
Hanako memang belum lama bekerja di toko buku itu. Semula Hanako hanya pelanggan tetap di toko itu. Karena
seringnya datang dan membeli buku di toko itu membuat Hanako cukup akrab dengan beberapa pelayan toko.
Hingga saat ada lowongan pekerjaan ‘penjaga toko’ di depan pintu masuk toko, Hanako memberanikan diri melamar pekerjaan dan diterima. Pada pemilik toko Hanako mengatakan jika saat ini ia sedang kuliah dan hanya bisa bekerja paruh waktu mulai jam dua siang hingga toko tutup di jam sembilan malam. Rupanya sang pemilik toko yang juga sering melihat Hanako di toko miliknya itu pun tak keberatan. Ia mengijinkan Hanako bekerja paruh waktu dan itu membuat Hanako senang bukan kepalang.
Hanako pun meminta ijin pada kedua orangtuanya. Heru dan Efliya tak keberatan dengan niat Hanako asal Hanako lebih mengutamakan kuliahnya dibanding pekerjaannya.
“ Pekerjaan kali ini untuk melatih Kamu ya Nak, hanya melatih. Supaya suatu saat Kamu masuk ke dunia kerja Kamu ga kaget lagi. Ayah ga minta uang gajimu karena insya Allah Ayah masih sanggup membiayai hidupmu ke depannya. Ayah setuju tapi dengan syarat, Ayah minta tetap fokus sama kuliahmu...,” kata Heru tegas.
“ Iya, Bunda juga sependapat sama Ayah. Jangan sampe terbalik ya Kak. Pekerjaanmu malah bikin Kamu ga fokus sama kuliahmu...,” kata Efliya.
“ Iya , Ayah sama Bunda ga perlu khawatir. Makasih Ya Yah, Bun...,” kata Hanako sambil memeluk kedua orangtuanya bergantian.
Dan kini adalah minggu kedua Hanako bekerja di toko buku itu. Selama dua minggu bekerja di sana hanya sekali
Hanako masuk ke dalam gudang penyimpanan buku. Saat Hanako masuk ke dalam gudang pertama kali Wina langsung menarik tangannya dan memintanya keluar dari dalam gudang segera.
“ Lo ngapain masuk ke sana Han...?” tanya Wina.
“ Gue mau tidur...,” gurau Hanako.
“ Gue serius Han...!” kata Wina galak.
“ Gue mau ngambil buku Wina Sayang. Stock buku di rak nomor tujuh udah berkurang tuh, kan abis diborong sama pembeli barusan...,” sahut Hanako.
“ Ok, tapi lain kali Lo ga boleh masuk ke sana ya Han. Bahaya...,” kata Wina sambil berlalu.
Hanako hanya menatap punggung Wina dengan tatapan penasaran tanpa bicara lagi. Dan saaat Wina melarang Hanako untuk yang kedua kali lagi hari ini membuat Hanako makin penasaran namun ia menyimpan rasa penasarannya seorang diri dan memutuskan akan mencari tahu sendiri nanti.
\=====
Malam saat pukul sembilan toko buku itu pun tutup. Dua karyawan dan dua karyawati pun tengah merapikan toko
dan bersiap untuk pulang. Tiba-tiba lampu dalam toko padam dan itu membuat Wina menjerit histeris. Semua karyawan yang mengerti jika Wina phobia gelap pun maklum.
__ADS_1
Dua karyawan yang bernama Bobi dan Madani pun langsung bergegas mengecek sikring lampu yang ada di bagian belakang toko. Sedangkan Hanako mencoba menenangkan Wina yang menangis sambil memejamkan mata.
“ Tenang Win, sebentar lagi lampunya nyala kok. Bang Madani sama Bang Bobi lagi ngecek sikring listrik di luar...,” kata Hanako.
“ Kok lama banget sih Han..., Gue takuuttt...,” sahut Wina di sela tangisnya.
“ Sebentar, sabar ya...,” kata Hanako lagi.
Tak tak tak....
Tiba-tiba terdengar suara berdetak seperti keyboard komputer yang ditekan. Hanako mengerutkan keningnya saat
mendengar suara itu. berbeda dengan Wina yang langsung menjerit histeris saat mendengar suara itu.
“ Tuh kaann..., dia dataanngg...!” jerit Wina sambil menangis.
“ Dia siapa Win, ga ada siapa-siapa kok di sini...,” sahut Hanako.
“ Itu tandanya dia datang Hanako,..,” kata Wina sambil kembali menangis.
Tak tak tak....
suara itu pun hilang. Hanako melihat Wina sedang meringkuk di lantai sambil menutupi wajahnya dengan tubuh gemetar. Bobi dan Madani yang kembali dari belakang nampak menghela nafas lega saat melihat Wina dan Hanako dalam keadaan baik-baik saja.
“ Kalian gapapa kan...?” tanya Bobi.
“ Saya gapapa Bang, tapi Wina shock banget...,” sahut Hanako kebingungan.
“ Wina selalu gitu setiap mati lampu. Kan dia phobia gelap. Tapi sebentar lagi juga mendingan kok...,” kata Madani santai yang diangguki Hanako.
Meski pun Hanako mengangguk namun ia yakin jika Wina tidak dalam kondisi yang baik. Nampak jelas jika Wina bukan hanya phobia gelap tapi juga takut akan sesuatu.
“ Yuk, Kita pulang sekarang. Wina biar Abang aja yang nganter...,” kata Bobi.
“ Iya Bang...,” sahut Hanako dan Wina bersamaan.
__ADS_1
Mereka berempat keluar dari toko buku. Setelah menutup pintu dan rolling door, mereka pun naik ke kendaraan masing-masing. Seorang security yang sedang patroli menyapa mereka dan mereka berbincang sejenak.
“ Kenapa Mas Bobi, tegang banget keliatannya...?” tanya sang security.
“ Biasa Pak, si Wina langsung lemes pas mati lampu tadi...,” sahut Bobi.
“ Mati lampu lagi...?” tanya sang security tak percaya.
“ Iya...,” sahut Bobi dan Madani bersamaan.
“ Aneh, kok cuma toko buku ini aja yang sering mati lampu. Toko lainnya ga tuh...,” kata sang security sambil menatap jajaran toko di samping toko buku itu.
“ Itu yang Saya mau tanya Pak. Kenapa toko ini sering mati lampu...,” kata Madani.
“ Tolong diperhatiin ya Pak. Kasian Wina sama Hanako kalo gelap. Pengunjung juga bakal terganggu kalo mati lampu...,” pinta Bobi.
“ Siap. Besok Saya akan panggil petugas PLN untuk ngecek ya Mas...,” sahut sang security.
“ Iya Pak, makasih. Kami pamit dulu ya Pak...,” kata Bobi mewakili teman-temannya.
“ Silakan, hati-hati di jalan...,” sahut sang security.
Saat mereka hendak keluar meninggalkan halaman toko, tiba-tiba Hanako melihat sosok wanita ada di dalam toko persis di samping toko buku tempat Hanako bekerja. Padahal setahu Hanako toko itu kosong karena belum ada yang menyewa. Pengelola toko lumayan resah karena toko itu belum juga disewa setelah penyewa terakhir menyelesaikan kontraknya.
Hanako menajamkan penglihatannya dan melihat sosok perempuan menggunakan seragam tengah berdiri di dekat jendela sambil menatap keluar. Dari warna dan motif seragam yang dikenakan perempuan itu Hanako mengenalinya sebagai seragam karyawan sebuah mini market.
Wajah wanita itu pucat, kedua tatapan matanya nampak kosong. Dia berdiri mematung sambil menatap keluar dalam keadaan toko yang gelap gulita. Satu telapak tangannya menyentuh jendela kaca sedang tangan lainnya memegang kemoceng seolah sedang membersihkan kaca jendela itu.
“ Ngapain perempuan itu di sana...?” gumam security yang masih bisa didengar oleh Hanako.
Mendengar ucapan sang security membuat Hanako menoleh karena tak menyangka jika ada orang lain yang melihat penampakan perempuan di toko kosong itu.
Sang security nampak berjalan menjauhi tempat itu untuk melanjutkan tugasnya. Saat melintas di depan toko itu, sang security mempercepat langkahnya sambil menatap lurus ke depan seolah enggan bersitatap dengan perempuan yang tengah berdiri lekat dengan jendela. Hanako pun yakin jika sang security mengenali sosok makhluk astral yang ada di dalam toko itu semasa hidupnya dulu, dan itu membuat Hanako makin penasaran ingin mengenal siapa sosok perempuan itu.
“ Pantesan ga ada yang berani nyewa toko itu. Rupanya ada sesuatu di situ. Atau jangan-jangan itu juga yang nakutin Wina tadi...,” gumam Hanako lalu melajukan motornya menuju kearah rumahnya.
__ADS_1
Bersambung