
Mendapat serangan dari siluman ulat bulu itu tak membuat ustadz Hamzah panik. Dengan tenang ia menghadapi
serangan siluman itu. Karena ukuran tubuhnya yang besar membuat gerakan siluman itu terbatas. Dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh ustadz Hamzah.
Sementara itu Faiq baru saja berhasil memukul dada kek Bokor dengan telak hingga membuat kek Bokor jatuh
terjengkang ke tanah dengan suara berdebum. Saat itu kek Bokor yang dikuasai amarah dan naf*u ingin membunuh nampak menyerang Faiq dengan tongkat yang selalu dibawanya. Ujung tongkat yang tajam dan megandug racun mematikan itu terarah ke wajah Faiq tepatnya ke bagian mata. Kek Bokor berniat membuat mata Faiq terluka dan buta. Ia sadar jika kemampuan bela dirinya berada jauh di bawah Faiq. Karenanya ia menggunakan cara licik untuk mengalahkan Faiq yang bertempur dengan tangan kosong itu.
Faiq tak mau mengulur waktu karena ia juga ingin segera membantu sang guru yang sedang menghadapi siluman ulat bulu itu. Saat melihat sinar keunguan yang keluar dari ujung tongkat kek Bokor, Faiq paham bahwa tongkat itu telah diolesi racun sebelumnya. Dan Faiq berhasil berkelit lalu balik menyerang kek Bokor yang juga menyerang dengan kekuatan penuh sambil mengacungkan tongkatnya kearah kepala Faiq.
Benturan pun tak terelakkan. Faiq berhasil menyusupkan telapak tangannya kearah dada kek Bokor lalu mendorongnya dengan kuat hingga tubuh kek Bokor terbanting ke tanah dalam posisi terlentang. Kek Bokor pun nampak kesulitan untuk bangun. Saat ia memaksakan diri untuk duduk, gumpalan darah segar nampak keluar dari mulut dan hidungnya.
Namun kek Bokor nampak tersenyum puas saat mengetahui ujung tongkatnya berhasil mengenai lengan kiri Faiq. Walau tak berdarah namun menimbulkan rasa panas yang menyengat.
Faiq mendesis sambil melirik luka di lengannya itu. dengan sigap ia meraih botol berisi air ruqyah dari dalam tasnya dan meneguknya setengah, lalu sisanya ia gunakan untuk membasuh luka di lengannya itu. Saat luka itu terkena air terlihat asap tipis keluar dari luka itu. Jangan tanyakan bagaiamana rasa sakit yang Faiq rasakan. Namun Faiq mengabaikan rasa sakitnya lalu bergerak cepat kearah ustadz Hamzah yang sedang bertarung dengan siluman ulat bulu.
Menghadapi serangan ustadz Hamzah saja sudah membuat siluman itu kewalahan apalagi ditambah Faiq yang ia saksikan berhasil melumpuhkan kek Bokor yang merupakan abdi setianya itu. Siluman itu pun menggeram marah setelah berhasil menghindar dari serangan ustadz Hamzah. Tiba-tiba tubuh siluman itu menegang. Bulu-bulu di tubuhnya yang menyerupai pasak kayu itu pun nampak melesat ke berbagai arah seolah mencari sasaran secara acak.
Melihat hal itu membuat Iyaz, Izar, Wahyu dan warga yang menyaksikan pertarungan mereka pun menjerit. Merekan khawatir akan keselamatan Ustadz Hamzah dan Faiq. Sedangkan di depan sana ustadz Hamzah dan Faiq melompat ke kanan dan ke kiri untuk menghindari hujanan bulu sebesar pasak kayu itu. Dayang yang saat itu juga ada bersama Faiq pun ikut membantu menghalau pasak-pasak yang menyerang Faiq.
“ Allahu Akbar..., Allahu Akbar...!” kata ustadz Hamzah dan Faiq bersamaan sambil menghalau pasak itu.
Ustadz Hamzah juga menggunakan sorbannya untuk menghalau pasak-pasak berwarna kehijauan itu. Salah satu pasak berhasil mengenai sorbannya hingga sobek besar. Melihat hal itu membuat ustadz Hamzah meringis membayangkan ujung pasak yang tajam itu mengenai manusia.
__ADS_1
Melihat siluman itu selalu menggoyangkan kepalanya ke kiri ke kanan saat mendengar suara takbir, membuat Faiq berpikir untuk beradzan. Kemudian Faiq melompat untuk menjauh dari arena pertempuran. Ia menepi lalu mulai mengumandangkan adzan. Lantunan adzan membuat tubuh siluman itu melemah lalu ambruk ke tanah. Cairan bewarna kehijauan nampak mengalir dari sela mulutnya. Ia menggeram marah namun tak punya kekuatan untuk bangkit. Bisa ditebak jika siluman itu terluka parah di dalam tubuhnya.
Sedangkan di kejauhan terlihat warga mulai gelisah. Mereka khawatir melihat Faiq dan ustadz Hamzah yang kewalahan menghadapi serangan bulu sebesar pasak kayu itu. Demikian pula Iyaz dan Izar.Saat melihat Faiq menepi membuat Iyaz dan Izar terkejut. Mereka mengira ayah mereka terluka parah. Namun saat mendengar ayah mereka mengumandangkan adzan, keduanya saling menatap dan tersenyum. Keduanya mengangguk lalu ikut melantunkan adzan secara bersamaan. Dan adzan yang dilantunkan oleh ayah dan anak itu mampu melemahkan siluman ulat bulu itu hingga tersungkur jatuh ke tanah.
Ustadz Hamzah dan Faiq mendekat kearah siluman ulat bulu yang nampak terbaring lemah itu sambil terus berdzikir. Nafas siluman itu terdengar sulit dan seluruh permukaan kulitnya terlihat berlubang, nampaknya itu adalah bekas bulu yang tumbuh yang tadi digunakan untuk menyerang Faiq dan ustadz Hamzah. Dan dari lubang itulah keluar cairan berwarna kehijauan.
Melihat tuannya terkapar tak berdaya membuat kek Bokor menjerit marah. Karena tak sanggup duduk apalagi berdiri, kek Bokor merayap mendekati tuannya. Tangannya terulur mengusap tubuh siluman itu, wajahnya pun basah dengan air mata. Kek Bokor menangis menyaksikan tuannya menghadapi maut. Kedua mata siluman itu terbuka lalu menatap kek Bokor dengan pandangan sayu. Tak lama kemudian mata siluman itu terpejam lalu tubuh
besarnya meledak hingga hancur berkeping-keping. Kepingannya menyebar ke segala penjuru dan saat menyentuh tanah langsung terserap habis, hilang tanpa sisa.
Kek Bokor menjerit marah. Ia menatap ustadz Hamzah dan Faiq dengan tatapan marah dan penuh kebencian.
“ Kurang ajar\, sia*an.\, ba**sat. Kalian harus membayar semuanya. Tunggu pembalasanku...!” kata kek Bokor lantang.
Sunyi sejenak. Tiba-tiba tawa kek Bokor menggema di tengah persawahan itu hingga membuat warga penasaran lalu mendekat untuk melihat dari dekat apa yang terjadi sesungguhnya. Tawa kek Bokor terhenti saat ia meglihat sinar kehijauan melayang di atas kepalanya. Tawa yang tadi menghias wajahnya mendadak lenyap berganti dengan seringai ketakutan.
“ Ampun Tuanku, ja..., jangan sekarang. Be..., ri Aku waktu untuk..., untuk mengembalikan semuanya. Percaya lah padaku. Jangan..., jangan...,” racau kek Bokor sambil menatap ke atas.
Namun nampaknya sinar kehijauan yang ditakuti kek Bokor tak mau lagi memberi kesempatan. Sinar itu mendekat lalu menyelubungi tubuh kek Bokor yang menjerit sekeras-kerasnya seolah merasakan sakit yang amat sangat. Dan tiba-tiba tubuh kek Bokor terpotong-potong lalu potongan tubuhnya itu terlempar ke berbagai arah diiringi jerit kesakitan kek Bokor yang masih menggema di tempat itu.
Warga yang menyaksikan kejadian itu nampak shock. Mereka menatap serpihan tubuh kek Bokor yang tersebar ke
berbagai arah itu dengan tatapan ngeri. Iyaz dan Izar bahkan harus memejamkan mata karena tak sanggup melihat salah satu serpihan tubuh kek Bokor yang jatuh di dekat kaki mereka.
__ADS_1
“ Alhamdulilah selesai sudah...,” kata ustadz Hamzah dan Faiq bersamaan sambil menghela nafas lega.
“ Ngeri banget akhirnya Pak Ustadz...,” kata Wahyu.
“ Itu lah yang terjadi Nak. Siluman itu hancur maka ia juga akan menghancurkan orang lain meski pun itu adalah orang yang telah menjadi abdi setianya. Siluman itu tak mau tau dengan apa yang telah abdi setianya korbankan untuknya selama ini...,” sahut ustadz Hamzah.
“ Rugi dong kalo gitu...,” celetuk salah seorang warga.
“ Pasti rugi lah Pak. Mana ada sih kerjasama dengan siluman itu menguntungkan dan abadi. Keuntungan atau kesenangannya hanya sementara. Tapi siksaan di akherat itu abadi untuk orang-orang yang telah menyekutukan Allah. Jadi gimana Pak, tertarik menjalin kerja sama dengan iblis...?” tanya Faiq sambil menahan tawa.
“ Ih, amit-amit. Saya ga mau Pak...,” sahut warga tadi sambil bergidik hingga mengundang tawa semua orang di tempat itu.
“ Sekarang iblis itu udah pergi. Ke depannya Kalian harus bersatu dan saling menguatkan. Jangan beri kesempatan
siapa pun untuk merusak akidah Kalian. Hati-hati, kadang perusak itu justru datang dari orang terdekat. Jalani hidup sesuai tuntunan agama karena itu lah yang terbaik...,” kata ustadz Hamzah.
“ Baik Pak Ustadz...,” sahut warga bersamaan.
“ Sebaiknya sekarang Kita kembali ke musholla, karena Saya yakin warga juga ga sabar menunggu kabar dari Kita...,” kata Faiq yang disambut tawa warga.
Tak lama kemudian ustadz Hamzah dan Faiq pun pergi meninggalkan lereng bukit itu diikuti semua warga yang setia mengawal mereka.
\=====
__ADS_1