
Ambruknya rumah Vena si janda kaya raya itu menimbulkan suara bising yang menarik perhatian warga. Apalagi rumah itu runtuh saat dini hari menjelang Subuh. Warga yang berdatangan ke lokasi pun hanya bisa melihat Alya yang tengah menangis dalam pelukan Hanako. Bersama mereka ada Pandu, Iyaz, Izar dan Atmo si tukang kebun.
“ Apa yang terjadi Pak Atmo, kenapa rumah Bu Vena bisa ambruk kaya gini...?” tanya warga.
“ Saya juga ga tau Pak. Saya kan lagi tidur tadi. Tau-tau ada suara tembok ambruk, terus merembet sampe ke belakang. Untung Saya dan Non Alya berhasil menyelamatkan diri tadi...,” sahut Atmo.
Mendengar ucapan Atmo membuat lima orang yang bersamanya tadi senang karena Atmo tak mengatakan hal yang sebenarnya.
“ Terus Bu Vena mana...?” tanya warga.
“ Belum pulang Mas...,” sahut Atmo asal.
“ Tapi Mas Pandu dan keluarganya kok ada di sini...?” tanya warga lainnya.
“ Saya dan keluarga masih ngobrol-ngobrol di rumah Pak. Pas denger suara gaduh ini Kami keluar dan ngeliat Alya sama Pak Atmo yang kebingungan...,” sahut Pandu cepat.
Warga pun mengangguk tanda mengerti. Tak ada lagi pertanyaan. Semua mata menatap puing reruntuhan rumah Vena dengan takjub. Tak lama kemudian adzan Subuh berkumandang, warga pun membubarkan diri dan sebagian bersiap untuk sholat berjamaah di masjid.
\=====
Aparat pun mendatangi rumah Vena dan mulai melakukan penyelidikan. Kesimpulan yang diperoleh adalah rumah Vena runtuh karena konstruksi bangunan yang buruk dan tak memenuhi standart. Warga yang mendengar kesimpulan itu pun hanya mencibir.
“ Ga nyangka rumah bagus kaya gitu konstruksinya jelek banget...,” kata warga.
“ Untung letaknya jauh dari rumah warga, kalo ga kan runtuhannya bisa merembet ke rumah warga...,” sahut warga
lainnya.
__ADS_1
“ Betul. Untung juga rubuhnya pas malam hari. Kebayang kan kalo rubuh pas siang hari atau pas Anak-anak main di sekitar sana...,” kata warga lainnya sambil menatap runtuhan rumah yang telah diberi police line itu.
Sementara itu Alya, Atmo dan Surya tengah bertamu di rumah Pandu. Iyaz dan Izar sengaja mengundang Surya untuk menyampaikan temuan mereka. Awalnya Surya shock saat mendengar pengakuan si kembar tentang arwah Tina yang minta tolong agar jasadnya disempurnakan. Namun ia mencoba mengerti dan mengaitkan dengan pengalaman pribadinya belakangan ini. Surya terlihat pasrah dan berusaha menerima kenyataan jika Tina telah meninggal dunia.
“ Dan Kami nemuin jasad Bu Tina di ruang bawah tanah rumah Bu Vena yang rubuh itu...,” kata Iyaz hati-hati namun cukup mengejutkan Surya.
“ Maksud Kamu, Istri Saya meninggal karena dibunuh sama si Vena...?” tanya Surya tak percaya.
“ Betul Pak. Bu Tina jadi tumbal pesugihan yang dianut Tante Vena, begitu tepatnya...,” sahut Iyaz.
“ Inna Lillahi wainna ilahi roji’uun. Malang banget nasib Kamu Sayang...,” kata Surya sambil menutup wajahnya.
“ Terus gimana cara Mama Vena menjebak Tante Tina Bang...?” tanya Alya penasaran.
“ Kejadian yang Kamu liat saat Tante Vena memarahi Bu Tina itu awalnya. Saat itu Tante Vena marah karena Bu Tina mengingatkan dia agar tak main api dengan Vincent yang juga merupakan teman Ayahmu. Rupanya Bu Tina beberapa kali mergokin Tante Vena tengah bermesraan dengan Vincent saat Ayahmu ga di rumah...,” sahut Izar.
“ Aku udah ngingetin Tina supaya ga ikut campur sama urusan Vena dan Vincent. Ga nyangka Tina melanggar dan fatal akibatnya...,” kata Surya sedih.
“ Ya Allah...,” kata Surya dan Alya bersamaan.
Hanya sebagian kecil yang disampaikan Iyaz dan Izar karena mereka tak ingin membuat Surya dan Alya bertambah sedih jika mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada orang yang mereka cintai itu.
Hari dimana ayah Alya ditumbalkan adalah saat Alya kabur dari rumah karena tak setuju dengan pernikahannya dengan Vena. Saat itu Alya memang marah dan tak terima jika ibunya digantikan dengan sosok lain. Apalagi Alya juga merasa jika Vena bukan lah wanita yang baik.
Malam itu ayah Alya sedang berada di dalam mobil. Sambil menyetir ayah Alya juga melamun karena memikirkan Alya yang kabur lagi. Saat itu lah sebuah truk melintas cepat dan menabrak mobil yang dikendarai ayah Alya hingga terbalik.
Sesaat sebelum pingsan ayah Alya dimasukkan ke dalam mobil lain dan tempatnya dibalik kemudi digantikan dengan tubuh lain yang telah meninggal dunia. Kemudian tubuh ayah Alya dibawa pergi meninggalkan lokasi kecelakaan dan tubuh penggantinya lah yang dibawa ke klinik tempat Vena bekerja sama untuk memalsukan data kematian suaminya.
__ADS_1
Hingga kemudian jasad yang dikira tubuh ayah Alya dimasukkan ke dalam peti dan dimakamkan. Alya yang tak sempat melihat jasad ayahnya karena saat ia tiba proses pemakaman sedang berlangsung. Alya hanya bertanya kenapa jasad ayahnya dimasukkan ke dalam peti padahal seharusnya sang ayah dimakamkan secara islami karena almarhum adalah seorang muslim.
“ Tubuh Ayahmu hancur dan sulit dikenali. Makanya Rumah Sakit memutuskan memasukkannya ke dalam peti agar mudah dimakamkan...,” kata Vena saat itu.
Sedangkan tubuh asli ayah Alya diam-diam dibawa ke ruang bawah tanah dan ditumbalkan pada iblis sembahan Vena. Sebalum meregang nyawa, kedua mata ayah Alya dicongkel dan dimakan oleh Vena sebagai syarat untuk membuatnya hidup abadi, cantik dan kaya raya.
Yang terjadi pada istri Surya pun begitu. Tina diringkus saat sedang mendengar ‘ceramah’ Vena tepat di depan rumah ayah Alya. Andai saat itu Alya sedikit peka dan tak terlalu cuek, mungkin Tina masih bisa diselamatkan. Alya memang melintas cepat di depan Tina dan Vena yang sedang bicara serius itu. Alya yang biasa pergi tanpa pamit itu melajukan motornya tanpa peduli apa yang sedang dibahas oleh kedua wanita dewasa itu.
Setelah Alya pergi, seseorang memukul tengkuk Tina hingga pingsan dan membawanya ke ruang bawah tanah. Saat siuman Tina sudah dalam keadaan terikat kuat di atas kursi. Tina nampak shock saat menoleh ke samping karena mendapati jasad pria yang telah mengering dan ia yakini sebagai ayah Alya.
“ Sudah bangun Tina...?” tanya Vena tiba-tiba.
“ Kau, dasar iblis. Lepaskan Aku...!” kata Tina lantang.
“ Ga bisa Tina. Aku membutuhkanmu untuk memenuhi rasa laparku...,” sahut Vena sambil mengusap wajah Tina dengan lembut.
“ Lepaskan Aku Vena. Aku janji ga akan ngomong apa pun tentang Kau dan Vincent...,” kata Tina.
“ Terlambat Tina...,” sahut Vena sambil meraih pisau berujung lancip dari atas meja.
Vena melangkah mendekati Tina. Saat itu lah Tina sadar jika Vena akan membunuhnya. Tina panik dan mulai menangis. Ia teringat anak dan suaminya. Tina masih mencoba menghiba namun rupanya iblis telah menguasai jiwa Vena.
“ Ampuni Aku Vena, jangaaann...,” rintih Tina sambil meronta.
“ Aku suka matamu Tina. Ini sangat indah dan cantik. Pasti Surya tergila-gila padamu karena mata ini kan. Aku jadi penasaran gimana rasanya...,” kata Vena sambil menyeringai lalu menusuk mata Tina dan mencongkelnya dengan kuat.
Jerit kesakitan Tina memenuhi ruangan ditingkahi tawa iblis yang keluar dari mulut Vena. Tak sanggup menahan rasa sakit, Tina pun jatuh pingsan hingga membuat Vena makin beringas. Setelah berhasil mencongkel satu bola mata Tina dan meletakkannya di sebuah wadah, Vena kembali menancapkan pisau itu dan mencongkel bola mata Tina yang tersisa. Darah mengalir deras dari dua rongga mata yang menganga itu.
__ADS_1
Sambil menatap Tina yang sekarat dengan lobang di kedua matanya, Vena menyantap kedua bola mata Tina dengan lahap. Setelahnya Vena mendekat kearah cermin besar di ruangan itu. Tangannya yang berlumuran darah itu ia basuhkan ke wajahnya sambil tertawa. Kemudian Vena keluar dari ruangan itu dan mempersilakan iblis sembahannya menghisap habis darah dari tubuh Tina tanpa sisa. Dan iblis itu juga menjilati tetesan darah di lantai dan di seluruh penjuru ruangan hingga ruangan itu bersih dari noda darah.
Bersambung