
Saat pintu terbuka terlihat Iffa dan Inna beserta dokter dan seorang perawat berdiri di ambang pintu. Perawat dan dokter yang mengenali Izar sebagai cucu dokter Farah pun nampak tersenyum dan menyapanya. Sedangkan Iffa dan Inna yang terkejut melihat seorang pria dewasa ada di kamar Mikaila justru memarahi Izar.
“ Lho, Mas Izar ada di sini juga. Apa Mas Izar kenal sama pasien ini...?” tanya sang dokter.
“ Eh iya dok. Kebetulan aja Saya ngeliat Mikaila lagi sendiri, makanya Saya nemenin sebentar tadi...,” sahut Izar sambil tersenyum.
“ Siapa Kamu, ngapain di sini...?” tanya Iffa galak.
“ Ibu jangan galak-galak, Om Izar baik kok...,” sahut Mikaila.
“ Ga bisa Mika, Ibu ga kenal sama dia. Siapa tau itu cuma modus untuk mengelabui Kamu dan memanfaatkan Kamu. Atau lebih parahnya itu cuma akal-akalannya dia aja sebelum melecehkan Kamu Mikaila...,” kata Iffa gusar.
“ Astaghfirullah aladziim..., Saya ga kaya gitu ya Mbak...,” sahut Izar kesal.
“ Terus kalo bukan modus, situ mau ngapain di kamar Anak Saya...?” tanya Iffa.
“ Saya ga sengaja liat pintunya terbuka tadi dan ngeliat kalo Mikaila lagi ngomong sendiri. Makanya Saya masuk ke dalam karena mau nolongin Mikaila...,” sahut Izar.
“ Nolongin apa, kan situ tau anak Saya lagi dibalut matanya. Kalo situ ngapa-ngapain anak Saya, dia juga ga bakal
bsa bersaksi karena ga bisa ngeliat. Jadi situ bisa keluar dengan bebas dong. Dasar pedofil...!” kata Iffa garang.
“ Ya Allah, mana ada sih niat kaya gitu di hati Saya. Kepikiran aja ga kok. Jangan sembarangan nuduh kalo ga ada bukti ya Mbak. Untung situ perempuan, kalo cowok udah abis Saya tonjok dari tadi...,” kata Izar tak mau kalah.
Perdebatan Iffa dan Izar membuat dokter dan perawat maju untuk melerai keduanya. Sedangkan Inna sibuk menenangkan Mikaila yang berontak ingin membantu Izar.
“ Cukup !. Ini hanya salah paham aja kok Bu Iffa. lni Mas Izar, cucu salah seorang dokter senior di sini. Mas Izar ini lagi jenguk kakaknya yang baru aja melahirkan. Iya kan Mas Izar...?” tanya sang dokter.
“ Betul dok...,” sahut Izar cepat.
“ Dan soal Mas Izar mau nolongin Mikaila, Saya rasa itu benar Bu Iffa. Karena Mas Izar ini memang orang yang
Kita cari. Beliau bisa berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata dan mudah-mudahan mau mebantu Mika. Tapi melihat sikap Bu Iffa bausan, Saya ragu kalo Mas Izar bersedia membantu Kita...,” kata sang dokter hingga membuat Iffa terkejut.
Mendengar ucapan sang dokter membuat Inna yang sedang memeluk Mikaila pun terkejut lalu perlahan mengurai
pelukannya pada Mikaila. Kemudian Inna dan Iffa saling menatap lalu menganggukkan kepala.
“ Maaf, tapi dokter tau darimana kalo Saya bisa berinteraksi dengan makhluk ghaib...?” tanya Izar.
“ Udah jadi rahasia umum di kalangan tenaga medis di sini kalo Cucunya dokter Farah itu bisa berinteraksi dengan makhluk ghaib Mas...,” sahut sang dokter sambil tersenyum.
“ Oh ya, tapi ga semuanya tau kan dok...?” tanya Izar cemas.
“ Ga, hanya sebagian aja kok Mas...,” sahut sang dokter.
“ Syukur Alhamdulillah...,” kata Izar sambil menghela nafas lega.
“ Jadi gimana Bu Iffa, mau ga ditolongin sama Mas Izar...?” tanya sang dokter.
“ Mau dok. Tapi apa Mas itu mau nolongin anak Saya...?” tanya Iffa ragu.
__ADS_1
“ Insya Allah mau sih, coba Bu Iffa tanya langsung aja sama orangnya...,” saran sang dokter.
Iffa pun nampak berusaha tersenyum lalu menghampiri Izar.
“ Maafin Saya ya Mas. Saya kaget aja liat orang asing di kamar anak Saya tadi...,” kata Iffa.
“ Iya Mbak, gapapa...,” sahut Izar.
“ Jadi Mas bisa bantu Saya dan anak Saya kan...?” tanya Iffa penuh harap.
“ Insya Allah Saya bantu Mbak...,” sahut Izar sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah, makasih ya Mas...,” kata Iffa dengan mata berkaca-kaca.
“ Sama-sama. Sekarang Saya pulang dulu sebentar, insya Allah Saya balik lagi nanti...,” kata Izar.
“ Iya Mas...,” sahut Iffa.
Izar pun keluar dari ruang rawat Mikaila setelah berpamitan pada semua orang yang ada di ruangan itu. Sedangkan sang dokter nampak tersenyum lega saat mengetahui Izar bersedia membantu Mikaila yang juga pasiennya itu.
Setelah kepergian Izar dan sang dokter, Mikaila pun bertanya pada ibunya.
“ Emangnya Aku kenapa Bu, kok Ibu minta tolong Om Izar segala buat bantuin Kita...?” tanya Mikaila penasaran.
Iffa dan Inna nampak saling menatap karena bingung harus menjawab apa. Kemudian Iffa mendekati Mikaila lalu memeluknya erat.
“ Ada sesuatu yang mengganggumu dan Ibu khawatir itu akan membahayakanmu Mika...,” kata Iffa sambil menyigar rambut Mikaila dengan sayang.
“ Itu yang Ibu ga tau, makanya Ibu minta tolong sama Om Izar tadi. Kan cuma Om Izar yang bisa ngeliat sesuatu yang membahayakan Kamu Nak...,” sahut Iffa.
“ Udah Mika, jangan nanya mulu. Kasian kan Ibumu. Sebaiknya sekarang Mika minum obat terus istirahat. Biar besok dokter bisa buka perban di mata Mika. Ok...?” bujuk Inna.
“ Ok Mama...,” sahut Mikaila antusias lalu segera minum obat yang disodorkan sang ibu.
\=====
Izar bercerita pada ayahnya tentang apa yang dilihatnya di kamar rawat ianap Mikaila dan niatnya membantu gadis cilik itu. Faiq nampak menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
“ Ayah bakal temenin Kamu Zar...,” kata Faiq.
“ Ok, makasih Yah...,” sahut Izar sambil tersenyum.
“ Sama-sama Nak...,” kata Faiq lalu bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
“ Apa Opa Fatur perlu dihubungi Yah...?” tanya Izar.
“ Ga usah. Kita berdua aja udah cukup...,” sahut Faiq.
“ Ok Yah...,” kata Izar.
Setelah mempersiapkan semua yang diperlukan, Faiq dan Izar pun bergegas menuju Rumah Sakit Firdausi untuk
__ADS_1
menemui Mikaila.
Saat tiba di kamar rawat inap Mikaila terlihat Iffa dan Inna tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas. Keduanya seperti sedang menunggu sesuatu atau seseorang. Izar yang melihatnya pun menyapa keduanya.
“ Lagi nyari apa Mbak, kok Kalian di luar. Mikaila mana...?” tanya Izar.
“ Mika di dalam Mas Izar. Kami takut liat Mika ngomong sendiri lagi sambil nunjuk-nunjuk sesuatu di pojok kamar. Makanya Kami berdiri di sini, untung Mas Izar cepet datang...,” sahut Inna.
“ Gitu ya. Kebetulan Saya ngajak Ayah Saya buat bantuin. Sekarang Saya boleh masuk kan...?” tanya Izar.
“ Boleh Mas...,” sahut Iffa dan Inna bersamaan saking senangnya.
Jawaban Iffa dan Inna membuat Faiq dan Izar tersenyum. Setelah mendapat ijin, Faiq dan Izar masuk ke dalam kamar untuk melihat apa yang terjadi. Keduanya terkejut saat melihat beberapa makhluk hitam sedang mengelilingi Mikaila. Sedangkan gadis cilik itu nampak mengulurkan tangannya sambil mencari keberadaan Iffa dan Inna karen ketakutan.
“ Ibuuu..., Mamaaa..., dimana Kalian...?” rengek Mikaila dengan kedua tangan yang terulur.
Mendengar suara pintu yang terbuka, makhluk hitam yang tengah mengelilingi Mikaila pun menoleh kearah pintu lalu membubarkan diri dan lenyap begitu saja meninggalkan Mikaila yang menangis terisak. Sedangkan Mikaila berusaha memindai sosok yang memasuki kamarnya.
“ Om Izar ya...?” tanya Mikaila hati-hati hingga mengejutkan Izar dan Faiq.
“ Iya Mika, kok Kamu tau kalo ini Om Izar...?” tanya Izar takjub.
“ Aku tau dari suara langkah kaki Om Izar juga parfum yang Om Izar pake...,” sahut Mikaila sambil mengusap pipinya yang basah karena air mata.
Izar mendekati Mikaila lalu duduk di hadapannya sedangkan Faiq berdiri di samping Izar sambil menatap ke sekelilingnya.
“ Om Izar sama siapa ke sini...?” tanya Mikaila.
“ Berdua sama Ayahnya Om Izar. Nih kenalin, namanya Opa Faiq...,” kata Izar sambil tersenyum kearah sang ayah.
Faiq nampak membulatkan matanya mendengar dirinya dipanggil Opa. Namun saat tangan mungil Mikaila terulur untuk menyapanya, kekesalan Faiq pun sirna sudah. Ia bahkan menyambut tangan Mikaila dan menggenggamnya erat.
“ Assalamualaikum Mikaila...,” sapa Faiq.
“ Wa alaikumsalam Opa. Opa mau bantuin Aku juga ya...?” tanya Mikaila sambil tersenyum manis.
“ Iya. Boleh ga Opa bantuin Mika...?” tanya Faiq.
“ Boleh banget Opa...!” sahut Mikaila antusias hingga membuat Faiq tersenyum senang.
Iffa dan Inna pun ikut tersenyum melihat keakraban Faiq dengan Mikaila.
“ Kita bisa mulai sekarang kan Yah...?” tanya Izar tiba-tiba.
“ Iya Nak...,” sahut Faiq.
“ Mmm..., Mika berbaring aja dulu ya. Biar Om, Opa, Ibu dan Mama Kamu berdzikir dulu. Mika juga boleh ikut berdzikir kalo mau...,” kata Izar.
“ Iya Om...,” sahut Mikaila lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
\=====
__ADS_1