Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
320. Tak Bersambut


__ADS_3

Pagi itu Qiana berangkat ke kantor sedikit telat dan itu membuat rekan-rekan kerjanya heran. Apalagi penampilan


Qiana yang sedikit kusut membuat salah satu teman menegurnya.


“ Kamu kenapa sih Qia, kok berantakan banget. Ga mandi ya...?” tanya Desi.


“ Sembarangan, mandi lah...,” sahut Qiana cepat sambil meletakkan tasnya di atas meja.


“ Masa sih, tapi kok kusut banget kaya orang belum mandi...,” kata Nita sambil mengamati Qiana dari atas sampai  ke bawah.


“ Oh, ini gara-gara Aku ga bisa tidur semalam. Aku baru bisa tidur bada Subuh tadi itu juga cuma sebentar karena jam enam udah harus siap-siap...,” sahut Qiana sambil menguap.


“ Ck, gimana sih. Tapi Kamu harus siap-siap buat nemuin tamu penting hari ini lho Qi...,” kata Desi mengingatkan.


“ Bisa diwakilin sama Kalian aja ga...?” tanya Qiana.


“ Ga bisa lah. Perusahaan itu kan sejak awal tanggung jawab Kamu, jadi apa pun yang mau dibahas nanti entah perpanjangan pengembalian pinjaman atau sejenisnya ya jadi urusan Kamu...,” sahut Nita galak.


“ Galak banget sih Nit, sampe kaget Aku...,” kata Qiana sambil mengusap dadanya karena terkejut.


Nita dan Desi pun tertawa mendengar ucapan Qiana dengan mimik lugunya itu.


“ Makanya jangan suka bikin peraturan sendiri. Udah sana buruan rapiin penampilan Kamu...,” sahut Nita sambil mengambil tas make up dari dalam tas Qiana lalu menyodorkan benda itu pada pemiliknya.


Bukannya bergegas merapikan make upnya, Qiana malah melamun dan itu membuat Nita makin kesal. Desi tergerak membantu dengan menarik tangan Qiana hingga bangun dari posisi duduknya sedangkan Nita mendorong tubuh Qiana menuju toilet.


“ Iya, iya. Ga usah didorong juga dong. Aku bisa jalan sendiri kok...,” protes Qiana.


Desi dan Nita tak peduli dengan ucapan Qiana. Mereka membawa Qiana masuk ke dalam toilet dan menunggunya


memperbaiki penampilannya. Dengan enggan Qiana merapikan make up dan penampilannya.


“ Kalo diliat-liat kayanya Kamu lagi stress mikirin cowok ya Qi...,” tebak Desi asal.


“ Iya Des. Selama ini kan Qiana yang selalu bikin galau kaum Adam, kayanya sekarang terbalik deh. Qiana yang galau karena cowok...,” sahut Nita sambil tertawa.


“ Ck, Kalian tuh berisik banget sih. Aku galau bukan gara-gara cowok tapi karena mikirin hal lain...,” kata Qiana sambil memoles lipstik di bibirnya.


“ Syukur deh kalo gitu. Eh, kami duluan ya...,” pamit Nita sambil menggamit tangan Desi dan membawanya keluar toilet.

__ADS_1


“ Dandan yang cantik ya Qia...,” kata Desi sambil melambaikan tangannya sebelum keluar toilet.


“ Iya...,” sahut Qiana cepat sambil menerapkan concealer di bawah matanya yang nampak menghitam karena kurang tidur.


Sambil merapikan rambutnya Qiana pun mengingat kembali apa yang membuatnya sulit tidur semalam.


Semalaman Qiana merasa gelisah karena teringat dengan sosok pria yang telah memakinya saat di kampus dulu. Dan ucapan pria itu telah mempengaruhi hidup Qiana. Ia menjadi sosok yang sedikit tertutup karena khawatir orang lain akan menilai dirinya sama dengan penilaian Izar.


“ Harusnya Aku cuekin aja ya omongan cowok itu, tapi kenapa Aku malah mikirin dan terus mikirin sampe-sampe


bikin Aku ga nyaman buat ngapa-ngapain karena khawatir dinilai buruk juga sama orang lain...,” gumam Qiana kesal.


Dulu Qiana sangat membenci Izar. Namun sayangnya Izar juga yang telah menyelamatkan hidupnya kini.


Qiana juga teringat perbincangannya dengan Izar di dalam mobil saat mereka berhasil lolos dari kejaran warga kemarin sore.


“ Kamu lagi ngapain sih di sana, kok bisa-bisanya diiket kaya gitu...?” tanya Izar tanpa menatap Qiana.


“ Di sana ada famili orangtuaku. Aku berkunjung ke sana mewakili orangtuaku untuk menghadiri undangan syukuran karena orangtuaku kan inggal di luar kota...,” sahut Qiana.


“ Syukuran apa...?” tanya Izar.


“ Apa Kamu ga coba lari waktu mereka mulai ngiket Kamu tadi...?” tanya Izar.


“ Aku ga tau kapan mereka ngiket  Aku karena Aku pingsan saat mereka ngiket Aku tadi. Pas siuman Aku udah diusung di atas bambu sambil dibacain doa aneh gitu...,” sahut Qiana sambil bergidik.


“ Terus Kamu ngerti ga sekarang kenapa mereka ngusung Kamu tadi...?” tanya Izar lagi.


“ Iya. Ternyata Aku mau ditumbalin di makam keramat yang ada di tengah proyek pembangunan jalan itu. Mereka bilang karena Aku adalah keponakan tersayang Ki Suta, maka Aku bisa jadi penghubung dengan arwah Ki Suta. Mereka mau Aku minta sama Ki Suta supaya ga mengganggu warga lagi. Itu kan konyol dan ga masuk akal...,” sahut Qiana sedih.


“ Mau tau ga cara mereka numbalin Kamu nanti...?” tanya Izar.


Qiana merenung sejenak kemudian mengangguk karena penasaran.


“ Mereka akan menyayat urat nadimu lalu mengalirkan darahmu di atas makam buatan itu hingga darahmu habis dan Kamu mati...,” sahut Izar sambil melirik Qiana dengan sinis.


“ Ya Allah, masa sih mereka sekejam itu. Aku ga tau apa-apa lho soal kekacauan di kampung itu karena sejak SMP Aku dan kedua orangtuaku udah hijrah ke tempat lain. Kalo emang bener apa yang Kamu bilang tadi, itu artinya peradaban di kampung ini balik lagi kaya jaman batu dong...,” kata Qiana sambil menutup mulutnya karena terkejut.


“ Ya begitu lah...,” sahut Izar sambil menggedikkan bahunya.

__ADS_1


“ Bener-bener ga bisa dipahami, mereka itu sebagian adalah famili Ayahku. Kok bisa-bisanya jadiin Aku tumbal...,” kata Qiana sambil menggelengkan kepalanya dengan gusar.


“ Makanya ngeliat kejadian ga manusiawi kaya gitu Aku tergerak membantu. Jadi Kamu ga usah mikir macam-macam apalagi ngira Aku tertarik sama kamu...,” kata Izar datar hingga mengejutkan Qiana.


Qiana terdiam sekaligus merasa dejavu. Ia merasa pernah mengalami kejadian serupa beberapa tahun yang lalu dan kejadian itu terus membekas dalam ingatan Qiana. Perlahan Qiana menoleh ke arah Izar dan mencoba mengamati sosok pria yang telah menolongnya itu. Sayangnya tak terlihat jelas karena saat itu Izar mengenakan topi untuk menyamar.


“ Ganteng sih, tapi mulutnya tajam banget kaya silet...,” batin Qiana lalu mengalihkan tatapannya kearah lain.


Qiana tetap membisu hingga mobil Izar tiba di depan kost tempatnya tinggal selama ini. Dan kini Qiana kembali


tersentak saat mengingatnya namun bergegas merapikan perlengkapan make upnya  saat Desi memanggil namanya berulang kali.


“ Ga nyangka ketemu lagi sama cowok nyebelin itu...,” gumam Qiana sambil mematut diri sekali lagi lalu bergegas


keluar dari toilet.


\=====


Saat jam di dinding menunjukkan angka sepuluh, tamu yang dikatakan Nita dan Desi pun datang. Tamu itu adalah


perwakilan dari perusahaan milik Erik. Oleh Desi mereka diarahkan menunggu di ruangan khusus.


“ Mereka udah nunggu di ruangan biasanya ya Qi...,” kata Desi.


“ Oh iya, makasih Des...,” sahut Qiana sambil tersenyum.


“ Ok sama-sama...,” sahut Desi.


Qiana pun melangkah cepat menuju ruangan dimana perwakilan perusahaan Erik sedang menunggunya. Saat membuka pintu terlihat tiga orang pria duduk sambil berbincang-bincang.


“ Selamat pagi. Maaf terlalu lama menunggu...,” sapa Qiana ramah.


“ Selamat pagi, gapapa kok Bu. Kami juga baru datang kok...,” sahut perwakilan perusahaan Erik sambil tersenyum.


Qiana pun mendekat dan berniat menjabat tangan ketiga pria di hadapannya itu namun gerakannya terhenti saat


matanya menangkap sosok Izar ada diantara mereka.


Qiana menarik tangannya yang ia ulurkan tadi sambil tersenyum kecut karena tak mendapat respon dari Izar. Setelah mempersilakan ketiga tamunya duduk, Qiana pun mulai menjelaskan beberapa hal kepada ketiga tamunya itu. Ketiga pria itu nampak menganggukkan kepalanya karena mengerti dengan penjelasan Qiana.

__ADS_1


\=====


__ADS_2