Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
301. Datang


__ADS_3

Pemakaman Mia pun direncanakan esok hari. Selama proses pengurusan jenasah Mia, warga terus membicarakan keluarga Diki.


“ Ga nyangka ya, keluarga yang berpendidikan kaya gini pake cara ghaib untuk melukai orang lain...,” kata seorang ibu yang membantu menyiapkan makanan dan minuman di dapur untuk para tamu.


“ Iya. Padahal kan mereka kalo ngomong sama Kita selalu soal sopan santun dan adab terhadap orang lain. Tapi nyatanya justru mereka yang ga punya adab, pake ngirim guna-guna segala karena lamarannya ditolak. Dasar aneh...,” gerutu wanita lainnya.


“ Kasian si Mia udah jadi korban sia-sia...,” kata yang lain.


“ Padahal Ibunya Diki sayang banget sama si Mia itu, udah kaya anak kandungnya sendiri...,” kata wanita bertubuh kecil sambil membuka bungkus kopi.


“ Gimana ga sayang, dia yang ngasuh dan membesarkan Mia sejak mertuanya meninggal dunia. Ditambah lagi dia ga punya anak perempuan, makanya si Mia udah kaya anaknya sendiri...,” sahut wanita lainnya.


Suara obrolan para wanita itu sampai ke telinga Diki yang kebetulan melintas. Ia menangis mengingat bagaimana histerisnya sang ibu saat mengetahui kematian Mia. Rasa sesal pun memenuhi hati dan pikiran Diki hingga membuatnya berniat menyelesaikan semuanya setelah pemakaman Mia.


“ Aku bakal datang ke rumah Pak Adam dan minta maaf sama mereka Yah...,” kata Diki sambil duduk di samping sang ayah.


“ Kamu yakin Dik...?” tanya sang ayah.


“ Iya Yah...,” sahut Diki.


“ Kapan Kamu ke rumahnya si Adam...?” tanya ayah Diki.


“ Setelah pemakaman Tante Mia besok Yah...,” sahut Diki.


“ Jangan besok Nak, Ayah ga bisa mengantar. Kan Ayah masih harus menghibur Ibumu...,” kata ayah Diki.


“ Ayah di sini aja temenin Ibu. Biar Aku sendiri yang ke sana...,” sahut Diki.


“ Tapi Nak...,” ucapan ayah Diki terputus saat Diki menatapnya.


“ Ijinkan Aku menyelesaikan semuanya dengan caraku Yah. Aku menyesal, karena egoku malah bikin Tante Mia mati. Andai Aku mau sedikit mengalah, mungkin Tante Mia masih ada di sini sama Kita...,” kata Diki penuh sesal sambil menundukkan wajahnya.


Ayah Diki pun mengangguk sambil mengusap matanya yang basah. Ia memeluk Diki sambil meminta maaf berulang kali. Diki pun akhirnya menangis dalam pelukan sang ayah setelah sekian lama bertahan untuk tak menangis.


“ Maafin Ayah ya Nak. Harusnya Ayah mengingatkan Kamu bukan malah mendukung niat jahatmu itu. Ayah memang bukan orangtua yang baik. Maafkan Ayah ya Nak...,” kata ayah Diki dengan suara parau.


“ Aku yang salah Ayah. Aku juga terlalu berambisi mendapatkan Nuara hingga menghalalkan segala cara. Bahkan setelah cara sesat itu gagal Aku masih tak peduli sama nasib keluargaku, hingga akhirnya Tante Mia meninggal karena keegoisanku. Maafkan Aku ya Yah...,” sahut Diki di sela isak tangisnya.

__ADS_1


Setelah puas menangis, keduanya pun mengurai pelukan. Lalu keduanya duduk bersimpuh di depan jenasah Mia. Dalam hati keduanya meminta maaf kepada almarhumah Mia dan mendoakan yang terbaik untuk Mia.


\=====


Keesokan harinya Diki datang berkunjung ke rumah Adam. Saat itu bertepatan dengan kunjungan keluarga Faiq ke rumah Adam untuk membahas pernikahan Iyaz dan Nuara.


Keluarga Adam dan keluarga Faiq sedang berbincang akrab di dalam rumah. Sedangkan Nuara baru saja keluar rumah diantar Iyaz untuk membeli sesuatu. Kondisi mama Nuara yang baru pulih membuatnya tak bisa menyiapkan hidangan seperti biasa. Karenanya Nuara memutuskan pergi membeli lauk pauk untuk makan malam nanti.


Kini Iyaz dan Nuara tengah berada di dalam mobil menuju rumah makan. Tak ada pembicaraan diantara keduanya. Nuara nampak menatap keluar mobil karena canggung berduaan dengan Iyaz.


“ Apa kabar Ra...?” tanya Iyaz mencoba membuka percakapan.


“ Alhamdulillah baik, Mas sendiri gimana kabarnya...?” tanya Nuara.


“ Ga baik dan ga sehat...,” sahut Iyaz hingga membuat Nuara menoleh kearahnya.


“ Emangnya Mas Iyaz lagi sakit...?” tanya Nuara lalu refleks menyentuh kening Iyas dengan punggung tangannya.


Perhatian Nuara membuat Iyaz tersenyum. Nuara yang tersadar jika sedang dikerjai lalu menarik tangannya.


“ Sekarang ga sakit lagi karena udah ketemu sama Istriku...,” kata Iyaz sambil tersenyum usil.


Melihat Iyaz menertawainya Nuara pun kesal lalu mencubiti Iyaz sambil sesekali memukuli lengan suaminya itu dengan gemas.


“ Stop Sayang, Kita udah sampe nih...,” kata Iyaz sambil menangkap tangan Nuara yang sedang asyik mencubiti lengannya itu.


“ Kok cepet banget sih...,” gumam Nuara sambil menatap ke sekelilingnya.


“ Itu karena Kamu ke sini dianterin Aku...,” kata Iyaz bangga,


“ Iya deh. Apa pun kalo bareng sama Kamu jadi terasa indah...,” sahut Nuara sambil tersenyum.


“ Wah udah pinter ngegombal ya Istriku ini, jadi tambah sayang deh...,” kata Iyaz sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Nuara.


“ Kan diajarin sama Suamiku yang ganteng ini, jadi tambah pinter deh sekarang...,” sahut Nuara dengan wajah merona karena baru saja menyebut ‘suamiku’.


Wajah Iyaz nampak berbinar bahagia. Setelah tiga hari berstatus suami, rasanya baru kali ini Nuara menyebutnya Suami. Bagi Iyaz itu merupakan kemajuan besar dalam hubungannya dengan Nuara. Dengan gemas Iyaz meraih Nuara ke dalam pelukannya dan mencium kening istrinya itu dengan cepat.

__ADS_1


Nuara yang tak siap mendapat perlakuan seperti itu nampak terkejut namun berusaha bersikap santai. Setelah Iyaz mengurai pelukannya, Nuara pun bergegas keluar dari mobil untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


\=====


Makan malam yang sedang berlangsung itu pun terhenti saat bel pintu rumah Adam berdentang. Nando bergegas membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang berkunjung.


“ Siapa Nak...?” tanya Adam namun tak ada sahutan.


Karena curiga telah terjadi sesuatu, Adam pun menyusul anak lelakinya itu. Saat tiba di ruang tamu Adam melihat Nando sedang berdiri berhadapan dengan Diki. Dari sikap keduanya bisa ditebak jika mereka baru saja saling adu tinju.


“ Nando, Diki. Apa-apaan Kalian...?!” tanya Adam lantang hingga mengejutkan Nando dan Diki.


Suara lantang Adam juga menarik perhatian Nuara dan sang mama. Apalagi saat Adam menyebut nama Diki. Mama Nuara pun berusaha bangun dan melangkah perlahan menuju ruang tamu dibantu Nuara.


“ Maaf, Saya permisi sebentar...,” pamit mama Nuara sebelum meninggalkan meja makan.


“ Silakan...,” sahut Shera dan Farah bersamaan.


Faiq dan kelurganya pun terdiam sesaat. Akhirnya mereka memutuskan menyusul Nuara dan mamanya ke ruang tamu. Saat tiba di ruang tamu mereka melihat Nando dan Diki sedang berdiri berhadapan dalam posisi bersiap dan saling menatap dengan wajah memerah pertanda baru saja saling memukul.


“ Itu yang namanya Diki ya...?” tanya Iyaz yang kini berdiri di samping Nuara.


“ Iya Mas...,” sahut Nuara cepat.


“ Keren, ganteng juga...,” kata Iyaz hingga membuat Nuara berdecak sebal.


“ Ck, biar pun keren dan ganteng tapi Aku ga suka sama dia Mas...,” sahut Nuara.


“ Oh ya, terus Kamu sukanya sama siapa...?” tanya Iyaz.


“ Ya sama Kamu dong, siapa lagi emangnya...,” sahut Nuara sambil menatap Iyaz yang juga tengah menatapnya.


Kini tatapan Iyaz dan Nuara bertemu dengan intens. Jantung keduanya pun berdetak lebih cepat dan membuat keduanya gugup. Suara deheman Izar menyadarkan keduanya hingga keduanya memalingkan wajah kearah lain karena malu.


“ Ehm. Mudah-mudahan ga ada perang dunia ke tiga di sini...,” sindir Izar.


Faiq dan keluarganya pun tersenyum maklum karena tahu kepada siapa kalimat Izar itu tertuju.

__ADS_1


\=====


__ADS_2