Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
47. Arwah Sejoli


__ADS_3

Faiq membantu Iyaz dan Izar menunaikan janjinya pada hantu Rian. Sebelum pergi ke pesantren dan mondok di sana, Iyaz dan Izar masih memiliki waktu libur yang lumayan panjang. Dan mereka memanfaatkan waktu libur itu untuk membantu Rian.


Rumah susun di daerah Pondok Kopi Jakarta Timur telah mereka datangi. Namun karena informasi yang tak lengkap membuat mereka kesulitan mencari orang yang dimaksud. Beruntung Dayang selalu siap membantu dan memberi informasi yang dibutuhkan Faiq dan kedua anaknya.


Saat mobil berhenti di depan komplek rumah susun, Iyaz dan Izar menganga dibuatnya.


“ Kok ada rumah kaya gini ya. Apa mereka ga takut jatuh dari atas...?” tanya Iyaz sambil menatap bangunan yang menjulang tinggi di depannya itu.


“ Kenapa harus takut. Kan seru punya tetangga yang tinggalnya ga hanya di samping rumah Kita tapi juga di atas dan di bawah rumah Kita...,” sahut Izar antusias.


“ Ini sama aja kaya gedung perkantoran atau mall, ga ada yang perlu ditakutin selagi semua mengikuti peraturan yang ada. Misalnya memasang teralis jendela bagi yang punya Anak kecil...,” kata Faiq menambahkan.


Faiq pun turun dari mobil diikuti si kembar. Kemudian mereka mendatangi rumah Ketua Rt di sana untuk mencari informasi tentang Aura.


“ Aura yang tunangannya bernama Rian ya Pak...?” tanya ketua Rt ragu.


“ Betul Pak...,” sahut Faiq.


“ Wah sayang sekali. Keluarga mereka udah pindah dua tahun yang lalu Pak...,” kata ketua Rt.


“ Pindah kemana Pak. Terus kalo boleh tau apa sebabnya. Saya liat di sini cukup nyaman, kenapa harus pindah segala...?” tanya Faiq penasaran.


“ Oh itu gara-gara orangtuanya Aura ga setuju sama pertunangan Aura dan Rian...,” sahut ketua Rt.


“ Ga setuju tapi kok bisa tunangan sih, aneh...,” kata Faiq.


“ Itu lah. Gara-gara provokator yang menghasut, jadi hancurlah pertunangan Aura dan Rian. Karena ga sanggup menanggung malu, keluarga Aura pun pindah dari sini...,” sahut ketua Rt sambil memberikan secarik kertas berisi alamat rumah Aura yang baru.


“ Terima kasih Pak, Kami permisi dulu...,” kata Faiq sambil menjabat tangan ketua Rt yang ramah itu.


Setelah mendapatkan alamat rumah Aura, Faiq pun melajukan mobilnya menuju alamat yang dimaksud. Ternyata alamat rumah Aura tak terlalu jauh dari rumah susun yang tadi mereka datangi.


Rumah orangtua Aura terlihat sepi seolah tak ada kehidupan. Faiq pun turun dan meminta kedua anaknya menunggu di mobil karena tak ingin mereka melihat atau mendengar sesuatu yang tak seharusnya.


“ Assalamualaikum...,” sapa Faiq sambil mengetuk pintu.


Tak ada sahutan hingga beberapa saat kemudian seorang pria membuka pintu dan Faiq yakin jika itu adalah ayah Aura.


“ Kamu siapa dan cari siapa...?” tanya ayah Aura dengan suara serak seolah baru saja usai menangis.


“ Maafkan Saya sebelumnya, apa Kita bisa bicara sebentar. Ini soal Rian...,” kata Faiq hati-hati.


Ayah Aura nampak meneliti Faiq dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu mengangguk sambil tersenyum samar.


“ Baik, silakan masuk...,” sahut ayah Aura lalu membuka pintu lebar-lebar untuk Faiq.


Faiq duduk di kursi sambil menatap dinding rumah yang dipenuhi foto seorang gadis yang ia yakini sebagai Aura.

__ADS_1


“ Saya tau Kamu ga kenal sama Anak Saya Aura. Tapi gapapa, Saya tau kalo maksud Kamu baik. Karena hanya orang baik yang berani datang dan masuk ke rumah ini...,” kata ayah Aura.


“ Maafkan Saya. Tapi dugaan Bapak memang benar. Saya ke sini membawa pesan Rian untuk Aura. Sampe saat ini Rian masih menunggu Aura di tempat biasa mereka ketemu...,” sahut Faiq.


“ Rian, Rian. Ternyata Saya salah menilai dia. Ini semua gara-gara mulut orang  berhati iblis. Saya dan Istri Saya termakan gosip murahan yang mengatakan jika Rian itu punya Anak dan Istri. Karena marah Saya memutuskan pertunangan Anak Saya secara sepihak. Saya ga tau kalo akibatnya akan sefatal ini...,” kata ayah Aura sambil


menangis.


Faiq menyentuh punggung tangan ayah Aura, mengusap pelan untuk menenangkannya. Saat itu lah Faiq bisa melihat apa yang telah terjadi dalam keluarga Aura.


Pertunangan Rian dan Aura telah dilaksanakan. Dua minggu menjelang pernikahan badai itu datang menghancurkan semua mimpi keluarga Aura dan Rian, padahal persiapan pernikahan telah rampung 90%. Salah seorang sepupu Aura datang dan mengatakan jika Rian bukan lah pria yang baik karena telah berani menipu keluarga mereka. Ia mengatakan jika Rian sudah berkeluarga dan punya seorang anak perempuan. Mendengar berita itu membuat orangtua Aura malu, apalagi berita itu disampaikan di depan kerabat dan tetangga yang tengah berkumpul di rumah itu.


Sontak berita itu menghancurkan harga diri keluarga Aura. Mereka malu karena Aura dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Tanpa melakukan cek dan re cek, ayah Aura langsung membatalkan rencana pernikahan


Aura dan Rian.


Aura menjerit memohon kesempatan pada ayahnya. Namun sang ayah yang terlanjur percaya pada bualan keponakannya itu pun malah bertambah marah dan mengurung Aura di dalam kamar. Aura kehabisan akal untuk menenangkan emosi ayahnya. Rian yang datang berkunjung pun mendapatkan bogem mentah dari ayah Aura. Rian yang tak tahu apa-apa itu pun hanya pasrah saat digelandang ke kantor polisi dan rela dipenjara tanpa pernah tahu apa kesalahannya.


Keluarga besar Rian yang mengetahui Rian dipenjara atas laporan calon mertuanya pun marah dan meminta kembali semua uang dan seserahan yang telah diberikan kepada Aura. Konflik yang makin panas itu pun membuat keluarga Aura malu lalu memutuskan pindah dari rumah lama mereka.


Selepas dari penjara Rian masih menjalin hubungan denga Aura meski pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Keduanya bahkan berniat kawin lari agar bisa hidup bersama. Namun niat mereka tak pernah terwujud. Karena hari dimana mereka berniat bertemu adalah menjadi hari terakhir Rian hidup di dunia ini. Rian mengalami kecelakaan dan meninggal karena kehabisan darah. Saat itu Rian menyiapkan hadiah ulang tahun untuk Aura berupa boneka beruang yang tetap ia peluk erat meski pun arwahnya telah meninggalkan raganya.


Rian tak pernah menyadari jika ia telah meninggal dunia. Arwahnya tetap datang ke rumah makan dan menunggu Aura di sana, lengkap dengan boneka beruang yang selalu ia peluk.


Sedangkan Aura datang terlambat karena harus main kucing-kucingan dengan orangtuanya agar bisa keluar dan menemui Rian. Aura berhasil masuk ke rumah makan itu dan menunggu Rian di sana hingga beberapa jam. Hingga


Dengan hati yang hancur Aura meninggalkan rumah makan itu. Di perjalanan ia dihadang oleh para preman. Selain hartanya dirampas, Aura juga mengalami pelecehan se**al. Setelahnya Aura ditinggalkan begitu saja.  Aura merasa dirinya kotor dan tak akan sanggup menghadapi suaminya kelak. Karenanya Aura bunuh diri dengan cara melompat dari atas jembatan dan meninggal di tempat. Jasad Aura dikembalikan ke rumah dalam keadaan tak utuh lagi.


Faiq menarik tangannya dengan perasaan kacau. Ia menggelengkan kepalanya karena merasa jika apa yang menimpa sepasang kekasih itu sangat lah tragis. Dua orang yang saling mencintai dipisahkan oleh maut dengan cara yang berbeda.


“ Saya turut berduka cita atas kepergian Aura. Tapi Saya harus menyampaikan ini supaya keluarga Bapak mengerti bahwa Rian itu masih single dan belum menikah...,” kata Faiq.


“ Saya tau. Sepupu Aura mengaku jika yang ia ucapkan dulu bohong belaka. Ia melakukan itu karena iri sama Aura. Selain itu diam-diam dia juga mencintai Rian namun Rian menolak dan tetap memilih Aura. Saya menyesal karena ga bisa memberi kebahagiaan untuk Aura di akhir hayatnya. Andai waktu itu Saya mengijinkannya menikah dengan Rian, pasti dia masih hidup dan bahagia...,” kata ayah Aura sambil terisak.


“ Tapi Rian ga pernah tau kalo Aura meninggal Pak. Makanya dia masih nungguin Aura di sana...,” sahut Faiq dan mengejutkan ayah Aura.


“ Ijinkan Saya menemuinya. Sekalian Saya juga mau minta maaf sama Rian karena ucapan dan sikap Saya dulu...,” pinta ayah Aura.


“ Baik, bisa Kita pergi sekarang Pak...?” tanya Faiq yang diangguki ayah Aura.


\=====


Kini Faiq sedang menemani ayah Aura yang akan bertemu arwah Rian. Sebelumnya Faiq telah meminta Rian datang ke taman kecil di depan rumah makan. Faiq melakukan itu agar tak terlalu menarik perhatian pengunjung dan pelayan rumah makan itu.


“ Dimana Rian Mas...?” tanya ayah Aura sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


“ Rian ada di depan Bapak...,” sahut Faiq.

__ADS_1


“ Apa maksudnya ini...?” tanya ayah Aura gusar.


“ Maafkan Saya, tapi Bapak juga harus tau, Rian udah meninggal dunia beberapa jam sebelum Aura meninggal dunia. Rian meninggal saat di perjalanan menuju rumah makan sambil membawa boneke beruang untuk Aura


sebagai hadiah ulang tahunnya. Arwah Rian masih penasaran dan selalu menunggu Aura di rumah makan ini Pak...,” sahut Faiq dengan suara bergetar.


“ Apa...?!” ayah Aura pun terkejut dan hampir tejatuh karena tak menyangka jika yang akan ia temui hanya lah arwah penasaran Rian. Faiq dengan sigap menopang tubuh ayah Aura agar tak terjatuh.


“ Begitu lah Pak. Gimana, apa Bapak masih mau menyampaikan permintaan maaf Bapak sama almarhum Rian...?” tanya Faiq.


Ayah Aura tertegun sesaat kemudian menganggukkan kepalanya. Faiq tersenyum kemudian membantu ayah Aura bicara pada arwah Rian. Sedangkan arwah Rian terlihat lebih siap.


“ Ri, Rian. Ini Bapak...,” kata ayah Aura dengan suara bergetar.


“ Langsung aja Pak, waktu Rian ga banyak...,” bisik Faiq.


“ Ri, Rian. Bapak minta maaf atas kesalahan Bapak sama Kamu. Maaf karena udah mukul Kamu, maaf karena ga percaya sama Kamu dan maaf karena udah bikin Kamu menderita selama ini. Maaf. Saya datang mewakili Aura karena dia...,” ucapan ayah Aura terputus karena tak sanggup menahan tangis.


“ Aura kenapa Pak...?” tanya hantu Rian yang hanya bisa didengar oleh Faiq.


“ Aura udah meninggal dunia di hari yang sama dengan hari kematianmu Rian...,” sahut Faiq sambil memperlihatkan foto terakhir Aura di ponsel milik ayah Aura yang dipinjamnya tadi.


Tubuh Rian merosot ke tanah. Ia melepaskan boneka itu seolah tak punya kekuatan untuk memeluknya lagi. Faiq menatap iba kearah hantu Rian.


“ Jadi untuk apa Aku bertahan kalo Aura udah ga ada...,” kata Rian lirih membuat suasana di sekitar mereka terasa mencekam.


Tiba-tiba sebuah suara lembut memanggil namanya dan membuat Rian menoleh lalu tersenyum. Di sana Rian melihat Aura tengah berdiri sambil melambaikan tangan kearahnya.


“ Aku datang untuk menepati janji Kita Rian...,” kata Aura sambil tersenyum.


“ Aku tau Sayang. Ayo Kita pergi dan jemput impian Kita bersama...,” sahut Rian sambil menghampiri Aura lalu meraih jemari tangannya.


Sebelum pergi Rian dan Aura menoleh kearah Faiq sambil tersenyum.


“ Terima kasih. Sampaikan salam Kami untuk Ayah dan kedua jagoan cilik itu. Sekarang Kami harus pergi...,” kata Rian.


“ Pergi lah, semoga Allah mengampuni dosa Kalian dan menerima semua amal ibadah Kalian...,” sahut Faiq lalu membacakan surah Al Fatihah dan doa untuk mengantar arwah sepasang sejoli itu pergi menuju haribaan Allah Swt.


Udara sejuk pun berhembus menerpa wajah ayah Aura seolah salam terakhir dari Aura untuknya. Faiq menepuk pundak ayah Aura lalu membantunya berdiri.


“ Aura dan Rian titip salam untuk Bapak...,” bisik Faiq.


“ Terima kasih Mas Faiq. Saya senang karena sudah menyelesaikan kesalah pahaman ini. Semoga Allah mengampuni dosa mereka dan dosa Kita semua...,” kata ayah Aura sambil mengusap matanya yang basah.


“ Aamiin...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


Kemudian Faiq menuntun ayah Aura menuju mobil dimana Iyaz dan Izar duduk menunggu. Sesaat kemudian mereka meninggalkan rumah makan itu dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2