
Pandu setia menanti kepulangan Hanako dan kedua sepupu kembarnya itu di tepi pantai. Setelah selesai berdzikir Pandu meraih ponselnya dan mencari informasi tentang wanita hamil.
Pandu tersenyum mengingat saat ia diberitahu jika istri cantiknya itu tengah mengandung. Hanako yang super aktif itu belakangan sering mengeluh capek saat pulang dari kantor. Bahkan Hanako meminta Pandu memijitnya tiap kali ia tiba di rumah.
Pandu yang memang mencintai istrinya itu tak keberatan dengan permintaan Hanako. Padahal terkadang Pandu juga lelah dan ingin istirahat setelah seharian menjalani kegiatan di kantornya. Namun perubahan sikap Hanako terjadi saat malam hari.
Jika sore hari Hanako akan memperlihatkan rasa lelah, maka jika waktu tidur tiba Hanako berubah aktif dan lebih agresif. Hanako akan merayu suaminya dan memintanya melakukan hubungan suami istri menjelang tidur. Pandu pun dengan semangat memenuhi keingainan Hanako.
“ Aku seneng deh ngeliat Kamu semangat kaya gini Sayang...,” kata Pandu usai mereka menunaikan kewajiban mereka di atas ranjang.
“ Iya, tapi jauhan dikit dong Mas tidurnya. Aku gerah nih...,” sahut Hanako judes sambil memejamkan matanya.
Jawaban Hanako membuat Pandu kesal. Pandu merasa hanya dimanfaatkan oleh Hanako. Dengan kasar Pandu meninnggalkan Hanako berbaring di atas tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi wajib. Setelahnya Pandu memilih tidur di atas sofa di ruang tengah.
Pandu terbangun saat adzan Subuh berkumandang. Ia terkejut mendapati Hanako duduk sambil menangis di seberang sofa.
“ Kamu kenapa nangis, ini kan masih pagi banget. Ada apa...?” tanya Pandu sambil mengucek matanya.
“ Kamu kenapa ninggalin Aku tidur sendiri di kamar sih Mas. Kamu marah ya sama Aku...?” tanya Hanako di sela isak tangisnya.
“ Lho, bukannya Kamu yang marah dan ga mau deket-deket sama Aku tadi. Kok sekarang malah Kamu yang nangis. Dasar aneh...,” kata Pandu sambil menggelengkan kepalanya.
“ Aku emang ga mau dipeluk karena gerah Mas. Tapi bukan berarti Kamu harus biarin Aku tidur sendirian kan...,” sahut Hanako tak mau kalah.
Pandu menatap Hanako yang tampak kacau. Rambutnya yang kusut dan kedua matanya yang sembab menandakan jika Hanako telah lama menangis. Karena iba, Pandu pun meraih Hanako ke dalam pelukannya hingga membuat Hanako makin keras menangis.
Dan Pandu menceritakan sikap aneh istrinya itu kepada kedua orangtuanya. Reaksi sang ibu pun mengejutkan Pandu.
“ Dasar Anak bod*h, ga peka. Apa Kamu ga tau kalo Istrimu itu lagi ngidam...?” tanya sang ibu sambil mencubiti lengan Pandu hingga membuat ayahnya tertawa geli.
“ Ngidam, maksud Ibu Eisha hamil...?” tanya Pandu.
“ Iya...,” sahut sang ibu mantap.
“ Tapi Eisha ga bilang apa-apa kok Bu. Belum lama ini Eisha baru aja kedatangan tamu bulanan. Masa hamil sih...?” tanya Pandu ragu.
“ Ck, kalo ga percaya ajak Istrimu periksa ke dokter sana. Perempuan hamil itu moodnya naik turun. Bisa tiba-tiba
marah, tiba-tiba nangis, atau tiba-tiba tertawa. Coba perhatikan baik-baik. Kalo apa yang Ibu sebutin itu dialami sama Cici, insya Allah dia positif hamil...,” sahut sang ibu.
Pandu pun termangu sesaat lalu bergegas pulang ke rumahnya. Tiba di rumah ia mendapati istrinya tengah ‘ngambek’ karena hari itu ia tak memberi kabar jika akan pulang telat.
“ Maafin Aku ya Sayang. Sebagai gantinya, gimana kalo Kita makan di luar yuk...,” ajak Pandu.
“ Ok, Kamu tunggu sebentar. Jangan kemana-mana ya...,” pinta Hanako.
__ADS_1
Setelah mengambil tas, Hanako pun duduk manis di belakang Pandu. Sesaat kemudian motor pun melaju cepat membelah jalan raya dan berhenti di depan Rumah Sakit. Hanako marah besar saat tahu Pandu membawanya ke Rumah Sakit dan bukan ke restoran seperti yang dijanjikan.
“ Ngapain Kita ke sini Mas. Siapa yang sakit...?” tanya Hanako kesal.
“ Kamu...,” sahut Pandu.
“ Aku sehat Mas, jangan nyumpahin Aku sakit dong...,” kata Hanako gusar.
“ Bukannya Kamu sering ngeluh capek ya belakangan ini...?” tanya Pandu.
“ Cuma capek bukan berarti sakit dong Mas. Gini aja, besok Aku nemuin Oma Farah di Rumah Sakit. Biar Aku diperiksa sama Oma aja. Gimana...?” tanya Hanako mencoba menawar.
“ Tapi Aku ga bisa nemenin Kamu besok, kan Aku harus terbang ke Bandung...,” kata Pandu.
“ Gapapa, Aku bisa pergi sendiri kok...,” sahut Hanako meyakinkan.
Pandu mengalah dan memutar arah motornya untuk pergi mencari makan malam sesuai keinginan istrinya.
Esok harinya. Saat baru saja mendarat di pangkalan Halim Perdana Kusuma Pandu ditelephon agar datang ke rumah Oma Farah. Di sana Pandu kembali dihadapkan pada sikap ‘aneh’ Hanako. Istrinya itu menolak pulang dan lebih memilih tidur di rumah sang oma. Yang menyebalkan Hanako meminta Pandu pulang ke rumah mereka malam itu juga.
“ Sabar ya Nak. Istri hamil itu kadang banyak maunya...,” kata Erik sambil menepuk pundak Pandu.
“ Hamil. Maksud Opa, Eisha hamil...?” tanya Pandu tak percaya.
“ Iya Nak, selamat ya...,” sahut Erik sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Farah pun keluar dari kamar lalu duduk di samping Erik sambil tersenyum. Ia menyodorkan sebuah amplop berisi surat keterangan kehamilan Hanako. Pandu bergegas membaca surat itu dan tertawa bahagia.
“ Masya Allah, Alhamdulillah...,” kata Pandu di sela tawanya.
“ Jadi mulai sekarang level sabarnya ditambah ya Nak...,” pesan Farah sambil mengusak rambut Pandu.
“ Siap Oma, makasih...,” sahut Pandu sambil memeluk Farah erat.
“ Sama-sama...,” sahut Farah.
“ Apa sekarang sebaiknya Aku pulang Oma, tadi Eisha kan minta Aku pulang...?” tanya Pandu bingung.
“ Ga usah, Kamu di sini aja. Sebentar lagi juga Cici pasti nyariin Kamu...,” sahut Farah sambil tersenyum.
“ Iya Oma...,” sahut Pandu.
“ Betul Mas. Cici itu kan ga bisa jauh dari Suaminya...,” gurau Izar dengan mimik lucu.
“ Hush, jangan gitu Nak. Perempuan hamil tuh emang kaya gitu. Manja dan susah diprediksi...,” kata Faiq.
__ADS_1
“ Apa Bunda juga kaya gitu dulu Yah...?” tanya Iyaz.
“ Iya. Tapi Ayah seneng aja, kan Bunda kaya gitu karena ada Kalian di perutnya. Jadi Kalian juga punya andil bikin sikap Bunda berubah-ubah...,” sahut Faiq sambil merangkul Shera yang nampak tersipu di sampingnya.
Kemesraan Faiq dan Shera membuat semua tertawa. Mereka masih melanjutkan perbincangan mereka hingga menjelang tengah malam.
Ucapan Farah terbukti. Tengah malam Hanako terbangun dan terkejut mendapati dirinya ada di kamar Izar. Hanako pun bergegas turun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar. Saat itu Iyaz tengah melintas di depan kamar sambil membawa gelas kosong untuk diletakkan di dapur.
“ Kamu kenapa Ci...?” tanya Iyaz.
“ Mas Pandu mana...?” tanya Hanako.
“ Pulang. Kan Kamu nyuruh dia pulang tadi...,” sahut Iyaz sambil melenggang ke dapur.
Jawaban Iyaz membuat Hanako kesal. Ia mengikuti Iyaz dan meminta Iyaz mengantarnya pulang malam itu juga.
“ Pulang, ga salah Ci. Ini udah malam banget lho...,” kata Iyaz cepat.
“ Iya Aku tau. Tapi Aku mau ketemu sama Mas Pandu, Yaz...,” rengek Hanako hingga membuat Iyaz nyaris tertawa.
Tak tahan melihat sikap Hanako yang terus merengek, Iyaz menggamit tangan Hanako lalu membawanya ke ruang tamu. Di sana Pandu tengah duduk sambil berbincang akrab dengan Izar. Keduanya menoleh dan terkejut melihat Iyaz menggandeng tangan Hanako.
“ Mau kemana Kalian, kok gandengan gitu. Kaya mau nyebrang aja...,” kata Izar usil.
Hanako mengabaikan ucapan Izar lalu menghambur memeluk suaminya. Pandu pun tersenyum sambil mengusap punggung Hanako dengan lembut.
“ Maafin Aku ya Mas. Aku juga ga ngerti kenapa Aku sering ngambek belakangan ini. Aku pusing Mas, Aku kesel tapi Aku juga kangen sama Kamu...,” kata Hanako malu-malu.
Ucapan Hanako membuat Pandu, Iyaz dan Izar tersenyum maklum.
“ Itu karena di sini ada calon anak Kita Sayang. Makanya emosimu turun naik kaya gitu. Tapi gapapa, Aku maklum
kok...,” kata Pandu sambil mengusap perut Hanako dengan lembut.
“ Calon Anak Kita. Apa Aku hamil Mas, Kamu tau darimana...?” tanya Hanako yang memang belum tahu tentang
kehamilannya.
“ Oma yang kasih tau hasil cek lab Kamu tadi...,” sahut Pandu sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah. Yaz, Zar, Aku hamil...,” kata Hanako antusias sambil menitikkan air mata.
“ Selamat ya Ci...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Makasih...,” sahut Hanako lalu ketiganya saling memeluk hingga membuat Pandu tersenyum bahagia.
__ADS_1
Dan senyum Pandu pun terukir lagi saat melihat kehadiran Hanako bersama Iyaz dan Izar yang melangkah dari arah pantai menuju ke daratan. Pandu menyambut Hanako sambil merentangkan tangannya sedangkan Iyaz dan Izar nampak melengos sebal.
\=====