
Ternyata ucapan Pandu menjadi nyata. Malam itu ia dan rekan-rekannya diperintahkan kembali ke Jakarta oleh sang Komandan. Pandu dan rekan-rekannya merasa bahagia karena akan segera bertemu dan berkumpul dengan keluarga masing-masing.
“ Apa Lo udah ngabarin Istri Lo kalo Lo pulang sekarang Ndu...?” tanya Wira.
“ Ga sempet, Lo tau signal lagi naik turun di sini...,” sahut Pandu.
“ Jadi mau ngasih surprise nih ceritanya...,” goda Wira.
“ Kayanya sih bukan surprise ya. Kan Gue sama dia masih tinggal sama orangtua masing-masing...,” sahut Pandu.
“ Oh iya, lupa Gue...,” kata Wira sambil tersenyum.
“ Lo sendiri gimana, kapan mau ngelamar cewek Lo itu...?” tanya Pandu.
“ Ga tau, Gue malah ragu sama hubungan ini Ndu...,” sahut Wira dengan enggan.
“ Kalo emang ga yakin ya diudahin aja. Jangan gantungin perasaan cewek kelamaan. Lo ga mau kan jadi gila kaya si Magung...?” tanya Pandu.
“ Ya Allah, Naudzubillahi min dzalik..., jangan sampe lah. Ok, Gue bakal putusin dia secepatnya...,” sahut Wira sambil bergidik.
“ Gue ga nyuruh Lo putusin tuh cewek Wir, Gue cuma ngasih tau aja kalo Lo harus hati-hati sama sikap dan ucapan Lo...,” kata Pandu.
“ Iya Ndu, makasih udah ngingetin Gue...,” sahut Wira yang diangguki Pandu.
Mereka pun berpisah untuk kembali ke tempat masing-masing. Pandu nampak bersiap di balik kemudi pesawat, sedangkan Wira bergabung dengan rekan-rekannya yang lain.
\=====
Pandu tiba di rumah orangtuanya saat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Kedua orangtua Pandu pun terkejut sekaligus senang melihat kepulangan Pandu.
“ Katanya masih tiga minggu lagi pulang, kok malam ini udah sampe rumah...?” tanya sang ibu sambil memeluk Pandu erat.
“ Alhamdulillah tugasnya udah selesai Bu, jadi bisa pulang cepet...,” sahut Pandu sambil menciumi kepala sang ibu yang ada dalam pelukannya.
“ Apa Istrimu udah dikasih tau...?” tanya ayah Pandu.
“ Ga sempet Yah, ga ada signal...,” sahut Pandu.
“ Ya sudah gapapa. Sebaiknya Kamu istirahat dulu sana. Temui dia di kantor Opanya ya Nak, Cici udah ga kerja di kantor yang lama...,” kata ayah Pandu.
“ Gitu ya Yah. Insya Allah nanti Aku ke sana sekalian jemput deh. Tapi tolong Ayah sama Ibu rahasiain kepulanganku ini dari Eisha ya...,” pinta Pandu yang diangguki kedua orangtuanya.
\=====
__ADS_1
Hanako sedang sibuk memeriksa laporan keuangan di ruangannya. Hanako memang ditunjuk sebagai Manager Keuangan oleh Erik. Sedangkan Iyaz dan Izar masih mempelajari posisi apa yang ingin mereka pilih di perusahaan sang opa itu. Meski pun begitu keduanya tetap hadir dan membantu di perusahaan setiap hari.
Tiba-tiba pintu ruangan Hanako diketuk dari luar. Hanako hanya melirik sekilas kearah pintu sedangkan kedua matanya tetap mengamati angka-angka di layar lap topnya dengan seksama.
“ Iya, masuk...,” kata Hanako.
Pintu pun terbuka dan ditutup kembali. Hanako melirik sekilas karyawan yang datang ke ruangannya itu.
“ Ada apa...?” tanya Hanako sambil tetap menatap ke layar lap top.
“ Mmm...,” Saya mau pinjam uang Bu. Anak Saya sakit...,” sahut sang karyawan sambil tetap berdiri dan menundukkan kepalanya.
“ Oh soal itu Kamu bisa langsung ke Bu Reni ya, beliau yang mengurus masalah pinjam meminjam uang karyawan. Nanti Kamu tinggal bilang kesanggupanmu nyicil berapa kali dari uang gaji...,” sahut Hanako.
“ Tapi Saya pinjemnya banyak Bu, Bu Reni ga mau pinjemin. Katanya Saya disuruh langsung menghadap Ibu aja...,” kata sang karyawan hingga membuat kening Hanako berkerut.
“ Sebanyak apa...?” tanya Hanako sambil menatap karyawan yang berdiri di seberang meja kerjanya itu.
“ Satu milyar Bu...,” sahut sang karyawan hingga membuat Hanako terkejut bukan kepalang.
“ Satu milyar untuk apa...?” tanya Hanako mencoba bersikap tenang.
“ Untuk jemput Istri Saya Bu. Dia ngambek terus kabur karena ga Saya kasih uang selama beberapa bulan...,” sahut sang karyawan.
Sang karyawan nampak ragu untuk membuka topinya dan itu membuat Hanako gemas. Ia berdiri lalu mendekati sang karyawan. Namun sebelum langkahnya sampai di hadapan sang karyawan, pria itu telah lebih dulu membuka topinya hingga membuat Hanako mematung di tempat.
“ Kamu...,” Hanako tak melanjutkan ucapannya.
“ Assalamualaikum..., apa kabar Sayang...?” sapa Pandu sambil tersenyum lebar.
Hanako mengerjapkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
“ Kok ga dijawab sih, ga jawab salam kan...,” ucapan Pandu terputus saat Hanako memotong cepat.
“ Wa alaikumsalam, ini beneran Kamu Mas...?” tanya Hanako.
“ Iya, kenapa malah kaya orang bingung gitu sih...?” tanya Pandu.
“ Kamu bilang kan bulan depan baru balik, kok udah sampe sini. Kapan Kamu pulang dari Maluku, kok Aku ga dikabarin...?” tanya Hanako dengan jantung yang berdetak cepat saat melihat Pandu makin mendekat kearahnya.
“ Komandan yang kasih perintah Sha...,” sahut Pandu cepat.
“ Terus Istrimu yang mana yang kabur gara-gara ga dikasih uang sama Kamu...?” tanya Hanako ketus dengan nada cemburu hingga membuat Pandu tersenyum.
__ADS_1
“ Yang kaya gini nih yang bikin kangen...,” gumam Pandu lalu berhenti tepat di depan Hanako dan mengulurkan tangannya di hadapan Hanako hingga membuat gadis itu kebingungan.
“ Apa...?” tanya Hanako ketus.
“ Apa Kamu ga mau salim sama Suamimu ini Sha...?” tanya Pandu sambil menatap kedua mata Hanako.
Hanako tersentak kaget dan ingat jika kini mereka adalah pasangan suami istri yang halal jika saling menyentuh. Dengan ragu Hanako meraih tangan Pandu lalu mencium punggung tangannya dengan khidmat. Pandu tersenyum lalu mengusap kepala Hanako dengan lembut. Setelahnya Pandu pun memeluk Hanako dengan erat hingga membuat Hanako terkejut. Namun hanya sesaat karena saat berikutnya Hanako membalas pelukan sang suami.
“ Jawab dulu siapa perempuan itu...?” tanya Hanako tiba-tiba sambil berusaha mengurai pelukannya.
“ Ga ada perempuan lain, Aku bercanda tadi. Istriku kan cuma Kamu Eisha Hanako...,” sahut Pandu sambil mengeratkan pelukannya.
“ Bohong...!” kata Hanako.
“ Suer...,” sahut Pandu.
Hanako kembali berusaha melepaskan pelukan suaminya dan itu membuat Pandu sedikit kecewa.
“ Jangan dilepas Sha, sebentar aja. Aku masih kangen...,” kata Pandu.
“ Jangan kaya gini Mas, ini kan di kantor...,” sahut Hanako malu-malu.
Pandu pun menghela nafas panjang. Ia mengurai pelukannya setelah sebelumnya mengecup kening Hanako dengan lembut. Wajah Hanako pun merona mendapat perlakuan seperti itu dari sang suami. Kemudian Hanako membawa Pandu duduk di sofa kursi tamu yang ada di ruangan itu dan melanjutkan perbincangan mereka.
“ Kamu terkejut ga Sha liat Aku ada di sini...?” tanya Pandu sambil mengusap pipi Hanako dengan lembut.
“ Banget Mas, tapi Aku senang...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
Dan Hanako kembali terkejut saat melihat keluarganya dan keluarga Pandu memberondong masuk ke dalam ruangan dengan membawa berbagai macam makanan di tangan mereka. Suasana ruangan pun bertambah gaduh dengan kehadiran Iyaz dan Izar.
“ Ini ada apa sih...?” tanya Hanako yang tak sanggup menyembunyikan keterkejutannya.
“ Kamu harus siap-siap jadi pengantin Hana. Kan semua dokumen pernikahan Kalian udah di acc sama Komandannya Mas Pandu...,” sahut Pita antusias.
“ Yang betul Mas...?” tanya Hanako sambil menatap Pandu.
“ Iya Sayang. Aku juga baru terima kabarnya pagi ini. Gimana, Kamu siap kan jadi pengantinku...?” tanya Pandu sambil menggenggam jemari Hanako.
“ Siaaap dong...,” sahut Hanako sambil tertawa disambut tawa semua keluarga yang hadir di sana.
“ Yeeyy...\, kaw*n kaw*n...!” kata Iyaz dan Izar bersamaan hingga membuat semua orang tertawa.
Sedangkan Hanako nampak tersenyum malu di dalam rengkuhan Pandu yang juga ikut tertawa melihat tingkah absurd Iyaz dan Izar.
__ADS_1
Bersambung