Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
208. Minta Ijin


__ADS_3

# Assalamualaikum readers terlove.


Sekedar info...


Insya Allah Author kirim 3 bab tiap hari, jadi kalo up nya baru satu atau dua mohon sabar yaa... Jadi terserah pihak MangaToon / NovelToon yang mau up-in berapa bab dan jam berapa. Makasih atas suportnya...  #


Setelah beberapa saat mematung di ambang pintu kamar, Ramdan pun memutuskan menghubungi Pandu sang kakak ipar. Entah mengapa ia merasa jika Pandu bisa membantunya mengatasi masalah ini.


Saat dihubungi Pandu sedang berada di rumah Heru dan sedang berbincang dengan Heru dan keluarganya. Sebenarnya itu bukan kali pertama Pandu bertemu Heru. Sebelumnya Pandu pernah menemui Heru di ruang kerjanya di kantor polisi tempatnya bertugas. Pandu sengaja meminta ijin pada Heru untuk mendekati anak gadisnya itu.


Heru nampak mengerutkan keningnya saat pertama kali melihat Pandu. Meski pun saat itu Pandu mengenakan kemeja dan celana jeans serta sepatu kets, Heru bisa menebak jika Pandu adalah salah satu anggota TNI.


“ Assalamualaikum, selamat siang Pak...,” sapa Pandu ramah sambil mengulurkan tangannya.


“ Wa alaikumsalam, selamat siang. Maaf, apa Kita pernah ketemu sebelum ini...?” tanya Heru sambil menyambut


uluran tangan Pandu.


“ Belum Pak. Kenalkan, Saya Pandu Alghifari. Saya anggota TNI Angkatan Udara dan saat ini Saya dinas di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma Pak...,” sahut Pandu tegas.


“ Baik, silakan duduk...,” kata Heru sambil tersenyum.


“ Makasih Pak. Maksud kedatangan Saya ke sini hanya mau bersilaturrahim dengan Bapak...,” kata Pandu.


“ Sebentar, silaturrahim kan biasanya dilakukan antar dua orang yang saling kenal. Tapi Saya ga kenal Kamu lho...,” kata Heru sambil menahan tawa hingga membuat Pandu tersentak lalu mengangguk.


“ Saya sedang mengejar Eisha putri Bapak...,” sahut Pandu.


“ Mengejar Eisha...?” tanya Heru karena merasa aneh dengan cara Pandu menyebut nama Hanako.


“ Iya. Saya mencintai Putri Bapak Eisha Hanako. Saya bermaksud menikahinya tapi keliatannya dia enggan karena satu dan lain hal. Saya hanya ga mau dibilang pengecut karena mendekati Eisha diam-diam. Jadi Saya bermaksud minta ijin untuk mendekati Eisha dan menjalin hubungan dengannya...,” sahut Pandu dengan wajah merona karena malu.


Melihat sikap Pandu membuat Heru tak dapat menahan tawanya. Namun Heru salut dengan keberanian Pandu dan cara Pandu melakukan pendekatan dengannya.


“ Bicara lah yang santai. Ga usah terlalu formal dan berbelit-belit. Katakan bagaimana Kamu bisa tertarik sama


Anak Saya...?” tanya Heru setelah seseorang masuk dan membawakan suguhan untuk Pandu atas permintaannya tadi.


“ Mmm..., Saya tertarik sejak pertama kali melihatnya Pak...,” sahut Pandu sambil menyembunyikan senyumnya.


Kemudian mengalir lah cerita dari mulut Pandu tentang usahanya mengejar cinta Hanako dan bagaimana respon Hanako saat bicara dengannya. Mendengar cerita Pandu membuat Heru tertawa. Ia membayangkan bagaimana sikap Hanako saat Pandu mendekatinya juga teringat kisah cintanya dengan Efliya dulu.

__ADS_1


“ Hanako itu mirip sama Bundanya. Kalo soal lawan jenis agak selektif. Tapi bukan kah itu bagus ya...?” tanya Heru.


“ Betul Pak. Saya ga keberatan sama sikap Eisha karena itu mencerminkan pribadinya...,” sahut Pandu.


“ Kenapa panggil dia Eisha. Cuma Kamu lho yang manggil dia kaya gini...?” tanya Heru.


“ Kan Saya udah bilang tadi kalo dia wanita yang istimewa untuk Saya Pak, makanya Saya juga mau panggilan yang istimewa yang jarang orang pake untuk memanggil namanya. Yah, walau pun dia keberatan awalnya...,” sahut Pandu sambil tersenyum kecut saat teringat protes Hanako saat ia memanggilnya Eisha.


“ Oh gitu. Melihatmu seperti ini bikin Saya salut. Silakan mampir ke rumah Kami karena pintu rumah Kami terbuka


lebar untukmu...,” kata Heru sambil tersenyum.


“ Makasih Pak. Tapi Saya hanya bisa datang kalo Eisha juga mempersilakan Pak...,” sahut Pandu.


“ Ok, itu urusanmu dengan Anak Saya. Tolong jaga dia dan jangan lukai hatinya...,” kata Heru sambil menepuk punggung Pandu sebelum Pandu keluar dari ruangannya.


“ Insya Allah siap Pak...,” sahut Pandu tegas hingga membuat Heru tersenyum sambil mengangguk.


Dan kini Pandu kembali berhadapan dengan Heru dalam suasana yang santai. Rupanya Pandu memaksa ingin bertemu dengan kedua orangtua Hanako usai menjenguk bayi Pita tadi. Kali ini Hanako tak bisa menolak karena ia merasa sudah saatnya Heru dan Efliya mengenal Pandu.


“ Assalamualaikum Ayah Bunda...,” sapa Hanako.


“ Lho Kamu sama siapa Kak...?” tanya Efliya sambil menatap Pandu curiga.


“ Oh iya, kenalin Bun ini Mas Pandu...,” sahut Hanako.


“ Selamat malam Bu, Saya Pandu...,” kata Pandu sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“ Mari silakan duduk...,” sahut Efliya sambil tersenyum.


“ Makasih Bu, apa kabar Pak...?” tanya Pandu sambil mencium punggung tangan Heru dengan khidmat.


“ Alhamdulillah baik...,” sahut Heru sambil menepuk pundak Pandu hingga membuat Hanako dan Efliya saling menatap bingung.


Keduanya pun melangkah masuk ke dapur untuk mempersiapkan hidangan. Efliya nampak menatap Hanako yang berdiri mematung di depan meja makan.


“ Kenapa Kak...?” tanya Efliya.


“ Kok kayanya Ayah sama Mas Pandu udah kenal lama ya Bun, atau itu cuma perasaaku aja...?” tanya Hanako.


“ Gapapa sih, jadi enak kan ga kaku lagi. Jadi Kamu udah mulai deket ya sama Pandu. Udah lama kok baru diajak ke rumah sekarang...?” protes Efliya.

__ADS_1


“ Apaan sih Bunda, Aku ga deket kok. Cuma temenan aja...,” sahut Hanako sambil meaih cangkir kopi.


“ Masa...?” tanya Efliya tak percaya.


“ Mas Pandu itu Kakak kandungnya Pita Bun. Aku dikenalin waktu acara empat bulanan kehamilan Pita dulu. Nah dari situ Mas Pandu sering chat dan nelephon Aku deh. Tapi Aku cuma nganggep temen aja kok Bun, makanya ga pernah Aku ajak ke rumah karena emang ga penting...,” sahut Hanako santai.


“ Tapi Bunda ngeliatnya kok beda ya Kak...,” kata Efliya.


“ Beda apanya Bun...?” tanya Hanako cemas.


“ Bunda ngerasa kalo Pandu itu ga mau temenan aja sama Kamu, tapi lebih. Kayanya dia naksir deh sama Kamu...,” kata Efliya sambil menatap Hanako lekat.


“ Iya sih Bun. Mas Pandu juga ngomong kaya gitu...,” sahut Hanako.


“ Terus perasaanmu sendiri gimana...?” tanya Efliya hati-hati.


“ Mmm..., jujur aku belum tau Bun. Aku ajak ke sini karena dia maksa pengen kenalan sama Ayah dan Bunda. Aku pikir ga ada salahnya kan. Sekalian aku pengen tau pendapat Bunda. Kalo menurut Bunda dia orang yang baik, mungkin Aku bisa pertimbangin untuk nerima dia...,” kata Hanako malu-malu.


“ Oh, jadi ceritanya Kamu lagi bimbang ya sama perasaanmu sendiri ke Pandu...?” goda Efliya sambil mengedipkan matanya.


“ Bunda nih. Bukan gitu maksudku...,” kata Hanako salah tingkah.


“ Udah ntar aja dibahas lagi. Sekarang bawa keluar kopinya...,” perintah Efliya sambil melangkah mendahului Hanako.


“ Iya Bun...,” sahut Hanako sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan makanan ringan ke ruang tamu.


Saat tiba di ruang tamu terdengar tawa Heru dan Pandu yang membuat Efliya tersenyum. Ia yakin jika suaminya telah mengenal Pandu karena tak mungkin bisa seakrab itu dengan Pandu yang baru saja dikenalnya.


Hanako masuk lalu meletakkan kopi dan makanan ringan yang dibawanya di atas meja. Setelahnya Heru mempersilakan Pandu untuk mencicipi hidangan itu. Pandu pun meraih cangkir berisi kopi lalu meneguknya perlahan. Sesaat kemudian ponsel Pandu berdering dan memaksanya menerima panggilan itu.


“ Assalamualaikum Dan, kenapa...?” tanya Pandu.


“ Wa alaikumsalam Mas, bisa balik lagi ga ke rumah. Apa yang tadi dibilang sama Hanako kejadian nih sekarang...!” kata Ramdan panik.


“ Emangnya apa yang dibilang Hanako...?” tanya Pandu.


“ Soal sesuatu yang mengganggu Mas. Pokoknya ke sini sekarang ya Mas...,” pint Ramdan di akhir kalimatnya.


Mendengar nama Hanako disebut membuat Heru penasaran dan bertanya. Pandu pun menjelaskan dan bermaksud pamit. Namun Heru menghentikannya dan minta Hanako menghubungi Iyaz dan Izar untuk membantu Pandu. Hanako mengangguk dan menuruti perintah sang ayah lalu menghubungi Iyaz dan Izar.


\=====

__ADS_1


__ADS_2