Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
366. Luka Qiana


__ADS_3

Di saat yang sama terjadi sesuatu pada Qiana yang baru saja masuk ke dalam kamar. Saat itu Qiana sedang menerima panggilan video call dari izar. Mereka sedang membicarakan rencana pertemuan mereka besok siang.


Tiba-tiba Qiana merasa nafasnya sangat sesak. Teramat sesak hingga membuat Qiana megap-megap seolah kehabisan nafas. Tangannya menggapai udara seolah ia sedang berusaha menggapai sesuatu. Wajahnya pun mendadak pucat dan itu terlihat jelas oleh Izar.


“ Haaahh..., haaahhh..., haaahh...,” suara Qiana saat berusaha bernafas normal.


“ Kamu kenapa Qi...?” tany izar cemas.


“ Aku...,  ga bisa..., bernafas Mas. Sakiitt..., sesaaakk...,” sahut Qiana terbata-bata hingga  mengejutkan Izar.


“ Kamu tenang Qiana. Jangan panik ya. Sekarang Kamu keluar dari kamarmu, secepatnya...,” pinta Izar.


Qiana nampak berusaha bangkit dengan wajah membiru karena kekurangan oksigen. Izar terus membantu dan memandunya agar bisa keluar dari kamarnya secepat mungkin. Dengan langkah tertatih-tatih Qiana berhasil menggapai pintu. Ia membuka pintu itu perlahan lalu keluar dari kamar.


Saat tiba di luar kamar tubuh Qiana pun ambruk karena tak lagi kuasa menahan sakit dan sesak di dadanya seolah ada satu kekuatan tak kasat mata yang tengah merem*s jantungnya. Ambruknya tubuh Qiana mengejutkan kedua orangtuanya yang saat itu masih menonton berita kriminal yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta.


“ Qiana !. Ya Allah..., Kamu kenapa Nak...?!” tanya kedua orangtua Qiana panik sambil menghambur mendekati Qiana.


Tak ada jawaban, Qiana pun jatuh pingsan saat sang abi berhasil mengangkat tubuhnya lalu membaringkannya di atas sofa ruang tengah. Saat pingsan genggaman Qiana pada ponselnya pun melemah hingga membuat ponsel itu jatuh ke lantai. Ummi Qiana segera meraih ponsel itu dan terkejut saat melihat wajah Izar di layar ponsel Qiana.


“ Mas izar...?” tanya ummi Qiana.


“ Iya Bu, maafkan Saya. Tolong jangan dimatikan dulu. Saya hanya mau ngeliat keadaan Qiana sekarang...,” kata Izar cepat.


“ Qiana pingsan Mas. Saya ga tau apa sebabnya. Jadi maaf, Saya matikan dulu ponselnya ya...,” sahut ummi Qiana sambil bergegas menghampiri Qiana dengan segelas air hangat di tangannya.


Sedangkan di rumahnya Izar nampak bergegas meraih jaketnya dari dalam kamar lalu mengenakannya dengan cepat. Shera yang melihat hal itu pun bertanya.


“ Mau kemana Kamu Nak...?” tanya Shera.


“ Ke rumah Qiana, Bun...,” sahut Izar cepat.


“ Ada apa ke sana malam-malam begini, besok kan bisa Zar...,” kata Shera gusar.


Rupanya kedua orangtua Izar juga sudah mengetahui kedekatan Izar dengan Qiana. Walau Izar belum mau


menceritakannya secara gamblang, namun Faiq dan Shera menghargai keputusan Izar.


“ Ga bisa Bun. Qiana lagi ada dalam pengaruh ilmu hitam. Aku harus cepet nolongin dia...,” sahut Izar.


“ Biar Ayah temani Kamu ya Nak...,” kata Faiq tiba-tiba.


“ Iya Yah, makasih...,” sahut Izar antusias.

__ADS_1


“ Bunda tenang aja ya. Ayah sama Izar pergi sebentar...,” pamit Faiq sambil mengusap pundak Shera.


“ Ok, hati-hati ya...,” sahut Shera sambil bernafas lega karena tahu Izar tak sendiri menghadapi makhluk halus yang mengganggu Qiana nanti.


Motor yangdikendarai Izar melaju cepat membelah jalan raya di malam yang dingin itu. Faiq yang duduk di


belakangnya pun berkali-kali mengingatkan agar Izar tetap fokus dan berhati-hati mengendarai motornya.


“ Insya Allah Kita masih bisa nolongin Qiana Nak, jadi tetap fokus dan hati-hati...,” kata Faiq.


“ Iya Yah...,” sahut Izar sambil memperlambat laju kendaraannya itu.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di depan rumah Qiana. Saat itu bersamaan dengan abi Qiana yang membuka pintu dan hendak beranjak keluar rumah. melihat kehadiran Faiq dan Izar di depan rumahnya membuat abi Qiana tersenyum.


“ Assalamualaikum Pak...,” sapa Faiq dan Izar bersamaan.


“ Wa alaikumsalam. Alhamdulillah Kalian datang. Mari silakan masuk...,” kata abi Qiana tanpa basa basi.


“ Baik, makasih Pak...,” sahut Faiq lalu mengekori abi Qiana.


Kemudian mereka bertiga masuk ke ruang tengah dan melihat Qiana yang tengah terbaring di atas sofa dengan wajah pucat dan berkeringat. Melihat kondisi Qiana yang mengkhawatirkan membuat Faiq dan Izar bergerak cepat. Keduanya membaca beberapa ayat Al Qur’an untuk menetralisir pengaruh buruk dari ilmu hitam yang mendekati Qiana.


Sementara itu Qiana yang tengah tersesat dalam ruang ghaib pun merasa ada hawa sejuk yang menerpa tubuh dan wajahnya hingga membuat rasa panas yang sejak tadi menderanya perlahan memudar. Hawa sejuk yang berasal dari ayat-ayat Al Qur’an yang dibaca Faiq dan Izar secara bersamaan itu mampu menenangkan kegelisahan Qiana.


“ Panggil dia dan ajak dia keluar Nak...,” kata Faiq.


Sesaat kemudian Izar pun masuk ke dimensi ghaib dimana arwah Qiana tertahan. Ia mencoba mencari cara untuk


menyelamatkan Qiana yang terperangkap dalam sebuah tempat asing. Tiba-tiba Qiana mendengar namanya disebut berulang kali.


“ Qiana..., Qiana. Ayo ikuti Aku. Kita keluar dari tempat ini...,” kata Izar.


“ Jangan ikuti dia. Ikutilah Aku karena Aku bisa membawamu keluar dari tempat ini Qiana...,” kata sebuah suara


yang kemudian tampil sebagai sosok seorang wanita yang menyerupai ibu kandung Qiana.


“ Jangan Qiana, ikut lah bersamaku sekarang...!” kata Izar lantang.


“ Jangan dengarkan dia Qiana. Turuti lah Ibumu ini karena seorang Ibu tak akan mungkin menjerumuskan Anak kandungnya bukan...,” kata suara wanita yang menyerupai ibu kandung Qiana.


Sejenak Qiana nampak bingung untuk mengambil keputusan. Namun sedetik kemudian Qiana tersenyum lalu mengikuti suara Izar yang menuntunnya keluar dari dimensi ghaib itu. melihat Qiana memilih suara Izar, suara wanita yang tak lain adalah suara Oce itu pun terdengar marah.


“ Dasar anak durhaka. Bukannya mengikuti ibumu, Kamu justru memilih pria asing itu untuk menyelamatkanmu...,” kata Oce kesal lalu membakar kamar dimana Qiana terperangkap tadi.

__ADS_1


Melihat ruangan dimana Qiana terperangkap tadi mulai terbakar, Izar pun mengingatkan Qiana agar berlari secepat yang ia mampu.


“ Lebih cepat Qiana, sedikit lagi...,” kata Izar memberi semangat.


“ Tapi Aku ga ngeliat jalan keluar apa pun  di depan sana...,” keluh Qiana.


“ Di sana ada jalan Qiana, sedikit sulit tapi Aku yakin Kamu bisa...,” kata Izar mantap.


Qiana terus berlari meski pun ia tak melihat setitik cahaya pun di sana. saat ia hampir sampai di tempat yang


dimaksud, tiba-tiba sebuah pintu kecil terbuka. Qiana pun tersenyum karena mengira akan bisa segera keluar dari tempat itu.


Saat tiba di ambang pintu Qiana pun terkejut dan menghentikan langkahnya. Di balik pintu yang terbuka itu ada


sebuah gang kecil yang lebarnya hanya sekitar satu meter. Gang yang panjangnya hampir 50 meter itu terlihat terang benderang. Hanya saja sepanjang dinding gang juga lantai nya dipenuhi hewan berbisa seperti ular, kelabang dan kala jengking dalam jumlah sangat banyak.


“ Masuk dan lalui jalan itu Qiana. Ayo cepat...!” kata suara izar.


“ Aku ga mau ke sana karena banyak binatang berbahaya. Gimana kalo Aku mati sebelum sampe di ujung gang sana...,” kata Qiana sambil menggeleng.


“ Tapi Kamu harus lewat jalan itu karena hanya itu satu-satunya  jalan keluar Qiana...,” kata Izar gusar.


“ Tapi...,” ucapan Qiana terputus saat Izar memotong dengan cepat.


“ Percaya sama Aku Qiana. Sekarang atau ga sama sekali...,” kata Izar galak.


Mendengar ucapan khas Izar membuat Qiana tersentak. Qiana mengangguk kemudian berjalan menyusuri gang itu sambil tak henti berdzikir. Sementara itu sosok wanita yang menyerupai ibu kandung Qiana nampak menjerit marah saat mengetahui Qiana berhasil lepas dari genggaman tangannya.


Wanita itu berlari cepat dan bermaksud menyusul Qiana yang sudah masuk ke dalam gang itu. Namun langkahnya


terhenti oleh sebuah tangan besar yang menahan tubuhnya lalu menyeretnya kembali ke ruangan. Wanita itu menjerit keras sambil berusaha melepaskan diri. Suara tangisnya terdengar memilukan dan hampir membuat Qiana goyah. Ia pun menghentikan langkahnya dan hampir menoleh ke belakang.


“ Jangan liat ke belakang Qiana, lanjutkan perjalananmu...!” kata sebuah suara hingga membuat Qiana tersadar.


Saat ia menoleh ke depan. Terlihat ratusan ular, kelabang dan kala jengking berkumpul di ambang  pintu keluar seolah tengah menunggunya. Qiana pun mengatur nafasnya lalu berlari cepat ke depan sambil terus berdzikir. Qiana mengabaikan rasa sakit yang menderanya saat binatang berbisa itu menyerang kakinya.


Qiana jatuh tersungkur di lantai dengan kaki penuh luka dan tubuh membiru ditambah mulut berbusa karena racun


binatang berbisa dari dimensi ghaib itu mulai merambat di dalam peredaran darahnya dengan cepat dan kini menuju ke jantung.


Faiq, Izar dan kedua orangtua Qiana pun mencoba membuat Qiana siuman. Sayangnya Qiana tak kuat bertahan.


Beberapa saat kemudian tubuh Qiana membeku dan detak jantungnya pun melemah. Ummi Qiana menjerit saat menyadari anak tunggalnya itu sekarat di dalam pelukannya.

__ADS_1


Sedangkan di kamar rahasianya Oce nampak tertawa puas saat mengetahui Qiana telah berhasil ditumbalkan. Sedangkan Reno terlihat shock saat mendengar tawa sang mami hingga membuatnya lemah dan terjatuh ke lantai sambil menangis.


Bersambung


__ADS_2