
Saat tiba di penginapan Erik dan Farah mengantar Izar masuk ke dalam kamar lalu memaksanya masuk ke kamar mandi. Meski tak mengerti tapi Izar menurut saja saat Erik menyalakan shower lalu menyiram tubuhnya hingga Izar nampak kedinginan. Setelahnya mereka menggantikan pakaiannya. Semua dilakukan Farah dan Erik dengan cekatan dan tanpa bicara sepatah kata pun.
“ Sekarang Kamu berbaring ya...,” kata Farah lembut.
“ Tapi Aku belum ngantuk Oma...,” sahut Izar sambil berusaha bangkit.
“ Tidur lah, pejamkan matamu sebentar saja. Jangan lupa baca doa ya...,” pinta Erik sambil mengusap kepala Izar dengan sayang.
Izar pun mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Sesaat kemudian terdengar dengkuran halus pertanda Izar telah terlelap.
Farah dan Erik saling menatap sambil menghela nafas panjang. Farah nampak mengusap wajahnya karena yakin jika telah terjadi sesuatu pada Izar. Kemudian Farah menggamit tangan suaminya agar menjauh dari Izar.
“ Kenapa sih Pa, apa yang terjadi sama Izar...?” tanya Farah sambil berbisik.
“ Panjang ceritanya Ma, ntar aja Papa ceritain kalo semuanya udah pulang...,” sahut Erik.
“ Tapi...,” ucapan Farah terputus saat Erik memeluknya untuk menenangkannya.
“ Gapapa Ma. Insya Allah apa yang Kita lakukan tadi bisa menetralisir pengaruh buruk yang ngikutin Izar...,” kata Erik sambil mengusap punggung Farah dengan lembut hingga membuat Farah mengangguk.
“ Iya Pa...,” sahut Farah.
Tak lama kemudian Faiq dan yang lainnya kembali ke penginapan dan langsung mendatangi kamar Izar. Saat pintu terbuka, Hanako menghambur masuk sambil bersiap melontarkan amarahnya seperti biasa. Namun saat melihat Izar terbaring di tempat tidur ia nampak bingung.
“ Izar kenapa Opa...?” tanya Hanako.
Faiq yang berdiri tepat di belakang Hanako pun bergegas mendekati Izar, mengecek kondisi Izar sejenak lalu menoleh kearah Erik.
“ Tadi Izar diajak nari sama penari itu Nak. Keliatannya ada yang aneh saat Izar nari bareng sama penari itu. Makanya Papa langsung naik dan ngajak Izar pulang. Barusan Mama juga bantuin Papa mandiin Izar dan gantiin bajunya. Abis itu Papa suruh dia tidur dan anehnya dia nurut dan langsung tidur...,” kata Erik menjelaskan.
“ Makasih Pa, Ma. Itu langkah terbaik untuk menetralisir aura negatif yang ngikutin Izar. Biarin dia istirahat sebentar lagi. Dia pasti merasa sangat capek dan ngantuk...,” sahut Faiq.
“ Sebenernya ada apa Yah...?” tanya Shera.
“ Izar udah kena pelet si penari itu Bun...,” sahut Faiq lirih.
__ADS_1
“ Bukannya Izar masih terlalu muda untuk dipelet Yah. Biasanya kan mereka hanya ngincer pria kaya dan berduit. Nah kalo Izar, apa yang bisa diharapkan dari remaja labil kaya dia...?” tanya Shera tak mengerti.
“ Iya, Papa juga ga ngerti Sher. Wong penampilan penari itu juga keliatan dewasa banget. Papa udah wanti-wanti supaya Izar jangan sampe kepincut. Tapi kayanya ilmu pelet penari itu cukup tinggi sampe bisa bikin Izar kaya orang linglung tadi...,” tambah Erik kesal.
Tiba-tiba terdengar lenguhan dari mulut Izar. Ia membuka matanya lalu bangun sambil menatap ke sekelilingnya
dengan bingung. Semua menatap iba kearah Izar yang terlihat sangat berbeda malam itu. Faiq mendekati Izar lalu mengusap wajah sang anak sambil berdzikir beberapa saat. Kemudian Faiq menyodorkan segelas air kearah Izar yang langsung menyambutnya dan meneguk isinya hingga tandas seolah sudah beberapa hari tak bertemu air.
“ Istirahat lah Nak. Ayah di sini nemenin Kamu...,” kata Faiq sambil kembali membaringkan tubuh Izar di atas tempat tidur
Izar mengangguk lalu memejamkan matanya. Sesaat kemudian Izar membuka mata lalu bangun dan berlari ke kamar mandi. Rupanya Izar muntah hebat di sana. Faiq dan Erik bergegas mengikuti Izar sedangkan Shera menahan tangan Iyaz agar tak ikut masuk ke dalam kamar mandi.
“ Tapi Bun...,” ucapan Iyaz terputus saat melihat gelengan kepala Shera.
“ Jangan sekarang. Bunda khawatir kalo Kalian berdua kena pengaruh ilmu hitam itu. kan Kamu juga baru aja lepas
dari Sandria dan Adiknya. Tubuhmu juga belum cukup kuat untuk bisa bersinggungan dengan hal mistis lagi Nak...,” kata Shera mencoba memberi pengertian.
Iyaz terdiam sejenak lalu mengangguk. Sedangkan Hanako nampak cemas saat melihat ‘musuh bebuyutannya’ itu tak berdaya akibat pengaruh ilmu hitam sang penari tadi.
\=====
Di dalam tidurnya Izar bermimpi seperti dibawa masuk ke sebuah masa dimana ia merasa asing. Izar melihat ke sekelilingnya dan sadar jika ia masuk ke masa puluhan tahun silam sama seperti yang pernah dilihatnya di buku sejarah saat ia belajar di pesantren dulu.
Izar melangkah dengan tenang sambil berdzikir dalam hati menyusuri jalan setapak yang membelah perkebunan kelapa.
“ Laa haula wala quwwata illa billahil aliyyil adziim...,” gumam Izar sambil bersikap waspada sambil mengamati keadaan di sekelilingnya.
Tiba-tiba Izar mendengar perdebatan dua orang perempuan di tengah kebun kelapa itu hingga membuat Izar menghentikan langkahnya dan mencoba mencari asal suara. Dari kejauhan Izar melihat dua orang gadis cantik sedang berdebat seru.
“ Aku kan udah bilang jangan ganggu Suharsa, dia itu pacarku...!” kata seorang wanita berkulit gelap.
“ Yang ganggu dia tuh siapa. Dia yang ngejar-ngejar Aku kok...,” sahut wanita bertubuh langsing di depannya.
“ Ga usah bohong Kamu, mana mungkin dia ngejar Kamu. Dia tau kok siapa Kamu, cuma perempuan miskin dan ga punya malu yang selalu nyari perhatian laki-laki. Jangan sok cantik ya Kamu. Ingat, Kamu hanya orang baru dalam grup jadi ga usah bertingkah...,” maki perempuan berkulit gelap sambil melangkah meninggalkan lawannya.
__ADS_1
Perempuan bertubuh langsing dan berkulit bersih itu nampak mengepalkan kedua tangannya menahan geram. Ia merasa sedih karena mendapat hinaan yang sama untuk yang ke sekian kalinya. Dia kesal karena selalu dituduh berusaha merebut pacar wanita yang bernama Inar tadi.
Tiba-tiba seorang laki-laki nampak berlari menghampiri wanita bertubuh langsing yang kemudian diketahui bernama
Niken.
“ Niken, Kamu gapapa kan. Apa Inar nyakitin Kamu tadi...?” tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya seolah hendak menyentuh wajah Niken.
“ Jangan Kang Harsa...,” sahut Niken sambil mundur beberapa langkah ke belakang.
“ Kenapa Niken, Kamu marah sama Aku. Emangnya apa salahku sama Kamu...?” tanya Suharsa.
“ Aku ga mau dituduh ngerebut Kamu dari tangan Inar ya Kang. Dia tuh marahin Aku dan bilang jangan deketin Kamu lagi karena Kamu pacarnya...,” sahut Niken sambil melengos.
“ Terus Kamu percaya...?” tanya Suharsa.
“ Percaya. Apalagi kan Kalian emang dekat dan Kamu selalu ngasih perhatian lebih sama dia tiap kali grup Kita tampil...,” sahut Niken sambil cemberut.
“ Ya ampun Niken. Aku begitu karena si Inar itu selalu bikin kesalahan tiap kali manggung. Aku ga mau nama grup
tari Kita jelek hanya karena sikap sembrono Inar. Lagipula setiap kali habis Aku kasih tau, dia selalu bisa menari dengan baik dan ga jarang dapat uang saweran yang banyak. Itu kan bagus buat perkembangan grup Kita...,” kata Suharsa.
“ Tapi Kamu kok pernah kaya gitu sama Aku...?” tanya Niken.
“ Itu karena Kamu orang yang bertanggung jawab. Dan selama ini Aku liat Kamu juga selalu sopan dan bisa membawa diri sehingga para penonton ga melakukan tindakan di luar batas saat ikut menari sama Kamu...,” sahut Suharsa.
“ Iya Aku tau, tapi Aku kan juga pengen diingetin kaya si Inar gitu...,” kata Niken manja.
“ Oh, jadi Kamu cemburu ya. Kalo gitu artinya pernyataan cintaku sekaligus lamaranku kemarin dterima dong...?” tanya Suharsa penuh harap.
“ Iya Kang, Aku mau nikah sama Kamu...,” sahut Niken malu-malu.
“ Syukur lah, makasih ya Niken...,” kata Suharsa sambil melonjak kegirangan lalu memeluk Niken erat.
“ Sama-sama Kang...,” sahut Niken sambil membalas pelukan Suharsa.
__ADS_1
\=====