
Setelah membantu Mirva lepas dari dekapan iblis, Faiq dan keluarganya pun kembali ke Jakarta keesokan harinya. Pandu pun melepas kepergian mereka dengan berat hati.
“ Andai aja pekerjaan Mas Pandu udah selesai Kita pasti bisa pulang bareng ke Jakarta ya Yaz...,” kata Izar yang masih bisa didengar oleh Pandu.
“ Insya Allah Aku pulang bulan depan. Kan harus tukar shift sama pasukan lain...,” sahut Pandu.
“ Mudah-mudahan pimpinan pemberontak yang Mas Pandu bilang itu cepet ketangkep biar Cici dan Mas Pandu bisa segera kumpul dan menggelar resepsi pernikahan di Jakarta...,” kata Iyaz.
“ Aamiin...,” sahut Pandu dan Izar bersamaan.
“ Tolong jaga Cici ya...,” pinta Pandu.
“ Insya Allah siap Mas. Ga usah khawatir, Cici aman sama Kami, iya ga Yaz...?” tanya Izar yang diangguki Iyaz.
“ Maaf ga bisa nganter sampe bandara ya Yah...,” kata Pandu setelah mencium punggung Tangan Fatur dan Faiq.
“ Gapapa Nak. Kami maklum kok. Kami pergi dulu ya, Assalamualaikum...,” kata Heru sambil melambaikan tangannya.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Pandu sambil tersenyum.
\=====
Beberapa hari kemudian, Pandu masih menjalani tugasnya seperti biasa. Namun kali ini sedikit berbeda karena dia harus menyamar menjadi warga sipil untuk bisa meringkus Buana.
Pandu mengamati pasar sambil berpura-pura menjadi juru parkir. Sedang rekan lainnya juga menyamar menjadi kuli panggul di pasar itu. Saat itu lah Buana yang juga menyamar nampak memasuki pasar. Pria itu menyamar menjadi seorang pengemis dengan tampilan lusuh dan kaki yang pincang. Buana tak menyadari dirinya sedang diintai dan dikepung oleh anggota TNI AU yang menyamar.
Setelah Buana selesai membeli beberapa keperluan pokok, Pandu pun langsung memepetnya kemudian menendangnya hingga jatuh. Buana menjerit kesakitan dan meminta tolong hingga membuat semua pengunjung pasar terkejut dan menatap iba kearah Buana.
“ Aduuhhh..., sakiiit. Apa-apaan ini, tolong Saya. Toloonngg...,” rintih Buana menghiba.
Beberapa orang maju untuk membantu Buana namun segera dihadang oleh Pandu yang berdiri sambil menodongkan senjata api kearah Buana hingga Buana tak berkutik.
“ Jangan bergerak, angkat tangan dan yang lain menyingkir...!” kata Pandu lantang.
“ Eh ada apa ini...?” tanya para pengunjung pasar.
__ADS_1
“ Semua menyingkir dan jangan ikut campur, ini adalah pimpinan pemberontak yang dicari negara...!” kata rekan Pandu lainnya hingga membuat warga terkejut.
Mendengar ucapan Pandu dan rekannya membuat warga terkejut lalu perlahan menyingkir menjauhi Buana. Tak ingin mati konyol, Buana bergerak cepat meraih seorang anak kecil yang digandeng ibunya untuk dijadikan sandera. Sang anak dan ibunya menjerit ketakutan.
“ Kembalikan Anakku...!” jerit sang ibu.
“ Diam di tempat atau Anak ini mati...!” ancam Buana sambil menempelkan pistol di kepala anak itu.
Tentu saja hal itu membuat panik. Pandu pun menurunkan pistolnya karena tak ingin Buana berbuat nekat. Melihat para tentara di hadapannya melemah akibat ancamannya, Buana nampak tersenyum dan sedikit lengah.
Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Pandu yang langsung merangsek maju merebut pistol di tangan Buana. Pandu memutar tangan Buana sedemikian rupa hingga terdengar suara berderak pertanda ada tulang yang patah. Buana menjerit kesakitan. Bersamaan dengan itu Wira maju merebut anak kecil yang ada dalam gendongan Buana dengan cepat dan berhasil membawanya jauh dari Buana. Kemudian Wira menyerahkan anak itu kembali kepada ibunya.
“ Cepat menyingkir dari sini sejauh mungkin Bu...!” kata Wira.
“ Baik Pak, makasih...,” sahut ibu sang anak lalu bergegas meninggalkan pasar tanpa mau menoleh lagi dengan anak dalam gendongannya.
Setelah anak kecil yang dijadikan sandera berhasil diselamatkan, gantian Pandu yang menyerang Buana dengan cepat. Buana masih berupaya menyelamatkan diri namun langkahnya terhenti saat peluru mengenai kakinya. Buana pun ambruk ke tanah dengan darah yang mengalir dari luka di kakinya. Kemudian Buana pun ditangkap dan diserahkan ke Markaz Besar TNI untuk ditindak lanjut.
\=====
Setelah berhasil meringkus pimpinan pemberontak itu artinya tugas Pandu selesai. Dua hari setelah penangkapan Buana ia dan rekan-rekannya bersiap kembali ke Jakarta karena akan bertukar shift dengan pasukan TNI lainnya. Sambil menunggu mereka melakukan aktifitas seperti biasanya. Saat itu Pandu dan rekan-rekannya sedang bersantai sambil olah raga di lapangan usai apel pagi.
“ Ada apa lagi...?” tanya Pandu gusar.
“ Ga tau. Udah Lo temuin aja dulu. Kasian dia, kayanya penting banget tuh...,” sahut Wira.
Didampingi Wira, Pandu pun bergegas menemui Paulus di pos jaga. Saat itu Pandu melihat wajah Paulus yang berbeda dari biasanya dan itu membuat Pandu bertanya-tanya.
“ Assalamualaikum Pak Pandu...,” sapa Paulus.
“ Wa alaikumsalam, ada apa Pak. Apa ada yang bisa Saya bantu...?” tanya Pandu.
“ Oh ga ada. Maksud Saya ke sini mau ngundang Pak Pandu dan Pak Wira ke rumah nanti sore...,” sahut Paulus sambil tersenyum.
“ Memangnya ada acara apa Pak...?” tanya Wira.
__ADS_1
“ Mirva menikah pagi ini, dan nanti sore Kami akan menggelar tasyakuran di rumah...,” sahut Paulus dengan wajah berbinar.
“ Alhamdulillah...,
insya Allah Kami datang Pak...,” kata Pandu sambil tersenyum.
“ Kalo boleh tau siapa calon Suaminya Mirva Pak...?” tanya Wira.
“ Bukan orang jauh Pak Wira, tetangga dekat rumah. Namanya Sein. Ternyata dia sudah lama menyukai Mirva tapi ga berani mengungkapkannya. Saat melihat banyak orang berkumpul di rumah tempo hari Sein kaget. Setelah diceritain sama orangtuanya tentang apa yang dialami Mirva, dia pun mengerti. Tapi setelahnya Sein malah minta sama orangtuanya agar melamar Mirva untuknya...,” sahut Paulus.
“ Apa Mirva mau menerima lamarannya atau...,” ucapan Pandu terputus.
“ Saya tau Pak Pandu mau ngomong apa. Saya ga ikut campur dengan keputusan Mirva, Pak. Mirva sendiri yang menerima lamaran itu dan bersedia menikah dengan Sein...,” sahut Paulus yang mengerti dengan arah pembicaraan Pandu.
“ Kok bisa segampang itu. Apa sebelumnya Mirva dan Sein pernah menjalin hubungan Pak...?” tanya Wira penasaran.
“ Ngapain sih Lo nanya kaya gitu Wir, ga etis tau...,” tegur Pandu hingga membuat Wira salah tingkah.
“ Gapapa Pak. Saya juga sempet mikir gitu awalnya. Mirva bilang dia pernah tertarik sama Sein dulu. Tapi sayangnya Sein kan harus kerja di luar daerah. Makanya Mirva ga bisa berharap banyak. Nah pas orangtua Sein datang melamar Mirva juga kaget dan tanpa pikir panjang Mirva langsung nerima lamaran itu. Rencananya akad nikah dan syukuran pernikahan dibuat sederhana aja sesuai keingainan Sein dan Mirva...,” sahut Paulus dengan santai.
“ Syukur lah kalo begitu, Saya ikut senang mendengarnya Pak...,” kata Pandu yang diangguki Wira.
“ Kalo gitu Saya pamit ya Pak. Jangan lupa datang nanti sore ya, Assalamualaikum...,” pamit Paulus.
“ Wa alaikumsalam, hati-hati Pak...,” sahut Pandu dan Wira bersamaan.
Paulus menjawab dengan melambaikan tangannya. Pandu bisa melihat semangat Paulus saat berjalan dan itu membuatnya bahagia.
“ Apa Lo mau datang ke sana nanti sore...?” tanya Wira.
“ Insya Allah. Lo liat kan betapa bahagianya Pak Pandu karena Anaknya menikah. Kita jangan membuatnya kecewa. Lagian Kita ga punya alasan untuk ga hadir kan...,” sahut Pandu sambil melangkah.
“ Lo ga curiga sama mereka. Jangan-jangan ini hanya siasat mereka buat ngejebak Lo...,” kata Wira.
“ Jangan suudzon Wir, ga baik...,” sahut Pandu.
__ADS_1
Wira mematung sejenak lalu menghela nafas panjang. Ia memang tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu. Namun melihat sikap optimis Pandu membuat Wira tenang.
\=====