Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
230. Sedikit Drama


__ADS_3

Sore itu Pandu dan Wira memenuhi undangan Paulus. Rumah Paulus nampak dipadati oleh warga yang ikut bahagia dengan pernikahan Mirva. Resepsi pernikahan yang semula direncanakan sederhana menjelma jadi sebuah pesta karena dukungan para tetangga Paulus.


Acara yang digelar di halaman rumah Paulus itu memang tampak meriah. Ada tiga tenda yang digelar, satu untuk panggung sang pengantin, dua lainnya untuk para tamu.


Saat melihat Pandu dan Wira, Paulus pun berdiri lalu merentangkan kedua tangannya hingga membuat Pandu dan Wira sedikit malu karena sikap berlebihan yang Paulus tunjukkan.


“ Mari silakan Pak Pandu, Pak Wira...,” kata Paulus sambil tersenyum.


“ Makasih. Selamat ya Pak, sekarang udah punya menantu...,” kata Pandu disambut anggukan kepala dan senyuman oleh Paulus.


Kemudian Pandu dan Wira menghampiri Mirva dan Sein yang terlihat serasi di atas pelaminan. Melihat kehadiran Pandu membuat Mirva sedikit gugup. Namun Pandu bersikap ramah seolah tak pernah terjadi apa pun diantara dirinya dan Mirva.


“ Selamat ya Mirva dan Bung Sein, semoga rumah tangga Kalian sakinah mawaddah warohmah...,” kata Pandu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Mendengar ucapan Pandu membuat Sein mengerutkan keningnya. Melihat sang suami seperti itu Mirva pun maklum. Tak ingin membuat kecurigaan sang suami bertambah, Mirva pun menyambut ucapan Pandu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“ Terima kasih Pak, tolong sampaikan salam Saya untuk Istri Pak Pandu ya...,” sahut Mirva sambil tersenyum.


“ Insya Allah siaaapp...,” gurau Pandu sambil menunjukkan sikap sempurna hingga membuat Sein dan Mirva tertawa.


Sein pun nampak menghela nafas lega karena akhirnya tahu jika Pandu bukan lah mantan pacar Mirva. Bahkan Sein salut dengan sikap Pandu yang bersedia hadir setelah Mirva membuat drama yang membuat nama baiknya sedikit tercoreng.


Paulus tampak bahagia hari itu. Senyum pun mengembang di wajahnya yang tak lagi muda. Paulus dan ayah Sein nampak bahagia. Dengan santai keduanya berkeliling sambil menyapa para tamu yang hadir. Namun sayangnya senyum Paulus memudar saat terdengar kegaduhan di tenda pengantin.


Rupanya Magung, pria tak waras yang merupakan mantan pacar Mirva datang mengganggu. Ia berteriak-teriak sambil memaki Mirva hingga membuat ibu Sein dan tetangga Mirva panik.


“ Kenapa Kamu malah nikah sama orang lain Mirva. Bagaimana denganku. Bukannya Kamu udah membuatku kehilangan semuanya ?. Hebat ya Kamu, setelah berhasil menghancurkan hidupku dan hidup mantan-mantan pacarmu, seenaknya aja Kau melupakan semuanya dan menikah dengan dia. Aku ga rela Kau bahagia Mirva. Kamu juga harus menderita seperti Aku...!” kata Magung lantang sambil menunjuk Mirva.

__ADS_1


Mendengar ucapan Magung membuat Sein menoleh kearah Mirva yang kini resmi jadi istrinya. Mirva nampak menatap Sein dan Magung bergantian dengan tubuh gemetar.


“ Kak Sein, Aku bisa jelasin semuanya...,” kata Mirva sambil meraih lengan Sein.


Sein membisu dan hanya menatap Magung yang tengah memaki itu tanpa mempedulikan ucapan Mirva. Ucapan Magung makin tak terkendali dan itu membuat Mirva sedih sekaligus malu. Namun di atas semua itu Mirva khawatir Sein akan pergi meninggalkannya seperti yang pernah ia lakukan pada calon istri mantan-mantan pacarnya itu. Dulu Mirva sengaja membuat mantan pacarnya ditinggalkan oleh calon istri mereka sebelum hari pernikahan atau bahkan di hari pernikahan mereka. Dan kini Mirva tak ingin mengalami hal yang sama.


“ Apa Kakak bakal ninggalin Aku setelah mendengar ucapannya...?” tanya Mirva dengan suara bergetar sambil memegang lengan Sein.


Sein tak menjawab dan itu membuat Mirva panik. Mirva sangat takut kehilangan Sein, pria yang telah lama ia cintai yang kini resmi menjadi suaminya. Mirva menelan salivanya dengan sulit saat melihat tatapan Sein yang penuh makna. Mirva tahu arti tatapan itu.


Perlahan Mirva melepaskan tangannya dari lengan Sein lalu menghela nafas panjang. Mirva nampak pasrah jika Sein akan meninggalkannya setelah tahu apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Mirva pun menundukkan wajahnya dan berusaha tegar menghadapi semuanya.


“ Aku ga akan membiarkan Istriku menanggung semuanya sendirian...,” kata Sein tiba-tiba hingga membuat Mirva terkejut.


“ Kak Sein...,” panggil Mirva ragu.


“ Itu semua masa lalumu. Aku yakin Kamu sudah bertobat dan menyesalinya sekarang. Ayo Kita maju bersama, Kita hadapi semuanya. Jangan takut, Kamu ga sendirian. Aku akan selalu menemanimu, selamanya...,” kata Sein sambil tersenyum lalu meraih Mirva ke dalam pelukannya.


Magung pun berhasil dibujuk dengan makanan enak dan sejumlah uang. Magung nampak menurut saat diberikan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.


“ Jangan marah-marah lagi ya. Apa Kamu ga capek marah-marah kaya gitu...?” tanya tetangga Paulus.


“ Aku ga capek...!” sahut Magung ketus.


“ Oh gitu ya. Apa Kamu ga lapar, Saya punya makanan lho...,” kata tetangga Paulus sambil memperlihatkan sepiring nasi yang dilengkapi lauk pauk menggugah selera.


“ Aku lapar, Aku mau makan...,” sahut Magung sambil mengusap perutnya yang lapar dengan mata yang menatap ke piring berisi nasi itu.

__ADS_1


“ Boleh, tapi Kita makannya di sana yuk...,” ajak warga.


“ Iya...,” sahut Magung lalu mengikuti warga yang mengajaknya keluar dari halaman rumah Paulus.


Kemudian Magung dibawa menepi untuk menikmati makanannya. Setelahnya Magung diantar kembali ke rumahnya oleh beberapa warga.


Sedangkan Pandu dan Wira terdiam dan saling menatap usai menyaksikan semuanya. Kemudian mereka kembali melanjutkan menikmati hidangan yang disiapkan tuan rumah. Setelahnya mereka pun pamit meninggalkan rumah Paulus.


“ Kami sekalian pamit karena Kami harus kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini Pak...,” kata Pandu.


“ Rencananya kapan Pak Pandu pulang...?” tanya Paulus.


“ Belum tau Pak. Kami kan prajurit, Kami hanya menunggu perintah Komandan aja. Kalo Komandan bilang pulang hari Selasa, ya Kami pulang hari Selasa. Tapi kalo Komandan bilang pulang sekarang, Ya Kami ga bisa apa-apa kan Pak...,” gurau Pandu hingga membuat Paulus tersenyum.


“ Iya juga ya. Tapi Saya senang bisa mengenal Pak Pandu, Pak Wira dan teman-teman lainnya. Terima kasih juga karena Pak Pandu mau membantu Saya dan Mirva. Tolong maafkan anak Saya jika pernah membuat Pak Pandu ga nyaman tinggal dan bertugas di sini...,” kata Paulus.


“ Gapapa Pak. Semua Saya anggap resiko pekerjaan kok. Itu mah hal biasa dan ga perlu dipikirin terlalu berat. Yang penting Pak Paulus tetap jaga kesehatan dan jaga stamina biar kuat gendong Cucu nanti...,” sahut Pandu sambil menepuk lengan Paulus.


Paulus tertawa bahagia mendengar ucapan Pandu. Ia membayangkan dirinya menggendong cucu yang akan dilahirkan Mirva kelak. Setelahnya Paulus pun melepas kepergian Pandu dan Wira dengan senyum mengembang walau kedua matanya berkaca-kaca.


“ Mereka udah pergi Pak...?” tanya ayah Sein.


“ Udah Pak. Mereka juga sekalian pamit mau balik ke Jakarta karena tugas mereka di sini udah selesai...,” sahut Paulus sambil mengusap ujung matanya yang basah.


“ Keliatannya Pak Paulus lumayan dekat dengan tentara itu...,” kata ayah Sein lagi.


“ Iya. Dia orang baik Pak. Dia masih mau membantu Saya dan Mirva meski pun Mirva udah membuatnya malu...,” sahut Paulus.

__ADS_1


Ayah Sein pun mengangguk tanda mengerti. Ia tak melanjutkan pertanyaannya karena tak ingin membuka luka lama Paulus.


\=====


__ADS_2