Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
25. Ssstt, Jangan Berisik !


__ADS_3

Acara pemakaman almarhum Kyai Syakir telah usai. Para pelayat pun telah membubarkan diri satu per satu untuk


kembali ke rumah masing-masing. Faiq terlihat menghampiri Hanako, Iyaz dan Izar yang nampak fokus menatap kearah yang sama.


“ Kalian liat apa...?” tanya Faiq mengejutkan Hanako, Iyaz dan Izar.


“ Mmm, itu Pa. Kami lagi ngeliatin Eyang di sana...,” sahut Hanako ragu sambil menunjuk kearah arwah Kyai Syakir


yang berdiri di atas nisan yang ada dimakamnya.


“ Oooh itu...,” kata Faiq sambil menganggukkan kepalanya.


“ Papa liat juga kan...?” tanya Hanako.


“ Iya...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Jadi itu apa Yah. Kok mirip banget sama Eyang Syakir...?” tanya Iyaz tak mengerti.


“ Itu arwahnya Eyang Syakir Nak...,” sahut Faiq cepat.


“ Arwah, apa itu arwah...?” tanya Izar.


“ Arwah atau ruh adalah sesuatu yang menghuni tubuh makhluk hidup seperti manusia atau hewan. Kalo arwah dalam tubuh manusia atau hewan itu pergi, maka tubuh mereka udah ga bisa melakukan apa pun. Termasuk makan, minum, tidur, main, mandi dan lain-lain...,” sahut Faiq.


“ Kaya Eyang Syakir dong...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Betul, seratus buat Kalian. Karena arwah Eyang udah pergi, makanya Eyang ga bisa ngapa-ngapain lagi. Lama


kelamaan tubuhnya bisa jadi bau dan busuk. Itu sebabnya agama Kita ngajarin supaya tubuh orang yang arwahnya udah pergi alias udah meninggal harus dikubur...,” kata Faiq menjelaskan.


Iyaz, Izar dan Hanako nampak mengangguk tanda mengerti. Mereka kembali menatap arwah Kyai Syakir yang nampak tersenyum lalu perlahan menghilang  ditelan keramaian para peziarah makam.


“ Eyang udah pergi, yuk Kita pulang ke rumah...,” ajak Hanako sambil menggamit tangan si kembar di sisi kanan dan kirinya.


“ Iya...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


Ketiga bocah cilik itu melangkah menuju ke mobil. Faiq menatap mereka sambil tersenyum karena bahagia bisa


menjawab pertanyaan ketiganya tadi.


“ Kenapa Iq...?” tanya Fatur tiba-tiba.


“ Eh, gapapa Om. Biasa lah Anak-anak itu nanya sesuatu yang bikin Aku harus berpikir untuk menjawabnya. Ga


sulit sih. Tapi masalahnya Aku harus menyusun kalimat sederhana supaya mudah mereka pahami. Alhamdulillah Allah ngasih petunjuk, jadi Aku bisa jawab pertanyaan mereka tadi...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Bagus lah. Kita juga harus siap dengan pertanyaan mereka yang lebih kritis lagi ke depannya Nak...,”  kata Fatur sambil menepuk pundak Faiq.


“ Insya Allah. Terus sekarang Kita kemana Om...?” tanya Faiq.


“ Kita balik ke rumah Kyai Syakir. Kan bakal ada tahlilan sekaligus ngirim doa untuk almarhum ntar malam di sana...,” sahut Fatur sambil melangkah.


“ Ok Om...,” sahut Faiq sambil mengekori Fatur.


\=====


Sekelompok pemuda sedang berjalan di trotoar tepat di depan deretan toko yang lama tak dipakai. Suasana malam itu sedikit berbeda, terasa lebih mencekam dan menegangkan. Namun kelompok pemuda itu mencoba tenang karena merasa mereka terbiasa lewat di sana dan tak pernah bertemu hantu seperti yang dibicarakan orang-orang.


Tiba-tiba langkah Tobi, pemuda yang berjalan paling depan pun terhenti hingga membuat teman lainnya kaget.


“ Kenapa berhenti sih Bro...?” tanya salah seorang diantara mereka.


“ Itu, apa Lo liat cewek yang di sana itu...?” sahut Tobi sambil menunjuk kearah depan.


Di ujung trotoar yang akan mereka lewati nampak seorang perempuan mengenakan gaun pink selutut. Penampilannya terlihat lusuh dan berantakan. Perempuan itu tengah berjalan mondar mandir sambil menoleh kearah depan seperti tengah menunggu seseorang.


“ Iya, kenapa emangnya...?” tanya teman lainnya yang juga melihat perempuan itu.


“ Kok, Gue ngerasa kalo dia bukan manusia ya...,” sahut Tobi dengan suara bergetar.

__ADS_1


“ Ah jangan ngaco Lo, paling itu orang g*la atau gelandangan yang lagi nyari makan. Yuk jalan lagi...,” ajak teman Tobi sambil menarik tangan Tobi agar kembali melangkah.


Tobi berusaha menolak dan berniat cari jalan lain, tapi niatnya itu justru ditertawakan oleh teman-temannya. Tiba-tiba tubuh Tobi menegang saat perempuan bergaun pink itu melayang cepat kearah kelompoknya. Gaun dan rambutnya yang berwarna abu-abu nampak berkibar saat tersapu angin malam. Kedua matanya merah menyala dengan wajah yang rusak penuh parut dan berwarna hitam legam. Yang mengejutkan, posisi kepala wanita itu melayang di samping tubuhnya dan bukan melekat di lehernya.


“ Sssttt, jangan berisik. Kalo Kalian berisik Aku ga bisa dengar suara Anakku...,” kata hantu wanita itu sambil menyeringai.


Tobi dan teman-temannya sontak menoleh kearah hantu wanita itu, mematung sejenak lalu menjerit dan lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu diiringi suara desisan hantu wanita itu.


\=====


Kini Hanako, Iyaz dan Izar mulai bisa membedakan manusia dengan makluk astral. Hanako yang duduk di kelas delapan sebuah SMP Negeri di Jakarta terlihat makin cantik meski pun terkesan galak. Sedangkan Iyaz dan Izar duduk di kelas empat SD. Jika Iyaz terlihat serius sedangkan Izar terlihat sedikit cuek. Ketiganya pun makin kompak dan hampir selalu bersama-sama menghabiskan waktu. Seperti kali ini.


Dengan menggunakan sepeda, Hanako, Iyaz dan Izar memutuskan membeli seblak kesukaan Hanako  di kios yang tak jauh letaknya dari rumah Erik. Saat tiba di depan kios terlihat antrian yang panjang. Iyaz dan Izar mulai terlihat kesal karena membayangkan waktu yang akan mereka habiskan untuk mengantri. Namun mereka tepaksa menuruti kemauan Hanako yang super judes itu.


“ Ngantri Ci, gimana nih...?” tanya Izar.


“ Gapapa deh, nanggung juga udah sampe sini...,” sahut Hanako sambil menyandarkan sepedanya di tiang listrik.


“ Ya udah, Kita tunggu di sana aja Ci...,” saran Iyaz sambil menunjuk kearah samping kios.


“ Kalian duluan aja, Aku pesan seblak dulu...,” sahut Hanako yang diangguki Iyaz dan Izar.


Kemudian Iyaz dan Izar mengayuh sepeda mereka menuju ke depan kios kosong yang letaknya ada di samping kios penjual seblak. Sambil menunggu Hanako, mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Terlihat deretan toko yang sebagian sudah kosong tak terurus dan ditinggalkan begitu saja.


“ Kata orang di sini kalo malam serem Yaz. Tapi kok kalo siang gini biasa aja ya...,” kata Izar.


“ Masa sih, kok Aku baru tau...,” sahut Iyaz.


“ Makanya jangan belajar mulu dong, main kek sekali-kali biar tau ada apaan di sekitar Kita...,” kata Izar sambil mencibir hingga membuat Iyaz tersenyum.


“ Emang serem kenapa di sini...?” tanya Iyaz mengalihkan pembicaraan.


“ Kata temen-temen kalo malam ada penampakan hantu perempuan bergaun pink berkepala buntung di sekitar sini. Dia mondar mandir kaya lagi nyari sesuatu...,” sahut Izar.


“ Masa sih...?” tanya Iyaz.


“ Iya. Tapi anehnya dia cuma nakutin orang yang ribut atau lagi ketawa-ketawa. Nah, kalo udah gitu dia nongol deh sambil bilang ‘Ssstt, jangan berisik’ gitu katanya...,” sahut Izar.


" Boleh, tapi tanggung sendiri resikonya...," sahut Izar santai.


“ Wah, ganggu orang dong kalo kaya gitu, kan ga semua orang berani sama hantu kaya Kita...,” kata Iyaz asal dan disambut gedikan bahu oleh Izar.


Kemudian Iyaz dan Izar menatap Hanako yang menghampiri mereka sambil mengayuh sepeda miliknya.


“ Udah pesan, masih lama ga...?” tanya Iyaz.


“ Udah, yah lumayan lama. Kenapa, ga suka ya nemenin Aku. Kalian tuh ga solider banget sih jadi orang...,” sungut


Hanako sambil duduk di samping Iyaz.


“ Bukan gitu, Aku kan Cuma nanya. Kok Kamu sewot sih...,” sahut Iyaz.


“ Lagian apaan tuh solder, buat main tenis ya...,” kata Izar asal hingga membuat Hanako dan Iyaz tertawa.


“ Solider bukan solder Izaarrr...,” sahut Hanako gemas.


“ Iya, iya. Apaan kek namanya. Itu benda apaan Ciciii...,” kata Izar mengikuti gaya bicara Hanako.


“ Solider tuh artinya kompak, setia kawan...,” sahut Hanako.


“ Kita kan sepupu. Harusnya setia sodara bukan setia kawan Ci...,” celetuk Iyaz sambil melengos disambut tawa Izar.


“ Iiiihh, Kalian tuh nyebelin banget sih. Apa kembar itu harus sama ya. Kalo yang satu jutek, yang lain juga jutek. Kalo yang satu lucu, yang lain juga lucu. Nah kalo yang satu nyebelin, apa yang satunya juga harus ikut nyebelin...?!” kata Hanako dengan nada suara tinggi.


“ Ssstt, jangan berisik Ci...!” tegur Iyaz dan Izar bersamaan hingga membuat kedua mata Hanako membulat sempurna.


“ Apaan sih Kam...,” ucapan Hanako terhenti saat Izar menyilangkan jari telunjuknya di depan bibir menandakan jika


Hanako harus mengerem suaranya.

__ADS_1


Kemudian Izar menunjuk ke ujung jalan dimana ada seorang wanita bergaun pink lusuh tengah mondar mandir di atas trotoar seperti mencari sesuatu. Hanako dan Iyaz pun terdiam lalu ikut mengamati tingkah wanita itu.


“ Itu orang g*la atau bukan...?” tanya Hanako.


“ Bukan...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Jadi itu hantu dong...,” kata Hanako yang diangguki Iyaz dan Izar.


Seolah sadar jika dirinya tengah dibicarakan oleh Hanako, Iyaz dan Izar, hantu wanita di ujung jalan itu pun menoleh lalu menatap lekat kearah mereka.


“ Ya Allah...,” gumam Hanako sambil menutup mulutnya saat melihat wajah hantu wanita itu.


Wajah hantu wanita itu terlihat rusak. Tak ada darah di sana meski luka di wajahnya sangat menyeramkan. Selain


itu kulit wajah hantu wanita itu berwarna hitam legam, kontras dengan gaun pink yang dipakainya. Kemudian hantu wanita itu melayang mendekati Hanako, Iyaz dan Izar yang nampak terpana menatapnya.


“ Kalian bisa melihat Aku...?” tanya hantu wanita itu dengan suara serak saat telah tiba di hadapan Hanako, Iyaz dan Izar.


“ Iya...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Mu..., muka Tante kenapa...?” tanya Hanako gugup.


“ Ini..., Aku ga tau...,” sahut hantu wanita itu sambil menyentuh wajahnya.


“ Terus Tante lagi nyari apaan di sana...?” tanya Izar.


“ Aku lagi nunggu Anakku, biasanya dia lewat di jalan itu sepulang sekolah. Tapi Aku udah lama nunggu kok dia ga


lewat ya...,” sahut hantu wanita itu sedih.


“ Mmm, maaf Tante. Emangnya Anak Tante itu sekolah dimana...?” tanya Hanako setelah keberaniannya terkumpul.


“ Anakku sekolah di SD Dewantara kelas 3, namanya Lilian, umurnya delapan tahun...,” sahut hantu wanita itu.


“ Kenapa Tante ga tunggu di rumah aja atau jemput Lilian di sekolahnya...?” tanya Hanako.


“ Aku ga bisa lakuin itu. Apa Kalian bisa membantuku...?” tanya hantu wanita itu balik bertanya.


Hanako, Iyaz dan Izar tampak saling menatap bingung. Entah kekuatan darimana, kepala mereka pun mengangguk


bersamaan tanda mereka bersedia membantu hantu wanita itu. Tiba-tiba mereka dikejutkan suara pemilik kios seblak yang memanggil nama Hanako dan bersamaan dengan itu hantu wanita bergaun pink itu pun menghilang.


“ Eh, iya Bu. Apa pesanan Saya udah jadi...?” tanya Hanako sambil mendekat kearah penjual seblak.


“ Udah Neng. Daritadi dipanggilin, eh Neng diem aja. Lagi ngapain sih di depan kios sana. Kios itu kan serem Neng,


udah lama kosong dan ga ada yang mau nyewa...,” kata penjual seblak.


“ Ga serem kok Bu. Buktinya Adik-adik Saya nyantai aja duduk di sana...,” sahut Hanako.


“ Iya, Saya juga bingung. Padahal biasanya ga ada yang berani duduk di sana biar pun siang hari kaya gini lho


Neng...,” kata penjual seblak lagi.


“ Oh gitu ya Bu. Kalo gitu Saya pulang dulu deh, uangnya udah tadi ya Bu...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


“ Iya, makasih ya Neng...,” kata penjual seblak sambil melangkah masuk ke dalam kios miliknya.


\=====


Sambil menikmati seblak yang dibelinya tadi, Hanako mulai membahas hantu wanita yang mereka temui tadi. Suaranya yang lantang membuat semua orang yang ada di rumah itu pun menoleh dan tertarik mendengar ceritanya.


Faiq nampak tersenyum karena tahu jika Hanako, Iyaz dan Izar akan mengalami peristiwa mistis yang mendebarkan lagi setelah beberapa tahun ini 'hanya' melihat penampakan hantu. Kemudian diam-diam Faiq menghubungi Fatur melalui pesan WA.


" Assalamualaikum Om, siap-siap ya. Insya Allah bakal ada hal mengejutkan yang dibawa Anak-anak...," kata Faiq.


" Wa alaikumsalam, insya Allah Om siap Iq. Makasih infonya...," sahut Fatur.


Faiq menyimpan ponsel miliknya di dalam saku sambil tersenyum, kemudian ia mulai mendengarkan 'analisa' Hanako, Iyaz dan Izar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2