
Melihat kehadiran siluman naga merah di hadapan mereka membuat Iyaz dan Izar mengerti darimana suara siulan itu berasal. Rupanya suara siulan berasal dari dengus nafas sang naga merah yang keluar dari lubang hidungnya yang besar itu. Dan suara ledakan yang terdengar bersamaan dengan suara siulan tadi berasal dari ekor sang naga yang menghempas dengan liar hingga menimbulkan bunyi yang sangat gaduh.
Siluman naga merah itu nampak menatap empat orang di hadapannya dengan pandangan tajam. Melihat sikap empat orang yang tak lain adalah Faiq dan keluarganya itu membuat siluman naga merah gusar lalu mendengus kencang. Dengusan siluman naga merah kali ini berbeda dari dengusan sebelumnya karena kali ini menghasilkan suara siulan yang lebih kencang.
Ternyata siulan itu adalah sebuah isyarat panggilan untuk semua makhluk halus yang berada di sekitar tempat itu
untuk berkumpul di halaman rumah kost.
Dalam sekejap saja keluar lah berbagai macam hantu dari berbagai penjuru di sekitar rumah kost itu. Faiq, Fatur, Iyaz dan Izar tercengang karena tak menyangka jika siluman naga merah itu mampu mengumpulkan banyak siluman di tempat itu.
Kini di dua kubu dari alam yang berbeda berdiri saling berhadapan. Kubu Faiq kembali bergeser membentuk formasi pertahanan dengan bentuk merapat sedangkan kubu siluman naga merah nampak menyebar mengelilingi Faiq dan keluarganya.
“ Naga merah itu adalah sosok yang baik. Namun dia nampak marah karena sesuatu...,” kata Faiq sambil menatap
kearah siluman naga merah itu.
“ Marah karena apa Yah...?” tanya Izar penasaran.
“ Kita akan tau sebentar lagi...,” sahut Faiq.
Kemudian komunikasi intens pun terjadi antara Faiq dan keluarganya dengan siluman naga merah itu yang bicara
mewakili pasukannya.
“ Apa maumu...?” tanya Faiq.
“ Kembalikan sesuatu yang Kalian curi dariku...,” sahut siluman naga merah itu.
“ Kau kehilangan sesuatu dan Kau menuduh Kami mencurinya, aneh sekali. Padahal Kau tau Kami baru tiba di sini...,” kata Faiq sambil menggelengkan kepalanya.
“Katakan benda pa yang dicuri darimu, mungkin Kami bisa membantumu menemukannya dan mengembalikannya padamu.Tapi setelahnya Kau harus pergi dari sini, bawa pasukanmu itu dan jangan ganggu mereka lagi...,” kata Fatur mencoba bernegosiasi.
Siluman naga merah dan para hantu itu nampak saling menatap sejenak kemudian menganggukkan kepala tanda setuju.
“ Baik lah. Temukan dia sebelum matahari terbit. Jika Kalian tak berhasil, maka mereka yang tinggal di sini
akan mati termasuk orang yang pernah masuk ke dalam rumah ini walau hanya sekali...,” kata siluman naga merah itu.
“ Bagaimana cara Kami menemukannya jika Kau tak mengatakan benda apa yang telah dicuri itu...!” kata Izar kesal.
“ Kalian harus cari tau sendiri...,” sahut siluman naga merah sebelum menghilang diikuti pasukannya.
__ADS_1
Keheningan pun menyelimuti halaman rumah kost itu setelah kepergian para siluman itu. Kini Faiq dan keluarganya
harus bekerja extra untuk menemukan benda yang dimaksud oleh siluman naga merah itu.
“ Kita ga harus memenuhi syarat siluman itu Nak. Sebaiknya Kita ungsikan semua penghuni kost ini ke tempat
lain. Karena Om yakin ini hanya cara siluman itu membuat Kita sibuk agar dia punya alasan memangsa mereka...,” kata Fatur.
“ Iya Om, Aku juga berpikir begitu kok...,” sahut Faiq.
“ Jadi Kita harus kasih tau cewek-cewek itu supaya secepatnya pindah dari sini Yah...?” tanya Iyaz.
“ Betul Nak...,” sahut Faiq cepat.
“ Kita kasih tau sekarang aja Yah...,” kata Izar.
“ Iya...,” sahut Faiq sambil melangkah keluar menemui para penghuni kost yang nampak duduk gelisah di atas trotoar.
Melihat Faiq baik-baik saja mereka nampak tersenyum lega. Namun senyum mereka memudar mendengar apa yang disampaikan oleh Faiq.
“ Malam ini sebaiknya Kalian segera berkemas dan pindah dari sini...,” kata Faiq.
“ Kalian liat kan ada jin jahat yang menghuni tempat ini. Apa itu aja ga cukup jadi alasan kenapa Kalian garus
pindah dari sini...?” tanya Faiq tak mengerti.
“ Baik Om, Kami akan segera pindah begitu Kami dapat tempat kost baru...,” kata salah seorang penghuni rumah kost.
“ Iya Om...,” kata anak kost lain bersahutan.
“ Kapan...?” tanya Faiq.
“ Mungkin satu atau dua hari lagi Om...,” sahut Fifi mewakili teman-temannya.
“ Sayangnya Kalian ga punya waktu sebanyak itu karena siluman itu hanya memberi Kalian waktu hingga sebelum Subuh...,” kata Faiq hingga mengejutkan semua orang termasuk Qiana dan Ratih.
“ Apa...?!” tanya Fifi dan teman-temannya bersamaan.
“ Kalo udah tau waktu Kalian ga banyak kenapa masih diem di sini...?” tanya Izar dari arah belakang Faiq.
Mendengar ucapan Izar membuat Fifi dan teman-temannya bergegas masuk ke dalam rumah kost untuk berkemas. Sedangkan Qiana dan Ratih tetap duduk menunggu di atas trotoar.
__ADS_1
“ Beruntung Kamu udah keluar dari rumah itu ya Tih...,” kata Qiana.
“ Iya, Aku ga bisa bayangin berkemas karena takut dikejar hantu Qi...,” sahut Ratih sambil tersenyum kecut.
Faiq menghampiri abi Qiana yang masih menemani Memed yang nampak memejamkan matanya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat luka yang diderita Memed terlihat pulih dalam waktu singkat padahal ia ingat jika luka Memed cukup parah tadi.
“ Apa yang terjadi sama lukanya Pak, bukannya tadi parah dan berdarah...?” tanya Faiq sambil duduk di samping abi Qiana.
“ Oh. Itu karena Pak Memed minta Saya mengusapkan sesuatu ke lukanya itu Pak Faiq...,” sahut abi Qiana.
“ Sesuatu itu apa...?” tanya Faiq penasaran.
“ Batu berbentuk telur besar berwarna oren kemerahan sebesar kepalan tangan orang dewasa gitu Pak...,” sahut
abi Qiana.
Ucapan abi Qiana membuat Faiq terkejut bahkan hingga terlonjak dari duduknya. Ia abngkit dari duduknya lalu
melangkah mendekati Memed yang tengah memejamkan matanya sambil bersandar di pohon palem itu. Memed yang tak menyadari kehadiran Faiq pun masih memejamkan mata. Ia tersentak kaget saat Faiq menarik kerah bajunya dengan kasar hingga posisi Memed setengah berdiri sambil menatap Faiq dengan tatapan bingung.
“ Ada apa Pak, apa salah Saya...?” tanya Memed tak mengerti.
“ Rupanya Kamu biang keladi dari semua kekacauan di rumah ini. Sekarang kembalikan benda yang Kamu curi itu ke temapatnya. Sekarang...!” kata Faiq lantang hingga mengejutkan semua orang.
Mendengar ucapan Faiq membuat Memed panik. Ia mengerti apa yang dimaksud Faiq, namun ia terlalu gengsi untuk mengakui jika ia telah mencuri sesuatu dari rumah itu.
“ Apa maksud...,” ucapan Memed terputus saat Faiq memukulnya dengan keras hingga Memed terjengkang jatuh ke tanah.
Abi Qiana bangkit dari duduknya untuk melerai sedangkan Izar bergegas menghampiri karena yakin sang ayah punya alasan melakukan itu. Bahkan Qiana dan Ratih pun ikut berdiri melihat Faiq memukul Memed secara tiba-tiba.
Memed nampak memegangi mulut dan hidungnya yang mengeluarkan darah segar. Ia menatap Faiq dengan tatapan menghiba seolah ia tak mengerti mengapa Faiq memukulnya tadi. Hal itu membuat Faiq bertambah geram dan kembali mendekatinya. Sayangnya abi Qiana menahan tubuhnya hingga langkah Faiq terhenti.
“ Ada apa Yah...?” tanya Izar saat tiba di samping sang ayah.
“ Dia pelakunya Nak. Suruh dia mengembalikannya sekarang atau Kita semua akan mati terkubur di tempat ini...,”
sahut Faiq.
Mendengar ucapan Faiq membuat Ratih, Qiana dan abinya terkejut. Mereka tak menyangka jika Memed menyembunyikan sesuatu yang membahayakan mereka semua. Kini tatapan mereka pun beralih kearah Memed dan itu membuat Memed gemetar ketakutan.
\=====
__ADS_1