Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
40. Cermin Palsu


__ADS_3

Kehadiran Haikal dalam keluarga kecil Heru melengkapi kebahagiaan Heru dan Efliya. Selama ini Heru memang tak pernah bermimpi memiliki anak lelaki. Usai melihat upaya Efliya melahirkan Hanako dulu membuat Heru tak ingin memaksa Efliya hamil lagi. Selain karena rasa cintanya yang besar pada anak dan istrinya, Heru juga tak kuasa melihat Efliya kesakitan saat melahirkan.


Namun sejak Haikal hadir, semangat Heru pun bangkit. Kini tugasnya bertambah. Tidak hanya melindungi keselamatan Hanako dan memastikan putrinya itu tetap aman, tapi kini dia juga harus menjadi contoh yang baik buat Haikal.


Sementara itu Hanako terlihat bahagia dengan kehadiran Haikal. Hanako mengurangi aktifitas di luar rumah hanya agar bisa lebih lama bermain dengan Haikal. Hanako sering mendapat ejekan dari teman-temannya karena punya adik saat usianya remaja dan hampir menginjak sweet seven teen. Tapi Hanako tak peduli. Justru Hanako dengan bangga memperlihatkan foto Haikal pada teman-temannya.


“ Adik Gue tuh ganteng, keren. Kalian pasti iri kan sama Gue karena ga bisa punya Adik seimut Adik Gue ini...,” kata Hanako sambil tersenyum penuh kemenangan.


“ Cih, dasar aneh. Masa udah gede masih punya Adik. Harusnya Lo tuh siap-siap buat bikin Anak bukannya punya Adik...,” sahut salah seorang teman Hanako yang bernama Wanda sambil tersenyum sinis.


Ucapan Wanda disambut tawa teman-temannya. Mereka setuju dengan ucapan Wanda dan itu membuat Hanako kesal.


“ Kalian yang aneh. Masa masih lima belas tahun aja udah kebelet punya Anak. Sekolah dulu yang bener, terus kerja halal cari uang yang banyak baru mikir nikah. Jangan sampe Kalian hamil di luar nikah di umur segini yaa...,” sindir Hanako cuek dan membuat Wanda tersinggung.


“ Maksud Lo apa ngomong kaya gitu Han. Lo nuduh Gue hamil...?!” tanya Wanda sambil berkacak pinggang.


“ Yang bilang Lo hamil tuh siapa. Kan Gue cuma ngingetin supaya jangan hamil di luar nikah, emang salahnya dimana. Kalo Lo ga berasa hamil ya ga usah tersinggung dong...,” sahut Hanako sambil menatap tajam kearah


Wanda.


“ Lo ga usah nyolot deh Han...!” kata Wanda sambil menggebrak meja.


“ Yang nyolot tuh siapa. Kan yang mulai ngomongin Anak itu Lo bukan Gue. Kalo Gue mah lagi ngomongin Adik Gue bukan Anak Gue. Ingat ya Adik Gue...,” sahut Hanako sambil menekankan kata adik tepat di depan wajah Wanda.


Hanako dan Wanda hampir adu fisik jika guru Fisika tak terlihat masuk ke dalam kelas. Wanda dan Hanako kembali ke tempat duduk masing-masing. Dalam hati Hanako masih kesal akan ucapan Wanda dan berharap Wanda mendapat ‘teguran’ hari itu.


“ Coba siapa yang mau ngerjain soal di papan tulis, yang bisa maju ke depan. Salah atau benar tetap dapat nilai kok...,” kata guru Fisika itu sambil tersenyum.


Tiba-tiba Wanda mengacungkan jarinya pertanda ia akan menjawab soal yang diberikan sang guru. Saat Wanda maju ke depan kelas, terdengar suara sumbang dari teman-teman Hanako. Mereka tahu jika Wanda hanya ingin tampil dan dapat nilai gratis karena selama ini Wanda terkenal sebagai gadis yang bo*oh tapi suka cari perhatian.


Hanako yang masih kesal itu menatap Wanda dengan tajam. Kemudian Hanako melirik kearah meja paling depan yang kosong lalu melempar pandangannya dengan cepat kearah Wanda. Meja itu seperti bergeser dengan cepat


hingga menghalangi langkah Wanda. Karena gerakan meja yang tiba-tiba membuat Wanda refleks menghindar namun ia malah tersungkur jatuh dengan posisi tertelungkup dan wajah mencium lantai. Tawa pun membahana dalam kelas hingga membuat guru Fisika terpaksa memukul meja dengan penggaris kayu agar suasana kembali tenang.


“ Cukup, apa-apaan sih Kalian ini. Ada teman jatuh bukannya ditolongin kok malah diketawain. Sekarang Kalian semua maju ke depan dan squad jump sepuluh kali. Sekarang...!” kata guru Fisika galak.


Semua murid terdiam dan langsung menuruti perintah sang guru. Setelah menjalani hukuman dari guru Fisika, mereka kembali duduk di tempat masing-masing dengan tertib.


“ Kamu gapapa Wanda, kok bisa jatuh...?” tanya guru Fisika.


“ Gapapa Bu. Saya juga bingung, kok tau-tau mejanya bergeser sendiri Bu. Karena kaget Saya langsung meghindar tapi malah jatuh tadi...,” sahut Wanda malu-malu.


“ Ya udah kalo gitu Kamu balik aja ke kursimu, jangan lupa nanti pergi ke UKS buat minta obat. Nilai tetap Saya berikan meski pun Kamu batal ngerjain soal...,” kata guru Fisika.


“ Baik, makasih Bu...,” sahut Wanda sambil melangkah terpincang-pincang menuju kursi tempatnya duduk.


Sedangkan Hanako masih termenung dan memikirkan meja yang bergeser karena ulahnya tadi. Tak ingin larut dalam dugaan yang keliru, Hanako pun kembali fokus mengerjakan soal yang diberikan oleh guru Fisika karena tak


ingin dihukum seperti minggu lalu.


\=====

__ADS_1


Hanako dan Faiq sedang menuju rumah Warti, wanita yang ditemui Hanako di Rumah Sakit saat akan menjemput si kecil Haikal. Perjalanan ke sana terhitung lancar. Namun saat tiba di lokasi perumahan yang dimaksud, Faiq dan Hanako sedikit kesulitan mencari rumah Warti.


“ Blok H ga ada Pak, di perumahan ini cuma sampe blok G aja...,” kata seorang warga.


Itu jawaban serupa yang diterima Faiq sejak ia mulai menanyakan alamat Warti di depan perumahan tadi.


“ Emang Bapak cari rumahnya siapa...?” tanya warga.


“ Nyari rumahnya Bu Warti Pak...,” sahut Faiq.


“ Bu Warti mah emang sering halu Pak. Ngaku-ngaku tinggal di rumah mewah padahal rumahnya cuma sepetak. Ngakunya pake baju bagus dan punya uang banyak, padahal yang ada di dompetnya hanya lembaran daun kering. Anaknya juga gitu. Sebenarnya warga kasian sama mereka, tapi ngeliat sikap sombong mereka bikin warga kesal. Yang tadinya niat bantuin Bu Warti malah urung karena Bu Warti marah-marah tiap kali ada yang datang ke rumahnya buat ngasih santunan atau sembako...,” kata warga lainnya.


“ Oohh gitu ya Pak. Kalo Bu Warti yang Bapak ceritain tadi tinggalnya dimana...?” tanya Faiq.


“ Kalo Bu Warti yang tadi Saya ceritain tinggalnya di belakang perumahan ini Pak. Tapi Bapak bisa lewat sini terus belok kiri. Nah di sana ada pagar pembatas perumahan ini dengan perumahan warga. Rumahnya Bu Warti nempel sama pagar ya Pak...,” sahut warga.


“ Baik, makasih Pak...,” kata Faiq lalu kembali masuk ke dalam mobil.


“ Sama-sama Pak...,” sahut warga sambil melambaikan tangan.


Faiq melajukan mobilnya perlahan melintasi jalan yang ditunjukkan warga tadi. Tak lama kemudian Faiq dan Hanako turun dari mobil dan langsung mendekati rumah yang menempel di pagar perumahan. Rumah berukuran


sedang itu terlihat sepi, banyak tumpukan karung berisi pasir di teras rumah. Hanako maju lalu mengetuk pintu.


“ Assalamualaikum Bu Warti...,” panggil Hanako berulang-ulang namun tak ada jawaban.


Faiq mengerutkan keningnya karena yakin jika ia melihat bayangan orang melintas di dalam rumah itu tadi. Tapi orang itu tak menjawab salam apalagi membuka pintu seolah tak mendengar jika ada orang yang mengetuk pintu rumahnya.


“ Mundur dulu Ci...,” kata Faiq yang dituruti Hanako.


Pintu terbuka dan terlihat lah wajah Warti yang tersenyum saat melihat siapa yang telah mengetuk pintu rumahnya tadi.


“ Oh Nak Honako ya...,” sapa Warti ramah.


“ Hanako Bu, bukan Honako...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


“ Iya maaf. Mari silakan masuk...,” kata Warti sambil membuka pintu lebar-lebar.


Saat itu lah aroma lembab tercium keluar. Kemudian Hanako  dan Faiq masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi tamu.


Sambil menunggu Warti membuat teh manis untuk mereka, Faiq mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Ia mencari sesuatu yang membuat Warti tak ‘sadar’ selama ini. Pandangan Faiq terpaku pada sebuah cermin besar


yang ada di ruang tengah. Cermin berbingkai hitam itu mengeluarkan aura mistis yang kuat. Faiq melihat sekelebat bayangan hitam melintas di dalam cermin seolah malu karena tempat persembunyiannya diketahui Faiq. Melihat hal itu Faiq pun mengerti bahwa makhluk itu adalah penyebab dari sikap ‘halu’ Warti selama ini. Faiq tersentak saat Hanako menyentuh lengannya.


“ Papa liat apa, nih Bu Warti nawarin minum...,” bisik Hanako.


“ Oh iya...,” sahut Faiq.


Namun Faiq terkejut saat melihat air yang disuguhkan untuknya dan Hanako berwujud aneh dan berbau anyir.


“ Maaf, Kami ga bisa minum air ini...,” kata Faiq tegas.

__ADS_1


“ Lho kenapa, Pak Faiq ga suka teh itu ya. Padahal itu teh terbaik yang Saya miliki. Saat dissduh warnanya pekat dan mengeluarkan bau harum bunga melati. Pas diminum bikin Kita rileks...,” sahut Warti hingga membuat Hanako bingung.


Faiq memberi kode pada Hanako agar mereka mulai membantu Warti sekarang. Hanako mengangguk tanda mengerti lalu meraih tangan Warti dan menggenggamnya erat. Kemudian Faiq meraih tangan kanan Hanako dan mulai mendeteksi apa yang tengah dialami Warti. Hanya sebentar karena Faiq merasa jika sesuatu mengganggu konsentrasinya.


“ Maaf sebelumnya, kalo boleh tau bagaimana perasaan Bu Warti sekarang...?” tanya Faiq hati-hati.


“ Perasaan Saya sekarang biasa aja...,” sahut Warti santai.


“ Kalo menurut Bu Warti bagaimana sikap tetangga di sekitar rumah Bu Warti...?” tanya Faiq lagi.


“ Mereka itu nyebelin Pak. Mereka selalu ga suka sama apa yang Saya dapatkan. Apalagi Saya sekarang bisa sejajar sama mereka dan ga susah kaya dulu lagi...,” sahut Warti kesal.


“ Maksud Bu Warti gimana ya...?” tanya Hanako tak mengerti.


“ Dulu Saya emang miskin dan susah. Tapi sekarang Saya kaya raya Nak. Kamu liat sendiri kan. Rumah Saya besar dan mewah, pakaian Saya bagus-bagus, uang Saya juga banyak ga terhitung. Tapi kalo Saya dan Anak Saya


keluar rumah, para tetangga itu menyingkir sambil tutup hidung. Mereka juga keliatan sinis saat melihat baju bagus yang saya pake. Mungkin mereka iri dan ga nyangka kalo Saya dan Anak Saya bisa sukses kaya sekarang...,” sahut Warti sambil tersenyum sinis.


Hanako tampak berusaha menahan tawa mendengar ucapan Warti yang berbanding terbalik 180 derajat. Faiq menggelengkan kepalanya untuk mengingatkan Hanako.


“ Maaf. Kalo boleh tau sekarang Bu Warti lagi pake baju apa ya...?” tanya Hanako hati-hati.


“ Saya pake baju batik terusan warna merah terang...,” sahut Warti mantap.


“ Ibu yakin...?” tanya Hanako karena melihat baju yang dipakai Warti berwarna krem lusuh.


“ Yakin dong. Kan Saya udah ngaca di depan cermin besar itu Nak...,” sahut Warti sambil menunjuk cermin besar yang tergantung di dinding ruang tengah.


“ Sebaiknya Ibu ga perlu ngaca di sana lagi...,” kata Faiq tiba-tiba.


“ Lho kenapa emangnya Pak...?” tanya Warti tak mengerti.


“ Karena pantulan yang Bu Warti liat di cermin itu semuanya bohong, palsu...!” sahut  Faiq tegas.


“ Ga mungkin Pak. Saya ga percaya...,” kata Warti tak suka.


“ Ayo ikut Saya Bu...,” ajak Faiq sambil mengajak Warti bercermin di depan cermin besar itu.


Faiq meminta Warti berdiri di depan cermin lalu meminjam cermin bedak yang dibawa Hanako. Warti nampak bingung tapi tetap menuruti perintah Faiq.


“ Sekarang Bu Warti perhatikan pantulan di cermin besar itu lalu bandingkan dengan bayangan yang ada di cermin Hanako ini...,” kata Faiq.


Warti melakukan apa yang dikatakan Faiq. Tak lama kemudian Warti menjerit tertahan karena terkejut melihat pantulan dirinya di cermin Hanako. Saat itu Warti hampir tak mengenali pantulannya sendiri di cermin. Warti terlihat kurus dan sangat kotor, rambutnya kusut seperti tak disisir, kulit wajah dan tubuhnya juga kusam seperti tak pernah tersentuh air, belum lagi pakaian yang menurutnya bagus itu kini terlihat hanya gaun lusuh kotor yang sobek di sana sini.


“ Ini apa, apa yang terjadi. Kenapa Saya kaya gini. Mana bayangan yang benar...?” tanya Warti sambil menoleh kearah cermin Hanako dan cermin miliknya bergantian.


“ Selama ini Bu Warti ditipu oleh cermin besar itu. Apa yang terlihat di sana bukan lah yang sesungguhnya. Kalo Bu Warti melihat baju yang Bu Warti pake itu bagus, aslinya baju Bu Warti sangat jelek, kotor dan bau...,” kata Faiq menjelaskan.


“ Jadi selama ini Saya tertipu, apa yang Saya liat bukan kenyataan. Jadi baju bagus, rumah mewah dan uang banyak itu semuanya bohong...?” tanya Warti dan diangguki Faiq.


Tubuh Warti merosot ke lantai tanpa bisa dicegah. Warti merasa malu saat teringat apa yang pernah ia katakan pada orang-orang yang ia temui. Ternyata mereka bukan memandang iri pada Warti dan anaknya melainkan

__ADS_1


memandang dengan iba karena Warti dan anaknya sedang mimpi sambil berjalan !.


Bersambung


__ADS_2