
Saat mama Nuara menjerit bertepatang dengan Iyaz dan Izar yang membuka pintu kamar. Mereka sempat melihat tubuh mama Nuara melayang ke atas dengan posisi tubuh menekuk karena perutnya yang tertarik ke atas.
Sesaat setelah mama Nuara jatuh pingsan, tubuhnya pun terhempas ke atas tempat tidur dengan keras hingga mengejutkan Nuara yang memang berada dekat dengan sang mama.
“ Mama...!” jerit Nuara sambil mendekat kearah tempat tidur.
Nuara nampak mengulurkan tangannya untuk merapikan baju sang mama yang tersingkap di bagian perutnya. Melihat hal itu membuat Iyaz dan Izar terkejut dan berteriak mencegah Nuara.
“ Jangan Nuara...!” kata Iyaz dan Izar lantang namun terlambat.
Sesuatu dalam perut mama Nuara bergerak liar lalu menarik tangan Nuara hingga gadis itu jatuh tersungkur di atas tubuh sang mama. Nuara nampak menggeliat saat merasakan panas pada tubuh bagian depannya tepat dimana perut sang mama menempel.
Adam, Nando dan Dewi terkejut lalu menghambur kearah Nuara dan berusaha menarik tubuh gadis itu namun sulit.
Bukannya terlepas tapi kulit perut mama Nuara sekan melekat kuat pada tubuh Nuara hingga membuat gadis itu menjerit kepanasan.
“ Apa ini, Papa tolong Aku Pa. Aku ga mau kaya gini, ini panas banget Pa...,” kata Nuara panik sambil menggeliat resah.
“ Iya sebentar, tapi kok susah banget ya...,” sahut Adam sambil berusaha menarik tubuh Nuara agar menjauh dari tubuh istrinya namun gagal.
Selain melekat kuat pada pakaian Nuara, perlahan sesuatu yang bersemayam dalam perut mama Nuara mulai menyusup masuk menembus ke balik pakaian Nuara dan berniat menyakitinya. Nuara mulai menangis karena merasa sesuatu itu mulai menyakitinya.
Melihat hal itu membuat Iyaz panik sekaligus bingung. Ia ingin menyelamatkan Nuara dan mamanya namun ia tak bisa melakukannya tanpa menyentuh tubuh Nuara. Saat dalam kebingungan tiba-tiba Faiq dan Fatur masuk ke dalam ruangan. Iyaz dan Izar nampak tersenyum lega karena mendapat bantuan.
Faiq dan Fatur yang melihat kondisi Nuara dan mamanya nampak saling menatap sejenak kemudian mengangguk.
“ Lepaskan Nuara Pak, itu hanya menyakiti Nuara dan Ibunya...!” kata Faiq lantang.
Suara lantang Faiq mengejutkan Adam, Dewi dan Nando hingga mereka refleks melepaskan cekalan tangan mereka dari Nuara. Ketiganya menatap kearah Faiq dan Fatur dengan tatapan bingung.
“ Maaf jika Saya lancang. Saya Ayahnya Iyaz dan Izar, sedangkan ini Om Saya...,” kata Faiq memperkenalkan diri.
Adam, Faiq dan Fatur saling menjabat tangan sebagai salam perkenalan. Wajah Adam terlihat gelisah dan itu membuat Faiq prihatin.
“ Terus Saya harus gimana Pak, Saya ga mau mereka terluka...?” tanya Adam dengan suara parau.
“ Hanya Iyaz yang bisa menyelamatkan Nuara...,” sahut Fatur tiba-tiba.
__ADS_1
“ Kalo gitu silakan lakukan...,” kata Adam cepat sambil menatap Iyaz.
“ Tapi Iyaz ga bisa melakukannya karena mereka bukan muhrim...,” sahut Fatur.
Adam mengerti arah pembicaraan Fatur. Ia menunduk sejenak lalu mendongakkan kepalanya. Setelahnya Adam menatap Iyaz lekat.
“ Tolong nikahi Nuara sekarang Nak. Selamatkan dia Mas Iyaz, tolong lah...,” kata Adam penuh harap.
Dewi dan Nando yang mendengar ucapan Adam nampak terkejut namun sesaat kemudian mereka mengangguk setuju. Toh Iyaz dan Nuara cepat atau lambat memang akan menikah juga, begitu lah pikir mereka. Kemudian Dewi menatap Iyaz yang terlihat ragu.
“ Tolong selamatkan Nuara dan Kakak Saya Mas Iyaz. Saya mewakili Mama Nuara memberi restu untuk pernikahan Kalian...,” kata Dewi sungguh-sungguh.
Izar memijit pundak kembarannya sebagai bentuk suportnya hingga membuat Iyaz menoleh kearahnya. Senyum Izar menguatkan Iyaz. Tiba-tiba rintihan Nuara kembali terdengar seolah menyadarkan Iyaz untuk segera mengambil keputusan.
“ Baik, Saya akan nikahi Nuara sekarang juga...,” sahut Iyaz tegas.
Semua mengangguk lalu mulai ambil posisi. Iyaz dan Adam duduk berhadapan. Faiq,Fatur, Izar dan Nando menjadi saksi pernikahan. Sejumlah uang dan satu set gamis berwarna hijau mint pun menjadi mahar pernikahan.
Iyaz memang membeli gamis itu tadi dan sedianya akan ia berikan kepada Nuara. Iyaz memutuskan membeli gamis itu karena melihat penampilan Nuara yang sedikit kusut. Iyaz menduga jika Nuara tergesa-gesa pergi ke Rumah Sakit hingga tak memperhatikan pakaiannya yang hanya berupa baju tidur dan jaket itu. Iyaz tahu jika Nuara tak nyaman dengan pakaian itu dan berniat membantunya.
Dewi nampak sigap merekam moment pernikahan ‘darurat’ itu dengan ponselnya. Ada air mata bahagia dan haru mengalir di wajahnya saat menyaksikan pernikahan sakral itu.
“ Maafkan Aku jika menikahimu dengan cara seperti ini Nuara. Tapi percaya lah, Aku lakukan ini karena Aku mencintaimu...,” kata Iyaz dalam hati.
Sedangkan Dewi nampak berdiri di samping Nando. Dengan air mata di wajahnya Dewi bersiap merekam moment pernikahan ‘darurat’ itu dengan ponselnya.
“ Kita mulai sekarang...,” kata Fatur memberi aba-aba diangguki Adam dan Iyaz.
“ Ananda Muhammad Iyazi Fardden Saaqib bin Muhammad Faiq Islami, Saya nikahkan dan kawinkan Engkau dengan Anak kandung Saya Nuara Adam binti Adam dengan mas kawin uang satu juta rupiah dan satu set gamis dibayar tunai...!” kata Adam dengan suara tercekat.
“ Saya terima nikah dan kawinnya Nuara Adam dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai...!” sahut Iyaz lantang sambil mengeratkan jabatan tangannya.
“ Sah..., sah...!” kata Faiq, Fatur dan Izar bersamaan.
“ Alhamdulillah...,” sahut semua orang yang ada di ruangan itu sambil tersenyum.
Kemudian Fatur melantunkan doa keselamatan untuk sepasang pengantin itu dan diaminkan oleh semua orang di ruangan itu termasuk Nuara yang tengah berada di atas tubuh sang mama.
__ADS_1
Nuara nampak menitikkan air mata dengan rasa sakit dan panas yang terus menggerogoti bagian depan tubuhnya.
“ Sekarang Kamu bisa bantu Nuara lepas dari iblis itu Nak...,” kata Faiq sambil mengusap kepala Iyaz.
“ Iya Yah...,” sahut Iyaz lalu bergerak cepat menghampiri Nuara dan mamanya.
Semua orang pun mulai berdzikir sesuai arahan Fatur, sedangkan Adam dan Nando maju untuk membantu Iyaz. Nuara tampak gugup saat Iyaz mendekat kearahnya. Apalagi Iyaz menatapnya tanpa berkedip.
Iyaz meraih selimut yang disodorkan Dewi lalu membentangkannya untuk menutupi tubuh Nuara. Kemudian Iyaz berbisik di telinga Nuara hingga membuat Nuara memejamkan mata sambil mengangguk.
“ Maafkan Aku...,” bisik Iyaz sekali lagi lalu menyusupkan tangannya dan menyentuh tubuh Nuara yang melekat erat dengan sang mama.
Nuara memejamkan mata saat tangan dingin Iyaz menyentuh kulitnya hingga berhasil menetralisir rasa panas yang
sejak tadi menyerangnya. Secara perlahan Iyaz mengusap perut dan bagian depan tubuh Nuara hingga sesuatu dalam perut mama Nuara terlonjak dan menjauh diiringi suara melengking yang menyakitkan telinga.
Akhirnya tubuh Nuara berhasil ‘dipisahkan’ dari sang mama dan menyisakan baju yang koyak di bagian depan. Dengan sigap Iyaz menutupi tubuh Nuara dengan selimut lalu membawanya menjauh dari sang mama.
Iyaz berhasil menangkap tubuh Nuara yang limbung lalu memeluknya dengan erat. Tangis Nuara pun pecah dalam pelukan Iyaz yang telah sah menjadi suaminya itu. Sedangkan Iyaz nampak mengecup kepala Nuara dengan sayang sambil membisikkan kalimat yang menenangkan Nuara.
“ Sekarang tinggal mengeluarkan makhluk itu dari perut Mamanya Nuara ya Nak...,” kata Faiq mengingatkan Iyaz yang masih memeluk Nuara.
“ Iya Yah...,” sahut Iyaz sambil mengurai pelukannya.
Kemudian Iyaz menyerahkan gamis yang telah menjadi mahar pernikahannya tadi kepada Nuara dan meminta istrinya untuk berganti pakaian. Nuara menerima pemberian Iyaz dengan wajah merona lalu bergegas melangkah ke kamar mandi hingga membuat Iyaz tersenyum.
Setelah Nuara masuk ke kamar mandi, proses penyembuhan mama Nuara pun dimulai. Semua kembali berdzikir sedangkan Iyaz dan Izar nampak menyentuh pundak Adam yang saat itu tengah menggenggam tangan istrinya.
“ Dia ga mau pergi kalo ga ada nyawa yang dibawa...,” kata Iyaz lirih.
Mendengar ucapan Iyaz membuat Adam terkejut. Ia tak ingin makhluk halus itu membawa pergi istrinya. Sesaat
kemudian tubuh mama Nuara menggeliat dan kedua matanya terbuka. Mengira istrinya siuman, Adam pun mendekatkan wajahnya untuk menyapa istrinya.
“ Aku akan membawa salah satu dari Kalian...,” kata mama Nuara sambil menyeringai lalu tertawa panjang dengan suara yang lebih menyerupai suara laki-laki.
Adam tersentak dan berniat melepaskan tangan sang istri. Namun Iyaz dan Izar justru menempelkan tangan Adam di perut istrinya untuk mengeluarkan makhluk yang bersemayam di sana.
__ADS_1
Bersambung