
Hari kelulusan Iyaz dan Izar pun tiba. Kini mereka tengah mengikuti acara wisuda di sekolah yang dihadiri oleh orangtua semua siswa kelas 6. Diantara para orangtua yang hadir terlihat Faiq dan Shera yang tengah membaur diantara para undangan.
Shera dan Faiq tengah berbincang hangat dengan orangtua Leo, Helmi dan Matheo. Mereka membicarakan ulah anak-anak mereka yang bertingkah bak detektif itu.
“ Biar Matheo itu badannya besar, tapi Saya tetap khawatir lho Bu. Soalnya dia itu kan gampang terpengaruh. Tapi ngeliat dia akrab sama Helmi, Leo dan si kembar, Saya merasa tenang...,” kata mama Matheo yang bertubuh subur itu.
“ Helmi itu juga kan orangnya baperan Bu, tapi sejak main dan bikin grup berlima gini malah bikin dia pede. Dia merasa empat orang temannya itu mau menghargai dan mendengarkan dia. Makanya Saya bingung gimana dia di SMP nanti...,” kata ibu Helmi cemas.
“ Insya Allah dia bisa dapat teman baru yang sama asyiknya dengan Anak-anak Kita kok Bu...,” hibur Shera sambil menepuk lengan ibu Helmi dengan lembut.
“ Aamiin...,” sahut ibu Helmi sambil tersenyum.
“ Jadi Iyaz sama Izar lanjut ke SMP mana Bun...?” tanya mami Leo.
“ Insya Allah mau masuk pesantren tempat Ayahnya sekolah dulu Bu. Si kembar yang minta dan Kami ga punya alasan untuk menolak karena pesantren itu memang baik dan cocok untuk mereka...,” sahut Shera sambil melirik kearah suaminya yang tengah berbincang dengan kaum bapak itu.
“ Betul Bun. Udah ga jamannya lagi maksain kehendak Kita supaya Anak mau sekolah di tempat yang Kita mau. Kita hanya ngarahin aja mana yang baik, karena sehari-harinya kan mereka yang menjalani. Sekolah di pesantren juga baik kok, lah buktinya Pak Faiq bisa jadi reporter handal walau pun pernah sekolah di pesantren...,” puji mama Matheo disambut tawa Shera, mami Leo dan ibu Helmi.
Tiba-tiba perbincangan mereka terputus saat MC meminta para hadirin duduk di kursi yang telah disediakan karena acara akan segera dimulai. Faiq dan Shera pun duduk berdampingan sambil menanti pertunjukan yang akan ditampilkan oleh si kembar dan teman-temannya.
Semua siswa kelas 6 bergantian naik ke atas panggung untuk mempersembahkan berbagai atraksi yang menghibur. Tepuk tangan dan tawa pun membahana di aula sekolah tiap kali anak-anak usai tampil di atas panggung.
Dan kini tiba giliran Iyaz dan Izar menampilkan sesuatu yang mengejutkan semua orang termasuk kedua orangtuanya. Rupanya mereka menampilkan atraksi sulap. Bukan sembarang sulap karena mereka melibatkan Dayang yang merupakan teman ghaib Faiq dalam penampilan mereka itu. Sulap sederhana yang menghilangkan benda-benda dan memindahkan benda itu di tas atau saku para hadirin. Terlihat seru dan membuat semua orang bertepuk tangan gembira termasuk panitya dan para pengisi acara.
Sedangkan Faiq terlihat menggelengkan kepala sambil menahan tawa melihat tingkah kedua anak kembarnya itu. Shera pun nampak terkagum-kagum dengan kemampuan dua bocah cilik itu.
“ Kok Aku baru tau kalo mereka bisa sulap sih Yah, Kamu yang ngajarin ya...?” tanya Shera.
“ Ga Bun, Aku juga baru tau kok...,” sahut Faiq sambil tersenyum saat melihat bunga plastik yang hilang itu ditemukan di dalam tas mama Matheo.
“ Maksud Ayah mereka latihan sendiri. Jangan bilang kalo semua ini terjadi karena mereka minta bantuan...,” ucapan Shera terputus.
“ Dayang...,” bisik Faiq di telinga Shera hingga membuatnya terkejut.
“ Apa...?!” kata Shera sambil membulatkan matanya.
“ Begitulah si kembar...,” sahut Faiq santai sambil menepuk punggung Shera dengan lembut untuk meredakan kemarahannya.
“ Mereka tuh nakal banget sih Yah...,” gumam Shera gemas namun Faiq hanya tertawa.
“ Gapapa, permainan ini ga bahaya kok Bun. Dayang juga ga bakal mau kalo diajak melakukan sesuatu yang lebih. Kamu tenang aja ya...,” kata Faiq.
“ Tapi mereka harus dikasih tau kalo ini ga boleh terulang ya Yah. Masa makhluk ghaib diajak main sih...,” gerutu Shera.
“ Iya Sayang, nanti Kita bahas di rumah aja ya...,” sahut Faiq sambil menggenggam jemari Shera dengan erat.
Mendapat perlakuan lembut dari suaminya mebuat Shera luluh. Ia tersenyum dan kembali menyaksikan atraksi sulap ‘ghaib’ kedua anak kembarnya itu.
__ADS_1
Tepuk tangan kembali membahana di aula itu usai Iyaz dan Izar menampilkan sulap. Bahkan beberapa orangtua murid berdiri sambil bertepuk tangan saking kagumnya. Iyaz dan Izar tersenyum lalu menautkan jari dan membungkukkan badan. Setelahnya mereka turun dari panggung sambil bergandengan tangan.
Di bawah panggung Iyaz dan Izar disambut lagi oleh teman-teman mereka dengan pelukan dan tepuk tangan meriah. Semua pengisi acara merasa kagum akan kemampuan mereka bersulap tadi.
“ Hebat banget Kalian bisa sulap kaya gitu...,” puji Leo dan Helmi bersamaan.
“ Alhamdulillah, makasih...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Penampilan Kalian tadi menjadi penutup yang sempurna untuk pensi kali ini lho Anak-anak...,” puji wali kelas mereka.
“ Makasih Bu, tapi kata Ayah ga ada yang sempurna di dunia ini. Hanya Allah aja yang Maha sempurna...,” sahut Iyaz hingga membuat wajah sang wali kelas merona karena malu.
“ Iya Ayah Kalian benar kok dan Ibu yang salah karena terlalu kagum sama penampilan Kalian barusan...,” sahut sang wali kelas sambil tersenyum disambut senyum Iyaz dan Izar.
Tak lama kemudian MC menyebut nama para siswa yang memiliki nilai akademik terbaik dan prestasi mereka selama mengenyam pendidikan di sana. Diantara para siswa yang disebutkan tadi ada nama Iyaz sebagai juara umum dan Izar sebagai siswa yang paling sering mewakili sekolah dalam ajang olah raga antar sekolah. Iyaz dan Izar nampak melompat bahagia saat mendengar nama mereka disebut.
Faiq dan Shera pun ikut tersenyum bangga saat melihat kedua putranya berdiri di atas panggung untuk menerima penghargaan dari sekolah. Kemudian Faiq dan Shera diminta naik ke atas panggung untuk mendampingi kedua anaknya sekaligus menyampaikan sambutan.
“ ... Terima kasih pada Bapak dan Ibu guru yang telah mendidik Anak-anak Kami. Tanpa bantuan Bapak dan Ibu guru di sini belum tentu Iyaz dan Izar bisa seperti ini. Bapak dan Ibu guru sangat bijaksana memperlakukan mereka karena bisa membaca dan mengarahkan mereka sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Kami bisa belajar banyak dari Bapak dan Ibu guru di sini bagaimana cara memperlakukan mereka nanti. Karena meski pun mereka kembar ternyata mereka memiliki perbedaan minat dan bakat. Terima kasih sekali lagi dan mohon maaf atas kenakalan mereka yang telah membuat Bapak dan Ibu guru pusing...,”
Itulah penggalan kalimat yang diucapkan Faiq yang mendapat respon positif dari para hadirin dan tenaga pengajar di sana.
Acara masih berlanjut beberapa saat kemudian hingga menjelang Dzuhur. Setelah sholat Dzuhur di musholla sekolah, Faiq membawa keluarga kecilnya pulang ke rumah. Faiq sengaja memberi waktu untuk kedua anaknya bergembira menikmati ‘kemenangan’ mereka. Faiq masih menyimpan pertanyaan tentang Dayang di kepalanya karena tak mau merusak kebahagiaan anak dan istrinya itu.
“ Kita makan yuk Bun...,” ajak Izar.
“ Terserah Ayah aja...,” sahut Izar cepat.
“ Ok, kalo terserah Ayah artinya Kalian ga boleh protes ya...,” kata Faiq sambil melirik kedua anaknya dari kaca spion.
“ Ok, siapa takut...!” sahut Iyaz dan Izar antusias hingga membuat Faiq dan Shera tertawa.
Mobil pun melaju ke sebuah rumah makan lesehan yang ada di daerah Jakarta Pusat. Tiba di sana mereka langsung memesan beberapa menu makanan. Setelahnya mereka berbincang hangat sambil menunggu pesanan mereka diantar oleh pelayan.
“ Penampilan Kalian tadi bagus banget lho. Tapi kok Bunda curiga ada yang ga beres ya...,” kata Shera sambil mengetuk meja hingga membuat si kembar salah tingkah.
“ Pasti Bunda dikasih tau Ayah kan. Kalo gitu Kami ga bisa bohong lagi deh...,” sahut Izar sambil tertawa.
“ Kami emang ngajak Dayang untuk ikut Bun...,” kata Iyaz sambil tersenyum.
“ Panggil Tante atau Kakak gitu lho Nak, masa nyebut nama aja sih...,” protes Shera tak suka.
“ Iya Bunda, maaf...,” sahut Iyaz cepat.
“ Tapi ga boleh ada kaya gitu lain kali ya Anak-anak. Kasian Dayang...,” kata Faiq sambil menatap tajam kedua anaknya bergantian.
“ Siap Ayah...!” sahut si kembar lantang.
__ADS_1
“ Tapi Aku senang ngelakuinnya Iq, gapapa lah sekali-kali...,” kata Dayang santai.
“ Kamu jangan manjain mereka Dayang, ga baik buat Kalian...,” sahut Faiq sambil menatap Dayang yang berdiri di sampingnya.
“ Iya iya, Aku tau...,” sungut Dayang hingga membuat Iyaz dan Izar tertawa karena tak menyangka jika Dayang juga menciut saat dimarahi ayah mereka.
“ Stop ketawanya, sekarang Kita makan dulu ya...,” kata Shera.
Kemudian semua makan dengan lahap. Faiq pun tersenyum diam-diam melihat kedua anaknya yang nampak tak kenal rasa takut sama sekali ketika harus berinteraksi dengan makhluk ghaib itu.
Makan bersama pun selesai dan keluarga Faiq memutuskan kembali ke rumah. Namun Iyaz minta ditemani ke toilet karena kebelet pipis. Izar menyanggupi sedangkan Faiq dan Shera menunggu di parkiran.
Sambil menunggu kembarannya yang masih di toilet, tak sengaja Izar menatap seorang pria yang nampak sedang duduk sendiri di sebuah ruangan. Wajahnya nampak sedih. Pria itu duduk sambil menatap kosong kearah depan seolah sedang menunggu seseorang. Izar bergegas menghampiri pria itu.
“ Ehm, Om lagi ngapain di sini...?” tanya Izar hingga mengejutkan pria itu.
“ Ka, Kamu bisa ngeliat Aku...?” tanya pria itu gugup.
“ Aku tau Om ini hantu, makanya aku tanya kan Om ini lagi ngapain...,” sahut Izar.
“ Kenalin nama Om Rian. Om lagi nunggu Aura, tunangan Om. Hari ini dia ulang tahun dan Kami janji ketemu di sini. Om mau ngasih boneka ini untuk dia. Tapi kok dia belum datang juga ya...,” sahut pria itu sambil memeluk erat boneka beruang di dekatnya.
Belum sempat Izar berkomentar tiba-tiba suara Iyaz mengejutkannya. Di belakang Iyaz nampak seorang pelayan rumah makan yang mengikuti dengan cemas.
“ Izar...!” panggil Iyaz hingga membuat Izar menoleh.
“ Iyaz ngagetin aja. Udah pipisnya...?” tanya Izar.
“ Udah, Kamu ngapain di sini...?” tanya Iyaz sambil menatap tajam kearah pria yang tengah bicara dengan kembarannya itu.
“ Eh maaf, Anak-anak jangan main di sini ya. Lebih baik Kalian ke sebelah sana aja. Ruangan ini udah lama ga dipake dan ga baik buat anak kecil...,” kata sang pelayan sambil menarik tangan Iyaz dan Izar agar menjauh dari tempat itu.
“ Emangnya di sini kenapa Tante...?” tanya Izar pura-puta tak tahu.
“ Gapapa, cuma di sini sering ada yang kesurupan, makanya sengaja ditutup. Apalagi Kalian ga didampingi sama orangtua. Jadi tolong jangan buat Tante dimarahin sama Bos Tante karena gagal ngelarang pengunjung masuk ke
sana ya...,” pinta sang pelayan yang diangguki Iyaz dan Izar.
Sambil melangkah keluar Iyaz dan Izar mendengar hantu Rian mengatakan sesuatu.
“ Tolong temui Aura. Dia tinggal di rumah susun di daerah Pondok Kopi. Bilang sama dia kalo Aku masih menunggunya di sini...,” kata suara hantu Rian.
Iyaz dan Izar saling menatap lalu menoleh kearah hantu Rian yang tengah berdiri di dekat pintu sambil memeluk hadiahnya.
“ Insya Allah Kami akan bawa tunangan Om itu ke sini...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Hantu Rian tersenyum lalu menghilang. Faiq yang juga melihat hantu Rian bicara dengan kedua anaknya pun hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Bersambung