Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
308. Mikaila


__ADS_3

Mikaila adalah seorang gadis cilik berusia sepuluh tahun. Mikaila seorang  anak yang nyaris sempurna secara fisik. Wajahnya cantik dan imut, bulu matanya lentik, hidung mancung, rambut ikal dengan kulit berwarna coklat eksotis. Namun sayangnya Mikaila memiliki kekurangan yaitu tidak bisa melihat alias tuna netra sejak lahir.


Saat melahirkan Mikaila, sang ibu yang bernama Iffa sangat bahagia. Iffa dan suaminya menyambut kehadiran sang anak dengan mengadakan aqiqah besar-besaran sebagai ungkapan rasa syukur di hari ke tujuh kelahiran Mikaila.


Setelah memasuki usia dua minggu, Iffa sedikit bingung karena ia merasa Mikaila tak pernah menatap dengan serius kearahnya saat ia mengajaknya bicara. Semula Iffa menganggap itu sebagai hal yang wajar. Namun saat usia Mikaila empat puluh hari, Iffa dan suaminya makin panik karena Mikaila tak menunjukkan respon saat mereka memperlihatkan berbagai macam benda berwarna di hadapannya.


Karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada bayi mereka, keduanya membawa bayi Mikaila ke Rumah Sakit. Saat dokter usai mengecek kondisi Mikaila, sang dokter terlihat gelisah.


“ Gimana dok, apa Anak Saya baik-baik aja...?” tanya Iffa.


“ Maaf Bu, Saya harus menyampaikan ini meski pun pahit...,” sahut dokter.


“ Anak Saya sakit dok, sakit apa...?” tanya Iffa tak sabar.


“ Anak Ibu memang tak bisa melihat alias tuna netra...,” sahut sang dokter hati-hati.


Jawaban sang dokter bagai petir di siang bolong untuk Iffa dan suaminya. Keduanya terlihat shock. Iffa bahkan tak henti menangis mendapati kenyataan bayinya buta sejak lahir.


“ Apa bisa sembuh dok...?” tanya suami Iffa.


“ Saya belum bisa jawab sekarang. Kita liat beberapa bulan ke depan apa Mikaila bisa disembuhkan melalui operasi atau tidak...,” sahut sang dokter.


Jawaban tak pasti sang dokter membuat kedua orangtua Mikaila kembali shock. Mereka membayangkan masa depan Mikaila yang suram karena tak bisa melihat.


Sejak mengetahui Mikaila tak bisa melihat, sikap ayah Mikaila berubah. Ia tak lagi mau menyentuh Mikaila apalagi


menggendongnya. Iffa yang menyadari perubahan sikap suaminya pun bersabar. Hingga suatu hari pertengkaran pun terjadi diantara Iffa dan suaminya.


Awalnya Iffa sedang berada di dapur menyiapkan makan malam. Tiba-tiba ia mendengar Mikaila menangis. Merasa ada sang suami yang akan menggendong dan membujuk Mikaila, Iffa pun melanjutkan pekerjaannya.


Namun Iffa nampak resah saat mendengar tangis Mikaila tak kunjung berhenti bahkan makin keras. Setelah mematikan kompor Iffa bergegas ke ruang tengah untuk melihat apa yang terjadi. Iffa terkejut saat melihat suaminya sibuk bermain game di ponsel tanpa menghiraukan Mikaila yang menangis di box bayi.


“ Kenapa Kamu ga mau gendong Mikaila sih Bang. Kasian kan dia nangis kaya gitu dari tadi...,” protes Iffa sambil meraih Mikaila dari box bayi lalu menyusuinya.


“ Kamu liat kan kalo Aku lagi sibuk...,” sahut suami Iffa ketus.

__ADS_1


“ Ya Allah, sibuk apa sih Bang. Itu kan cuma game bukan kerjaan. Kok bisa-bisanya Kamu biarin Mikaila nangis sampe sesenggukan kaya gini...,” kata Iffa kesal.


“ Berisik !. Bisa diem ga sih Kamu...?!” tanya suami Iffa marah sambil melempar ponselnya di atas sofa.


“ Ga usah teriak bisa ga sih. Mikaila bangun lagi nih. Emang kalo dia bangun Kamu mau gendong dia...,” sahut Iffa kesal.


“ Ga usah geer Kamu ya, Aku ga bakal mau gendong dia karena Aku jijik sama dia...!” kata suami Iffa hingga membuat Iffa terkejut sekaligus sedih.


“ Kamu ngomong apa sih Bang. Mikaila ini anak Kamu lho, anak kandung Kamu...,” kata Iffa mencoba mengingatkan suaminya.


“ Aku ga peduli. Aku muak sama dia, Aku malu punya anak cacat. Lebih baik Aku pergi jauh dan Kamu  ga usah cari aku lagi...,” sahut suami Iffa sambil berkemas.


Melihat suaminya berkemas membuat Iffa panik. Ia tak menyangka jika suaminya akan pergi meninggalkan dirinya dan Mikaila yang masih bayi.


“ Jangan pergi Bang, kumohon. Maafin Aku ya kalo Aku salah. Tapi tolong jangan pergi ya Sayang. Gimana nasib anak Kita tanpa Kamu...,” kata Iffa menghiba.


“ Bukan urusanku. Gara-gara dia Aku dibully sama teman dan keluargaku. Aku malu Iffa, Aku malu...!” kata suami Iffa lantang.


Mendengar jeritan kedua orangtuanya membuat bayi Mikaila terbangun dan menangis. Iffa berusaha menahan sang suami agar tak pergi namun gagal. Suami Iffa pergi meninggalkan Iffa dan anaknya begitu saja dan tak pernah kembali hingga saat ini.


Kepergian suaminya merubah status Iffa. Ia berubah menjadi ibu sekaligus ayah untuk Mikaila. Iffa harus bekerja


Selain bekerja mencari uang Iffa juga mengupayakan kesembuhan Mikaila. Saat usia Mikaila yang ke sembilan dokter mengatakan jika Mikaila bisa sembuh dengan cara menjalani operasi. Kabar itu membuat semangat Iffa pun makin berkobar. Selama setahun Iffa dan Mikaila menunggu pendonor mata yang bersedia mendonorkan matanya untuk Mikaila.


Akhirnya Mikaila menjalani operasi mata di usianya yang ke sepuluh. Operasi berjalan lancar tanpa kendala. Selama operasi berlangsung Iffa dan kakak perempuannya yang selama ini mengasuh Mikaila menunggu di depan ruang operasi dengan sabar. Keduanya nampak khusu berdzikir dan berdoa berharap kesembuhan Mikaila.


Saat pintu ruang operasi terbuka Iffa pun bergegas menghampiri sambil berharap cemas.


“ Gimana operasiny Suster...?” tanya Iffa tak sabar.


“ Sabar ya Bu, biar dokter aja yang jelasin nanti...,” sahut sang perawat sambil berlalu.


“ Sebentar lagi pasti keluar Fa, Kamu sabar aja...,” kata Inna sambil menggamit tangan Iffa dan membawanya duduk di kursi panjang.


“ Iya Kak...,” sahut Iffa sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi sambil tersenyum dan menyapa Iffa.


“ Alhamdulillah operasinya sukses Bu, Kita tinggal tunggu hasilnya aja. Semoga Mikaila bisa segera melihat indahnya dunia saat perbannya dibuka nanti...,” kata sang dokter.


“ Alhamdulillah, aamiin. Makasih dokter...,” sahut Iffa dan Inna bersamaan.


“ Sama-sama. Sekarang Mikaila dipindahin ke ruang rawat inap dulu ya...,” kata sang dokter.


“ Iya dok...,” sahut Iffa sambil mengusap matanya yang basah.


\=====


Iffa dan Inna sedang berada di ruang rawat inap menemani Mikaila. Keduanya nampak menatap kearah Mikaila yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur usai menjalani operasi tadi. Kedua matanya tertutup perban berwarna putih. Melihat kodisi Mikaila yang seperti itu membuat Iffa menangis terharu.


Hampir dua jam menunggu namun belum ada tanda-tanda jika Mikaila akan siuman.


“ Kenapa lama banget ya Kak...,” kata Iffa.


“ Nunggu pengaruh obat biusnya habis dulu kali Fa...,” sahut Inna asal.


“ Iya tapi sampe kapan...?” tanya Iffa gusar.


“ Mana Aku tau. Aku kan bukan dokter Iffa...,” sahut Inna kesal.


Iffa pun menghela nafas panjang sambil melengos. Ia mulai letih menunggu dan berniat keluar untuk menghirup


udara segar. Namun saat langkahnya mencapai pintu tiba-tiba jemari Mikaila nampak bergerak. Inna menjerit tertahan hingga mengejutkan Iffa.


“ Ada apa Kak...?” tanya Iffa.


“ Mikaila udah sadar Fa, coba Kamu panggil...,” sahut sang kakak yang diangguki Iffa.


“ Mikaila..., Mikaila..., ini Ibu. Kamu denger ga...?” tanya Iffa hati-hati.


“ Ibuuu..., Ibuuu...,” sahut Mikaila lirih sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Iffa seperti biasa.

__ADS_1


Jawaban Mikaila membuat Iffa dan Inna tersenyum bahagia. Keduanya mendekati Mikaila lalu  menghambur memeluk Mikaila dengan erat.


\=====


__ADS_2