
Adam maju mendekati Nando dan Diki untuk melerai keduanya. Dengan enggan Nando menjauhi Diki lalu berdiri di samping Izar.
“ Hebat Bro, itu baru namanya laki-laki. Gue seneng Lo udah ngasih pelajaran sama cowok yang udah bikin Nyokap Lo sakit...,” kata Izar sambil menepuk pundak Nando.
“ Jadi yang Aku lakuin tadi ga salah kan Mas...?” tanya Nando sambil menatap Izar.
“ Ga dong...,” sahut Izar sambil tersenyum hingga membuat Nando mengangguk senang.
“ Lo udah lakuin hak dan kewajiban Lo sebagai anak laki-laki yang menjaga keluarga ini...,” sahut Izar hingga membuat Nando tersenyum bangga.
Sementara itu Diki masih berdiri i ambang pintu rumah menunggu dipersilakan masuk oleh tuan rumah. Adam nampak menghela nafas panjang lalu mempersilakan Diki masuk ke dalam rumah.
“ Silakan duduk Nak...,” kata Adam.
“ Makasih Om...,” sahut Diki sambil melirik Nuara sekilas hingga membuat Iyaz mengepalkan tangannya karena kesal.
Diki duduk di ruang tamu. Kemudian Adam mengundang Faiq, Fatur dan Erik untuk duduk bersamanya.
“ Jadi ada apa lagi Adam. Bukannya jawaban Saya malam itu udah jelas ya. Nuara sudah memilih pria lain untuk jadi Suaminya dan ini adalah keluarga mereka...,” kata Adam sambil memperlihatkan keluarga Faiq yang tengah berkunjung.
“ Jelas Om. Saya udah ngerti Kok. Kedatangan Saya ke sini karena mau minta maaf sama Om dan keluarga...,” sahut Diki sambil menundukkan kepalanya.
Ucapan Diki membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut sekaligus heran. Untuk sesaat ruangan itu dilingkupi keheningan. Kemudian Adam memecah keheningan itu dengan mengatakan sesuatu.
“ Ehm, kenapa mendadak minta maaf. Seinget Saya Kamu marah dan dendam banget sama Saya sampe-sampe Kamu ngirimin guna-guna untuk keluarga Saya, iya kan...,” kata Adam sinis.
Tiba-tiba Diki menjatuhkan diri di depan Adam lalu meraih tangan Adam sambil memohon maaf.
“ Maafin Saya Om. Saya nyesel. Saya melakukan itu karena...,” ucapan Diki terputus.
“ Karena apa...?” tanya Adam tak sabar.
“ Karena Saya mencintai Nuara Om...,” sahut Diki sambil menatap Adam lekat.
“ Gimana bisa Kamu mencintai Nuara, Kalian kan belum pernah ketemu...,” kata Adam.
“ Saya mencintai Nuara sejak dulu. Makanya pas orangtua Saya bilang bakal jodohin Saya sama Nuara, Saya ga nolak Om...,” sahut Diki.
“ Sebentar Diki, Saya dan orangtuamu baru bicara soal perkenalan bukan perjodohan...,” kata Adam meralat ucapan Diki karena tak enak hati dengan Faiq dan keluarganya.
“ Tapi Ayah Saya bilang Om Adam udah tahu kalo Kami bakal melamar Nuara...,” sahut Diki bingung.
__ADS_1
“ Jadi Ayahmu salah paham rupanya. Malam itu Saya juga bingung karena Ayahmu ngomong soal lamaran, padahal sebelumnya Kami sepakat untuk mempertemukan Kamu dan Nuara dulu. Kalo Kalian cocok ya bisa lanjut tapi kalo ga cocok ya ga boleh maksa...,” kata Adam tegas.
“ Tapi apa pun itu Kamu udah membuat Mamaku sakit...,” kata Nuara tiba-tiba.
Diki menoleh kearah Nuara dengan matanya yang masih menatap penuh damba kearah Nuara. Iyaz yang berdiri di samping Nuara terlihat gusar namun berusaha menahan diri.
“ Aku minta maaf Nuara. Aku, maksudku keluargaku juga udah terima karmanya...,” kata Diki sedih.
“ Apa maksudmu...?” tanya Iyaz sambil berdiri di depan Nuara untuk menghalangi pandangan Diki kepada istrinya.
“ Tanteku meninggal kemarin dan dimakamkan hari ini karena guna-guna yang kukirim berbalik mengenainya...,”
sahut Diki dengan suara tercekat.
“ Inna Lillahi wainna ilaihi roji’uun...,” kata semua orang bersamaan.
“ Selain Tanteku, guna-guna itu juga menyerang kedua orangtuaku hingga mereka sakit parah sekarang...,” kata Diki menambahkan.
“ Lalu tujuanmu ke sini untuk apa...?” tanya Nando.
“ Aku mau minta tolong. Tolong maafkan Aku dan Ayahku agar penyakit kedua orangtuaku sembuh. Aku mohon tolong berikan obatnya...,” pinta Diki dan mulai menitikkan air mata.
“ Tapi Ustadz Baharudin bilang jika Aku minta maaf, maka Kalian akan memberikan obatnya secara gratis...,” kata Diki gusar.
“ Siapa Ustadz Baharudin...?” tanya Adam tak mengerti.
“ Beliau orang yang mendeteksi penyakit kedua orangtua dan Tanteku. Beliau bilang semua adalah akibat guna-guna yang kukirim berbalik menyerang mereka. Beliau menyarankan agar Aku minta maaf, tapi aku menolaknya. Setelah kematian Tanteku akhirnya Aku sadar kalo ancaman makhluk itu benar adanya. Aku khawatir makhluk itu akan melukai orangtuaku. Jika Kalian membenciku tak apa, asal Kalian mau menyelamatkan orangtuaku. Aku sedih melihat mereka sakit karena ulahku. Tolong lah selamatkan kedua orangtuaku...,” sahut Diki sambil menangis.
Melihat kesedihan Diki membuat semua orang iba. Mama Nuara yang semula ingin memukul Diki pun mengurungkan niatnya dan hanya menatap Diki dengan tatapan iba.
“ Maafkan Aku, tapi Aku sungguh tak punya obat yang dimaksud Ustadz Baharudin itu...,” kata Adam tak enak hati.
Diki menunduk sesaat lalu mendongakkan wajahnya. Ia tersenyum dan bangkit dari posisinya semula lalu pamit.
“ Gapapa Om, yang penting Aku udah minta maaf. Mungkin Aku harus sedikit berusaha supaya bisa menemukan obat untuk penyakit orangtuaku. Kalo gitu Aku pamit ya Om, Assalamualaikum...,” pamit Diki dan bergegas keluar dari rumah Adam meninggalkan tanda tanya di benak keluarga Adam.
" Wa alaikumsalam...," sahut semua orang di ruangan itu bersamaan.
“ Yang dimaksud Ustadz Baharudin adalah Kami Pak Adam...,” kata Faiq tiba-tiba.
“ Begitu ya, tapi kenapa Pak Faiq diam aja tadi...?” tanya Adam.
__ADS_1
“ Saya ga mau orang yang berkepentingan mengetahui kelebihan yang Allah berikan pada keluarga Kami ini
Pak Adam...,” sahut Faiq tegas.
Jawaban Faiq membuat Adam dan keluarganya nampak kagum. Mereka tak menyangka akan menjalin hubungan dengan keluarga yang hebat dan rendah hati ini.
“ Saya mengerti. Terus apa yang bisa Saya lakukan untuk membantu orangtua Diki...?” tanya Adam.
“ Kalo boleh Kami minta ijin untuk mengaji dan berdzikir di sini sekarang...,” sahut Faiq.
“ Tentu saja boleh. Silakan, silakan...,” kata Adam sambil tersenyum.
Setelah semua berwudhu mereka pun duduk di ruang tamu sambil mulai berdzikir dan membaca Al Qur’an. Suasana khusu menyelimuti ruangan itu. Mama Nuara pun nampak menitikkan air mata mengingat pengalaman buruknya saat ia diguna-guna.
" Alhamdulillah makhluk itu sudah pergi...," kata Faiq beberapa saat kemudian.
" Alhamdulillah..., semoga Diki ga mengulangi kesalahan yang sama nanti...," kata Adam penuh harap.
" Aamiin...," sahut semua orang sambil tersenyum.
Sedangkan di saat bersamaan Diki masih di dalam perjalanan saat ayahnya menelephon.
“ Kamu dimana Nak...?” tanya ayah Diki.
“ Udah di jalan mau pulang Yah, kenapa...?” tanya Diki.
“ Alhamdulillah Kami sembuh Nak, Kami sembuh...!” sahut ayah Diki sambil tertawa bahagia.
“ Yang bener Yah...?” tanya Diki tak percaya.
“ Betul Nak. Ayah lagi duduk di kamar nemenin ibumu, tau-tau asap hitam keluar dari tubuh Kami bersamaan. Setelah itu pandangan kami jadi terang, rasa panas di dada juga hilang, Bahkan Kami bisa jalan sendiri dan ga perlu dipapah lagi...!” sahut ayah Diki.
“ Kami juga liat bayangan hitam melesat keluar dari kamar Mia. Keliatannya itu adalah jin yang bikin Mia mati. Dia masih di kamar Mia karena masih mengincar Ayah dan Ibu. Kan begitu ancamannya kemarin. Tapi saat Kami sembuh, bayangan hitam itu juga pergi. Itu artinya pengaruh guna-guna itu udah hilang Nak...,” kata ibu Diki menambahkan.
“ Alhamdulillah..., makasih ya Allah. Kalo gitu Aku tutup dulu telephonnya ya Bu. Aku pulang sekarang...,” kata Diki sambil tersenyum.
“ Iya, hati-hati di jalan. Ga usah ngebut...,” pesan ibu Diki sebelum menutup telephon.
Kemudian Diki melajukan mobilnya dengan cepat. Ia bahagia karena usahanya menemui Adam membuahkan hasil. Diki yakin jika bukan Adam yang menyembuhkan kedua orangtuanya karena Adam juga terlihat bingung tadi. Namun apa pun atau siapa pun yang telah menyembuhkan kedua orangtuanya Diki tetap bersyukur.
\=====
__ADS_1