
Hari kelulusan sekolah tiba. Iyaz dan Izar pun menjalani proses wisuda setelah belajar selama enam tahun di pesantren. Iyaz dinyatakan sebagai lulusan terbaik sedangkan Izar masuk dalam sepuluh besar siswa dengan rangking terbaik.
Iyaz dan Izar bahagia dan nampak antusias menyambut hari kelulusan itu. Meski pun Izar tak sehebat saudara kembarnya, namun semua santri tetap mengacungkan jempol untuk prestasi keduanya selama di pesantren.
“ Selamat ya Yaz, Kamu jadi lulusan terbaik di angkatan Kita...,” kata salah seorang santri sambil mengulurkan tangannya.
“ Iya makasih...,” sahut Iyaz sambil tersenyum menyambut uluran tangan temannya itu.
“ Selamat juga buat Kamu ya Zar. Kalian memang hebat...,” puji santri lainnya sambil menyalami Iyaz dan Izar bergantian.
“ Makasih...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Iyaz dan Izar terus menerima ucapan selamat dari para santri sebelum mereka berkumpul di aula untuk menghadiri wisuda. Setelahnya semua santri duduk tersebar di berbagai titik sambil menunggu kedatangan keluarga mereka masing-masing. Sedangkan Iyaz dan Izar berada di kamar untuk melanjutkan mengemasi barang pribadi milik mereka karena sejak kemarin mereka belum selesai berkemas. Mereka selalu diganggu oleh kedatangan rekan santri yang memberi selamat kepada mereka setelah pengumuman santri terbaik diumumkan di mading sekolah.
“ Jam berapa Ayah sama Bunda datang Yaz...?” tanya Izar.
“ Mereka lagi di jalan katanya, mungkin setengah jam lagi sampe...,” sahut Iyaz.
“ Ga terasa ya Yaz, Kita udah mau lulus aja...,” kata Izar sambil tersenyum.
“ Iya...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
Keduanya masih berkemas saat salah seorang santri mengabarkan jika keluarga mereka datang. Iyaz dan Izar nampak tersenyum lalu bergegas keluar menyambut kedatangan kedua orangtuanya. Selalu seperti itu. Sikap mereka masih sama seperti dulu, selalu lari untuk menyambut kehadiran keluarga mereka karena bagi Iyaz dan Izar keluarga mereka adalah orang terpenting dalam hidup mereka.
Di teras masjid terlihat Faiq, Shera dan Hanako berdiri sambil berbincang hangat dengan ustadz Hamzah. Hanako yang pertama melihat kedatangan si kembar pun nampak tesenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya.
“ Hei jelek, apa kabar. Selamat ya udah lulus jadi santri terbaik...,” kata Hanako.
Jika biasanya Iyaz dan Izar akan protes dengan panggilan Hanako, tapi kali ini mereka hanya tersenyum lalu memeluk Hanako erat. Ketiganya saling memeluk seolah lama tak berjumpa.
“ Ehm, kayanya cukup deh pelukannya...,” kata Shera sambil berdehem mencoba menyadarkan tiga orang di hadapannya.
Hanako, Iyaz dan Izar tertawa kemudian memeluk Shera bersama-sama hingga membuat Shera terkejut namun sesaat kemudian ikut tertawa. Faiq dan ustadz Hamzah pun ikut tertawa menyaksikan sikap mereka.
“ Silakan Mas Faiq, Saya ke aula dulu untuk ngecek persiapan wisuda...,” kata ustadz Hamzah sambil tersenyum.
“ Baik Pak Ustadz, terima kasih...,” sahut Faiq sambil balas tersenyum lalu menoleh kearah keluarganya.
Iyaz dan Izar mengurai pelukannya lalu beralih memeluk Faiq.
“ Ayah...,” panggil Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Iya Nak. Ayah bangga sama Kalian karena udah berusaha jadi yang tebaik. Makasih ya Anak-anak...,” kata Faiq
sambil mengusap punggung Iyaz dan Izar.
__ADS_1
“ Sama-sama Yah...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Shera dan Hanako saling menatap dan tersenyum melihat Faiq dan kedua anaknya saling memeluk seperti itu.
Ketiganya lebih mirip tiga laki-laki dewasa yang saling memeluk daripada ayah dan dua anaknya. Karena tinggi tubuh Iyaz dan Izar kini sama dengan Faiq. Paras keduanya pun tampan dengan hidung mancung dan mata setajam elang membuat mereka sangat dikagumi oleh semua orang.
Yang membedakan keduanya hanya warna kulit. Izar memiliki kulit sedikit lebih gelap dibandingkan Iyaz. Mungkin
itu sebagai bentuk dari kasih sayang Allah pada Faiq dan Shera. Karena Iyaz memiliki warna kulit yang serupa dengan kulit sang bunda, sedangkan Izar memiliki warna kulit yang sama dengan Faiq. Dan itu membuat keduanya mudah dikenali meski pun mereka kembar.
“ Jadi cuma gini aja nih wisuda Kalian...?” tanya Hanako.
“ Maksud Kamu apa sih Ci...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Maksud Aku, mana cewek yang udah bikin Kalian ga nyenyak tidur itu. Siapa namanya...?” tanya Hanako.
Mendengar ucapan Hanako membuat wajah Iyaz dan Izar bersemu merah. Keduanya langsung menarik tangan Hanako agar menjauh dari kedua orangtuanya. Faiq dan Shera hanya tertawa lalu memilih masuk ke dalam aula bersama wali murid lainnya.
“ Ihhh, lepasin dong. Kalian mau bawa Aku kemana sih...?” tanya Hanako sambil mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Iyaz dan Izar.
“ Jangan ngomong kaya gitu dong Ci...,” kata Iyaz.
“ Emang kenapa, ga boleh, malu...?” goda Hanako sambil mengulum senyum.
“ Bukan gitu Ci. Ntar dikirain Ayah sama Bunda Kami di sini ga serius belajar dan cuma tebar pesona sama cewek-cewek...,” kata Izar hingga membuat Hanako membulatkan matanya.
“ Iya..., “ sahut Iyaz dan Izar bersamaan sambil menatap Hanako lekat.
“ Kalian nih narsis banget sih. Lagian siapa yang terpesona sama Kalian...?” tanya Hanako sambil tertawa geli hingga membuat Iyaz dan Izar salah tingkah.
“ Lho Kami kan cukup menarik...,” sahut Izar santai.
“ Kalo Kamu yang tebar pesona sih Aku percaya, tapi kalo Iyaz kayanga ga mungkin...,” kata Hanako sambil menggelengkan kepalanya.
“ Eh, sebentar. Maksud Kamu apa nih Ci...?” tanya Izar.
“ Pikir aja sendiri...,” sahut Hanako sambil berlalu.
Izar nampak kesal dan bersiap mengejar Hanako namun dicegah oleh Iyaz yang nampak tertawa sambil merangkul tubuh Izar dari belakang.
“ Udah ga usah dikejar...,” kata Iyaz di sela tawanya.
“ Lepasin Yaz. Aku tau maksudnya, dia pasti nuduh Aku sering centil kan sama cewek-cewek jadi nilaiku ga sebaik Kamu...,” sahut Izar sewot.
“ Ngapain didengerin sih. Kamu kan tau kalo Cici itu usil dan sengaja ngomong kaya gitu biar Kamu marah. Eh, Kamu malah beneran kepancing...,” kata Iyaz sambil tertawa.
__ADS_1
Izar tersentak kaget lalu menatap kembarannya yang masih tertawa itu. Kemudian Izar ikut tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal karena sadar telah dikerjai oleh Hanako.
“ Gimana...?” tanya Iya sambil melepaskan pelukannya.
“ Iya, Aku paham...,” sahut Izar malu-malu.
“ Ya udah, sekarang Kita siap-siap. Sebentar lagi acara wisuda mau dimulai kan...,” ajak Iyaz sambil melangkah kearah kamar.
Izar pun mengikuti kembarannya untuk bersiap mengganti pakaian dengan seragam pesantren. Tak lama kemudian
keduanya telah berganti pakaian dan melangkah menuju aula. Namun tiba-tiba sebuah suara memanggil Iyaz dan Izar hingga membuat keduanya menoleh kearah sumber suara.
“ Iyaz..., Izar...!” panggil sebuah suara.
Di ambang pintu gerbang terlihat Neta berdiri sambil melambaikan tangan. Di sampingnya sang ayah nampak berdiri sambil tersenyum. Iyaz dan Izar saling menatap sejenak kemudian tersenyum lalu bergegas menghampiri Neta dan ayahnya yang merupakan guru taekwondo di pesantren itu.
“ Neta, Kamu berhijab...?” tanya Iyaz tak percaya.
“ Lagi belajar berhijab. Gimana, cantik ga...?” tanya Neta.
“ Cantik...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan hingga membuat Bayan tertawa mendengar pujian Iyaz dan Izar untuk
anak bungsunya itu.
Suara tawa Bayan menyadarkan Iyaz dan Izar. Keduanya pun bergegas mencium punggung tangan Bayan dengan khidmat sebagai bentuk rasa hormat mereka pada sang guru.
“ Assalamualaikum Sabeum...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Wa alaikumsalam Anak-anak. Selamat ya, Saya dengar Kalian dapat peringkat tertinggi...,” kata Bayan.
“ Itu Iyaz, kalo Saya cuma masuk sepuluh besar aja kok Sabeum...,” sahut Izar malu-malu.
“ Alhamdulillah..., itu juga prestasi lho Nak. Pasti orangtua Kalian bangga deh punya Anak kaya Kalian...,” kata Bayan sambil menepuk pundak Izar.
“ Aamiin. Oh iya, silakan masuk Sabeum. Di sana meja tamunya...,” kata Izar sambil mengarahkan Bayan dan Neta
menuju aula.
“ Ok, Kami duluan ya...,” sahut Bayan sambil menggamit tangan Neta agar mengikutinya masuk ke dalam aula.
Neta melambaikan tangannya sambil tertawa-tawa hingga membuat Iyaz dan Izar menggelengkan kepala. Meski
mengenakan gamis dan hijab, namun cara berjalan Neta masih terlihat gagah seperti laki-laki.
“ Dasar tomboy...,” gumam Izar sambil tertawa diikuti Iyaz.
__ADS_1
Kemudian Iyaz dan Izar melangkah perlahan lalu bergabung dengan santri lainnya untuk mengikuti proses wisuda di aula.
\=====