
Faiq mengendarai mobilnya menuju ke rumah dengan cepat. Sedangkan Hanako nampak semakin lemah. Fatur yang telah tiba lebih dulu di kediaman Erik pun langsung memberi tahu Farah tentang kondisi Hanako.
“ Sekarang dimana Cici...?” tanya Farah.
“ Di jalan Kak, sebentar lagi juga sampe...,” sahut Fatur sambil melangkah ke kamar untuk menunaikan sholat Maghrib.
“ Cici kenapa Opa...?” tanya Izar cemas.
“ Panjang ceritanya Nak. Nah, itu mereka datang. Tolong bantu Ayahmu gendong Cici ya...,” kata Fatur.
“ Siap Opa...,” sahut Izar sambil bergegas keluar menyambut kedatangan ayahnya.
Dengan sigap Izar membantu Hanako turun dari mobil lalu menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Shera yang melihat Izar menggendong Hanako pun terkejut.
“ Kenapa Cici Nak...?” tanya Shera.
“ Ga tau Bun. Tanya Ayah aja nanti...,” sahut Izar sambil meletakkan tubuh Hanako di atas tempat tidur.
Shera menatap sang suami yang melangkah di belakang Izar. Namun sebelum pertanyaan itu terlontar dari mulut Shera, Faiq segera memotong dengan cepat.
“ Nanti Ayah jelasin, sekarang Ayah sholat Maghrib dulu ya Bun...,” kata Faiq sambil bergegas masuk ke dalam kamar.
Mendengar ucapan suaminya membuat Shera tersenyum. Kemudian Shera masuk ke dalam kamar dimana Hanako sedang diobati oleh Farah.
“ Coba Oma liat lukanya...,” kata Farah.
Hanako meringis saat tangan Farah menyentuh wajahnya. Farah nampak mengerutkan keningnya karena melihat kulit wajah Hanako mengelupas dan meradang hingga berwarna kemerahan.
“ Luka di wajahnya lumayan parah. Ini mirip luka bakar ringan, apa tadi Cici bersinggungan dengan api...?” tanya Farah.
“ Iya Kak...,” sahut Fatur cepat.
“ Astaghfirullah..., kok bisa sih Om. Terus gimana Ma, apa lukanya bisa sembuh...?” tanya Shera cemas.
“ Insya Allah bisa, cuma butuh waktu agak lama. Karena kulitnya mengelupas dan meradang. Pasti perih dan panas banget ya Nak...?” tanya Farah.
“ Iya Oma...,” sahut Hanako sambil meringis.
“ Apa lukanya ga boleh kena air Oma...?” tanya Izar.
“ Boleh, apalagi kalo kena air wudhu. Yah, terasa perih sih tapi Cici pasti kuat. Nanti Oma minta tolong sama teman Oma yang dokter kulit itu untuk membantu kesembuhan Cici...,” sahut Farah sambil tersenyum.
__ADS_1
“ Alhamdulillah...,” sahut semua orang bersamaan.
“ Apa ga akan ninggalin bekas Ma...?” tanya Shera penasaran.
“ Insya Allah ga akan ada bekasnya. Kan sekarang pengobatan makin canggih Sher. Jadi Kamu ga perlu khawatir kalo kulit Cici bakal belang atau jadi rusak...,” sahut Farah menenangkan Shera.
“ Syukur lah. Kasian Cici kalo kulitnya sampe rusak...,” kata Shera sambil tersenyum lega.
“ Tapi ngomong-ngomong apa yang terjadi sampe kulit Cici kemerahan begini...?” tanya Erik yang sejak tadi hanya diam memperhatikan di samping tempat tidur.
Kemudian Faiq pun menceritakan apa yang mereka alami hari itu. Semua orang mendengarkan dengan serius dan mengucap hamdalah di akhir cerita. Tiba-tiba Heru dan Eliya menerobos masuk ke dalam kamar hingga mengejutkan semua orang.
“ Gimana keadaan Anakku...?!” tanya Efliya sambil memecah kerumunan lalu menghambur memeluk Hanako.
“ Aww...,” ringis Hanako dalam pelukan sang bunda.
“ Tenang dulu Bun, kayanya si Kakak kesakitan deh Kamu peluk kenceng begitu...,” kata Heru mengingatkan.
“ Cici gapapa kok Nak. Lepasin dulu pelukanmu, Cici kesakitan tuh...,” kata Farah.
Efliya menuruti ucapan sang mama dan langsung mengurai pelukannya. Namun Efliya terkejut saat melihat wajah Hanako yang merah meradang dengan kulit yang mengelupas itu. Apalagi luka itu juga didapati di sekitar tangan Hanako.
“ Awww Bunda, pelan-pelan dong. Ini sakit banget, perih...,” rengek Hanako.
“ Maafin Bunda ya Sayang. Terus gimana nih Ma. Apa Cici gapapa...?” tanya Efliya panik sambil menatap sang mama.
“ Insya Allah gapapa Nak. Mama bakal hubungi teman Mama yang dokter kulit itu nanti. Sekarang biar Cici istirahat dulu ya...,” sahut Farah.
“ Mama betul, biar Cici istirahat dulu. Sebaiknya Kita sholat Isya berjamaah ke masjid yuk, tuh udah adzan Isya...,” ajak Erik.
Fatur, Faiq, Heru dan Izar mengangguk lalu keluar dari kamar dan bergegas mengikuti langkah Erik yang sudah lebih dulu keluar rumah bersama Haikal.
Sementara itu Efliya, Shera dan Farah masih berbincang sejenak di kamar sambil menunggu Hanako membersihkan diri dan berganti pakaian di kamar mandi.
“ Gimana Nak, perih ya...?” tanya Farah.
“ Gapapa Oma, cuma perih dikit kok...,” sahut Hanako sambil meringis.
“ Oma tau kalo itu pasti perih banget. Tapi Kamu emang Cucu Oma yang hebat karena bisa tahan sama rasa sakit itu...,” kata Farah bangga.
“ Makasih Oma...,” sahut Hanako senang.
__ADS_1
“ Ya udah kalo gitu Kita sholat berjamaah aja Ma. Kamu udah suci belum Kak...?” tanya Efliya pada Hanako.
“ Belum Bun. Insya Allah lusa baru bisa sholat...,” sahut Hanako yang diangguki Efliya.
Setelahnya Farah, Shera dan Efliya pun bergegas menunaikan sholat Isya berjamaah di ruang tengah. Mereka sengaja meninggalkan Hanako sendiri di kamar karena Hanako butuh istirahat.
\=====
Sementara itu Suraj sedang dalam perjalanan menuju gedung apartemen tempatnya tinggal. Dari kejauhan Suraj mendengar sirine mobil pemadam kebakaran meraung-raung seolah ingin segera tiba di lokasi kebakaran. Suraj pun menepi untuk memberi jalan pada mobil pemadam kebakaran yang akan lewat. Setelah tiga mobil pemadam
kebakaran lewat, Suraj kembali melajukan mobilnya.
Namun alangkah terkejutnya Suraj saat melihat mobil pemadam kebakaran itu mengarah ke komplek gedung apartemen tempatnya tinggal. Suraj terpaku di balik kemudi saat melihat apartemen yang terbakar ada di lantai empat belas yang merupakan tempat tinggalnya.
“ Maaf Pak, jangan ke sana dulu...!” kata seorang security yang mengenali Suraj.
“ Tapi itu kan apartemen Saya Pak...,” sahut Suraj gusar.
“ Iya Pak, tapi Bapak ga usah ke atas ya Pak. Apinya besar banget...,” pinta sang security.
“ Kok bisa kebakaran sih Pak...?” tanya Suraj sambil menatap kearah kamarnya.
“ Saya juga kurang tau Pak. Tapi sumber api ada di lantai empat belas. Keliatannya korsleting listrik, makanya PLN langsung memutus aliran listrik di wilayah ini Pak...,” sahut sang security lagi.
Suraj hanya terduduk lemas di balik kemudi sambil memandangi apartemen yang ditempatinya selama ini habis dilalap sang jago merah. Dari tempatnya duduk Suraj bisa melihat siluet makhluk hitam besar bertubuh setengah manusia dan setengah banteng nampak berdiri di tengah kobaran api sambil menatap marah kearahnya dari balik jendela.
“ Oh, jadi ini ulahmu. Dasar iblis, pergi lah ke neraka. Bawa semuanya sana, Aku ga peduli...,” gumam Suraj sambil tersenyum sinis.
Ternyata bukan hanya Suraj yang melihat penampakan makhluk jadi-jadian itu. Beberapa orang yang merupakan tetangga Suraj yang mencoba mengabadikan peristiwa kebakaran itu juga sempat melihat penampakan makhluk itu hingga menimbulkan kegaduhan.
“ Masih ada orang di sana...!” kata salah seorang pria.
“ Ga ada siapa-siapa di sana, pemiliknya aja ada di dalam mobil kok...,” sahut security.
“ Tapi...,” ucapan pria itu terputus saat security mengingatkan.
“ Itu hanya siluet yang bisa aja tercipta dari kobaran api yang panas itu. Tolong jangan bikin berita yang malah memperkeruh keadaan Mas. Kasian lah sama korban kebakaran...,” kata security sambil berlalu.
Pria itu terdiam karena sadar jika mungkin saja yang dilihatnya tadi hanya ilusi. Namun saat ia mempertajam penglihatannya ia melihat makhluk jadi-jadian itu melompat keluar dan pergi entah kemana. Pria itu menahan nafas berharap ada orang lain berkomentar saat melihat apa yang dilihatnya tadi, namun nampaknya sia-sia. Tak ada orang lain yang melihat apa yang ia lihat kecuali Suraj.
\=====
__ADS_1