
Hari masih menunjukkan pukul sepuluh pagi saat Suraj mendatangi delapan karyawan baru itu di ruangan meeting. Seperti biasa ia dampingi Viona. Hanako menatap intens kearah Viona yang nampak pucat itu. Ada rasa iba di hati Hanako saat tahu Viona sedang tak sehat saat itu. Di belakang Viona terlihat makhluk halus berwujud wanita cantik itu masih setia menemaninya.
“ Selamat pagi...,” sapa Suraj.
“ Selamat pagi Pak...,” sahut delapan karyawan baru bersamaan.
“ Baik, hari ini adalah hari penentuan dimana Kalian akan ditugaskan. Tak ada penolakan. Jika Kalian keberatan dengan keputusan Saya, Kalian bisa keluar dari sini sekarang juga...,” kata Suraj sambil menatap delapan karyawan baru di hadapannya satu per satu.
Tak ada jawaban. Kedelapan orang itu hanya diam sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh Suraj selanjutnya. Kemudian Viona membacakan pembagian tugas mereka, sedangkan Hanako dan teman-temannya mendengarkan dengan seksama.
Saat namanya disebut ada dalam jajaran karyawan di divisi ketenaga kerjaan, Hanako nampak terkejut. Sedangkan Laras dan Fera yang masuk ke divisi umum nampak tersenyum diam-diam karena sudah menduga jika Hanako akan ada di divisi yang dipimpin langsung oleh Suraj itu.
“ Selesai. Apa ada pertanyaan...?” tanya Viona.
“ Ga ada Bu...,” sahut delapan karyawan baru bersamaan.
“ Bagus. Kalo gitu, Hanako ikut Saya. Yang lain bisa langsung ke divisi masing-masing. Tenang aja, Kalian tinggal datang ke sana karena sebelumnya Saya sudah mengabari divisi tempat Kalian bertugas bahwa hari ini Kalian akan masuk ke sana...,” kata Viona sambil tersenyum.
“ Baik Bu, makasih...,” kata Laras, Fera dan lima orang lainnya sambil membubarkan diri.
Kemudian Viona membawa Hanako ke sebuah ruangan yang merupakan tempat Hanako bekerja nantinya. Hanako nampak sedikit tak nyaman dengan ruangan yang ditunjukkan Viona untuknya. Ruangan itu berukuran sedang dengan jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan lepas gedung-gedung pencakar langit. Namun suasana ruangan itu terasa ‘dingin’ padahal sinar matahari masuk dengan bebas ke ruangan itu dengan adanya jendela kaca berukuran besar di sana.
Di sudut ruangan terdapat pohon imitasi berukuran satu meter yang berdiri anggun di sana untuk mempermanis ruangan. Ada satu set meja kerja dan satu set kursi tamu di dalam ruangan itu.
“ Ini ruangan Kamu ya Hanako...,” kata Viona sambil tersenyum.
“ Makasih Bu. Tapi maaf, apa Saya sendirian di ruangan ini...?” tanya Hanako hati-hati.
“ Iya, kenapa memangnya...?” tanya Viona.
“ Mmm..., gapapa sih. Cuma Saya ga nyaman aja. Apalagi ruangan ini kayanya...,” ucapan Hanako terputus saat Suraj melintas di depan ruangan dimana mereka berada.
“ Sssttt..., Kamu ga usah protes dulu ya. Kamu ga usah takut, Saya bakal sering datang ke sini kok biar Kamu ga iseng sendirian di sini...,” kata Viona sambil menyilangkan telunjuk di depan bibirnya.
“ Baik Bu...,” sahut Hanako pasrah lalu membiarkan Viona meninggalkannya di ruangan itu seorang diri.
Hanako pun melangkah menuju jendela besar dan mulai mengamati gedung pencakar langit yang menjulang tinggi
__ADS_1
di seberang gedung itu. Beberapa saat kemudian Hanako pun melangkah mendekati meja kerja yang dipersiapkan untuknya. Hanako mengerutkan keningnya karena melihat sudah ada sehelai kertas berisi tugas yang harus diselesaikannya hari itu.
“ Bismillahirrohmaanirrohiim..., ayo semangat Hanako...,” gumam Hanako menyemangati dirinya sendiri.
Dengan semangat tinggi Hanako mulai melakukan tugas pertamanya di divisi ketanaga kerjaan hari itu. Jari-jari
Hanako bergerak lincah di atas key board lap top di hadapannya dengan suara berdetak yang khas. Namun gerakan Hanako terhenti saat melihat makhluk astral berwujud wanita cantik itu melintas di hadapannya. Hanako menghela nafas panjang lalu berdiri menghampirinya.
“ Aku sering melihatmu ada di sekitar Viona. Pasti dia sangat penting untukmu...,” kata Hanako.
“ Ya, karena Viona adalah temanku, teman baikku...,” sahut hantu wanita itu lirih.
“ Viona pasti bahagia kalo tau Kamu menganggapnya sebagai teman terbaik...,” goda Hanako sambil tersenyum.
“ Aku harap begitu...,” sahut hantu wanita itu malu-malu.
“ Aku, maksudku Kita pernah ketemu sebelum ini kan...?” tanya Hanako hati-hati.
“ Iya, beberapa kali. Sejak Kau datang untuk interview waktu itu Aku tau kalo Kamu orang yang istimewa. Karena hanya orang istimewa yang bisa melihatku dan berinteraksi denganku...,” kata hantu wanita itu sambil tersenyum.
“ Ada urusanku yang belum selesai, tolong Aku...,” pinta hantu wanita cantik itu.
“ Insya Allah. Katakan apa urusan yang membuatmu tertahan itu...,” sahut Hanako.
Belum lagi hantu wanita cantik itu menjawab, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan Suraj yang berdiri angkuh di ambang pintu dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku dan tatapan yang tajam kearah Hanako seolah siap menguliti Hanako.
“ Astaghfirullah aladziim..., Pak Suraj...,” kata Hanako lirih.
Kemudian Suraj melangkah masuk ke dalam ruangan diikuti Viona di belakangnya. entah mengapa kehadiran Suraj di ruangan itu membuat suasana asing dalam ruangan makin menebal. Hanako hanya berdiri mematung seolah menunggu apa yang akan dikatakan Suraj padanya.
“ Saya orang yang ga suka basa basi. Saya mau Kamu datang lebih awal dari Saya setiap hari dan pulang setelah
Saya pulang. Tentang pekerjaan, Saya hanya mau yang sempurna tak ada kesalahan. Apa Kamu mengerti Hanako...?” tanya Suraj sambil melihat pekerjaan Hanako di meja.
“ Insya Allah siap Pak...,” sahut Hanako mantap hingga membuat Suraj tersenyum tipis melihat reaksinya.
“ Lalu apa yang Kamu lakukan di sana saat jam kerja seperti ini...?” tanya Suraj.
__ADS_1
“ Oh, maaf Pak...,” sahut Hanako lalu bergegas kembali ke balik meja kerjanya.
Setelah mengatakan hal itu Suraj keluar dari ruangan kerja Hanako. Viona yang ada di belakang Suraj nampak
mengacungkan jempolnya ke arah Hanako sambil tersenyum. Meski tak mengerti Hanako menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“ Cuma mau ngomong gitu doang harus pake drama ngagetin orang segala...,” gumam Hanako sambil mencibir.
“ Kamu harus hati-hati sama dia Hanako...,” kata hantu wanita cantik itu.
“ Aku tau, terima kasih...,” sahut Hanako sambil melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu di ruangannya Suraj nampak mengamati layar lap top dimana terpampang gambar Hanako yang sedang mengerjakan tugasnya di meja kerja. Rupanya Suraj memasang kamera tersembunyi di ruangan kerja Hanako. Suraj merasa gerak gerik Hanako sedikit berbeda dari orang lain yang pernah menempati ruangan itu sebelumnya.
“ Gadis yang menarik...,” gumam Suraj sambil tersenyum penuh arti.
Sedangkan Viona nampak gelisah saat mengetahui Suraj mengamati Hanako melalui layar lap topnya. Viona ingat
jika karyawati sebelum Hanako tak pernah bertahan lama karena Suraj selalu mengawasi kinerja mereka dan memecat mereka tanpa alasan yang jelas hanya berdasarkan pengamatannya itu.
“ Dasar Psycho...,” batin Viona kesal sambil melangkah keluar dengan membawa tumpukan dokumen yang harus ia sortir lagi sesuai perintah Suraj.
Saat jam istirahat tiba, Hanako pun bergegas pergi ke toilet yang ada di dalam ruangan itu untuk berwudhu. Hanako melangkah perlahan sambil mengamati sekelilingnya karena merasa tak nyaman seolah ada mata yang mengintainya.
Sedangkan di ruangannya Suraj nampak menegakkan tubuhnya saat melihat Hanako masuk ke dalam toilet. Senyum di wajahnya semakin lebar seolah ia akan melihat tontonan yang menarik. Namun sesaat kemudian senyum di wajah Suraj memudar dan wajahnya pun menegang.
Di layar lap topnya Suraj melihat ada sosok wanita selain Hanako tengah mematut diri di depan cermin. Seolah sadar jika dirinya tengah diawasi, wanita itu pun menoleh sambil tersenyum kearah kamera CCTV yang diletakkan tersembunyi itu.
Tak ada yang salah dengan senyumnya namun wajah wanita itu sangat mirip dengan Viona. Yang membedakan
wajah Viona pada layar lap top terlihat pucat hingga sedikit mengganggu Suraj. Apalagi di saat yang sama Viona juga tengah berdiri di hadapannya sambil meletakkan dokumen di atas meja kerjanya.
“ Saya sudah menyelesaikan tugas Pak, apa Saya boleh ijin istirahat makan siang...?” tanya Viona hati-hati.
Suraj tak menjawab karena sedang terpaku menatap dua wajah Viona yang ada di layar lap top dan di hadapannya dalam waktu bersamaan.
Bersambung
__ADS_1