Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
224. Hampir Saja


__ADS_3

Pandu terbangun saat mendengar suara ketiga temannya di depan pintu. Saat membuka mata ia melihat Mirva tengah duduk di hadapannya sambil menatapnya lekat. Mirva menghentikan aksinya saat ketiga rekan Pandu masuk ke dalam rumah.


“ Apa Pak Pandu baik-baik aja...?” tanya salah satu rekan Pandu.


“ Alhamdulillah Saya baik-baik aja. Kalian udah selesai kan, Kita balik yuk...,” ajak Pandu.


“ Siap Pak...!” sahut ketiga rekan Pandu bersamaan.


“ Saya udah siapin makan siang, gimana kalo Kalian makan dulu di sini...?” tanya Mirva penuh harap.


“ Maaf Mirva, Kami harus kembali. Ini masih jam kerja dan Kami harus melapor pada atasan. Selain itu Kami harus bergantian tugas dengan yang lainnya...,” sahut Pandu dengan santun.


“ Gitu ya...,” kata Mirva dengan mimik kecewa yang dibuat-buat.


“ Tenang aja Kak, kapan-kapan Kami pasti kembali ke sini buat makan siang. Iya kan temen-temen...,” gurau salah seorang rekan Pandu sambil tertawa.


Dua orang tentara mengangguk sedangkan Pandu nampak tak merespon ucapan Mirva. Kemudian Pandu mengajak ketiga rekannya kembali ke barak.


“ Makasih Pak, makasih Mirva. Maaf udah ngerepotin...,” kata Pandu sebelum beranjak pergi.


“ Sama-sama Pak...," sahut Paulus dan Mirva bersamaan.


Paulus dan Mirva pun melepas kepergian Pandu dan ketiga rekannya dengan perasaan yang berbeda. Jika Paulus merasa senang karena Pandu mau memaafkannya setelah ia berusaha menjodohkannya dengan Mirva, sedangkan Mirva nampak kecewa karena niatnya mengerjai Pandu gagal total.


“ Kenapa mereka harus datang sih, padahal kan tinggal sedikit lagi hampir aja berhasil...,” gerutu Mirva dalam hati.


Saat tiba di barak militer ternyata kelompok shift berikutnya sudah berangkat sejam yang lalu. Karenanya Pandu dan ketiga temannya harus menerima hukuman dari sang komandan. Mereka diharuskan berlari sepuluh kali mengelilingi barak militer itu. Sedangkan Pandu hanya dihukum tiga kali putaran karena sang komandan melihat wajah Pandu yang pucat.


Setelah menjalani hukuman Pandu nampak duduk menunggu ketiga rekannya tadi di bawah pohon. Wira pun datang menghampiri Pandu untuk menanyakan kondisinya.


“ Darimana Lo, kok telat banget baliknya...?” tanya Wira.


“ Mendadak badan Gue lemes banget tadi, kaya ga punya tenaga. Makanya Gue nunggu di warung dan yang lainnya lanjut patroli. Eh, Pak Paulus datang nawarin tempat untuk istirahat. Terpaksa Gue ikut ke rumahnya karena pemilik warung juga khawatir Gue pingsan di warungnya...,” sahut Pandu sambil mengusap wajahnya.


“ Lo ke rumahnya Pak Paulus, nekad banget sih Lo...,” kata Wira tak suka.

__ADS_1


“ Kan Gue udah bilang kalo Gue terpaksa ikut tadi...,” sahut Pandu.


“ Terus Lo ketemu sama Mirva ga...?” tanya Wira.


“ Ketemu...,” sahut Pandu dengan enggan.


“ Jangan-jangan Lo lemes kaya tadi karena pengaruh ilmu hitamnya si Mirva. Apalagi jarak warung ke rumah Pak Paulus kan ga jauh...,” kata Wira.


“ Bisa jadi. Alhamdulillah Gue gapapa kok...,” sahut Pandu.


“ Terus...?” tanya Wira.


“ Ga ada terusannya, kan Gue tidur. Tapi ga tidur banget sih. Anehnya pas Gue bangun, Gue ngeliat si Mirva itu lagi duduk di samping Gue sambil ngeliatin Gue...,” sahut Pandu.


“ Masa sih. Apa Lo makan atau minum sesuatu di sana...?” tanya Wira cemas.


“ Gue ga makan atau minum apa pun di sana. Gue emang ditawarin minum sama si Mirva, tapi Gue tolak. Soalnya Gue ngeliat si Mirva nuang air ke dalam gelas sambil komat-kamit gitu. Alhamdulillah temen-teman datang, pas dia lengah Gue tumpahin deh airnya. Kayanya dia kaget banget tapi Gue ga peduli. Mirva juga sempet nawari makan siang tapi Gue tolak...,” kata Pandu.


“ Ya Allah tuh cewek nekad banget ya. Apa Pak Paulus ga tau kalo Anaknya kaya iblis...?” tanya Wira.


“ Kayanya sih Pak Paulus ga tau apa-apa. Dia malah seneng pas tau Gue mau mampir dan ga masalahin omongannya tempo hari...,” sahut Pandu sambil berdiri menyambut ketiga temannya yang baru saja usai menjalani hukuman fisik dari sang komandan.


\=====


Sementara itu Heru telah kembali ke Jakarta bersama rombongan. Tiba di Jakarta Heru membuat janji untuk bertemu Erik, Fatur dan Faiq. Mereka memutuskan bertemu di luar tanpa sepengetahuan istri masing-masing.


“ Kenapa Her, kayanya ada yang penting dan rahasia banget ya sampe Kita harus ketemuan di luar kaya gini...?” tanya Faiq.


“ Iya Bang. Ini urgent banget...,” sahut Heru.


“ Soal apa Nak...?” tanya Erik penasaran.


“ Soal Cici Pa...,” sahut Heru cepat.


“ Ada apa sama Cici...?” tanya Fatur.

__ADS_1


“ Alhamdulillah Cici gapapa. Tapi Pandu yang lagi kena masalah Om...,” sahut Heru.


“ Masalah apa...?” tanya Fatur lagi.


Kemudian Heru menceritakan kejadian mistis yang dialami Pandu hingga ia terpaksa mengambil keputusan menikahkan Pandu dan Hanako dengan cara siri.


Semua terdiam mendengar penuturan Heru. Sedangkan Heru menatap ketiga pria di hadapannya dengan perasaan was-was karena khawatir jika telah mengambil keputusan yang salah.


“ Sudah terlanjur terjadi, ya mau gimana lagi...,” kata Erik sambil meneguk kopinya dengan santai.


“ Apa Aku salah langkah Pa...?” tanya Heru hati-hati.


“ Saat Kamu memutuskan menikahkan Cici dan Pandu apa yang ada di kepalamu...?” tanya Erik.


“ Aku hanya ingin menyelamatkan pernikahan Cici dan Pandu. Selain itu Aku ingin melindungi Pandu dari guna-guna yang dikirim perempuan itu. Aku berharap dengan statusnya sebagai seorang Suami akan membuat pengaruh pelet itu luntur. Maaf jika Aku salah...,” sahut Heru.


Ucapan Heru membuat Erik, Fatur dan Faiq saling menatap sejenak lalu tertawa hingga membuat Heru kebingungan.


“ Kamu Ayahnya Cici. Apa yang Kamu lakukan adalah hakmu sebagai walinya. Kami mendukung keputusanmu itu seratus persen...,” kata Fatur menenangkan Heru.


“ Alhamdulillah..., Aku kirain Kalian bakal ngamuk karena Aku nikahin Cici tanpa sepengetahuan Kalian...,” sahut Heru sambil mengelus dada hingga membuat Erik, Fatur dan Faiq kembali tertawa.


“ Apa Cici udah tau tentang ini...?” tanya Faiq.


“ Aku bingung mau ngasih tau darimana. Aku khawatir Cici kecewa karena harus menikah dengan cara seperti itu. Apalagi dia ga ada di sana saat ijab kabul, apa dia bisa mengerti tujuanku melakukan semuanya...?” tanya Heru gusar.


“ Cici itu Anak yang cerdas dan bijaksana. Dia pasti mengerti kenapa Kamu melakukan ini. Justru kalo Kamu menyembunyikan fakta sebenarnya, bisa jadi Cici malah kecewa. Jangan sampe dia merasa hanya sebagai boneka yang bisa sekendak hati dimainkan oleh orangtuanya...,” kata Erik.


“ Papa benar tuh Her. Kasih tau aja semuanya. Mungkin setelah Cici tau statusnya sekarang, mereka bisa bebas mengekspresikan perasaan mereka masing-masing. Dan itu bagus lho buat perkembangan hubungan mereka nantinya. Kan Pandu juga perlu suport dari Cici untuk menghadapi semuanya. Siapa tau suport dari Cici bikin Pandu lebih semangat...,” kata Faiq.


“ Gitu ya Bang. Ok deh, Aku bakal kasih tau Cici...,” sahut Heru.


“ Tapi orangtua Pandu udah Kamu kasih tau kan...?” tanya Erik.


“ Udah Pa. Sebelum ijab kabul Aku telephon mereka dan menjelaskan secara singkat. Nampaknya mereka mengerti dan mendukung keputusanku ini Pa...,” sahut Heru sambil tersenyum.

__ADS_1


“ Itu bagus. Jadi ga akan timbul salah paham antara dua keluarga besar nanti...,” kata Erik sambil menghela nafas lega.


\=====


__ADS_2