Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
264. Tempat Baru


__ADS_3

Iyaz, Izar dan Hanako hampir berhasil mencapai sosok buaya raksasa itu. Namun hal itu membuat raja siluman biawak murka. Ia memerintahkan pengawalnya melemparkan tombak-tombak kearah mereka. Ketiganya tak menyadari datangnya belasan tombak dari arah belakang mereka, tapi sang buaya raksasa melihat hal itu dan nampak menggeram marah.


Kemudian buaya raksasa itu melompat tinggi melewati kepala Iyaz, Izar dan Hanako untuk menangkis serangan tombak pasukan siluman biawak. Hanako memejamkan mata karena ngeri saat menyaksikan buaya raksasa itu melintas di atas kepalanya.


Hembusan angin menerpa tubuh Iyaz, Izar dan Hanako saat buaya raksasa itu berhasil mendarat di belakang mereka. Ketiganya menoleh dan mendapati belasan tombak menancap di tubuh sang buaya. Iyaz, Izar dan Hanako pun saling menatap dan mengerti mengapa buaya raksasa itu melompat tadi.


“ Di..., dia menangkis tombak-tombak itu demi Kita bertiga...,” kata Hanako gugup.


“ Iya Ci...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan sambil menatap sang buaya dengan tatapan kagum.


“ Apa dia terluka...?” tanya Hanako.


“ Aku gapapa, Kalian tenang aja...,” sahut buaya raksasa itu sambil tersenyum kearah Hanako.


Hanako hampir pingsan saat mendengar buaya itu bicara dan tersenyum kearahnya. Namun Hanako menguatkan


diri dengan kembali berdzikir dan itu membuat buaya raksasa itu mengangguk. Kemudian buaya raksasa menggetarkan tubuhnya hinnga tombak yang menancap di tubuhnya itu terjatuh dengan sendirinya dan tak menimbulkan luka sujung kuku pun di sana. Setelahnya ia membalikkan tubuhnya menghadap pasukan siluman biawak.


“ Serahkan wanita itu padaku dan ambil sisanya untukmu...!” kata raja siluman biawak lantang.


“ Aku mau mereka bertiga...,” sahut buaya raksasa itu.


“ Jangan serakah. Aku hanya minta satu dari tiga...,” kata raja siluman biawak dengan gusar.


“ Tapi mereka bertiga tak bisa dipisahkan, jadi Aku akan membawa ketiganya tanpa terkecuali...,” sahut buaya raksasa itu dingin dan siap membalikkan tubuhnya.


“ Jangan Kau pikir Aku takut. Selama ini Aku hanya tak ingin ribut. Tapi karena Kau yang mulai, jangan salahkan Aku jika terpaksa melakukan kekerasan...,” kata raja siluman biawak.


“ Aku masih menunggu...,” sahut buaya raksasa itu hingga membuat raja siluman biawak makin marah.


“ Serang dan habisi mereka. Selamatkan Permaisuriku...!” kata raja siluman biawak dengan lantang.


Pasukan siluman biawak pun merangsek maju. Sebagian menyerang buaya raksasa dan si kembar, sebagian lain mencoba menggapai Hanako. Sedangkan Iyaz, Izar dan Hanako kembali bersiap menghadapi serangan pasukan siluman biawak.


Namun ketiganya menganga tak percaya saat buaya raksasa itu berhasil menghadang serangan pasukan siluman biawak. Ternyata berat tubuhnya tak menghalangi gerakan sang buaya. Ia bisa bergerak lincah ke kanan dan ke kiri, bahkan dengan mulutnya ia berhasil melukai anggota pasukan siluman biawak itu. Buaya raksasa itu menggigit dan melempar mereka ke sembarang arah. Yang mencengangkan, buaya raksasa itu mampu menggigit tiga orang sekaligus dalam sekali gigitan.

__ADS_1


Pasukan siluman biawak pun tumbang satu per satu dengan luka di sekujur tubuhnya terkena taring sang buaya raksasa. Kemudian raja siluman biawak pun menyerang buaya raksasa itu dengan brutal setelah menyaksikan seluruh pasukan yang bersamanya berjatuhan di tanah dengan tubuh penuh luka dan darah.


Buaya raksasa yang kesal pun berhasil menggigit raja siluman biawak. Kini tubuh raja siluman biawak ada di dalam mulut sang buaya raksasa. Jeritan pasukan siluman biawak pun terdengar saat melihat raja mereka ada dalam mulut sang buaya. Bisa dibayangkan jika sang buaya merapatkan mulutnya dan menghujamkan giginya ke tubuh raja siluman biawak saat itu.


“ Tolong hentikan. Tolong ampuni Kami dan Raja Kami...!” pinta pasukan biawak sambil bersujud di hadapan sang buaya raksasa.


Iyaz, Izar dan Hanako saling menatap bingung. Mereka takjub melihat semua pasukan siluman biawak yang terluka itu bersujud memohon ampunan untuk raja mereka. Hal yang belum pernah terjadi dan kini mereka saksikan langsung di depan mata.


“ Aku menghargai pasukanmu yang masih menginginkanmu hidup. Harusnya Kau bangga memiliki mereka. Sekarang pergi lah dan jangan coba menantangku lagi...,” kata buaya raksasa itu sambil memuntahkan tubuh raja siluman biawak ke tanah.


Raja siluman biawak pun tersungkur ke tanah dengan tubuh penuh lendir. Sebagian tubuhnya terluka terkena gigi sang buaya. Bahkan satu tangannya patah dan tertinggal di dalam mulut sang buaya. Bukan memuntahkan tangan itu, namun sang buaya justru mengunyahnya hingga hancur. Terdengar suara bederak di dalam mulut sang buaya hingga membuat raja dan pasukan siluman biawak terpana. Setelahnya buaya raksasa itu menelan tangan raja siluman biawak itu tanpa sisa.


“ Ini peringatan untukmu dan rakyatmu...,” kata buaya raksasa itu.


Dibantu pasukannya, sang raja siluman biawak pun berdiri. Kemudian ia dan pasukannya membungkukkan tubuhnya di hadapan buaya raksasa itu pertanda mereka menyerah kalah.


“ Kami akan ingat ini. Terima kasih karena masih mengampuni Aku dan rakyatku. Kami akan siap membantu jika Kau dan rakyatmu memerlukan bantuan...,” kata raja siluman biawak.


“ Baik, Aku pegang janjimu. Sekarang pergi lah...!” kata buaya raksasa itu tegas.


Buaya raksasa itu menoleh kearah tiga bersaudara yang masih berdiri mematung sambil menatap kearah pintu goa yang kini tertutup rapat itu.


“ Sekarang naik lah. Aku akan membawa Kalian ke tempat berikutnya...,” kata buaya raksasa itu.


“ Kemana...?” tanya Hanako.


“ Nanti Kamu juga tau, naik lah...,” kata sang buaya lagi.


Iyaz dan Izar naik ke atas punggung sang buaya lalu duduk di atasnya dengan nyaman. Hanako masih berdiri sambil menatap ragu kearah dua sepupunya itu.


“ Ayo Ci. Kami juga naik ini buat jemput Kamu tadi...,” kata Izar sambil mengulurkan tangannya.


“ Ok...,” sahut Hanako sambil menyambut uluran tangan Izar.


Setelahnya Hanako naik ke atas punggung buaya itu dan duduk di tengah diantara Iyaz dan Izar. Setelah memastikan ketiga bersaudara itu duduk dengan nyaman di atas punggungnya, buaya raksasa itu pun menggerakkan ekornya lalu melangkah perlahan menuju suatu tempat.

__ADS_1


Kali ini sang buaya membawa tiga bersaudara itu menyusuri jalan yang terlihat terang dan rapi. Di sisi kanan dan kiri jalan berjajar rapi pohon berdaun perak dan berbuah keemasan dengan batang sebening kaca yang membuat Hanako berdecak kagum.


“ Masya Allah, Kalian liat kan pohon-pohon itu...,” kata Hanako antusias.


“ Iya, Kami udah liat sejak berangkat tadi Ci...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.


“ Cici baru liat Yaz, kan Cici ke sininya diculik dalam keadaan pingsan. Jadi maklum aja kalo dia sedikit norak...,” gurau Izar.


“ Ck, nyebelin banget sih Kamu Zar...,” sahut Hanako sambil cemberut hingga membuat Iyaz dan Izar tertawa.


Sang buaya raksasa yang mendengar pembicaraan ketiganya pun ikut tersenyum. Ia terus melangkah menyusuri jalan itu. Meski pun langkahnya pelan, namun kecepatannya setara dengan kecepatan kendaraan bermotor berkecepatan 40 km/jam.


“ Buaya ini kan jalannya pelan, tapi kenapa Kita berasa lagi di atas mobil ya...,” bisik Hanako.


“ Itu lah bedanya dunia nyata sama dunia ghaib Ci...,” sahut Iyaz.


“ Dia bisa aja bergerak lebih cepat tapi khawatir Kamu jatu nanti...,” kata Izar.


“ Kok cuma Aku, emang Kalian ga jatuh juga...?” tanya Hanako tak suka.


“ Ga lah. Kami kan punya sesuatu yang bikin Kami melekat erat di punggung buaya ini...,” sahut Izar sambil tersenyum usil.


“ Apaan...?” tanya Hanako penasaran.


“ Rahasia...,” sahut Izar sambil berbisik di telinga Hanako.


“ Izaaarrrr...!” kata Hanako gemas sambil memukuli Izar dengan tangannya hingga membuat Izar tertawa.


Iyaz pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd Izar dan Hanako. Tak lama kemudian mereka pun tiba di sebuah tempat yang indah.


“ Kita sampai...,” kata sang buaya raksasa.


Iyaz, Izar dan Hanako pun mengangguk lalu turun dari punggung sang buaya raksasa. Saat mereka menatap ke depan terlihat belasan orang berdiri di hadapan mereka seolah menyambut kehadiran mereka di sana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2