Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
118. Izar Kenapa ?


__ADS_3

Faiq membawa keluarganya mengunjungi taman Narmada di Lombok Barat. Sebuah taman yang pernah dijadikan


tempat beristirahat melepas lelah dari rutinitas memimpin oleh para raja di jaman dahulu. Dan kini taman Narmada dijadikan situs cagar budaya oleh pemerintah setempat.


Saat tiba di sana decak kagum terlontar dari Faiq dan keluarganya. Mereka tersenyum melihat keindahan taman


yang memanjakan mata itu. Sesuai dengan namanya, taman itu juga dihiasi pepohonan yang tumbuh subur dengan rerumputan yang menghampar luas dan menghijau. Selain itu terdapat danau dan kolam di sisi jalur trekking yang membuat perjalanan makin menyenangkan.


Hanako yang terlihat paling antusias diantara mereka pun nampak tak bisa diam. Ia mengeluarkan kamera digitalnya plus ponselnya saking semangatnya mengabadikan pemandangan di hadapannya itu. Berkali-kali ia berpose dengan berbagai gaya hingga membuat Iyaz dan Izar kesal.


“ Foto mulu sih Ci, kapan jalannya nih...?” protes Izar.


“ Biarin. Kalo ga sabar Kamu jalan aja duluan sana...,” sahut Hanako cuek.


“ Beneran nih ya...,” pancing Izar sambil tersenyum penuh makna.


“ Udah dong Zar, biarin aja Cici puas foto-fotonya dulu. Kan cewek emang gitu...,” kata Iyaz menengahi hingga membuat Hanako tersenyum.


“ Tuh kaya Iyaz dong, santai ga ribet kaya Kamu...!” kata Hanako judes.


Izar hanya menggedikkan bahunya karena sadar tak akan ada yang mendukungnya. Ternyata bukan hanya Hanako


yang  ingin berfoto, semua anggota keluarga yang ikut saat itu ingin berfoto. Izar yang semula menolak difoto pun terpaksa ikut berpose.


“ Lapar nih, makan dong...,” pinta Izar sambil duduk di atas rumput.


“ Ya udah Kita cari makan yuk...,” ajak Faiq sambil bersiap melangkah.


“ Sebentar lagi ya Nak. Mama capek banget nih...,” sahut Farah sambil bersandar di pohon sambil menjulurkan kedua kakinya.


“ Ok Ma...,” sahut Faiq sambil melangkah mendekati sang mama lalu memijiti kaki Farah.


Setelah cukup beristirahat mereka menuju salah satu warung makan yang berjajar rapi di sekitar taman Narmada.


Mereka menikmati makanan khas Lombok dengan suka cita sambil membahas hasil jepretan Hanako tadi.


\=====

__ADS_1


Destinasi wisata berikutnya adalah pergi ke Gili Trawangan yang terkenal dengan taman bawah lautnya itu. Faiq juga mengajak keluarganya mampir ke Gili Air dan Gili Meno.


Faiq dan keluarganya menghabiskan waktu empat hari empat malam untuk menikmati keindahan ketiga tempat wisata itu. Menikmati hijau dan rimbunnya hutan mangrove dan melihat penangkaran penyu. Dan agenda utama mereka selama bermalam di sana adalah menikmati pantai sepuas-puasnya.


Malam terakhir di Lombok mereka habiskan dengan berjalan kaki menikmati keramaian pusat kota. Banyak sajian


khas yang memanjakan lidah yang bisa mereka coba di sana. Sambil berjalan kaki menyusuri jalan, Izar mendengar suara gamelan yang mengusik telinganya.


“ Kaya ada suara gamelan ya Opa...?” tanya Izar untuk memastikan.


“ Iya Nak. Tuh di depan sana kan ada sanggar tari...,” sahut Erik sambil menunjuk sebuah sanggar tari yang berada tepat di sebrang jalan yang mereka lalui.


“ Kita mampir ke sana yuk Opa...,” ajak Izar.


“ Opa sih mau aja, tapi gimana sama yang lain...?” tanya Erik.


“ Kita aja yang ke sana Opa. Biar mereka di sini atau Kita janjian ketemu dimana gitu...,” kata Izar setengah memaksa.


“ Ok ga masalah. Sana bilang sama Ayahmu dulu...,” sahut Erik yang diangguki Izar.


Erik yang melihat tingkah Izar pun hanya tersenyum. Ia maklum akan keingintahuan yang Izar alami saat ini. Namun Erik belum menyadari jika sikap Izar sedikit berbeda karena dipengaruhi aura mistis yang menguar di tempat itu yang seolah memanggil Izar untuk datang ke sana.


Di atas panggung terlihat seorang penari wanita sedang menarikan tari Gandrung Sasak Dasantren. Wanita itu menari dengan gemulai dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Dilengkapi selendang merah dan kipas yang membuat wanita itu terlihat kian memikat.


Izar menatap penari itu dengan takjub hingga mulutnya menganga dan mata tak berkedip. Erik mendekatinya dan menyenggol lengan Izar untuk mengingatkannya.


“ Tutup mulutmu Nak, gimana kalo ada serangga yang masuk nanti...,” bisik Erik di telinga Izar.


“ Eh, iya Opa...,” sahut Izar malu-malu.


“ Kayanya serius banget sih ngeliatnya, jangan-jangan Kamu tertarik ya sama wanita itu. Ingat ya Nak, wanita itu terlihat sangat dewasa dan cukup umur untuk Kamu dekati. Opa ga setuju Kamu dekati dia karena dia lebih layak jadi Tantemu daripada pacarmu...,” kata Erik tegas hingga membuat Izar menoleh lalu tertawa.


“ Apaan sih Opa. Aku ga segitunya kali...,” sahut Izar di sela tawanya.


“ Alhamdulillah..., syukur lah kalo kaya gitu. Opa udah deg degan aja tadi...,” kata Erik sambil tertawa.


Kemudian Izar kembali menoleh kearah panggung. Di sana sang penari sudah ditemani dua pria yang menari dengan mengenakan seragam tari. Tepuk tangan dari para penonton pun terdengar saat penari wanita mengibaskan kipasnya di depan wajah Izar seolah memberi tanda agar Izar mau ikut menari bersamanya.

__ADS_1


Izar yang tak mengerti pun hanya tersenyum saja dan ikut bertepuk tangan tanpa mau bergeming dari tempatnya. Sang penari terlihat mondar mandir di depan Izar sambil terus menari dan memutar kipasnya sedemikian rupa hingga tawa pun bergema di sana.


“ Maju Mas, penarinya minta ditemani tuh...!” kata seorang penonton sambil menepuk pundak Izar.


“ Emang iya Pak...?” tanya Izar tak mengerti.


“ Iya...,” sahut pria itu.


Tanpa menunda lagi Izar pun naik ke atas panggung dan ikut menari mengikuti gerakan sang penari dengan kaku. Sesekali ia menggaruk kepalanya karena bingung mengimbangi gerakan sang penari yang bergerak dengan lincah itu. Sedangkan penonton yang sebagian besar pria itu nampak tertawa sambil bertepuk tangan seolah sedang memberi suport kepada Izar dan penari wanita itu.


Erik mengeraskan dzikirnya saat menyadari ada sesuatu yan di luar nalar tengah terjadi. Dari bawah panggung ia melihat tubuh Izar sedikit oleng akibat tatapan penari itu yang terus mencoba mempengaruhi Izar. Lalu dengan sigap Erik naik ke atas panggung untuk menjemput Izar karena tak ingin terjadi sesuatu pada cucunya itu.


“ Assalamualaikum Izar, yuk Kita balik ke penginapan sekarang...!” kata Erik dengan suara lantang sambil menepuk


punggung Izar.


Izar tersentak lalu menoleh kearah Erik seolah baru saja melewati perjalanan yang panjang. Izar mengangguk lalu ikut turun dari panggung saat Erik menggamit lengannya.


“ Yaaahh kok berhenti sih, kan masih seru...!” kata salah seorang penonton.


“ Iya, udah malam. Kami harus balik ke penginapan karena pesawat berangkat pagi besok...,” sahut Erik sambil


tersenyum.


“ Oh gitu. Ya udah deh gapapa...,” kata penonton lainnya.


Kemudian Erik membawa Izar keluar dari area sanggar tari di bawah tatapan mata sang penari yang nampak tersenyum penuh misteri saat melihat kepergian ‘calon korbannya’.


Erik terus merangkul pundak Izar yang terlihat linglung saat keluar dari sanggar tari itu hingga membuat Farah terkejut saat melihatnya.


“ Lho Izar kenapa Pa...?” tanya Farah cemas.


“ Gapapa Ma. Kita balik ke penginapan sekarang ya, ntar Papa ceritain di sana...,” sahut Erik yang diangguki Farah.


Kemudian Farah dan Erik menghentikan Taxi dan minta diantar ke penginapan yang dimaksud. Di dalam Taxi Farah menghubungi Shera dan memberitahu jika ia pulang lebih dulu ke penginapan bersama Erik dan Izar.


\=====

__ADS_1


__ADS_2