Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
120. Kemana Suharsa ?


__ADS_3

Mimpi Izar masih berlanjut dan tiba-tiba Izar dibawa ke suatu tempat yang berbeda. Saat itu sedang ada pementasan tarian gandrung sasak yang merupakan tarian favorit dari grup tari pimpinan Suharsa.


Di luar tenda terlihat Inar sedang menangis. Rupanya ia baru saja melihat dengan mata kepalanya sendiri kemesraan Suharsa dengan Niken. Inar sangat marah dan berniat mencelakai Niken namun gagal karena Suharsa berhasil menyelamatkan Niken. Bahkan karena ulahnya, sekarang Suharsa terluka. Inar menyesal karena telah membuat Suharsa terluka, tapi Inar juga kesal karena Niken lah yang dipilih oleh Suharsa untuk menjadi istrinya.


“ Liat aja Niken. Kau telah memancing amarahku. Jangan salahkan Aku karena Aku udah pernah ngingetin Kamu untuk menjauh dari Suharsa, tapi kayanya Kamu ga mau dengar ya. Kita liat sebentar lagi, siapa yang bisa memiliki Suharsa...,” gumam Inar sambil mengusap air matanya dengan kasar lalu melangkah pergi meninggalkan tempat acara.


Sedangkan di dalam tenda terlihat Niken yang menemani Suharsa. Luka lebam di punggung Suharsa lumayan parah dan itu membuat Niken khawatir.


“ Lukamu lumayan parah lho Kang...,” kata Niken cemas.


“ Gapapa, yang penting Kamu selamat...,” sahut Suharsa sambil tersenyum.


“ Kenapa ga biarin kayu itu menimpa kepalaku Kang, biar aja Aku yang terluka asal Kamu baik-baik aja...,” kata Niken.


“ Mana mungkin Aku membiarkan calon Istriku ini terluka sih. Aku kan sayang sama Kamu. Ini bukti tanggung jawabku untuk selalu menjagamu Niken...,” sahut Suharsa sambil mengedipkan matanya.


“ Ck. Kamu nih lagi terluka ya Kang, kok masih bisa merayu sih...,” kata Niken kesal.


“ Maaf, abis Kamu cemberut aja sih daritadi. Senyum dong, kalo Kamu senyum sakit di punggungku pasti berkurang...,” sahut Suharsa hingga membuat Niken tersenyum.


\=====


Sudah bisa ditebak apa yang dilakukan Inar agar Suharsa jatuh ke pelukannya. Inar menggunakan jasa seorang dukun agar Suharsa mau kembali ‘menatapnya’. Dan yang mengejutkan, aksi Inar dilakukan tepat saat malam pernikahan Niken dan Suharsa berlangsung.


Saat itu pesta pernikahan Niken dan Suharsa digelar di kediaman orangtua Suharsa yang memang kaya raya dan dermawan itu. Niken dan Suharsa nampak bahagia duduk di pelaminan. Keduanya selalu tersenyum dan saling menatap penuh cinta. Hal itu membuat semua orang bahagia kecuali Inar.


Inar menatap kesal kearah pasangan pengantin yang berbahagia itu. Dari tempatnya duduk Inar menatap benci kearah Niken.


“ Udah siap kan Nar...?” tanya Wardi, wakil Suharsa di dalam grup.


“ Iya, terpaksa siap. Padahal sebenernya Aku malas datang ke sini...,” sahut Inar ketus.


“ Jangan gitu dong Nar. Aku tau Kamu suka sama si Harsa, tapi kan dia udah milih Niken. Jadi coba lah berbesar

__ADS_1


hati menerimanya...,” kata Wardi bijak.


“ Lagian kenapa grup tari Kita harus tampil juga sih War. Bukannya jadi tamu malah jadi kacung di pernikahan temen sendiri, payah...!” kata Inar lagi dengan emosi.


“ Kacung apa sih maksudmu Nar. Kita menari nih dibayar lho sama Bapaknya Harsa. Kok bisa-bisanya Kamu bilang Kita jadi kacung di sini. Hati-hati kalo ngomong, ntar kalo ada yang denger terus bilang sama Bapaknya Harsa kan gawat. Bisa-bisa uang honor manggung Kita dipotong atau malah ga dibayar sama sekali...!” kata Wardi galak.


Inar terdiam karena baru tahu jika mereka dibayar untuk penampilan mereka. Namun bukannya minta maaf, Inar malah memperlihatkan sikap arogan. Ia berdecak sebal lalu masuk ke dalam ruangan untuk kembali mematut diri.


“ Pantesan aja Harsa selalu cemas tiap kali Kamu mau tampil Nar. Rupanya Kamu tuh ga profesional ya. Ga bisa bedain urusan pribadi sama urusan kerjaan...,” gerutu Wardi sambil berlalu.


Ternyata ucapan Wardi tadi masih bisa didengar oleh Inar hingga membuatnya sadar jika apa yang dilakukan Suharsa selama ini hanya untuk mengingatkan agar dia bisa menari dengan baik dan tak membuat kesalahan. Inar mengingat semua ucapan Suharsa tiap kali dia akan tampil. Ucapan berupa suport agar Inar bisa fokus dan menari dengan baik. Inar mengira jika itu adalah bentuk perhatian Suharsa padanya karena Inar melihat tak ada penari lain yang mendapatkan suport semacam itu dari Suharsa.


“ Tapi bagaimana pun itu udah bikin Aku bahagia Kang. Aku ga suka ada orang lain yang mengambil kebahagiaan yang seharusnya jadi milikku...,” gumam Inar sambil tersenyum penuh misteri di depan cermin.


Kemudian Inar berdiri sambil meraih selendang merah dari dalam tasnya. Inar menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada orang lain di sana. Sesaat kemudian Inar memejamkan matanya sambil membaca mantra lalu menghirup aroma selendang itu dalam-dalam.


“ Inar, Kita mulai sekarang ya...!” panggil Dewi dari luar ruangan.


“ Iya Wi...,” sahut Inar sambil melangkah cepat menghampiri Dewi.


“ Kenapa ngeliatin Aku kaya gitu sih Wi...?” tanya Inar tak enak hati.


“ Kamu keliatan beda banget hari ini Nar, lebih bersinar dan keliatan tambah cantik...,” sahut Dewi.


“ Bisa aja sih Kamu, tapi Kamu bener sih. Aku emang sengaja dandan sedikit. Bukan apa-apa, Aku juga mau mempersembahkan yang terbaik lah untuk sepasang pengantin yang juga anggota grup tari Kita itu...,” sahut Inar asal yang diangguki oleh Dewi.


Di kejauhan Wardi memberi kode agar Inar dan Dewi bersiap. Sesaat kemudian suara gamelan berbunyi pertanda para penari naik ke atas pentas. Saat mereka naik ke atas pentas, semua penonton bersorak gembira dan bertepuk tangan termasuk Niken dan Suharsa yang duduk di pelaminan.


Semua mata menatap kearah Inar yang menari dengan lincah. Semua nampak takjub dan terpesona pada tarian Inar apalagi Inar selalu tersenyum sepanjang tarian. Suharsa pun nampak terkagum-kagum hingga lupa jika ada Niken yang baru saja ia nikahi duduk bersamanya. Niken tak curiga dan menganggap jika Inar sedang meluapkan emosinya yang ‘kalah’ bersaing dengannya dalam merebut cinta Suharsa.


Kipas pun dikibaskan tepat di wajah Suharsa oleh Dewi dan Inar. Keduanya  tersenyum seolah menggoda Suharsa yang nampak malu-malu di depan istrinya itu. Semua tertawa melihat sikap Suharsa. Namun tanpa mereka sadari, Inar baru saja mengibaskan selendangnya hingga menyentuh tangan Suharsa dan membuat Suharsa langsung menatap kearahnya.


“ Kalo pengantinnya boleh ikut menari pasti bakal seru ya...,” kata seorang penonton.

__ADS_1


“ Iya. Kan Suharsa pimpinan grup tari, tapi Saya belum pernah ngeliat dia nari lho...,” sahut penonton lainnya.


Mendengar hal itu membuat Suharsa menoleh kearah Niken untuk minta pendapat sang istri.


“ Gimana Sayang, boleh ga Aku ikut nari kaya mereka...?” tanya Suharsa.


“ Boleh Kang, tapi jangan lama-lama ya...,” sahut Niken sambil tersenyum.


“ Iya, cuma sebentar kok. Aku juga ga bisa lama-lama jauh dari Kamu...,” kata Suharsa sambil mengusap lembut pipi istrinya.


Niken mengangguk lalu melepas suaminya untuk menari bersama Inar dan Dewi. Niken tak tahu jika ia telah melepas suaminya untuk selamanya dan menyerahkannya dengan suka rela kepada Inar.


Melihat Suharsa maju dan menari bersama mereka membuat para penari tertawa senang. Para penabuh gamelan pun makin semangat memainkan alat musik sambil tertawa gembira. Para penonton pun bertepuk tangan melihat Suharsa mau menunjukkan kemampuan menarinya di depan umum.


Gerakan tarian berpasangan itu akhirnya memasangkan Inar dan Suharsa. Inar tersenyum bahagia sambil mengatakan sesuatu yang membuat Suharsa tersentuh.


“ Liat kang, meski pun Kamu udah nyakitin Aku dan lebih milih Niken jadi Istrimu, tapi Aku tetap datang kan. Aku


juga menari di acara pentingmu ini. Semoga Kamu sadar kalo cintaku untukmu itu benar-benar Tulus ya Kang...,” kata Inar dengan tatapan sedih.


“ Maafkan Aku ya Nar. Tapi Kita masih berteman kan...?” tanya Suharsa.


“ Tentu saja kang. Bahkan lebih dari teman pun Aku mau...,” bisik Inar dengan senyum menggoda hingga membuat jantung Suharsa berdetak lebih cepat dari biasanya.


Suharsa perlahan mulai merasa pusing, namun ia mencoba bertahan. Ia tak ingin berhenti sebelum tarian selesai. Saat usai menari Suharsa terlihat limbung namun berhasil mencapai pelaminan.


Malam harinya usai acara pesta, Suharsa dan istrinya pun masuk ke kamar pengantin. Suharsa membaringkan


tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan mata karena merasa sangat pusing. Ia teringat aroma tubuh Inar yang baginya begitu menggoda. Bahkan tanpa sadar Suharsa memanggil nama Inar berulang kali.


“ Inaaarr..., Inaarrr...,” gumam Suharsa.


Tak tahan dengan rasa rindu pada Inar membuat Suharsa bangun dari tidurnya lalu bergegas keluar dari kamar tanpa sepengetahuan siapa pun. Niken yang sedang berganti pakaian di kamar mandi pun tak mengetahui kepergian suaminya itu.

__ADS_1


Malam itu rumah kediaman orangtua Suharsa gempar karena menghilangnya sang pengantin pria dari kamar pengantin.


Bersambung


__ADS_2