Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
189. Menuntut Tanggung Jawab


__ADS_3

Para karyawan pabrik mengerti jika Dazkan baru saja melihat penampakan hantu Gavin yang telah meninggal secara tak wajar itu. Kemudian Fauzan memberitahukan apa yang terjadi hingga mengejutkan Dazkan.


“ Ehm, itu pasti bukan Gavin karena Gavin kan udah meninggal dunia dua hari yang lalu Pak...,” kata Fauzan.


“ Gavin me..., meninggal...?” tanya Dazkan tak percaya.


“ Iya Pak. Kami pikir Bapak udah dikasih tau sama pihak kantor...,” kata salah seorang karyawan.


“ Ga ada yang ngasih tau Saya, mungkin belum. Kan Saya baru aja masuk setelah cuti seminggu...,” sahut Dazkan.


“ Mungkin nanti Pak...,” kata karyawan lain yang diangguki Dazkan.


“ Kalo boleh tau, apa penyebab kematian Gavin...?” tanya Dazkan.


“ Mmm..., Gavin ditemukan gantung diri. Ada lagi karyawan pabrik yang meninggal di hari yang sama, namanya Urai Pak. Urai juga meninggal karena gantung diri sama kaya Gavin...,” sahut Fauzan.


“ Urai yang di Divisi Packing itu...?” tanya Dazkan terkejut.


“ Betul Pak...,” sahut Fauzan dan karyawan pabrik bersamaan.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Ok, makasih infonya ya Fauzan. Sekarang Kalian lanjutin pekerjaan Kalian karena Saya mau ke kantor dulu...,” kata Dazkan.


“ Baik Pak...,” sahut para karyawan pabrik lalu kembali ke tempatnya masing-masing.


Setelahnya Dazkan pun melangkah cepat menuju kantor yang terletak di samping pabrik. Para karyawan pun kembali membicarakan Dazkan dan penampakan hantu Gavin.


“ Kok bisa Pak Dazkan doang yang digangguin, Kita malah ga...,” kata salah seorang karyawan pabrik.


“ Emangnya Lo mau digangguin juga kaya Pak Dazkan, kalo Gue mah ogah...,” kata karyawan lain.


“ Ya ga mau lah, serem amat sih ngeliat temen Kita yang udah meninggal dengan tampilan yang nyeremin kaya ceritanya Pak Dazkan tadi...,” sahut sang karyawan sambil menggedikkan bahunya.


“ Mungkin Gavin cuma mau pamit aja sama Pak Dazkan. Kan Pak Dazkan ga datang melawat ke rumahnya waktu Gavin meninggal...,” kata Fauzan menengahi.


“ Mungkin juga ya...,” sahut karyawan lain sambil mengangguk.


\=====

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain pabrik terlihat seorang pria bernama Sydra tengah mencatat beberapa barang yang keluar masuk gudang. Sydra adalah karyawan bagian gudang. Sydra juga sudah mendengar tentang berita kematian Gavin dan Urai yang tak wajar itu.


“ Selesai Syd, sekarang tinggal dibawa ke mobil kontainer di depan...,” kata salah seorang karyawan pabrik bernama Mahfud.


“ Iya Fud. Tapi ga ada orang di gudang jadi Gue ga bisa bantuin Lo ya...,” sahut Sydra.


“ Gapapa, Gue cari orang dulu deh buat bantuin...,” kata Mahfud sambil berlalu.


“ Ok...,” sahut Sydra sambil melangkah masuk ke dalam gudang.


Tak lama kemudian dua orang pria nampak masuk ke dalam gudang dan langsung menuju kotak yang terletak di belakang lemari yang tadi disiapkan oleh Mahfud. Melihat hal itu Sydra mengira jika mereka adalah orang suruhan Mahfud.


“ Suruhan Pak Mahfud ya...?” tanya Sydra.


Sepi tak ada jawaban hanya suara benda bergeser yang terdengar. Sydra pun mengerutkan keningnya. Karena tak mau disalahkan jika barang yang telah ditandatangani Mahfud tadi berkurang jumlahnya atau hilang, maka Sydra pun menghampiri kedua pria itu.


Namun saat tiba di balik lemari Sydra mendapati kedua pria itu sedang berdiri menghadap dinding tanpa melakukan sesuatu.


“ Kenapa malah ngelamun di situ. Angkat sekarang, nanti dimarahin sama Pak Mahfud lho...,” kata Sydra.


Tiba-tiba Sydra merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang hingga membuatnya menoleh. Sydra tersenyum saat melihat Mahfud datang bersama dua orang pria di belakangnya.


“ Sama dua orang itu lah...,” sahut Sydra sambil menunjuk ke balik lemari.


“ Dua orang siapa, ga ada siapa pun di sana...,” kata Mahfud hingga membuat Sydra menoleh dan terkejut karena memang tak ada siapa pun di sana.


“ Bukannya Lo nyuruh dua orang ke sini buat ngangkat barang pesenan Lo tadi ya...?” tanya Sydra.


“ Belum. Lah ini Gue ngajak mereka...,” sahut Mahfud sambil menunjuk dua pria yang datang bersamanya.


Melihat dua orang pria di belakang Mahfud membuat Sydra makin terkejut. Ia nampak membulatkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“ Tapi mereka tadi udah masuk ke sini dan berdiri di situ Fud...!” kata Sydra.


“ Apaaan sih Lo, jangan ngaco ya. Daritadi mereka sama Gue, kan Gue yang jemput mereka di Divisi Packing...,” sahut Mahfud tak mau kalah.


“ Kalo gitu yang Gue liat tadi siapa dong, masa hantu sih...,” kata Sydra sambil menatap tempat dimana ia melihat kedua pria itu dengan tatapan nanar.

__ADS_1


“ Makanya kalo kerja jangan ngelamun Syd. Banyak doa dan jangan lupa dzikir. Maklum aja, kan ada karyawan pabrik yang baru aja meninggal karena bunuh diri. Jadi wajar lah kalo suasana jadi sedikit horror. Apalagi kan salah satu karyawan yang meninggal juga berasal dari Divisi yang sama kaya kedua orang ini...,” kata Mahfud bijak.


Sydra nampak terpaku sejenak dan teringat jika Urai adalah karyawan di Divisi Packing sama dengan dua karyawan di hadapannya itu.


“ Lo bener Fud, makasih ya udah diingetin...,” kata Sydra.


“ Sama-sama. Ya udah, nih barangnya Gue angkut semua ya...,” sahut Mahfud.


“ Ok, ga ada yang ketinggalan kan...?” tanya Sydra.


“ Ga ada...,” sahut Mahfud sambil berlalu diikuti dua karyawan divisi packing di belakangnya.


Setelah Mahfud keluar dari gudang Sydra nampak sedikit gelisah. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki di dekat kamar mandi yang terletak di bagian dalam gudang. Sydra ingat tak ada siapa pun di gudang selain dirinya. Meski pun takut, Sydra memberanikan diri mengecek ke dalam untuk melihat siapa yang masuk tanpa permisi itu.


“ Siapa di situ...?” tanya Sydra.


Tak ada jawaban. Namun sesaat kemudian Sydra melihat sekelebat bayangan melintas cepat lalu berhenti di depan meja kerjanya lalu kembali ke depan kamar mandi. Sydra bernafas lega saat melihat jika kaki manusia yang ada di hadapannya itu menyentuh lantai.


“ Alhamdulillah bukan hantu...,” gumam Sydra sambil menghela nafas lega.


“ Memang bukan...,” sahut pria itu sambil menoleh kearahnya.


Sydra tersenyum namun senyumnya segera memudar saat menyaksikan pria itu membalikkan tubuh hingga menghadap kearahnya. Kepala pria itu terkulai ke kiri pertanda lehernya patah. Sedangkan wajahnya terlihat pucat, dengan lidah terjulur dan mata membelalak.


Sydra makin tak berkutik saat pria itu melangkah mendekat kearahnya. Dari jarak sedekat itu Sydra bisa mengenali sosok pria yang diyakininya sebagai hantu itu hingga membuatnya panik.


“ Ga..., Gavin...,” kata Sydra gugup.


“ Iya, ini Gue Syd...,” sahut hantu Gavin.


“ Kenapa Lo ke sini, apa mau Lo...?” tanya Sydra dengan berani.


“ Ini gara-gara Lo Syd, Lo harus tanggung jawab...!” sahut hantu Gavin sambil mengulurkan kedua tangannya ke leher Sydra hingga membuat Sydra ketakutan.


Sebelum tangan hantu Gavin menyentuh lehernya Sydra pun jatuh tak sadarkan diri. Sydra ditemukan oleh kayawan pabrik yang ingin mengambil stok baut dari dalam gudang. Karyawan itu curiga karena melihat pintu gudang terbuka tapi Sydra tak terlihat di meja depan.


Perlahan karyawan itu masuk sambil memanggil nama Sydra berulang kali hingga akhirnya ia menemukan tubuh Sydra terbujur di depan pintu kamar mandi. Karyawan itu keluar meminta bantuan untuk memindahkan tubuh Sydra ke atas meja. Karena Sydra tak kunjung siuman, maka para karyawan memutuskan membawa Sydra ke klinik yang ada di lingkungan pabrik.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2