
Dengan menyewa mini bus milik sebuah perusahaan travel, keluarga Faiq dan keluarga Adam pun pergi menuju kota Tasikmalaya. Sayangnya Pandu berhalangan ikut karena harus menyelesaikan tugasnya lebih dulu. Pandu berjanji akan menyusul jika tugasnya selesai.
“ Ga seru dong Mas kalo Kamu ga ikut...,” kata Hanako setengah merajuk.
“ Abis mau gimana lagi Sayang, ini kan udah tugas dan kewajiban Aku...,” sahut Pandu sambil berkemas.
“ Tapi Ayah aja bisa libur kok Kamu ga bisa...?” tanya Hanako.
Pandu tertegun bingung namun beruntung Efliya datang dan menengahi keduanya.
“ Itu kebetulan aja Nak. Tapi kalo pas liburan ada tugas memanggil, mau ga mau Ayah harus pergi juga kok...,” kata Efliya menenangkan Hanako.
“ Betul Nak. Biarkan Suamimu kerja dulu ya, Pandu bisa nyusul nanti. Atau Kamu mau bareng Pandu aja...?” tanya
Heru mencoba memberi pilihan.
Hanako berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Pandu yang mengerti jika istrinya menjadi lebih sensitif di usia kehamilannya yang ke delapan bulan ini pun nampak sabar memberi pengertian. Setelah melihat Hanako menggelengkan kepalanya Pandu pun tersenyum.
“ Jadi Kamu pergi bareng yang lain aja ya, insya Allah Aku nyusul nanti...,” kata Pandu hati-hati.
“ Iya, tapi janji beneran nyusul ya Mas...,” sahut Hanako sambil cemberut.
“ Iya Sayang, senyum dulu dong biar Aku tenang kerjanya...,” pinta Pandu sambil menggoda Hanako.
Hanako pun tersenyum manis sambil mengerjapkan matanya hingga membuat Pandu tertawa lalu memeluknya erat. Keduanya pun nampak tertawa bersama. Melihat sikap Hanako dan Pandu membuat Efliya dan Heru ikut tertawa senang karena berhasil membujuk Hanako.
\=====
Rombongan keluarga Faiq tiba di Tasikmalaya saat sore hari. Tiba di penginapan mereka langsung memisahkan diri dan beristirahat di kamar masing-masing. Setelah memebersihkan diri Iyaz mengajak Nuara berkeliling menikmati keindahan kota Tasikmalaya dan baru kembali saat waktu makan malam.
“ Dari mana aja Kalian...?” tanya Shera saat melihat Iyaz dan Nuara bergabung di restoran.
“ Abis jalan-jalan sore Bun...,” sahut Nuara sambil duduk di samping Shera.
“ Emangnya Kamu ga capek Ra, baru sampe langsung jalan lagi...?” tanya Shera.
__ADS_1
“ Ga kok Bun...,” sahut Nuara sambil tersenyum.
“ Harusnya Kalian istirahat juga. Kan Kita mau jalan-jalan besok, jadi harus nyiapin stamina. Bunda ga mau denger ada yang bilang capek di tengah jalan besok...,” kata Shera sambil melirik kearah Iyaz.
“ Tenang aja Bun, Aku masih kuat kok...,” sahut Iyaz sambil mengecup kepala sang bunda dengan sayang.
Ucapan Iyaz membuat semua orang tertawa. Sedangkan Adam dan istrinya nampak saling menatap dan tersenyum penuh haru saat menyaksikan perhatian Shera untuk Nuara.
Perbincangan masih berlanjut di sela makan malam. Suasana restoran yang semula tenang berubah menjadi ramai dengan kehadiran rombongan Faiq dan keluarga.
\=====
Keesokan harinya rombongan Faiq dan keluarga pun menuju tempat wisata pertama yaitu Curug Dengdeng yang terletak di desa Tawang. Mereka nampak takjub saat melihat air terjun yang dikelilingi persawahan itu. Suasananya yang asri membuat mereka betah berlama-lama di sana.
Setelah puas menikmati keindahan curug Dengdeng, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat wisata kedua yaitu kebun teh Taraju. Mereka tiba di sana saat adzan Dzuhur berkumandang tepat ketika mobil yang mereka sewa mampir di depan sebuah masjid.
Usai menunaikan sholat Dzuhur berjamaah, mereka lanjut menikmati keindahan hamparan kebun teh yang menghijau. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Hanako untuk berpose cantik di tengah kebun teh sambil memamerkan perut buncitnya. Izar sang fotografer dadakan nampak dengan senang hati melakukan tugasnya memotret Hanako dengan berbagai gaya. Izar juga mengabadikan kebersamaan keluarga besarnya dengan kamera digital yang dibawanya bergantian dengan Nando. Saat sore hari mereka memutuskan kembali ke penginapan untuk istirahat.
Di hari kedua rombongan keluarga Faiq menuju ke Pantai Cipatujah yang merupakan pantai terluas di Tasikmalaya. Mereka berangkat ke sana menjelang siang hari sambil menunggu Pandu yang sedang dalam perjalanan menuju penginapan.
Hanako menyambut Pandu dengan senyum mengembang sambil mengusap perut buncitnya itu. ternyata Pandu masih mengenakan seragam kebanggannya saat menyusul keluarganya ke Tasikmalaya.
“ Iya Yah. Aku kan berusaha menepati janjiku sama Istriku ini...,” sahut Pandu sambil merangkul pundak Hanako yang tengah tersenyum menatapnya.
“ Ayah kaya ga tau aja, Mas Pandu ini kan anggota SSTI. Jadi wajar lah langsung cabut ke sini pas jam kerja usai...,” sindir Izar yang disambut tawa semua orang.
“ Ish, apaan sih Izar...,” gerutu Hanako sambil menatap sebal kearah Izar namun berhasil ditenangkan oleh Pandu.
“ Aku bukan anggota SSTI tapi anggota S3I Zar...,” sahut Pandu tegas.
“ Apaan tuh...?” tanya Izar penasaran.
“ Suami Suami Sayang Istri...,” sahut Pandu sambil mengecup kening Hanako di depan semua orang hingga membuat suasana makin gaduh.
Hanako yang semula terlihat kesal nampak tersenyum penuh kemenangan saat Pandu mencium keningnya tadi.
__ADS_1
“ Udah cukup Anak-anak. Kasih waktu Pandu buat mandi dan ganti baju biar Kita bisa berangkat sebelum Dzuhur...,” kata Erik menyudahi candaan keluarganya itu.
“ Betul tuh, Kami tunggu di loby ya Nak...,” kata Farah menambahkan.
“ Siap Opa, Oma...,” sahut Pandu sambil melangkah mengikuti Hanako yang lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Setengah jam kemudian Pandu dan Hanako telah bergabung dengan keluarga besarnya. Penampilan Pandu yang terlihat fresh membuat Izar kembali membuka mulut untuk mengusilinya. Namun Izar mengurungkan niatnya saat melihat tatapan tajam Farah, Shera dan Hanako tertuju kearahnya.
“ Kabur aahh..., diliatin sama tiga singa betina bikin suasana di sini terasa panasss...,” kata Izar sambil bergegas menuju ke mini bus yang terparkir di halaman penginapan.
Semua terdiam sejenak lalu tertawa saat menyadari ucapan Izar yang ditujukan kepada Farah, Shera dan Hanako.
“ Dasar anak nakal, awas aja kalo bikin ulah lagi...,” kata Shera gemas.
“ Makasih udah belain Aku ya Ma...,” kata Hanako sambil memeluk Shera erat.
“ Sama-sama Sayang...,” sahut Shera sambil tersenyum.
Shera dan Hanako pun mengurai pelukan mereka saat Erik kembali memberi aba-aba agar semua masuk ke dalam mini bus.
“ Kita berangkat sekarang ya. Ayo Bun...,” ajak Faiq sambil menggamit tangan Shera.
Tak lama kemudian mini bus melaju cepat menuju pantai Cipatujah. Mereka nampak antusias melihat pantai yang bersih dan luas itu. Haikal dan Nando bergegas turun dari mobil lalu berkejaran di pantai hingga membuat semua orang tertawa.
“ Jangan lari jauh-jauh Haikal...!” kata Efliya lantang.
“ Gapapa Bun, kan ada Nando yang nemenin...,” kata Heru.
Efliya pun mengangguk lalu mulai membantu menyiapkan tempat untuk mereka duduk nanti.
Saat itu Hanako memilih berjalan-jalan di pantai ditemani sang suami. Mereka nampak berjalan lambat sambil sesekali bermain air yang membasahi kaki mereka. Hanako dan Pandu tertawa saat melihat Haikal yang menjerit karena berhasil ditangkap oleh Nando.
Sedangkan pasangan pengantin baru nampak duduk bersama yang lain sambil menikmati air kelapa muda dan makanan ringan di atas tikar.
Keluarga Faiq dan rombongan bertahan di sana sambil menunggu senja karena ingin menikmati sun set di pantai Cipatujah. Suasana menjadi lebih romantis dan tenang saat matahari terbenam. Garis merah keemasan yang mewarnai langit terlihat sangat eksotis hingga memaksa semua orang tunduk dan mengakui kebesaran Sang Khaliq.
__ADS_1
Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah di masjid, keluarga Faiq dan rombongan pun memutuskan kembali ke penginapan.
\=====