
Farah mempersilakan Rima masuk dan duduk di ruang tamu. Kemudian Hanako masuk ke dapur untuk membuatkan teh manis hangat.
“ Istirahat dulu ya. Santai aja, anggap ini rumah Kamu sendiri...,” kata Farah ramah.
“ Makasih Bu...,” sahut Rima sambil tersenyum.
“ Sama-sama. Maaf, Saya tinggal sebentar ke dalam ya...,” pamit Farah saat melihat Hanako datang dengan segelas teh manis hangat untuk Rima.
“ Silakan diminum Kak...,” kata Hanako santun.
“ Makasih...,” sahut Rima sambil menatap Hanako.
“ Hanako Kak, namaku Hanako. Nah yang kembar tadi sepupu Aku, namanya Iyaz dan Izar...,” kata Hanako memperkenalkan diri.
“ Oh iya Hanako, makasih lagi ya...,” sahut Rima sambil mengulum senyum.
Perlahan Rima meraih gelas di hadapannya lalu meneguk isinya perlahan. Hanako mengamati Rima dengan seksama hingga membuat Rima risih.
“ Mmm..., maaf. Apa Saya boleh numpang ke kamar mandi...?” tanya Rima.
“ Boleh dong Kak. Yuk, Aku antar...,” sahut Hanako sambil membantu Rima berdiri.
Kemudian Hanako membawa Rima ke kamar mandi di kamarnya. Hanako pun berdiri di depan kamar mandi sambil
menunggu Rima selesai membuang hajat. Tak lama kemudian Rima membuka pintu kamar mandi dengan wajah dan kepalanya yang nampak basah. Rupanya Rima membasuh muka dan kepalanya berharap bisa meredakan rasa marah dan galau yang tengah ia rasakan saat ini.
“ Udah Kak...?” tanya Hanako.
“ Iya, udah...,” sahut Rima sambil tersenyum.
“ Sebaiknya Kakak ganti baju dulu ya. Ini, pake aja bajuku. Mudah-mudahan cukup sama Kakak...,” kata Hanako sambil menyodorkan gamis miliknya kepada Rima.
Rima mematung sesaat lalu menatap Hanako dan gamis di tangan Hanako bergantian. Kemudian Rima menggeleng.
“ Ga usah Hana, Aku masih bisa pake baju ini kok...,” tolak Rima halus.
“ Sebaiknya Kakak nurut sama Aku deh kalo ga mau dapat ceramah gratis dari Oma Aku...,” kata Hanako setengah
berbisik.
__ADS_1
“ Emangnya kenapa...?” tanya Rima tak mengerti.
“ Oma Aku kan dokter. Nah Oma itu paling ga suka sama sesuatu yang kotor karena menganggap itu ga hygienis. Liat baju Kakak, basah dan kotor. Pasti bakal diomelin deh. Apalagi kan Kakak lagi hamil. Oma pasti bakal bilang kalo ini ga baik buat bayi, bayi bisa masuk angin kalo baju Ibunya basah, atau ih... jorok banget sih Kamu. Terus bakal ngomong gini, biar pun Kita hamil, tapi tunjukkin kalo Kita bisa tetap modis dan jaga penampilan dong...,” kata Hanako menirukan gaya bicara sang oma.
Rima tak mampu menyembunyikan tawanya saat melihat tingkah Hanako menirukan omanya. Kemudian ia mengangguk lalu meraih gamis Hanako dan kembali masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Rima keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gamis Hanako yang berwrna pink cerah itu.
“ Masya Allah Kakak cantik banget...,” puji Hanako sambil tersenyum.
“ Ah, bisa aja Kamu. Ini kan gara-gara Aku make gaun Kamu ini makanya keliatan cantik...,” sahut Rima malu-malu.
“ Iya juga sih. Baju Aku emang bagus ya Kak...,” kata Hanako sambil mengamati gaun miliknya yang sekarang dikenakan Rima.
Rima kembali tertawa dan itu membuat Hanako ikut tertawa. Untuk sejenak Rima berhasil melupakan masalah yang tengah ia hadapi. Di luar kamar Farah dan Faiq nampak saling menatap lalu tersenyum mendengar tawa Rima dan Hanako.
“ Alhamdulillah, akhirnya Rima bisa ketawa juga...,” kata Farah sambil menghela nafas lega.
“ Iya Ma. Keliatannya Cici berhasil menghibur Rima...,” sahut Faiq.
“ Mama ga ngerti apa yang bikin dia nekad tadi. Alhamdulillah Allah pertemukan Kita tepat pada waktunya hingga bisa mencegah perbuatan nekad Rima tadi. Menurut Kamu apa sih yang tengah dihadapi sama si Rima itu Bang...?” tanya Farah.
“ Pantesan Aku kaya punya ikatan batin gitu sama Kak Rima Pa...,” kata Hanako tiba-tiba saat baru keluar dari kamar.
“ Lho kemana Rima Nak...?” tanya Farah.
“ Aku suruh istirahat sebentar di kamar Oma. Gapapa kan...?” tanya Hanako.
“ Gapapa dong Sayang. Saat ini Rima emang perlu istirahat. Kejadian tadi pasti mengguncang mentalnya dan itu ga baik untuknya juga bayinya...,” sahut Farah sambil mengusap pipi Hanako dengan lembut.
“ Makasih Oma...,” kata Hanako.
“ Sama-sama Sayang...,” sahut Farah cepat.
“ Terus apa maksudmu bilang kalo Kalian punya ikatan batin segala tadi Ci...?” tanya Faiq.
“ Mmm..., sebenernya Aku tau siapa Rima itu Pa. Dia senior Aku di kampus. Tapi udah lama Aku ga ngeliat dia, Aku kirain lagi cuti kuliah ga taunya lagi...,” ucapan Hanako terputus saat pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan wajah Rima.
“ Lho kenapa keluar...?” tanya Farah.
__ADS_1
“ Aku ga bisa tidur Bu, maaf...,” sahut Rima tak enak hati.
“ Oh gapapa. Ya udah sini, Kita ngobrol sebentar ya sambil nunggu Suami Saya pulang...,” ajak Farah sambil menepuk sofa kosong di sampingnya.
Rima menganggukkan kepalanya lalu mendekat kearah Farah dan duduk di sampingnya.
“ Aku dipinjemin baju sama Hanako Bu...,” kata Rima malu-malu.
“ Iya Saya tau, cocok dan pas banget sama Kamu. Cantik...,” puji Farah sambil tersenyum.
“ Aamiin, makasih Bu...,” sahut Rima.
“ Sama-sama...,” kata Farah.
“ Jadi kalo boleh tau, kenapa Kamu nekad tadi ?. Kalo Kamu ga merasa nyaman ga usah cerita ya. Saya ga mau Kamu merasa tertekan dan berimbas pada kandunganmu nanti...,” kata Farah bijak.
“ Aku kehilangan Ayah calon Anakku ini Bu...,” kata Rima tiba-tiba.
“ Hilang, kok bisa...?” tanya Farah.
“ Awalnya Aku ga tau kalo dia udah meninggal. Aku ga sengaja dengar obrolan pengawal Papaku Bu. Katanya dia udah melenyapkan Ayah Anakku dengan cara melemparkan tubuhnya dari atas jembatan dalam keadaan hidup dan terikat. Bisa ibu bayangin gimana jadinya kalo tubuh manusia dilempar dari jembatan yang tinggi itu tadi kan...?” tanya Rima dengan mimik sedih.
“ Maksudmu, jembatan dan sungai tadi adalah tempat laki-laki itu dibuang dan meregang nyawa...?” tanya Farah penasaran.
“ Iya Bu. Aku yakin dia ga bakal selamat. Makanya Aku merasa ga ada gunanya Aku hidup kalo orang yang harusnya bertanggung jawab sama Aku dan Anakku udah meninggal. Aku sengaja berdiri di sana untuk menyusulnya...,” kata Rima sambil menundukkan kepalanya.
“ Ya Allah. Tapi langkahmu salah Nak. Harusnya Kamu lapor polisi. Biar polisi yang bekerja mencari jasad laki-laki itu dan menghukum orang yang udah mencelakainya...,” kata Farah sambil menggenggam tangan Rima erat.
“ Apa Polisi mau percaya Bu. Apalagi Ayah calon Anakku hanya preman yang sering meresahkan masyarakat...,” sahut Rima sedih.
“ Insya Allah Kami akan membantumu...,” kata Faiq.
“ Sungguh...?” tanya Rima tak percaya.
“ Iya, insya Allah. Asal Kamu percaya dan mau terbuka sama Kami. Kebetulan Ayah Hanako juga Polisi yang biasa menangani kasus kriminal kaya gini...,” sahut Faiq.
“ Iya, Aku setuju...,” sahut Rima antusias.
Wajah Rima berbinar saat mendengar bantuan yang ditawarkan Faiq. Ia berharap bisa memenjarakan orang yang telah memisahkan dirinya dengan Abin.
__ADS_1
\======