
Usai menunaikan sholat Isya berjamaah, Faiq dan keluarganya pun kembali duduk untuk membahas tentang siluman wanita yang mereka hadapi tadi.
“ Jadi kemana Nek Inar itu sekarang Pak...?” tanya Tamim penasaran.
“ Raganya hancur bersama siluman yang tinggal di dalam tubuhnya tadi Pak...,” sahut Faiq.
“ Ya Allah, kasian banget ya dia...,” sahut beberapa warga.
“ Kenapa kasian sih Pak. Dia itu kriminal lho Pak. Udah banyak pemuda kampung Kita yang mati di tangannya. Kalian denger sendiri kan tadi gimana sombongnya dia saat mengakui perbuatannya itu...,” sahut Mukhlis kesal.
“ Betul. Karena lama memuja siluman, penganut setia siluman, akhirnya ikut mati bersama siluman. Ga tau deh gimana nasibnya kelak...,” gerutu Sopran.
“ Terus kemana Nek Niken pergi Yah...?” tanya Iyaz lagi.
“ Oh iya, kemana ya Nenek itu. Dia lho yang udah nyuruh Saya buat manggil warga sekaligus bawa peralatan dari bambu tadi...,” kata Tamim.
“ Masa sih Pak, kapan...?” tanya Hanako tak percaya karena seingatnya nek Niken selalu ada di sampingnya.
“ Sebelum sholat Maghrib tadi...,” sahut Tamim mantap.
“ Jadi itu kelemahan yang dimaksud Nek Niken ya Yah. Siluman itu takut sama semua benda yang terbuat dari bambu. Terdengar aneh tapi nyata karena siluman itu memang langsung menjerit saat melihat tali bambu yang kecil ini...,” kata Iyaz sambil memegang helaian tali bambu yang biasa digunakan untuk mengikat sayuran oleh para petani.
“ Jangan-jangan Nek Niken juga ikut hancur bersama siluman tadi ya Pak...,” kata Mukhlis iba.
“ Keliatannya begitu Pak. Mungkin saat Kita semua lari menyelamatkan diri, Nek Niken ga sempat lari dan akhirnya ikut meledak bersama siluman itu...,” sahut Faiq tak enak hati.
“ Kasian banget ya Nek Niken...,” kata Tamim dengan mata berkaca-kaca.
“ Kita kirimkan Al Fatihah khusus untuk Nek Niken ya Anak-anak. Semoga Nek Niken husnul khotimah dan amal
ibadahnya diterima oleh Allah...,” kata Faiq dan diangguki oleh Hanako, Iyaz dan Izar.
Kemudian warga pun membacakan surah Al Fatihah khusus untuk nek Niken. Setelahnya Faiq pamit untuk kembali ke penginapan bersama keluarganya. Warga melepas Faiq dengan senyum bahagia. Meski tak mengharapkan imbalan, namun saat Faiq memberikan sejumlah uang sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka warga pun menerimanya dengan senang hati. Apalagi jumlah uang yang Faiq berikan lumayan banyak dan itu membuat warga senang bukan kepalang.
Saat Hanako bertanya mengapa Faiq melakukan hal itu, Faiq hanya tersenyum.
__ADS_1
“ Nyawa Izar bisa selamat atas bantuan mereka juga Ci. Andai mereka ga turun tangan membantu pasti akan sulit rasanya Kita bisa menyelamatkan Izar secepat ini...,” kata Faiq.
“ Oh gitu ya Pa. Mmm..., kalo soal Nek Niken, Papa tau kan kemana perginya nek Niken...?” tanya Hanako.
“ Nek Niken itu udah meninggal Ci. Yang ngikut sama Kita itu hanya arwahnya aja...,” sahut Faiq tenang.
Mendengar ucapan Faiq membuat Erik, Hanako, Iyaz dan Izar terkejut tak percaya.
“ Ayah tau sejak kapan...?” tanya Izar.
“ Ayah tau sejak awal, sejak Kita berangkat ke sanggar tadi siang...,” sahut Faiq.
“ Kalo Ayah udah tau kenapa ga bilang sama Kita sih Yah...?” protes Iyaz.
“ Lho untuk apa. Lagian dia ga ganggu Kita dan Kalian juga terlihat nyaman aja tadi. Jadi buat apa Ayah bilang kalo hanya bikin suasana jadi tegang dan misi Kita terhambat...,” sahut Faiq santai.
“ Papa tau darimana kalo Nek Niken bukan manusia kaya Kita...?” tanya Hanako penasaran.
“ Dari cermin...,” sahut Faiq cepat.
“ Gampang. Ga ada bayangan Nek Niken di cermin, padahal jelas-jelas dia ada bersama Kita. Saat Ayah mau ngingetin dia supaya ga gangguin Kalian, dia udah ngacungin jempol duluan sambil tertawa. Ya udah, Ayah ngalah deh...,” sahut Faiq lagi.
Penjelasan Faiq membuat Hanako, Iyaz dan Izar kesal. Mereka tak menyangka jika seharian ini mereka bersama arwah nek Niken. Terasa sedikit berbeda karena ketiganya sama sekali tak menyadari jika nek Niken hanya arwah dan bukan manusia biasa seperti mereka.
Saat tiba kembali di penginapan mereka disambut pelukan hangat Farah dan Shera. Meski pun sedih melihat kondisi Izar yang terluka parah di bagian punggung akibat kibasan selendang Inar, namun Shera tetap tersenyum. Dalam hati ia bersyukur karena semua kembali dalam keadaan selamat.
“ Untuk sementara lukanya ga boleh kena air dulu ya Nak...,” kata Farah usai mengobati luka Izar.
“ Iya Oma, makasih...,” sahut Izar.
“ Terus ini apa Zar. Kok banyak merah-merah gini di leher dan dadamu...?” tanya Iyaz tak mengerti sambil menyentuh noda merah di permukaan kulit Izar.
“ Ini..., oh ini bekas gigitan Nenek gila tadi...,” sahut Izar santai.
“ Digigit, kok ga berdarah...?” tanya Iyaz tak percaya.
__ADS_1
Pertanyaan Iyaz membuat semua orang dewasa di ruangan itu nampak salah tingkah. Mereka bingung bagaimana menjelaskan pada remaja lelaki itu tentang apa yang telah dilakukan nek Inar pada Izar tadi.
Kemudian Izar membisikkan kalimat rahasia di telinga Iyaz hingga Iyaz nampak mengangguk tanda mengerti. Namun ada yang sedikit berbeda karena wajah Iyaz dan Izar sama-sama merona usai membicarakan noda kemerahan di kulit Izar itu.
\=====
Setelah menunda kepulangan selama dua hari, akhirnya Faiq dan keluarga pun kembali ke Jakarta. Hanako, Iyaz dan Izar merasa puas karena liburan kali ini terasa berbeda. Selain berlibur mereka juga mendapat pengalaman baru yang seru dan menegangkan terutama saat sedang menyelamatkan diri dari efek ledakan siluman wanita di hutan larangan kemarin malam.
Saat sedang berada di bandara udara Zainuddin Abdul Madjid, tak sengaja Hanako melihat sosok wanita yang mirip dengan nek Niken. Hanako menajamkan penglihatannya dan yakin jika wanita tua bergamis dan berhijab hitam itu adalah nek Niken.
Wanita itu nampak berdiri diantara kerumunan orang yang berlalu lalang tanpa merasa terganggu sedikit pun. Saat itu juga Hanako bisa melihat jika tubuh nek Niken bisa dilalui begitu saja oleh orang yang berlalu lalang alias tembus pandang. Hanako sedih dan berusaha menerima kenyataan jika nek Niken hanya lah arwah seperti yang dikatakan Faiq kemarin.
“ Buruan Ci, ntar Kita ketinggalan pesawat lho...!” kata Iyaz lantang.
Hanako tersadar lalu mengusap air mata yang menitik di ujung matanya. Hanako tersenyum lalu melambaikan tangannya kearah arwah nek Niken yang juga tengah menatapnya.
“ Aku pamit ya Nek, makasih udah membantu Kami kemarin. Aku sayang sama Nenek...!” gumam Hanako sambil melambaikan syalnya di atas kepala dengan air mata yang tak kuasa ditahannya.
Di luar dugaan, arwah nek Niken tersenyum lalu membalas lambaian tangan Hanako. Rupanya ia sengaja mengantar kepergian Hanako dan keluarganya.
“ Pergi lah Nak. Senang bisa mengenalmu dan keluargamu. Hati-hati ya, Nenek juga sayang Kamu Hanako...!”
kata nek Niken yang hanya bisa didengar oleh Hanako, sesaat kemudian ia pun menghilang begitu saja.
Faiq yang juga melihat penampakan arwah nek Niken tampak tersenyum. Ia berdiri di belakang Hanako sambil mengusap kepalanya dengan sayang.
“ Dia udah pergi Nak...,” bisik Faiq.
“ Apa Papa liat dia juga...?” tanya Hanako dengan suara bergetar.
“ Iya. Dia menyayangimu tapi Kalian ga bisa bersama, maaf...,” sahut Faiq lirih.
“ Gapapa Pa. Aku ngerti kok...,” kata Hanako sambil tersenyum hingga membuat Faiq bisa bernafas lega.
Kemudian Faiq dan Hanako masuk ke dalam pesawat yang membawa mereka terbang menuju Jakarta.
__ADS_1
Bersambung