
Sementara itu Faiq melajukan mobilnya menuju rumah Qiana. Sesuai kesepakatan sebelumnya Ratih akan tinggal
di rumah Qiana untuk sementara waktu. Hal itu dilakukan atas persetujuan kedua orangtua Qiana.
Saat tiba di rumah Qiana, terlihat Qiana dan kedua orangtuanya tengah duduk menunggu di teras rumah. Faiq, Shera dan Ratih pun turun dari mobil.
“ Assalamualaikum...,” sapa Faiq, Shera dan Ratih bersamaan.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Qiana dan kedua orangtuanya.
Saat melihat kedua orangtua Qiana, Ratih pun menghambur memeluk ummi Qiana. Sedangkan Abi Qiana mendekati Faiq dan bersalaman dengannya.
“ Udah Nak, jangan nagis lagi ya. Kamu kan bisa tinggal di sini dulu...,” kata ummi Qiana sambil mengusap punggung Ratih dengan lembut.
“ Iya Mi. Aku bakal cepet cari kost an supaya ga ngerepotin Ummi sama Abi...,” sahut Ratih sambil menghapus air matanya.
“ Ga usah buru-buru. Cari yang terbaik, tempatnya harus aman, bersih dan tertib...,” kata ummi Qiana sambil
tersenyum.
“ Iya Mi...,” sahut Ratih.
“ Betul. Sekarang ajak Ratih masuk dulu ke dalam Nak...,” kata abi Qiana.
“ Iya Bi. Ayo Tih...,” ajak Qiana sambil menggamit tangan Ratih dan membawanya masuk.
Faiq, Shera dan kedua orangtua Qiana pun berbincang akrab di ruang tamu.
“ Kalo ga denger ceritanya dari Qiana rasanya Saya ga percaya Bu...,” kata ummi Qiana membuka percakapan.
“ Iya Bu, Saya juga begitu awalnya. Tapi ngeliat kondisi Ratih waktu kerasukan bikin Saya mau ga mau harus percaya juga kalo Ratih disukai hantu penunggu rumah kostnya...,” sahut Shera sambil tersenyum.
“ Pasti Pak Faiq udah biasa ngadepin hal mistis kaya gitu ya...,” tebak ayah Qiana.
“ Ga juga Pak. Allah kasih Saya kemampuan sedikit untuk bisa berinteraksi sama makhluk tak kasat mata. Jadi Saya bisa membantu Ratih...,” sahut Faiq merendah.
“ Luar biasa. Saya kagum lho sama Pak Faiq...,” kata abi Qiana sambil menatap Faiq lekat.
Perbincangan mereka terhenti saat Qiana dan Ratih keluar sambil membawa nampan berisi teh manis dan makanan ringan. Kemudian Qiana dan Ratih ikut bergabung sambil merencanakan langkah yang akan diambil selanjutnya.
__ADS_1
\=====
Sejak Ratih tinggal bersama mereka, keluarga Qiana pun mengalami gangguan tak kasat mata yang membuat mereka resah.
Seperti malam itu. Ummi Qiana sedang berada di ruang makan untuk menyiapkan makan malam sambil menunggu
kepulangan anak dan suaminya. Sedangkan Ratih baru saja pulang dari kantor dan sedang berada di kamar Qiana untuk mengganti pakaian.
Saat sedang sibuk menata lauk pauk di atas meja, ummi Qiana melihat suaminya melintas di dekat meja makan lalu melangkah menuju gudang yang terletak dekat dapur.
“ Abi udah pulang ya, kok Ummi ga denger suara Abi sama sekali...,” kata ummi Qiana sambil bergerak menghampiri suaminya untuk mencium punggung tangan sang suami seperti kebiasaan mereka selama ini.
Namun anehnya sang suami mengabaikan jabatan tangannya dan membiarkan telapak tangan sang istri menggantung di udara. Ummi Qiana terkejut dan menatap punggung suami dengan pandangan bingung.
“ Kenapa ya dia, masa ngambek sih. Tapi Aku emang ga denger suara salamnya atau langkah kakinya waktu masuk ke rumah kok. Jadi bukan salahku kalo ga menyambutnya tadi...,” gumam ummi Qiana mencoba ‘membenarkan’ sikapnya.
Tersadar dengan sikap egoisnya, ummi Qiana pun mencoba tersenyum lalu menyusul suaminya ke gudang.
“ Maafin Ummi ya Bi. Tadi Ummi beneran ga denger kalo Abi dateng kok...,” kata ummi Qiana sambil melongok ke
dalam gudang yang tanpa pintu itu. Aneh, tak ada siapa pun di dalam gudang yang berukuran 1 X 2 meter persegi itu. Ummi Qiana makin terkejut saat mendengar panggilan suaminya dari ruang makan.
“ Wa..., wa alaikumsalam. Abi kok udah di situ...?” tanya ummi Qiana bingung.
“ Udah di situ gimana sih Mi. Pertanyaannya tuh harusnya begini, Abi udah sampe ya. Maaf ya Ummi ga denger, gitu Mi. Abi yang harusnya nanya, ngapain Ummi di situ...?” sahut abi Qiana mencoba meralat ucapan istrinya.
“ Baru sampe, bukannya Abi udah sampe lima menit yang lalu dan langsung jalan ke gudang...?” tanya ummi Qiana
gusar.
“ Ga kok, Abi baru aja sampe. Ada apa sih Mi...?” tanya abi Qiana saat melihat raut wajah istrinya yang tegang itu.
Ummi Qiana menceritakan apa yang dilihatnya tadi sedangkan abi Qiana mendengarkan dengan seksama. Sesaat kemudian Qiana masuk ke dalam rumah dan menghampiri keduanya.
“ Assalamualaikum, Abi sama Ummi ngapain pada bengong di sini...?” tanya Qiana sambil mencium punggung tangan kedua orangtuanya bergantian.
“ Wa alaikumsala, ini Ummi Kamu lagi cerita aneh...,” sahut abi Qiana sambil menarik kursi lalu duduk di atasnya.
“ Cerita aneh apa Mi...?” tanya Qiana penasaran.
__ADS_1
Ummi Qiana pun menceritakan apa yang dialaminya hingga membuat Qiana membulatkan mata.
“ Yang Ummi ceritain itu Aku juga ngalamin Mi. Jangan-jangan hantu yang mencintai Ratih ngikut lagi ke sini...,” kata Qiana cemas.
“ Ya Allah, gimana nih. Kita harus gimana dong Nak...?” tanya ummi Qiana panik.
“ Insya Allah Aku minta tolong Pak Faiq dan anaknya buat ngatasin ini nanti ya Mi. Tapi Aku mohon jangan ceritain soal ini ke Ratih. Aku ga mau dia merasa kalo kehadirannya udah membuat masalah dalam keluarga Kita...,” pinta Qiana.
Mendengar ucapan bijak putri semata wayangnya membuat kedua orangtua Qiana tersenyum lalu mengangguk setuju hingga membuat Qiana tersenyum lega.
Sesaat kemudian Qiana mencoba menghubungi Izar karena hanya nomor ponsel Izar yang dia miliki.
“ Assalamualaikum Pak Izar, maaf mengganggu...,” sapa Qiana.
“ Wa alaikumsalam, ada apa Qiana...?” tanya Izar.
“ Gangguan mistis yang Saya alamin kemarin juga dialamin sama Ummi Saya Pak. Gimana nih...?” tanya Qiana setengah berbisik.
“ Oh ya, apa wujudnya...?” tanya Izar.
“ Wujudnya cowok yang mirip sama Abi Saya Pak...,” sahut Qiana.
“ Mmm..., keliatannya makhluk yang mencintai Ratih yang berulah. Apa Ratih masih tinggal di rumah Kamu...?” tanya Izar.
“ Iya, masih pak...,” sahut Qiana cepat.
“ Itu sebabnya kenapa orangtuamu juga diganggu. Harusnya Ratih segera pindah dari rumah Kamu kalo ga mau diganggu lagi Qi...,” kata Izar.
“ Apa ga ada jalan lain Pak ?. Saya ga mungkin ngusir Ratih dari sini kan, Saya kasian sama dia...,” keluh Qiana bingung.
“ Sekarang Kamu harus milih Qiana. Orangtuamu atau Ratih. Kalo Kamu menyayangi orangtuamu, maka Kamu harus membiarkan Ratih pergi. Masa gitu aja Kamu harus diajarin juga sih Qi...,” kata Izar sedikit lantang hingga membuat Qiana tersinggung.
“ Maaf ya Pak Izar. Tapi Anda ga berhak memarahi Saya. Ini hidup Saya, jadi terserah Saya apa yang Saya mau pilih. Saya bertanya dan minta pendapat Anda karena Saya liat kemarin Anda cukup handal menghadapi jin itu. Makanya Saya minta tolong lagi. Tapi keliatannya Anda dibutakan rasa benci Anda pada Saya hingga ga bisa bedain mana yang urgent dan bukan. Sekali lagi Saya minta maaf kalo udah mengganggu waktu Anda. Terima kasih dan selamat malam...!” kata Qiana dengan berapi-api lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Izar.
Di seberang sana Izar tengah menatap layar ponselnya dengan tatapan bingung.
“ Dasar cewek bar-bar, ga sopan. Masa minta tolong galaknya minta ampun...,” gumam Izar sambil mengusap dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya karena ucapan lantang Qiana tadi.
Izar tak menyadari jika kekesalan Qiana karena ulahnya juga yang telah mengucapkan kalimat yang memancing emosi gadis itu.
__ADS_1
\=====