat suka dan dukanya. Kalo kaya gini kasian Gue ngeliatnya...,” sahut Hendro.


“ Lo kasian, tapi Lilian biasa aja tuh. Dia merasa nyaman dengan statusnya yang single itu. Bukan karena dia ga


laku, tapi dia trauma sama pernikahan kedua orangtuanya yang berakhir tragis itu...,” kata Faiq.


“ Apa Lilian bakal sendiri selamanya Iq...?” tanya Hendro penasaran.


“ Ga kok Hen. Ada seorang pria yang setia nunggu Lilian. Dia ga berani maju karena terhalang restu Papanya Lilian yang ga suka ngeliat Lilian bahagia. sekarang Marco udah meninggal. Itu artinya jalan Lilian buat bahagia terbuka lebar. Kita tunggu aja kabar bahagia dari Lilian. Mudah-mudahan dia ga lupa ngundang Kita di acara pernikahannya


nanti...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Alhamdulillah, Gue senang dengarnya Iq. Lilian harus bahagia karena dia layak bahagia...,” kata Hendro sambil


tertawa.


“ Iya, iya. Udah buruan jalanin mobilnya. Keburu Ashar nih...,” sahut Faiq hingga membuat Hendro tersadar dan


segera melajukan mobil kearah kantor televisi Sahabat.


Sejak hari itu warga tak lagi melihat hantu wanita bergaun pink yang mondar mandir di trotoar menunggu anaknya. Arwah Nihana telah pergi dan kembali ke pangkuan Tuhannya dengan tenang.


Beberapa bulan kemudian Lilian pun mengakhiri masa lajangnya. Ia menikahi pria yang lama mendamba cintanya. Pesta pernikahan mereka digelar dengan mewah dan dihadiri banyak orang. Lilian juga mengundang Faiq dan Hendro sebagai tamu kehormatan. Dari kejauhan sepasang mata nampak menitikkan air mata bahagia menyaksikan kebahagiaan Lilian dan suaminya. Faiq pun mengangguk sambil tersenyum saat pemilik mata itu tersenyum kearahnya.


“ Siapa Yah...?” bisik Shera karena tak melihat siapa pun di tempat yang dilihat suaminya.


“ Mamanya Lilian Bun...,” sahut Faiq sambil memeluk pinggang Shera dengan mesra.


“ Dia pasti lagi tersenyum bahagia ya Yah...,” tebak Shera.


“ Betul Bun. Dia hadir untuk memberi restu kepada Lilian...,” sahut Faiq sambil mengeratkan genggaman tangannya lalu membawa Shera melangkah masuk ke dalam gedung tempat resepsi pernikahan Lilian digelar.


\=====


Tiga orang anak kecil, sebut saja namanya Boy, Gen dan Han yang berusia sepuluh tahun nampak sedang berdiri di depan sebuah lahan kosong sambil mengamati sekelilingnya. Saat itu hari sudah sore menjelang Maghrib. Ketiganya lalu membuka pintu yang terbuat dari seng itu dan menyelinap masuk ke dalam dengan cepat.


“ Aman ga...?” tanya Boy.


“ Aman...,” sahut Gen dan Han bersamaan.


Ketiganya membalikkan tubuh lalu menatap hamparan taman bermain yang dijejali beberapa wahana permainan yang menarik minat mereka.


“ Wah bagus banget. Aneh ya, kenapa tempat sebagus ini ga dibuka lagi. Kan lumayan dekat dari rumah, jadi Kita ga perlu ngajak orangtua kalo mau ke sini...,” kata Boy antusias.


“ Betul Boy. Jadi apa yang dibilang orang-orang kalo di sini angker tuh bohong ya. Buktinya pas masuk Kita malah bisa ngeliat bermacam arena bermain...,” sahut Gen tak kalah antusias.

__ADS_1


“ Udah deh ngomong mulu. Kapan Kita mau nyoba wahana permainan itu kalo berdiri di sini aja...,” celetuk Han menyadarkan Boy dan Gen.


“ Masih bisa dimainin ga ya...,” kata Boy sambil menekan tombol on di atas mesin penggerak bianglala.


Tiba-tiba lampu menyala, wahana bianglala bergerak diiringi musik yang mengalun indah hingga membuat Boy, Gen dan Han pun tertawa senang.


Kemudian ketiganya mencoba bermain semua wahana permainan yang ada di lahan itu, berkeliling dari satu wahana ke wahana lainnya. Saking asyiknya bermain, mereka tak menyadari jika hari mulai gelap. Mereka seperti terhipnotis bermain di sana. Apalagi lampu-lampu yang ada di lahan itu mulai menyala dengan sendirinya dan menerangi seantero taman bermain dengan warnanya yang menarik.


“ Eh, Kita nyobain kora-kora ini yuk...,” ajak Boy sambil duduk di dalam perahu yang mirip ayunan berbentuk


perahu besar itu.


“ Ga mau ah, takut...,” tolak Gen karena melihat tak ada pengaman atau pengait di dalam sana yang bisa menahan


tubuh agar tak terjatuh saat perahu mulai berayun nanti.


“ Gapapa, penakut banget sih...,” paksa Han sambil mendorong tubuh Gen masuk ke dalam kora-kora.


“ Ga mau Han, Aku tunggu di luar aja...,” sahut Gen sambil mencari jalan keluar.


“ Udah tenang aja Gen, ga bahaya kok. Lagian ga seru kalo ga nyobain semuanya kan...,” bujuk Boy.


Gen menjerit dan berusaha keluar, namun Han sudah menyalakan mesin penggerak kora-kora itu hingga membuat Gen mengurungkan niatnya. Setelah menyalakan mesin, Han pun melompat masuk ke dalam kora-kora dan duduk dengan santai sambil menertawakan Gen yang gemetar ketakutan.


Gen mulai menangis saat merasa jika ayunan kora-kora itu bertambah cepat dan mulai tak terkendali. Ia mempererat pegangan tangannya di pinggir kursi yang ia duduki sambil memejamkan mata karena takut jatuh. Sementara itu Boy dan Han makin keras tertawa sambil mengejek Gen yang sudah hampir pingsan itu.


Tak lama kemudian terjadi korsleting listrik yang menyebabkan semua lampu di wahana permainan itu padam


seketika. Suasana di lahan itu pun menjadi gelap gulita. Beruntung Boy, Gen dan Han masih bisa melihat dalam jarak dekat berkat bantuan cahaya bulan sabit di atas sana. Mereka saling menatap dengan tatapan bingung apalagi saat itu mereka ada di dalam kora-kora. Yang lebih menegangkan listrik padam saat posisi kora-kora sedang setengah terayun ke atas dan tiga anak itu berada di puncak teratas dengan posisi tubuh yang setengah membungkuk mengikuti gravitasi bumi.


“ Kok gelap...,” kata Han.


“ Terus gimana nih...?” tanya Gen sambil menangis.


“ Udah dong nangisnya Gen, sekarang Kita harus cari cara keluar dari sini...,” sahut Boy.


“ Iya, tapi gimana caranya. Kita ada di atas lho, turunnya gimana nih. Aku ga bisa liat apa-apa, salah injak malah jatuh ke bawah kan bahaya...,” sahut Gen panik.


Boy dan Han terdiam. Mereka sadar jika apa yang diucapkan oleh Gen bisa saja terjadi.


“ Cuma ada dua pilihan,  turun atau mau di sini sampe pagi...,” kata Han tegas.


“ Turun aja. Aku ga mau di sini kelamaan. Selain gelap, apa Kalian ga dengar ada suara aneh yang mendekat ke


sini...?” tanya Boy dengan suara bergetar.


“ Suara apaan Boy...?” tanya Han dan Gen bersamaan.


Sepi tak ada sahutan. Gen dan Han memanggil nama Boy berulang kali namun tak ada sahutan sama sekali. Sesaat kemudian mereka merasa ada cairan mengalir di atas kepala mereka. Saat mereka mendongak untuk memastikan cairan apa yang mengaliri kepala mereka, keduanya terkejut dan langsung menjerit.


Ternyata tubuh Boy ada di atas mereka dengan posisi terbalik dan tanpa kepala. Dan yang mengaliri kepala Han


dan Gen adalah darah dari leher Boy yang terpenggal itu.


Dari balik tubuh Boy terlihat sebuah kepala berambut panjang  tanpa badan tengah melayang di udara. Kepala dengan wajah menyeramkan itu menyeringai kearah Gen dan Han hingga membuat keduanya terkejut. Saking terkejutnya pegangan keduanya pun terlepas dan tubuh keduanya meluncur ke bawah dengan cepat lalu membentur tanah. Han dan Gen pun meregang nyawa. Mereka tewas di tempat dengan tulang remuk dan kepala pecah.


Setelah ketiga anak kecil itu tewas, tiba-tiba lampu di seluruh wahana permainan kembali menyala. Berkelap kelip diiringi suara musik yang membahana. Semua wahana permainan nampak bergerak seolah merayakan kematian Boy, Gen dan Han.

__ADS_1


\=====


Hari itu Iyaz dan Izar sedang bermain sepak bola di halaman sekolah. Ada pertandingan antar kelas yang digelar di akhir semester. Iyaz dan Izar ikut ambil bagian mewakili kelas mereka melawan kelas lain. Kelas mereka telah berhasil membobol gawang lawan dengan skor 4 – 0. Sorak sorai penonton pun bergema di halaman sekolah saat


Izar kembali berhasil membobol gawang lawan hingga berhasil menambah skor untuk kelas mereka.


Suara peluit berbunyi tanda pertandingan berakhir. Kegembiraan team di kelas Izar pun terlihat saat lima orang yang berhasil mencetak gol diarak keliling sekolah sambil dipakaikan topi karton di atas kepala mereka. Iyaz, Izar, Helmi, Leo dan Matheo tampak tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari teman sekelas mereka.


Setelah puas berkeliling, mereka pun istirahat di teras kelas empat sambil membahas liburan yang sudah di depan mata.


“ Rencana mau liburan kemana natalan besok Math...?” tanya Leo sambil menoleh kearah Matheo yang memang sama-sama beragama Protestan.


“ Papa ngajak ke rumah Opa di Manado sana. Sebenarnya Aku malas ke sana, tapi gimana lagi. Papa sama Mama


bakal marah besar kalo Aku ga mau ikut...,” sahut Matheo dengan enggan.


“ Wah seru dong...,” kata Leo antusias.


“ Ck, seru apanya. Yang ada aku disuruh jagain Opaku yang udah mulai pikun itu. Ga bisa kemana-mana


karena seharian hanya di rumah.  Makanya Aku lebih suka di Jakarta aja, biar ga kemana-mana tapi kan masih bisa ketemu sama teman-teman...,” sahut Matheo.


“ Kamu ga boleh ngomong kaya gitu Math. Harusnya Kamu bersyukur masih punya Kakek walau pun udah pikun.


Coba Kamu liat teman-teman Kita yang lain. Ada lho yang malah ga sempet ketemu sama Kakek Neneknya karena mereka udah meninggal dunia...,” kata Izar.


“ Iya, Izar betul. Maksud Papa sama Mama Kamu pasti baik, karena ngajarian Anaknya untuk ingat sama


orangtuanya meski pun udah sukses. Lagian kan Kalian bakal dapat pahala dari Allah karena udah bikin Opa Kamu bahagia. Walau pun udah pikun, tapi hatinya tau kalo Anak dan Cucunya datang dari jauh khusus untuk menghiburnya...,” tambah Iyaz.


Matheo, Leo dan Helmi mengangguk tanda mengerti. Tak lama kemudian selompok siswa kelas enam lewat di


hadapan mereka. Iyaz, Izar dan ketiga temannya pun menepi untuk memberi jalan pada kakak kelas mereka itu.


“ Mana ada wahana pemainan kaya gitu...,” kata salah seorang siswa kelas enam.


“ Ck, kalo ga buktiin sendiri pasti ga bakal percaya...,” sahut siswa lainnya.


“ Seingatku dulu ada taman bermain di sana. Tapi ga tau kenapa sekarang ditutup dan ga beroperasi lagi...,” kata seorang siswa.


Kelompok siswa kelas enam itu berjalan makin jauh dari depan kelas empat. Namun pembicaraan siswa kelas enam itu menarik perhatian Iyaz dan keempat temannya.


“ Wahana permainan apa sih yang mereka omongin...?” tanya Iyaz tak mengerti.


“ Mungkin maksud mereka wahana permainan yang di dekat kantor Pos itu...,” sahut Leo.


“ Emang di sana ada wahana permainan, bukannya itu cuma lahan kosong ya...?” tanya Izar.


“ Bukan Zar. Dulu di situ dibangun taman bermain, ada beberapa wahana permainan di sana. Harga tiketnya murah dan cukup menghibur apalagi kalo yang uang jajannya pas-pasan kaya Kita. Aku juga sempat beberapa kali masuk ke sana dan nyobain wahana permainannya. Lumayan seru kok...,” sahut Matheo.


“ Masa sih, kok Aku ga tau ya...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Tapi tempat itu ditutup sekarang. Ga tau apa sebabnya...,” sela Helmi.


“ Tapi kadang ada Anak-anak yang iseng nyobain masuk ke sana dan mainin wahana yang ada di sana lho...,” kata Leo.


“ Terus gimana...?” tanya Helmi penasaran.

__ADS_1


“ Katanya, mereka yang masuk ke sana ga bisa keluar dalam keadaan hidup...,” sahut Leo sambil bergidik hingga membuat keempat temannya saling memandang dengan perasaan takut.


Bersambung


__ADS_2