Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
298. Berbalik


__ADS_3

Di dalam rumah keluarga Diki terlihat ibu, tante dan ayah Diki nampak menggelepar di lantai. Ketiganya menjadi sasaran sinar putih yang sedianya menyerang Ki Celeng tadi. Wajah ketiganya memucat sambil tangannya memegangi dada yang seolah akan meledak karena saking panasnya.


Rupanya letusan dan jeritan di rumah Diki juga diketahui oleh warga yang langsung berdatangan ke rumah Diki


untuk melihat apa yang terjadi. Mereka pun bergerak membantu ketiga orang yang terluka itu lalu membawanya ke klinik terdekat.


Diki yang saat itu baru pulang dari kantor pun bingung melihat banyak orang berkerumun di rumahnya.


“ Assalamualaikum, ada apa ini. Kenapa rame banget...?” tanya Diki sambil bergegas turun dari mobilnya.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut warga bersamaan.


“ Untung Mas Diki cepet pulang, kalo ga kasian deh keluarganya...,” kata seorang warga.


“ Emang keluarga Saya kenapa Bu...?” tanya Diki penasaran.


“ Tadi ada ledakan keras banget di atas genteng rumahnya Mas Diki, terus ga lama Kami denger ada suara jeritan. Pas Kami datang ke sini ga taunya Ayah, Ibu dan Tantenya Mas Diki udah tergeletak di lantai...,” sahut salah satu warga.


“ Apa...?!” kata Diki panik.


“ Tenang aja Mas, mereka udah dibawa ke klinik Marsha di depan sana. Sekarang mereka masih di sana dan udah


ditangani sama dokter kok...,” sahut warga lainnya yang baru saja tiba dari klinik usai mengantar keluarga Diki tadi.


“ Syukur lah, makasih Pak...,” kata Diki sambil mengelus dada.


“ Sama-sama...,” sahut warga tadi sambil tersenyum.


“ Sebenernya tadi itu ledakan apa sih Mas Diki...?” tanya warga penasaran.


“ Saya juga ga tau Pak. Kan Saya baru sampe rumah...,” sahut Diki bingung.


“ Mungkin ada tabung gas yang bocor di dapur...,” tebak salah seorang warga.


“ Ga mungkin Pak. Kalo tabung gas bocor terus meledak, pasti atap rumah dan sebagian dinding juga hancur. Nyatanya semua baik-baik aja dan masih utuh. Hanya penghuni rumahnya aja yang pingsan...,” kata warga lainnya.


“ Terus ledakan apaan dong tadi, mana kenceng banget lho suaranya...,” kata seorang pria sambil menatap kearah rumah Diki.


“ Biar nanti diselidiki sama security Pak...,” sahut ketua RT yang baru saja tiba di rumah Diki.


“ Baik Pak, makasih...,” kata Diki.


“ Sama-sama Mas Diki. Untuk sementara warga dan Mas Diki sekeluarga sebaiknya menjauh dulu dari tempat ini ya. Saya khawatir ada ledakan susulan nanti...,” kata ketua RT yang dipatuhi oleh warganya.

__ADS_1


Satu per satu warga meninggalkan rumah Diki dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Setelahnya Diki memutuskan menjenguk keluarganya di klinik.


“ Saya permisi dulu ya Pak RT. Saya mau jenguk keluarga Saya yang dibawa ke klinik...,” pamit Diki sambil menjabat tangan sang ketua RT.


“ Silakan. Mas Diki ga perlu khawatir, rumahnya Kami yang awasi...,” kata ketua RT yang diangguki Diki.


Sesaat kemudian Diki melajukan mobilnya menuju klinik untuk menjenguk keluarganya itu.


\=====


Setelah kepergian makhluk hitam berwujud anak kecil itu, kondisi mama Nuara memang berangsur membaik. Perutnya tak lagi membuncit dan wajahnya pun tak lagi pucat. Walau pun banyak lebam kebiruan di sekujur tubuhnya sebagai imbas dari kerasukan makhluk halus tadi, namun mama Nuara nampak lebih sehat dari sebelumnya.


“ Mama...,” panggil Nando mewakili Nuara yang tak sabar melihat keadaan sang mama.


“ Kakak..., gimana keadaanmu sekarang...?” tanya Dewi hati-hati.


“ Mmm..., kepalaku dan badanku sakit sekali Wi...,” sahut mama Nuara lirih.


Meski pun jawabannya berupa keluhan, tapi jawaban itu menggembirakan semua orang karena itu pertanda jika mama Nuara telah lepas dari pengaruh guna-guna. Semua orang tersenyum lega sambil mengucap hamdalah bersama-sama.


“ Kenapa Kalian ngucap hamdalah semua sih. Terus Bapak-bapak itu siapa...?” tanya mama Nuara sambil menunjuk kearah Faiq dan Fatur.


Ucapan mama Nuara membuat semua orang tertawa. Kemudian Adam maju mendekati istrinya dan menjelaskan semuanya.


“ Masya Allah, makasih ya udah mau datang menjenguk Saya. Maaf kalo harus ketemu dengan cara seperti ini...,” sahut mama Nuara antusias sambil menangkup kedua telapak tangannya di depan dada sebagai salam perkenalan.


“ Gapapa Bu, Saya senang akhirnya Kita bisa ketemu...,” kata Faiq sambil tersenyum.


Kemudian Faiq dan Fatur pun berbincang akrab dengan orangtua Nuara. Sedangkan di sudut ruangan terlihat Iyaz tengah mengamati Nuara yang berdiri di sampingnya. Nuara nampak salah tingkah karena terus dipandangi dengan cara seperti itu.


“ Ehm, maaf Mas. Apa ada yang salah sama Aku, kok Kamu ngeliatinnya kaya gitu...?” tanya Nuara hati-hati.


“ Ga ada yang salah. Aku lupa bilang kalo Kamu cantik pake gaun itu...,” sahut Iyaz hingga membuat wajah Nuara merona.


“ Alhamdulillah, makasih bajunya ya Mas. Aku suka. Tapi mujinya jangan berlebihan gitu dong Mas...,” kata Nuara sambil mencoba mengalihkan tatapannya kearah lain.


“ Emang kenapa...?” tanya Iyaz sambil menahan senyum.


“ Malu tau...,” sahut Nuara lirih.


“ Tapi Aku ngomong jujur kok. Kamu emang cantik pake gaun itu...,” kata Iyaz tak mau kalah.


“ Aku baru tau lho kalo Kamu ternyata bisa gombal juga ya Mas. Padahal yang aku tau selama ini Kamu tuh kaku

__ADS_1


dan cuek banget sama cewek termasuk Aku...,” sahut Nuara sambil tersenyum simpul.


“ Banyak yang belum Kamu tau tentang Aku Nuara. Dan Aku akan perlihatkan semuanya satu per satu sampe Kamu takjub dan ga nyangka kalo Suamimu ini orang yang sama sekali berbeda dengan yang selama ini Kamu kenal...,” kata Iyaz ambigu sambil berbisik dekat telinga Nuara.


Mendengar kata ‘suami’ membuat senyum di wajah Nuara memudar perlahan. Nuara seolah tersadar jika statusnya kini adalah istri sah Iyaz. Perlahan ia memberanikan diri menatap Iyaz yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum. Nuara melihat ada pendar cinta di kedua mata Iyaz untuknya. Dan Nuara bahagia karenanya.


Saat Iyaz mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipinya, Nuara kembali gugup dan sedikit memundurkan tubuhnya. Iyaz pun maklum dengan sikap Nuara dan mengurungkan niatnya untuk menyentuh wajah Nuara tadi. Sadar jika sikapnya tak berkenan di hati Iyaz, Nuara pun meminta maaf.


“ Maaf Mas, Aku cuma belum terbiasa...,” kata Nuara lirih.


“ Gapapa Ra, santai aja...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.


“ Makasih Mas...,” kata Nuara balas tersenyum.


“ Sama-sama...,” sahut Iyaz lalu bergeser menjauh dari Nuara  yang masih canggung itu dan duduk di samping kembarannya.


“ Jadi sakitku ini karena apa Pa...?” tanya mama Nuara bingung.


“ Mmm..., gimana ya jelasinnya. Papa juga bingung...,” sahut Adam sambil menggaruk kepalanya.


“ Kenapa ga jujur aja sih kalo Mama itu kena santet Pa. Ga tau siapa yang ngirim, yang pasti orang itu dendam banget sama keluarga Kita...,” kata Nando tiba-tiba hingga mengejutkan sang mama.


“ Jangan suudzon Nando...,” kata Adam mengingatkan sambil menatap lekat kearah anaknya itu.


Nando nampak salah tingkah sedangkan sang mama nampak termenung.


“ Tapi menurut Mama apa yang Nando bilang itu bener deh Pa. Walau Mama ga ingat semua kejadian hari ini 100%, tapi Mama inget waktu perut Mama mendadak buncit kaya orang hamil delapan bulan tadi. Pas Mama sadar, rasanya badan dan kepala Mama kok sakit semua ya. Mana di sekujur kulit lebam-lebam gini, persis kaya orang ketempelan makhluk halus...,” kata mama Nuara.


“ Ibu memang sempat kerasukan tadi. Alhamdulillah iblis yang merasuki Ibu udah pergi. Dan sekarang mungkin iblis


yang dikirim untuk menyakiti Ibu udah kembali ke pengirimnya...,” kata Fatur menengahi.


“ Tuh kan bener. Terus siapa yang ngirim Pak...?” tanya mama Nuara.


“ Kami ga tau, tapi yang Nando bilang betul. Keliatannya orang yang ngirim guna-guna itu adalah orang yang sakit hati dan benci sama keluarga Kalian...,” sahut Fatur.


Adam dan istrinya saling menatap sejenak lalu membulatkan matanya. Mereka menyebut satu nama yang mengejutkan seisi ruangan.


“ Diki...!” kata Adam dan istrinya bersamaan.


“ Siapa Diki...?” tanya Fatur.


“ Laki-laki yang ngelamar Kakak tapi ditolak sama Papa...,” sahut Nando lugas hingga mengejutkan semuanya.

__ADS_1


\=====


__ADS_2