Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
265. Raja Graha


__ADS_3

Semua orang yang merupakan pasukan pengawal itu menyambut kehadiran ketiga bersaudara itu sambil tersenyum. Sang buaya raksasa pun perlahan berubah wujud menjadi seorang pria gagah dengan mahkota di kepalanya. Pakaiannya terbuat dari emas persis dengan motif yang sama dengan permukaan kulit buayanya tadi. Ternyata saat berwujud manusia pun buaya raksasa itu memiliki tubuh besar dan tinggi.


“ Mereka lah sang penyelamat itu...,” kata pria jelmaan buaya raksasa itu pada belasan orang yang ada di hadapan mereka.


“ Iya Tuanku...,” sahut belasan orang itu bersamaan sambil menganggukkan kepala.


“ Sekarang mari Kita masuk...,” ajak pria gagah yang nampaknya adalah pimpinan di sana sambil menoleh kearah


ketiga bersaudara itu.


Iyaz, Izar dan Hanako pun mengangguk lalu mengikuti langkah pria itu. Belasan orang pengawal itu pun mengikuti di belakang mereka.


“ Ga nyangka ya yang dibilang penyelamat itu ternyata masih muda banget...,” kata salah seorang pengawal.


“ Mereka pasti sangat hebat dan istimewa hingga sang Raja sendiri yang turun untuk menjemput mereka...,” sahut salah seorang pengawal sambil tersenyum kagum.


Mendengar ucapan pengawal itu membuat Iyaz, Izar dan Hanako terkejut dan saling menatap.


“ Jadi buaya ratusan kilogram itu adalah penguasa di sini. Dan buaya itu rela menjatuhkan harga dirinya untuk menjemput Kita bertiga...,” kata Hanako.


“ Rendah hati betul ya dia. Kita harus melakukan yang terbaik dan membantunya sampe tuntas ya Zar, Ci...,” kata Iyaz.


“ Insya Allah siap...,” sahut Izar dan Hanako bersamaan.


“ Ngomong-ngomong siapa sih nama Raja itu...?” tanya Hanako yang juga didengar oleh pasukan pengawal di belakangnya.


“ Nama beliau Raja Graha...,” sahut salah seorang pengawal sambil tersenyum.


“ Oh, makasih. Maaf kalo banyak nanya. Abisnya beliau ga nyebutin siapa namanya tadi...,” kata Hanako sambil tersenyum.


“ Kami mengerti, silakan...,” sahut sang pengawal.


Perjalanan terhenti saat sang raja memasuki sebuah ruangan. Kemudian Iyaz, Izar dan Hanako diarahkan masuk ke ruangan lain oleh para pengawal.


“ Tolong tempatkan Kami dalam satu ruangan aja ya...,” pinta Hanako.

__ADS_1


“ Tapi Kalian kan berbeda, Kamu perempuan dan mereka laki-laki...,” sahut seorang pengawal sambil mengerutkan keningnya.


“ Tapi mereka saudaraku. Dan Aku ga mau dipisahkan dengan mereka...,” kata Hanako.


“ Betul. Kami saudara sedarah, jadi ga masalah kan kalo Kami ditempatkan di ruangan yang sama...,” kata Izar


menambahkan.


“ Berikan mereka ruang tamu utama...,” kata raja Graha dari dalam ruangan.


“ Baik Tuanku...,” sahut sang pengawal lalu mengarahkan ketiga bersaudara itu ke sebuah ruangan tak jauh dari ruangan yang tadi dimasuki raja Graha.


Sang pengawal membuka pintu sebuah ruangan lalu mempersilakan tiga bersaudara itu masuk.


“ Semua yang tersedia di dalam ruangan ini memang dipersiapkan untuk Kalian. Jadi Kalian boleh memakainya dan tak perlu minta ijin lagi...,” kata sang pengawal.


“ Baik, terima kasih...,” kata Iyaz.


“ Sama-sama. Kami permisi dulu, selamat malam...,” sahut sang pengawal sambil menganggukkan kepalanya sedikit.


“ Padahal sama-sama alam ghaib, tapi kenapa keadaan di sini jauh berbeda sama di istana biawak itu ya...?” gumam Hanako yang juga didengar Iyaz dan lzar.


“ Jelas beda lah Ci. Di sana penghuninya menggeluti ilmu hitam yang bermuara pada iblis. Kalo di sini kayanya mereka beraliran putih...,” sahut Izar sambil meneguk air yang tersedia di atas meja.


“ Pakaian mereka juga lebih santun dan rapi...,” kata Iyaz sambil membentangkan pakaian yang diyakini sebagai pakaian yang disiapkan untuknya.


“ Betul. Bahkan untukku juga ada sehelai kain yang bisa kujadikan hijab...,” kata Hanako sambil memperlihatkan satu set pakaian yang disediakan untuknya.


Iyaz dan Izar pun tersenyum mendapati sang raja siluman buaya sangat memperhatikan keperluan pribadi mereka hingga mempersiapkan hijab dan pakaian yang tertutup untuk Hanako.


Kemudian ketiganya pun bergantian membersihkan diri dan berganti pakaian. Karena sulit membedakan waktu, ketiganya pun melaksanakan sholat sesuai keyakinan mereka yaitu sholat Maghrib dan Isya secara berjamaah.


Usai menunaikan sholat ketiganya merebahkan diri di atas tempat tidur masing-masing. Tak lama kemudian ketiganya pun terlelap karena kantuk dan lelah yang mendera.


\=====

__ADS_1


Keesokan harinya Iyaz, Izar dan Hanako dipertemukan kembali dengan raja Graha, si pria jelmaan buaya raksasa yang dengan rendah hati mau menjemput mereka langsung dari dunia nyata.


“ Perkenalkan namaku Graha. Aku adalah raja di kerajaan kecil ini. Ini Istriku namanya Gayatri. Kami memiliki


tiga orang anak yang ketiganya telah tumbuh dewasa. Dua diantaranya laki-laki dan mereka telah berkeluarga. Kini mereka membina keluarga mereka sendiri di tempat lain. Sedangkan anak bungsuku adalah seorang perempuan bernama Hara. Saat ini dia sedang sakit parah. Aku sudah mencari obat ke berbagai penjuru dunia namun tak satu pun yang bisa menyembuhkan penyakit Anakku...,” kata raja Graha panjang lebar.


“ Setelah melakukan tirakat beberapa waktu Suamiku mendapat petunjuk jika hanya Kalian bertiga lah yang bisa membantu menyembuhkan Putri Kami...,” kata Gayatri menambahkan.


“ Kami, tapi gimana caranya. Kami kan bukan dokter atau tabib...?” tanya Hanako tak mengerti.


Ucapan Hanako membuat Graha dan istrinya tersenyum. Kemudian mereka mengajak ketiga bersaudara itu menjumpai Hara di kamarnya.


“ Ini Putriku Hara...,” kata raja Graha sambil menyibak sedikit selimut yang menutupi tubuh anaknya.


Hara adalah gadis yang sangat cantik, berhidung mancung dengan dua mata yang indah dipagari alis yang berjajar rapi di atasnya. Sayangnya kedua mata itu kini redup tak bercahaya karena ditelan penyakit. Rambut panjangnya yang hitam bergelombang pun kini hanya tinggal gumpalan tak berarti karena rambut itu rontok setiap hari meninggalkan kepala yang nyaris botak. Kulit Hara yang putih bersih bak porselen itu pun kini dipenuhi bisul bernanah dan berbau amis hingga membuat Hara menjadi rendah diri dan melarang siapa pun untuk mendekat kecuali pengasuh setianya.


Iyaz, Izar dan Hanako perlahan mendekat kearah Hara dan mencoba mengamati keadaan gadis itu dari dekat. Hara membuka matanya saat merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Saat matanya terbuka yang pertama kali ia lihat adalah wajah Izar. Hara pun terkejut sekaligus malu hingga membuang tatapannya kearah lain.


“ Siapa mereka Ayah...?” tanya Hara sambil memalingkan wajahnya.


“ Mereka tamu Ayah Hara. Kenalkan, ini Hanako, Izar dan Iyaz. Mereka lah yang akan membantumu lepas dari sakit anehmu ini Nak...,” sahut Graha.


Hara berusaha bangkit dari tidurnya. Kemudian ia melambaikan tangannya meminta agar semua menjauh darinya karena ia merasa malu dengan bau yang menguar dari tubuhnya.


“ Jauhi Aku, jangan dekat-dekat. Aku bau dan penyakitan...,” kata Hara.


“ Jangan bilang gitu Hara. Yakin lah jika Allah memberimu penyakit pasti juga akan menurunkan obatnya...,” sahut Hanako dengan lembut.


Ucapan Hanako membuat Hara tersentak lalu menatap wajah Hanako. Ia mengerutkan keningnya saat melihat cara berpakaian Hanako yang berbeda dengan yang pernah ia lihat.


“ Siapa Kamu ?. Kamu cantik sekali meski pun cara berpakaianmu sedikit aneh...,” kata Hara sambil menatap kagum kearah Hanako.


Ucapan Hara membuat raja Graha dan istrinya saling menatap kemudian tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, itu adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Hara sejak ia jatuh sakit. Graha dan istrinya berharap jika kehadiran Hanako dan si kembar bisa membantu menyembuhkan penyakit Hara.


\=====

__ADS_1


__ADS_2