Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
303. Semoga Bahagia


__ADS_3

Pernikahan Iyaz dan Nuara direncanakan akan digelar sebulan setelah pernikahan siri mereka. Semua persiapan tengah dikebut. Iyaz dan Nuara pun telah mengurus dokumen yang diperlukan untuk mendaftar ke KUA.


“ Alhamdulillah, ternyata ngurus pernikahan tuh ga ribet-ribet amat ya Mas...,” kata Nuara saat baru saja keluar dari kantor KUA.


“ Alhamdulillah. Kalo Kita melakukannya karena mengharap ridho Allah, insya Allah akan dipermudah lah Sayang...,” sahut Iyaz sambil mengusap kepala Nuara dengan lembut.


“ Sekarang tinggal satu lagi...,” kata Nuara.


“ Apa lagi ?. Kan semuanya udah diurus sama WO dan keluarga Kita. Cuma urusan KUA aja yang jadi tugas Kita...,” sahut Iyaz sambil bersiap menstarter mobilnya.


“ Mmm..., soal temen-temen di kantor Mas...,” sahut Nuara.


“ Kenapa sama mereka...?” tanya Iyaz tak mengerti.


“ Gimana reaksi mereka kalo tau Aku menikah sama Kamu, cucu dari Owner perusahaan tempat Aku bekerja. Aku khawatir mereka bakal nuduh Aku yang jelek-jelek nanti...,” sahut Nuara gusar.


“ Ya Allah, Istriku ini ternyata masih ragu ya sama Aku...,” kata Iyaz sambil menggelengkan kepalanya.


“ Aku ga ragu sama Kamu Mas...,” sahut Nuara tegas.


“ Kalo bukan ragu kenapa Kamu masih mikirin itu. Kamu khawatir dikatain ga sepadan atau ga cocok sama Aku kan. Kalo soal itu Kamu tinggal jawab jodoh kan udah diatur sama Allah. Atau gini aja, biar Aku bikin pengumuman di kantor kalo ada yang ngomong jelek tentang pernikahan Kita maka siap-siap bakal dipecat tanpa pesangon...!” kata Iyaz tegas hingga membuat Nuara terkejut.


“ Ga usah kaya gitu juga Mas, Aku kan ga enak...,” sahut Nuara lalu refleks menutup mulut Iyaz dengan telapak tangannya.


Untuk sesaat keduanya saling menatap. Dari jarak sedekat itu Iyaz bisa melihat wajah cantik Nuara lebih jelas. Tatapannya menyusuri wajah Nuara hingga berhenti di bibir Nuara. Menyadari tatapan Iyaz yang sedikit berbeda membuat Nuara gugup. Ia menurunkan tangannya lalu kembali duduk di kursi di samping kemudi. Sedangkan Iyaz nampak menghela nafas panjang karena masih harus menahan diri untuk mencium Nuara.


“ Maaf...,” kata Nuara lirih.


“ It’s Ok Sayang. Kita balik ke kantor sekarang ya...,” ajak Iyaz sambil melajukan mobilnya perlahan meninggalkan kantor KUA.


Nuara hanya mengangguk lalu mengalihkan tatapannya kearah lain. Meski pun ia dan Iyaz sudah menikah, namun mereka masih saling membatasi diri untuk bersentuhan. Nuara pun menghela nafas panjang saat mengingat kedekatannya dengan Iyaz tadi. Sedangkan Iyaz nampak mengulum senyum melihat Nuara yang salah tingkah di sampingnya.


\=====


Berita tentang pernikahan Iyaz dan Nuara sampai juga ke telinga Diki dan keluarganya. Adam sengaja tak mengundang keluarga Diki atas permintaan mama Nuara yang masih tak nyaman jika harus bertemu dengan Diki dan keluarganya.

__ADS_1


“ Apa Papa mau ngeliat Mama ketakutan sepanjang acara berlangsung karena menunggu kedatangan Diki dan keluarganya. Andai Diki datang lebih awal mungkin ketakutan Mama segera pergi, tapi kalo dia datang belakangan gimana. Apa selama itu Mama harus nunggu dengan gelisah...?” tanya mama Nuara waktu itu.


Adam memperhatikan kondisi istrinya. Saat membicarakan tentang Diki, wajah mama Nuara terlihat pucat sambil meremas jemari tangannya pertanda ia sangat tak nyaman. Adam mengangguk lalu mencium kening istrinya.


“ Ok, Kita ga akan ngundang mereka. Aku ga mau Istriku sakit lagi karena ketemu sama mereka...,” kata Adam menenangkan istrinya.


“ Makasih ya Pa...,” sahut mama Nuara sambil tersenyum.


“ Sama-sama Ma...,” kata Adam balas tersenyum.


Sedangkan di tempat lain keluarga Diki pun hanya tersenyum maklum. Orangtua Diki pun mengerti mengapa Adam


meniadakan mereka dalam daftar undangan.


“ Ini yang terbaik, Kita juga belum tentu kuat berhadapan sama mereka setelah apa yang Kita lakukan...,” kata ayah Diki.


“ Tapi Aku kecewa Yah...,” sahut Diki.


“ Jangan mulai lagi Diki. Nuara bukan jodohmu, cari wanita lain yang bisa menerimamu apa adanya...,” kata ibu Diki sambil menatap tajam kearah Diki.


Kedua orangtua Diki saling menatap kemudian tersenyum melihat sikap Diki yang sedikit melunak saat membicarakan Nuara. Rupanya Diki mulai berdamai dengan keadaan dan sadar jika Nuara bukan jodohnya.


\=====


Pernikahan Iyaz dan Nuara pun digelar di sebuah gedung. Dimulai dengan acara ijab kabul yang dilaksanakan jam sepuluh pagi. Meski pun ini adalah ijab kabul kedua untuk Iyaz dan Nuara, namun perasaan tegang tetap menyelimuti keduanya.


Setelah Iyaz selesai mengucap ijab kabul, Nuara pun diantar menemui suaminya itu untuk menandatangani dokumen pernikahan. Suasana haru menyelimuti saat keduanya saling berhadapan untuk menyematkan cincin pernikahan.


“ Setelah sah di hadapan Allah sekarang Kita sah di depan hukum negara ya Sayang...,” kata Iyaz setengah


berbisik.


“ Iya Mas...,” sahut Nuara lirih.


“ Itu artinya Aku udah bisa ambil hakku kan Sayang...?” tanya Iyaz sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


“ Kenapa ngomong gituan di sini sih Mas...,” protes Nuara sebal hingga membuat Iyaz tertawa.


Nuara membulatkan matanya sedangkan Iyaz nampak tertawa lepas. Sikap keduanya membuat semua orang tertawa bahagia.


Acara dilanjutkan dengan resepsi di gedung yang sama bada Dzuhur. Nuansa ruangan dan seragam keluarga berwarna hijau mint, sama seperti mahar yang diberikan Iyaz pada Nuara. Sedangkan sepasang pengantin mengenakan pakaian bernuansa putih perak sesuai permintaan Nuara.


Resepsi pernikahan berjalan lancar dan meriah. Tamu yang hadir nampak bahagia bisa hadir dan memberi doa restu kepada Iyaz dan Nuara. Diantara para tamu yang hadir tampak Diki tengah mematung di tempat. Ia tak menyangka jika harus menghadiri pesta pernikahan Nuara.


Sebelumnya Diki diajak oleh sahabatnya untuk menemaninya menghadiri pesta pernikahan temannya.


“ Kenapa Dik, Kita ke pelaminan yuk...,” ajak Roni.


“ Yang temen Lo siapa Ron, yang pengantin cewek atau cowok...?” tanya Diki.


“ Gue temennya pengantin cowok. Kenapa emangnya...?” tanya Roni.


“ Gapapa, Gue tunggu di sini aja ya...,” sahut Diki sambil menatap kearah lain.


“ Ok, Gue tinggal sebentar ya...,” kata Roni sambil melangkah menuju ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin yang berbahagia itu.


Dari tempatnya berdiri Diki bisa melihat Nuara yang selalu tersenyum menyambut para tamu. Penampilan Nuara yang memukau membuat Diki terpana namun ia segera menepis perasaannya itu saat melihat Iyaz yang berdiri gagah di samping Nuara. Sesekali Nuara nampak bersandar manja pada suaminya yang tengah memeluk pinggangnya dengan lembut. Keduanya pun saling menatap kemudian tertawa bahagia.


Melihat kebahagiaan Iyaz dan Nuara membuat mata Diki panas. Diki melangkah keluar dari gedung meninggalkan pesta pernikahan Iyaz dan Nuara. Ia menuju tempat parkir dan bersiap hendak pergi namun panggilan Roni menahannya.


“ Gue juga udah selesai nih, tunggu Gue di sana ya, Kita pulang bareng...,” kata Roni melalui panggilan telephon.


“ Ok...,” sahut Diki.


Kemudian Diki menatap langit senja yang berwarna keemasan yang terbentang di hadapannya. Saat itu lah Diki kembali mengerti makna hidup bahwa Allah telah membuat sesuatu sesuai porsinya.


“ Allah memperlihatkan padaku bahwa wanita yang bukan jodohku, sekeras apa pun Aku berusaha, tetap ga akan pernah jadi milikku. Semoga bahagia Nuara, doaku menyertaimu. Aamiin...,” gumam Diki sambil tersenyum.


Sesaat kemudian Roni nampak menghampiri Diki. Setelahnya mobil yang melaju perlahan meninggalkan gedung tempat resepsi pernikahan Iyaz dan Nuara digelar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2