
Kondisi Nadia pasca menjalani ruqyah berangsur membaik. Meski pun hidung dan mulutnya terluka parah akibat membentur lantai saat dirasuki siluman bayi. Suharti dan Mohan masih berjaga di luar ruang rawat inap Nadia. Mereka masih terlihat shock usai menyaksikan proses ruqyah Nadia tadi.
“ Seumur hidup baru kali ini Saya ngeliat orang di ruqyah Pak. Ternyata serem juga ya. Mirip kaya nonton
film horror secara live...,” kata Suharti sambil meraba dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdetak cepat.
“ Iya Bu. Saya aja yang tugas jaga di luar merinding waktu denger suara Nadia yang berubah jadi suara siluman...,” sahut Mohan sambil mengusap wajahnya.
“ Ga nyangka aja kalo mereka berdua bisa dengan mudah ngalahin siluman itu. Padahal mereka masih muda lho...,” kata Suharti kagum.
“ Iya Bu. Bersyukurnya lagi, mereka memanfaatkan kelebihan mereka untuk membantu orang. Kan banyak tuh yang milih nyari uang dengan kemampuan mereka alias jadi dukun gitu...,” sahut Mohan.
“ Ga kebayang deh kalo mereka jadi dukun. Pasti sulit ngalahinnya. Apalagi kalo udah duet kaya tadi...,” kata Suharti.
“ Ssstt, jangan ngomong gitu Bu. Ga enak kalo ada yang dengar. Mereka kan tulus bantuin Nadia, masa Kita malah ngomongin yang jelek tentang mereka...,” kata Mohan mengingatkan.
“ Astaghfirullah aladziim. Iya Pak Mohan betul. Nih mulut emang suka kreatif banget kalo ngomong. Maaf ya Pak Mohan, ampun Ya Allah...,” sahut Suharti sambil menepuk-nepuk mulutnya sendiri karena menyesali ucapannya tadi.
“ Udah Bu jangan ditabokin terus tuh mulut. Ntar kalo bengkak bahaya, dikira Saya yang mukulin Bu Harti...,” gurau Mohan sambil tertawa.
Suharti berhenti menepuk mulutnya sambil tertawa. Kemudian ia membuka pintu ruang rawat Nadia untuk
memastikan kondisi Nadia. Senyum nampak tersungging di bibir Suharti saat melihat Nadia yang tertidur pulas di atas tempat tidur. Setelahnya Suharti pun pamit pulang ke rumah karena jam tugasnya sudah berakhir.
\=====
Fatur, Faiq dan David ada di tepi pantai. Mereka baru saja selesai melarung kain mori berisi siluman bayi yang berhasil mereka kalahkan. Tatapan mata mereka terus mengamati ikatan kain mori yang timbul tenggelam dibawa arus air laut. Makin lama makin ke tengah dan hilang terbawa ombak.
“ Gimana kalo ikatan kain berisi siluman itu ditemuin orang lain nanti...?” tanya David cemas.
“ Insya Allah ikatan kain mori itu bakal terlepas kena ombak dan isinya juga ga bakal bisa kembali untuk gangguin orang lain Om...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Apalagi isinya juga bukan berbentuk tulang atau jasad bayi seperti yang Lo kira Vid. Kalo diliat pake mata biasa
itu hanya kain kosong, ga ada apa pun di sana. Makanya ga akan bisa dimanfaatin sama orang lain nanti...,” kata Fatur menambahkan.
“ Oh gitu. Jadi aman ya Tur...,” sahut David.
__ADS_1
“ Insya Allah...,” sahut Fatur dan David bersamaan.
Tiba-tiba ponsel Fatur berdering. Fatur segera meraihnya dan menerima panggilan itu sambil melangkah mengikuti
Faiq dan David yang mulai bergerak meninggalkan pantai dan berjalan menuju ke mobil.
“ Ya Allah, yang bener Rul. Iya, iya. Insya Allah Gue ke sana nanti...!” kata Fatur lantang hingga mengejutkan
Faiq.
“ Ada apaan Om...?” tanya Faiq.
“ Kyai Syakir dirawat di Rumah Sakit Iq. Yuk, Kita ke sana sekarang...,” ajak Fatur.
“ Iya Om...,” sahut Faiq cepat.
“ Ehm, Kalian pergi aja biar Saya naik Taxi nanti...,” kata David sambil menepuk pundak Faiq.
“ Gapapa Om...?” tanya Faiq tak enak hati.
bergantian lalu menghentikan Taxi yang melintas di depan mereka.
Setelah memastikan David masuk ke dalam Taxi, Faiq pun melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Firdausi tempat Kyai Syakir dirawat.
\=====
Di dalam salah satu ruangan di Rumah Sakit Firdausi terlihat tubuh Kyai Syakir yang terbaring lemah. Kedua
matanya terpejam dan bibirnya terlihat pucat. Di samping Kyai Syakir terlihat Nyai Atijah yang nampak mengusap kepala sang suami dengan sayang. Di sudut lainnya terlihat Syahrul yang tengah membaca Al Qur’an dengan suara lirih.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Terlihat dokter Farah datang bersama seorang perawat. Di belakang mereka terlihat Erik, Fatur dan Faiq yang juga baru saja tiba dengan nafas tersengal-sengal.
“ Assalamualaikum...,” sapa Erik, Fatur dan Faiq bersamaan.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Syahrul dan Nyai Atijah.
“ Kenapa Rul, apa yang terjadi sama Kyai Syakir...?” tanya Erik sambil menjabat tangan Syahrul.
__ADS_1
“ Ga tau nih Bang. Tadi abis sholat Tahajud tau-tau Abi pingsan. Makanya langsung Saya bawa ke sini karena khawatir. Untung ada dokter Farah yang cepat bertindak. Udah dicek dan gapapa kok, tapi masih harus nunggu Abi siuman dulu biar bisa ditanyain apa keluhannya...,” sahut Syahrul.
“ Terus gimana keadaannya Kak...?” tanya Fatur tak sabar sambil menatap Farah.
“ Gapapa, semua normal kok. Hanya kecapean aja. Mungkin ada yang lagi dipikirin sama Pak Kyai dan bikin Beliau
ngedrop...,” sahut Farah.
“ Maaf Nyai. Emangnya apa yang dipikirin sama Kyai Syakir...?” tanya Fatur.
“ Kyai ga cerita apa-apa. Makanya Saya juga bingung Nak...,” sahut Nyai Atijah lirih.
“ Maaf kalo Aku lancang. Bukan maksudku mendahului kehendak Allah. Tapi keliatannya Kyai Syakir mau pamit
karena udah harus kembali ke haribaan Allah...,” kata Faiq hati-hati hingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dan saling menatap satu sama lain dengan tatapan sedih.
“ Insya Allah Kami siap. Iya kan Mi...?” tanya Syahrul sambil memeluk bahu umminya.
“ Betul Nak, insya Allah Kami siap karena memang itu lah yang namanya takdir. Tak ada seorang pun yang bisa
menentang takdir kan. Baik itu tentang takdir hidup atau pun mati...,” sahut Nyai Atijah bijak.
“ Kita bisa melakukan sesuatu sebelum Kyai pergi kan Pa...?” tanya Faiq dengan suara bergetar karena berusaha
menahan kesedihannya.
“ Insya Allah bisa Bang. Kita kumpulin semuanya termasuk Hanako dan si kembar. Mungkin ada sesuatu yang mau
Kyai sampaikan saat melihat ketiga Anak kecil itu ngumpul. Kan Kyai baru liat Hanako beberapa kali. Beda sama si kembar, Kyai udah terbilang sering ketemu si kembar karena sering Kita ajakin silaturrahim ke rumah Beliau...,” sahut Erik yang diangguki Faiq.
Faiq segera menghubungi Heru dan memintanya mengajak Hanako dan Efliya untuk menjenguk Kyai Syakir segera. Kemudian Faiq pulang ke rumah untuk menjemput Shera dan si kembar. Sedangkan Fatur langsung menghubungi Darius dan Fajar. Kini di ruang rawat inap Kyai Syakir dipenuhi lantunan dzikir dan doa. Suasana terasa khidmat dan menegangkan.
Semua orang yang ada di ruangan itu tengah bersiap mengantar kepergian Kyai Syakir dengan dzikir dan doa agar
Kyai Syakir bisa pergi dengan tenang. Sedangkan Kyai Syakir nampak tersenyum di dalam tidurnya hingga membuat nyai Atijah menangis terharu saat melihatnya.
\=====
__ADS_1