Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
236. Berkunjung


__ADS_3

Sementara itu Hanako dan Pandu memilih menikmati bulan madu mereka ke Kepulauan Riau Sumatra. Pandu sengaja mengajak Hanako ke sana karena ingin memperkenalkan tanah leluhurnya kepada istri cantiknya itu. Pandu dan Hanako menamai perjalanan mereka kali ini dengan nama silaturrahim plus refreshing.


Saat tiba di kabupaten Natuna Pandu langsung membawa Hanako menemui keluarga dari pihak ibunya di sana. Keduanya disambut dengan gembira oleh keluarga besar Pandu di sana.


“ Jadi ini Istrimu Pandu...?” tanya adik kandung Ibu Pandu yang berhalangan hadir saat resepsi pernikahan Pandu dan Hanako di Jakarta.


“ Iya Bibi, gimana cantikkan...?” tanya Pandu sambil memeluk pinggang Hanako dengan bangga.


“ Jangan ngomong gitu Mas, malu-maluin aja...,” kata Hanako mengingatkan Pandu.


Ucapan Hanako terdengar oleh keluarga Pandu dan membuat mereka terkejut lalu tertawa. Hal itu membuat Hanako bingung dan menatap suaminya sekilas.


“ Kamu dipanggil Mas ?. Apa Istrimu ga tau kalo Kamu berasal dari Sumatra...?” tanya paman Pandu.


“ Tapi kan Aku lama tinggal di Jawa Tengah ikut Ayah tugas di sana Paman. Jadi wajar lah kalo aksenku dan penampilanku malah mirip pria Jawa...,” sahut Pandu membela Hanako.


“ Apa Aku harus merubah panggilanmu Mas...?” tanya Hanako bingung.


“ Ga perlu Nak, Kami hanya bergurau tadi. Ayah Pandu kan dari Jawa Timur jadi Kamu bisa tetap memanggilnya Mas Pandu sesuai kebiasaan di Jawa sana...,” kata paman Pandu menengahi sambil tersenyum hingga membuat Hanako mengangguk tanda mengerti.


“ Iya Paman, makasih...,” sahut Hanako sambil menghela nafas lega.


“ Kalian pasti lelah. Istirahat lah dulu. Nanti Kita makan siang bersama ya...,” kata bibi Pandu sambil menggamit tangan Hanako dan membawanya melangkah menuju ke kamar.


“ Ada yang bisa Aku bantu Bi...?” tanya Hanako.


“ Ga usah, kamu pasti capek kan. istirahat lah dulu...,” sahut bibi Pandu sambil tersenyum.


“ Memangnya Kamu bisa masak...?” Tanya nenek Pandu tiba-tiba dengan tatapan menyelidik.


“ Wah Nenek meragukan kemampuanku ya. Tanya aja sama Mas Pandu makanan apa yang pernah Aku masak untuknya...,” sahut Hanako dengan mimik lucu hingga membuat semua orang tertawa.


“ Oh ya, Nenek jadi penasaran. Buktikan ucapanmu itu besok ya Nak...,” kata nenek Pandu.


“ Siaaappp Nek...!” sahut Hanako lantang dengan sikap sempurna ala tentara hingga membuat semua orang kembali tertawa.


Pandu tersenyum melihat istrinya yang dengan cepat membaur dengan keluarganya itu meski pun baru pertama kali bertemu dengan mereka. Kemudian Pandu pun mendekati Hanako dan merengkuh bahunya.


“ Kita masuk dan istirahat dulu yuk Sayang. Ngobrolnya kan bisa dilanjut lagi nanti...,” kata Pandu.

__ADS_1


“ Pandu betul, istirahat lah dulu. Kami masih ada urusan sebentar di luar sana...,” sahut bibi Pandu lalu mengajak keluarganya keluar dari ruangan itu meninggalkan Hanako dan Pandu di sana.


“ Mereka pergi deh...,” gumam Hanako sedikit kecewa.


“ Gapapa, mereka emang pengertian...,” sahut Pandu lalu menarik Hanako masuk ke dalam kamar.


\=====


Setelah cukup beristirahat dan tidur sejenak, Pandu dan Hanako keluar dari kamar saat adzan Dzuhur berkumandang. Kemudian Pandu mengikuti sang paman untuk sholat berjamaah di musholla dekat rumah. Sedangkan Hanako menjalani sholat berjamaah bersama kaum wanita yang tersisa di rumah itu dengan nenek Pandu sebagai imamnya.


Setelah selesai sholat berjamaah mereka pun mulai menyiapkan makan siang. Sepupu Pandu menggelar tikar dan menyusun makanan di atasnya. Hanako membantu membawakan piring dan gelas lalu duduk bersama yang lain sambil menunggu kedatangan Pandu dan keluarganya.


Saat Pandu, paman dan sepupunya kembali, mereka pun langsung bergabung untuk ikut makan siang bersama dengan cara lesehan. Saat itu bibi dan nenek Pandu menyediakan makanan khas Natuna berupa karnas yaitu sejenis nugget khas daerah Natuna, ikan tongkol asap yang diberi bumbu pedas dan kerupuk ikan serta sayur sop.


Nenek Pandu menjelaskan nama hidangan itu satu per satu kepada Hanako. Pandu yang telah mengenal semua jenis masakan di hadapannya itu nampak makan dengan lahap.


“ Jadi apa rencanamu besok Nak...?” tanya paman Pandu.


“ Pertama Aku mau ngajak Eisha ziarah makam dulu Paman. Aku mau memperkenalkan Istriku ini sama Kakek. Kan Kakek pengen Aku cepet nikah dulu, sayangnya jodohku baru dikirim sama Allah setelah Kakek meninggal...,” sahut Pandu.


Mendengar ucapan Pandu membuat sang nenek tersedak. Sepupu laki-laki Pandu yang bernama Doni pun menyodorkan segelas air minum kepada sang nenek.


“ Minum dulu Nek...,” kata Doni yang diangguki sang nenek.


“ Gapapa Nak. Apa Nenek boleh ikut Kalian ziarah besok...?” tanya nenek Pandu penuh harap.


“ Boleh banget Nek...,” sahut Hanako antusias dan diangguki Pandu.


“ Kita bisa ziarah sama-sama besok, gimana...?” tanya Pandu.


“ Ide bagus Kak, Aku juga mau ikut...,” sahut Dewi adik Doni sambil tersenyum.


“ Ok. Kita berangkat abis sarapan aja ya...,” kata Pandu dan disetujui semua orang.


\=====


Keesokan harinya Hanako, Pandu dan keluarga besarnya berziarah ke makam sang kakek di makam pahlawan Ranai yang masih berada di kabupaten Natuna.


“ Kakek Kamu Pahlawan Wi...?” tanya Hanako pada sepupu Pandu.

__ADS_1


“ Iya Kak. Kakek itu veteran perang angkatan empat puluh lima...,” sahut Dewi bangga.


Hanako pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Hanako berlutut di samping Pandu sambil menaburkan bunga di atas makam sang kakek.


“ Aku datang bawa Istriku Kek. Istri yang selalu Kakek tanyain dulu. Namanya Eisha Hanako. Aku mencintainya dan janji akan melindungi dan membahagiakannya seperti Kakek membahagiakan Nenek dulu...,” batin Pandu sambil mengusap nisan di makam sang kakek.


Keluarga Pandu sempat berpose di samping makam sang kakek. Hanako nampak senang dan dengan bangga memamerkan foto tersebut di status terbaru di aplikasi WA miliknya.


Setelah membacakan doa untuk sang kakek, paman Pandu pun mengajak keluarganya mengunjung makam sahabat sang kakek yang bernama Pardi. Ternyata di sana mereka bertemu dengan cucu perempuan Pardi yang bernama Putri.


“ Kamu juga di sini Putri...?” tanya paman Pandu.


“ Iya Paman...,” sahut Putri sambil mencium punggung tangan paman, bibi dan nenek Pandu bergantian.


Saat matanya melihat Pandu, Putri nampak terkejut. Hanya sesaat, karena saat kemudian Putri nampak tersenyum sambil mendekati Pandu dan hampir memeluknya. Pandu pun bergeser ke samping untuk menghindari Putri. Sedangkan Hanako nampak mengerutkan keningnya tanpa tahu harus bereaksi seperti apa. Hanako hanya khawatir membuat kesalahan jika ‘mengamuk’ tanpa alasan karena ia memang belum mengenal Putri.


“ Kak Pandu kan, kapan pulang...?!” tanya Putri dengan wajah berbinar.


“ Kemarin...,” sahut pandu datar hingga membuat Hanako menoleh kearahnya.


“ Oh iya Putri. Maaf kalo Kami lupa mengabarimu. Pandu ini baru saja menikah dan ini Istrinya, namanya Hanako...,” kata paman Pandu.


“ Me..., menikah...?” tanya Putri tak percaya.


“ Iya, ini Istrinya Pandu. Namanya Hanako...,” sahut bibi Pandu menegaskan ucapan suaminya tadi.


Putri menjabat tangan Hanako dengan gugup. Hanako juga bisa merasakan telapak tangan Putri yang dingin dan gemetar seolah mengalami keterkejutan yang luar biasa.


“ Selamat ya Kak. Kenalin namaku Putri...,” sapa Putri.


“ Makasih, Aku Hanako...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


“ Kalo gitu Saya permisi dulu ya. Saya masih harus nganter Mama ke rumah kerabat nanti...,” kata Putri.


“ Gitu ya. Sampaikan salam Kami sekeluarga untuk Papa dan Mama Kamu ya Putri...,” sahut bibi Pandu sambil tersenyum.


“ Baik Bibi. Assalamualaikum...,” pamit Putri.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut keluarga Pandu bersamaan.

__ADS_1


Mereka pun melepas kepergian Putri sambil tersenyum. Sedangkan Hanako menatap Pandu dengan banyak pertanyaan di kepalanya karena melihat sikap Pandu yang sedikit berbeda saat berhadapan dengan Putri. Namun Hanako menyimpan semua pertanyaan itu karena tak ingin merusak suasana.


\=====


__ADS_2