
Lamaran resmi untuk Qiana telah dilaksanakan. Kini kedua keluarga tengah mempersiapkan resepsi pernikahan Izar dan Qiana yang sedianya akan digelar di gedung milik keluarga Erik. Sehari sebelumnya akad nikah telah digelar di masjid dekat kediaman orangtua Qiana.
Status Qiana yang anak tunggal memungkinkan dia untuk menuntut pesta meriah nan mewah. Namun ternyata Qiana tak melakukan itu. Ia hanya ingin pesta sederhana dengan didahului pemberian santunan terhadap anak yatim piatu dan duafa.
Permintaan Qiana mengejutkan sekaligus membanggakan kedua belah pihak keluarga. Hingga akhirnya pesta
pernikahan pun direncanakan digelar sesuai permintaan mempelai wanita.
Sebelum berangkat ke gedung tempat resepsi pernikahan digelar, kedua keluarga tengah berkumpul di rumah Qiana sambil menikmati sarapan. Izar terlihat mengikuti Qiana kemana pun gadis itu melangkah hingga membuat suasana menjadi riuh.
“ Duduk lah Zar. Ngapain sih ngikutin Qiana terus. Ga bakal kemana-mana juga kok, kan Qiana udah sah jadi Istri Kamu jadi ga akan ada yang berani gangguin dia...,” kata Hanako usil.
“ Ssttt..., berisik nih Cici. Kaya ga pernah muda aja...,” sahut Izar sambil menyilangkan telunjuk di depan bibirnya.
Mendengar jawaban Izar membuat Hanako membulatkan matanya karena kesal sedangkan yang lain nampak tertawa terbahak-bahak.
“ Maksud Kamu, Aku udah tua gitu...?!” tanya Hanako kesal sambil melempar sepatu milik Paundra kearah Izar.
Izar pun tertawa. Ia berhasil menghindar lalu berlari cepat sambil menggamit tangan Qiana dan membawanya menjauh dari keluarganya itu.
“ Kenapa malah ngumpet di sini sih Mas...?” tanya Qiana tak mengerti.
“ Sssttt..., Aku sengaja...,” sahut Izar sambil menatap Qiana lekat.
“ Tapi untuk apa, kan ga ada yang ngejar Kita juga...,” kata Qiana bingung.
“ Untuk ini...,” sahut Izar lalu memeluk Qiana erat sambil mencium bibirnya dengan intens.
Untuk sesaat Qiana terkejut namun saat berikutnya Qiana pun membalas ciuman Izar hingga keduanya terengah-engah karena kekurangan oksigen.
“ Udah Mas...,” bisik Qiana dengan wajah merona sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Izar.
“ Sebentar lagi Sayang...,” sahut Izar sambil kembali mendaratkan ciuman di bibir Qiana hingga Qiana pun tak
dapat menolak. Izar bahkan menahan belakang kepala Qiana agar sang istri tak menghindari ciumannya.
Setelah beberapa saat Izar dan Qiana menyudahi ciuman panas mereka lalu saling mengurai pelukan mereka. Keduanya pun tersenyum sambil menetralisir nafas mereka yang memburu. Setelahnya mereka kembali bergabung dengan keluarga mereka.
Melihat kedatangan sepasang pengantin baru itu membuat keluarga kembali mengusili mereka. Izar dan Qiana terlihat santai bahkan Izar terus memeluk pinggang Qiana dengan posessif.
“ Tuh dia pengantin barunya. Ngilang mulu sih kaya demit aja. Sini dulu Qi, Aku mau nanya sesuatu nih...,” kata Hanako sambil menarik tangan Qiana dan mendorong Izar agar menjauh hingga membuat tawa kembali menggema di ruangan itu.
“ Mau nanya apaan sih Ci...?” tanya Qiana setelah tawanya reda.
“ Waktu Kamu pingsan karena dibawa makhluk halus yang mau numbalin Kamu itu, Kamu kok bisa langsung ngikutin arahannya Izar. Padahal kan saat itu hanya ada suara tanpa wujud. Apa Kamu ga takut Qi. Bisa aja kan suara itu menjebak Kamu juga...?” tanya Hanako penasaran.
“ Oh itu. Sebenernya saat itu Aku juga ngeliat Ummi Aku Ci. Ummi maksa Aku buat ngikutin perintahnya. Pake marah-marah juga lho...,” sahut Qiana.
“ Ummi Kamu, kok bisa...?” tanya Hanako.
“ Makhluk itu nyamar jadi Umminya Qiana untuk mengecoh Qiana Ci. Untungnya Qiana ngikutin suara Izar. Kalo dia ngikutin perintah makhluk yang mirip Umminya itu, mungkin Qiana ga akan married sama Izar sekarang...,” kata Iyaz menjelaskan.
__ADS_1
“ Oh gitu ya. Kamu belum jawab pertanyaan Aku ya Qi. Kenapa Kamu milih ngikutin arahan suara tanpa wujud itu dibandingkan ngikutin perintah Ummi Kamu...?” tanya Hanako lagi.
“ Itu karena...,” ucapan Qiana terputus. Ia menoleh kearah Izar yang saat itu juga tengah menatapnya.
“ Karena apa Qi...?” tanya Hanako tak sabar.
“ Karena saat itu Mas Izar ngomongnya marah-marah Ci, pake ngancam segala. Pokoknya galak banget deh. Nah karena itu lah Aku mutusin buat ngikutin arahannya Mas Izar...,” sahut Qiana malu-malu.
“ Kok bisa. Harusnya Kamu nurutin ummi Kamu yang pastinya ngajak Kamu dengan suara yang lembut kan...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Karena Mas Izar yang asli kan emang galak sama Aku Ci. Jutek dan ga bersahabat. Makanya Aku yakin buat
ngikutin suaranya. Kalo makhluk yang nyamar jadi Ummi Aku justru bikin Aku ragu karena dia menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Ibu. Padahal aslinya Aku manggil Ummi dan Ummi Aku juga selalu nyebut dirinya sendiri ya pake kata Ummi. Saat itu semuanya serba asing dan hanya suara Mas Izar aja yang ga asing di telingaku...,” sahut Qiana panjang lebar sambil menatap Izar penuh cinta.
“ So sweet...,” kata Hanako dan Nuara bersamaan hingga membuat semua orang tertawa.
Kemudian Izar menghampiri Qiana dan kembali memeluknya sambil mendaratkan ciuman di keningnya.
“ Makasih ya udah percaya sama Aku...,” kata Izar sambil menatap Qiana dengan lembut.
“ Sama-sama Mas. Makasih juga karena udah membawa Aku keluar dari tempat terkutuk itu...,” sahut Qiana sambil tersenyum.
“ Aku juga mau dipeluk kaya gitu Mas...,” rengek Nuara tiba-tiba hingga mengejutkan semua orang.
“ Iya iya. Sini Aku peluk...,” sahut Iyaz sambil mempraktekkan apa yang dilakukan Izar kepada Qiana tadi.
Suasana ruangan kembali ramai dengan tawa. Meski pun semua orang menganggap permintaan Nuara adalah bentuk ngidam dari bayi yang dikandungnya, namun toh tak mengurangi kehangatan keluarga besar mereka yang telah disatukan dengan pernikahan Izar dan Qiana.
Kini Izar dan Qiana telah berada di gedung tempat resepsi pernikahan mereka digelar. Keduanya nampak
berdampingan sambil saling menautkan jemari. Berkali-kali Izar menoleh kearah Qiana untuk memuji kecantikan istrinya itu. Qiana yang mendengar rayuan maut sang suami pun hanya tersenyum sambil mengerjapkan matanya dengan mimik lucu.
“ Kamu cantik banget sih Sayang. Aku jadi tambah khawatri nih...,” kata Izar setengah berbisik.
“ Khawatir kenapa Mas...?” tanya Qiana.
“ Khawatir pengagummu bertambah banyak...,” sahut Izar gusar sambil menepuk dadanya sendiri.
“ Ga perlu khawatir dong Mas. Mereka hanya bisa mengagumi Aku tapi kan Kamu yang berhasil memiliki hatiku, diriku, dan cintaku...,” kata Qiana sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
Mendengar ucapan Qiana membuat Izar tertawa lalu memeluknya dan mendaratkan ciuman sayang di kening Qiana.
Sikap Izar dan Qiana membuat pemilik sepasang mata yang menatap dari kejauhan nampak kesal. Ia menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya seolah tak rela melihat kemesraan Izar dan Qiana. Namun kekesalan pria yang tak lain adalah Reno itu berhasil dinetralisir saat kedua orangtua Qiana menyapanya.
“ Makasih udah datang ya Mas Reno...,” kata abi Qiana dengan ramah.
“ Iya Om. Saya pasti datang di pernikahan Qiana...,” sahut Reno.
“ Ya harus dong. Kan Qiana udah kaya adiknya Mas Reno...,” kata ummi Qiana sambil menepuk pundak Reno dengan lembut.
Tepukan ummi Qiana membuat Reno merasa tenang dan dihargai. Ia menganggukkan kepalanya karena bahagia kedua orangtua Qiana masih mau menerima kehadirannya setelah apa yang telah ia lakukan dulu.
__ADS_1
“ Silakan dinikmati suguhannya ya Mas, Kami ke sana dulu...,” kata ummi Qiana sambil tersenyum.
“ Iya Tante, silakan...,” sahut Reno dengan santun.
Kedua orangtua Qiana pun ikut bergabung dengan rombongan pengantin. Tak lama kemudian iringan pengantin pun memasuki gedung. Izar dan Qiana berjalan di belakang kedua orangtua mereka. Qiana nampak cantik mengenakan gaun pengantin berwarna coklat susu yang menjuntai di lantai. Sebuah mahkota kecil bertengger manis di atas rambutnya yang diatur sedemikian rupa hingga membuat penampilan Qiana benar-benar memukau. Di samping kanannya terlihat Izar mengenakan setelan berwarna coklat tua. Keduanya terlihat serasi hingga semua orang yang melihat pun berdecak kagum.
Keceriaan melingkupi gedung tempat digelarnya resepsi pernikahan Izar dan Qiana. Dekorasi pelaminan dan ruangan yang bernuansa pastel nampak makin terlihat meriah dan romantis dengan iringan life musik. Kebahagiaan juga menular kepada para tamu undangan yang hadir untuk memberi doa restu.
Di sudut ruangan terlihat keluarga besar siluman buaya turut hadir memberi doa restu untuk Izar dan Qiana. Faiq,
Fatur, Iyaz dan Hanako bergantian menyapa mereka dan menemani mereka selama acara berlangsung agar tak terlalu menarik perhatian para tamu undangan.
Dari pelaminan Izar pun nampak tersenyum kearah keluarga siluman buaya itu hingga membuat Qiana bertanya-tanya. Sesekali Izar membalas lambaian tangan Hara yang ikut hadir di sana.
“ Kamu senyum sama siapa sih Mas...?” tanya Qiana.
“ Sama rombongan siluman buaya Sayang. Mereka udah kaya keluarga Aku juga. Nanti Aku kenalin Kamu sama mereka ya...,” sahut Izar.
“ Iya Mas. Sekarang tolong sampein salamku untuk mereka ya...,” kata Qiana tanpa takut.
“ Siap Sayang...,” sahut Izar sambil memeluk pinggang Qiana lebih erat.
Izar bahagia karena Qiana bisa menerima kelebihan yang ia miliki itu tanpa rasa takut. Izar merasa ia memang
memerlukan sosok pendamping yang bisa memahaminya seperti sang bunda memahami ayahnya.
Kini kebahagiaan keluarga Faiq terasa lengkap dengan pernikahan Izar dan Qiana. Meski pun ujian kehidupan akan selalu datang, namun Faiq dan keluarganya yakin akan bisa menghadapi semuanya dengan tetap berpegang teguh pada aturan Allah Swt.
Dan kisah Tiga Yang Terpilih pun berakhir di sini.
\=== S E L E S A I ===
Assalamualaikum....
Buat semua pembaca novel ini. Terima kasih sudah membaca dan memberi suport berupa koment, like, favorite,
hadiah, bintang & vote untuk novel ini.
Mohon maaf atas segala kekurangan & kekhilafan yang penulis lakukan, baik sengaja atau tidak.
Semoga Kita selalu dalam lindungan Allah Swt, diberikan rizqi yang banyak halal dan barokah, dan bisa bertemu lagi di karya Aku selanjutnya.
Insya Allah author sedang mempersiapkan novel baru genrenya horror juga yang judulnya "TITISAN MAKHLUK MALAM" yang insya Allah bakal up tanggal 12 Mei 2022.
Salam kompak selalu dan makasih...
Wassalam
( Ummiqu )
__ADS_1