
Maya masih menangis sambil meratapi rumah dan harta bendanya yang habis dilalap sang jago merah. Sedangkan Yori masih mematung dengan lutut gemetar karena tak menyangka jika harta yang dibanggakannya itu habis begitu saja dalam waktu sekejap.
Beberapa warga mencoba menghibur
Maya dan mengambil alih menggendong bayinya. Kemudian mereka membawa Maya jauh dari lokasi kebakaran. Saat seorang warga menawarkan rumahnya untuk Maya istirahat, Maya menolak.
“ Tapi kasian Anakmu May, dia masih kecil dan pasti ketakutan tadi...,” kata salah satu warga.
“ Gapapa Bu, Saya ga mau ribut sama Suami Saya. Kan selama ini dia selalu bilang kalo Saya ga boleh ngerepotin orang lain apalagi tetangga...,” sahut Maya sambil meraih anaknya yang tadi digendong warga.
“ Yori pasti ngerti, ini kan darurat. Lagian Kami ga merasa direpotin kok. Namanya juga bertetangga kan harus saling membantu...,” sahut warga lainnya.
“ Iya Saya paham Bu, tapi maaf Saya ga berani mampir kalo tanpe persetujuan Suami Saya...,” sahut Maya lagi.
Semua warga yang mendengar jawaban Maya pun nampak saling menatap lalu menghela nafas panjang.
“ Ya udah ga usah dipaksa. Setiap pasangan Suami Istri kan punya aturan dan kesepakatan sendiri dalam berumah tangga. Kita hormati aja keputusan Maya. Kalo ada yang mau bantu ya silakan, kasih langsung aja sama Maya...,” kata bu Rt menengahi.
“ Baik Bu...,” sahut warga bersamaan lalu mulai membubarkan diri.
Beberapa saat kemudian mereka kembali dengan membawa berbagai macam barang seperti selimut, pakaian untuk Maya dan anaknya, makanan, minuman, bahkan uang. Maya nampak terharu melihat sikap tetangganya itu. Ia menyesal telah bersikap acuh kepada mereka selama ini. Namun Maya juga melakukannya atas permintaan Yori yang tak mau Maya terlalu dekat dengan para tetangganya itu.
Alasan Yori terdengar aneh dan tak masuk akal. Namun Maya menuruti kemauan sang suami karena tak mau ribut.
“ Sekarang giliran Kita kaya mereka datang dan mengulurkan pertemanan. Tapi dulu waktu Kita susah, nengok atau
nyapa aja mereka ga mau. Mereka jijik sama pekerjaanku yang cuma pemulung itu. Jadi ya udah, karena mereka bersikap kaya gitu, ga ada salahnya Kita ikutin aja gaya mereka itu...,” kata Yori dulu saat Maya bertanya mengapa ia tak boleh ngobrol dengan tetangga mereka.
“ Tapi kan ga semuanya kaya gitu Bang...,” sahut Maya.
“ Ga semuanya, tapi sebagian besar begitu. Udah lah May, nurut aja kenapa sih. Kamu nih seneng banget ya ribut sama Suami...,” kata Yori kesal.
__ADS_1
Maya pun diam dan tak melanjutkan ucapannya. Maya sadar, sejak perekonomian rumah tangga mereka meningkat, sejak itu lah Yori berubah menjadi lebih temperamen dan gampang tersinggung. Maya takut melihat kemarahan suaminya, karenanya ia memilih diam dan mengalah meski pun apa yang dikatakan Yori banyak yang bertentangan dengan nuraninya.
Sementara itu Yori masih berdiri menatapi bekas rumahnya yang kini luluh lantak. Yori tak percaya jika rumah yang selama dua tahun ini menjadi lambang kejayaannya itu hancur begitu saja.
Yori ingat jika semua terjadi setelah ia kembali ke rumah usai melemparkan bungkusan titipan sang dukun ke halaman rumah Pita tadi siang. Walau sempat mengalami insiden kecil karena ia kepergok oleh Pandu, Iyaz dan Izar tadi. Tapi Yori berhasil meloloskan diri dari amukan ketiga pemuda itu karena Pandu membiarkannya pergi.
Saat kembali ke rumah Yori langsung membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian. Ia melihat sang istri baru saja selesai memandikan anak mereka. Tak lama kemudian Maya menuju ke dapur dan meninggalkan anak mereka bermain di ruang tengah tanpa pengawasan seperti biasa.
Rupanya sang anak yang memang dalam tahap ingin tahu itu melihat stop kontak di dinding dan tertarik mendekatinya. Mengira itu hanya dua lubang tanpa makna, sang anak pun mulai memasukkan berbagai mainan berukuran kecil ke dalamnya. Yori yang sedang santai menonton televisi pun tak menyadari jika sang anak sedang melakukan aktifitas yang berbahaya.
Tiba-tiba terdengar ledakan diiringi percikan api yang meletup dari lubang stop kontak itu. Sang anak pun menjerit hingga menarik perhatian Maya dan Yori. Keduanya terkejut melihat api yang membesar tiba-tiba. Tanpa sempat membawa apa pun, Maya dan Yori lari menyelamatkan diri keluar rumah sambil menggendong sang anak.
Tiba di luar rumah Yori dan Maya kembali dikejutkan dengan suara ledakan diiringi kobaran api yang membesar dari dalam rumah. Warga yang melihat kejadian itu pun panik dan ikut berlarian keluar rumah. Beruntung salah satu warga yang bekerja di PLN segera menghubungi PLN, ia meminta agar PLN memutus aliran listrik di perumahan itu supaya kebakaran akibat korsleting listrik itu tak meluas.
Yori yang melihat harta bendanya habis dilalap api nampak shock. Ia menggelengkan kepalanya sambil meracau tak jelas.
“ Ini pasti ulah mereka. Pasti mereka yang udah bikin rumahku kebakaran...,” kata Yori.
Yori pun bangkit lalu berjalan cepat menuju ke rumah Pita. Warga yang melihatnya pun nampak bingung.
“ Iya, apa dia ga tau kalo Istri sama Anaknya ada di pos ronda...,” kata warga lainnya.
“ Pak Yori nyari siapa Pak, Anak dan Istri Bapak ada di sebelah sana...!” kata salah satu warga mengingatkan.
Yori mengabaikan ucapan tetangganya itu dan terus melangkah sambil menatap marah kearah rumah Pita. Saat tiba di depan rumah Pita, Yori pun mulai memaki sambil mengacungkan tangannya. Tentu saja hal itu membuat warga bertambah bingung. Warga pun berdatangan bermaksud melerai namun Yori malah mengamuk.
“ Dasar manusia jahat. Apa salahku dan keluargaku. Kami ga mengganggu Kalian kenapa Kalian tega menghancurkan kebahagiaanku...?!” tanya Yori lantang.
Keluarga Ramdan dan Pita yang masih bertahan di sana pun nampak terkejut. Sedangkan Iyaz, Izar dan Pandu melangkah keluar menemui Yuri yang sedang ditenangkan warga itu.
“ Itu mereka !. Mereka yang udah membakar rumahku...!” kata Yori lantang sambil terus meronta.
__ADS_1
“ Jangan fitnah Pak Yori. Daritadi mereka di dalam rumah, mana mungkin mereka yang membakar rumah Pak Yori...,” sahut warga.
“ Iya betul. Apalagi mereka baru aja selesai syukuran, pasti masih repot bebenah di dalam rumah...,” sahut warga
lainnya.
“ Kalian ga tau siapa mereka. Mereka cuma iblis berkedok manusia alim...!” jerit Yori histeris.
Tak terima dengan tuduhan Yori, Ramdan pun keluar dari rumah dan menjawab tuduhan Yori.
“ Jangan memutar balikkan fakta ya Pak. Bukannya Bapak sendiri orang jahat berkedok orang alim itu. Apa namanya orang yang melemparkan bungkusan berisi paku, rambut dan peniti ke rumah Saya kalo ga punya maksud jahat sama keluarga Saya...?!” tanya Ramdan hingga membuat warga terkejut.
Perlahan warga mulai bergeser menjauhi Yori karena kesal dengan sikap Yori. Mereka nampak kasak kusuk sambil mencibir kearah Yori. Melihat tetangganya berbalik arah membuat Yori panik.
“ Saya ga ngelakuin itu, jangan fitnah Kamu...!” bantah Yori lantang.
“ Kenapa panik kalo emang Kamu ga ngelakuin itu tadi...,” kata Izar sinis.
“ Kalian bisanya cuma keroyokan kan. Kalian yang mengirim santet itu ke rumah Saya...!” kata Yori lagi.
Kesal dengan tuduhan Yori membuat Izar merangsek maju lalu menyapu wajah Yori dengan telapak tangannya. Setelahnya Yori pun jatuh tak sadarkan diri.
Warga yang berdiri di belakang Yori pun berhasil menangkap tubuh Yori sebelum jatuh ke tanah lalu membawanya menjauh dari rumah Pita. Terdengar kasak kusuk warga yang membicarakan Yori.
“ Saya ngeliat waktu Pak Yori ngelempar bungkusan aneh ke rumah Pak Ramdan tadi...,” kata salah seorang warga.
“ Saya juga liat. Ga nyangka ya Pak Yori sejahat itu...,” sahut warga lainnya.
“ Jadi kebakaran di rumahnya adalah hukuman karena dia berani menyakiti orang lain...,” kata warga memberi kesimpulan.
“ Betul...,” sahut beberapa warga bersamaan sambil menggotong tubuh Yori.
__ADS_1
Maya yang melihat suaminya digotong oleh warga pun nampak shock dan menangis. Apalagi saat mendengar ucapan warga tentang suaminya membuatnya makin sedih. Kini Maya hanya bisa menatap suami dan anaknya yang terbaring di dalam pos ronda dengan perasaan yang berkecamuk.
\=====