Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
34. Siluman Babi Hutan


__ADS_3

Setibanya di rumah, Iyaz, Izar dan Hanako disambut dengan berbagai pertanyaan karena baru pulang saat jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi.


“ Kalian darimana aja sih. Kok olah raga aja lama banget...?” tanya Shera sambil menatap tajam kearah si kembar.


“ Maaf Ma, tadi Kita ketemu teman-temannya si kembar dan mampir ke suatu tempat dulu...,” sahut Hanako mewakili Itaz dan Izar.


“ Mampir kemana...?” tanya Farah yang juga keluar dari dalam rumah dengan tatapan tajam.


“ Ke...,” ucapan Hanako terputus karena ragu.


Faiq dan Erik yang duduk di ruang tamu hanya diam sambil menahan senyum melihat Hanako, Iyaz dan Izar diinterogasi oleh Shera dan Farah sebelum masuk ke dalam rumah. Izar yang menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya nampak meringis menahan sakit dan itu dilihat oleh Iyaz.


“ Iya Bunda, Oma. Maafin Kami ya. Tapi bisa kan marahinnya ntar aja. Sekarang tangan Izar perlu cepat diobati


biar ga infeksi lho...,” kata Iyaz sambil menarik tangan Izar dan memperlihatkannya kepada Shera dan Farah hingga keduanya terkejut.


“ Lho, ini kenapa. Kok darahnya banyak banget...?” tanya Shera sambil mendekat kearah Izar.


Tak ada jawaban. Rupanya Hanako, Iyaz dan Izar tak mau jujur tentang penyebab luka di tangan Izar itu. melihat tangan cucunya terluka seperti itu membuat Farah iba.


“ Bawa ke dalam Sher, biar Mama obatin...,” kata Farah.


“ Iya Ma...,” sahut Shera sambil menggandeng Izar dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Hanako dan Iyaz ikut masuk ke dalam rumah. Saat melintas di ruang tamu terdengar Erik berdehem hingga menghentikan langkah kedua anak itu.


“ Ehm...,” kata Erik.


“ Opa...,” kata Iyaz dan Hanako bersamaan.


“ Apa Kalian ga mau cerita penyebab luka Izar...?” tanya Erik.


Hanako dan Iyaz saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Mereka mendekat kearah Erik dan Faiq lalu mulai menceritakan pengalaman mereka hari ini. Erik dan Faiq nampak mendengarkan dengan serius.


“ Kalian nih nekad banget sih. Opa aja belum tentu mau masuk ke sana biar dikasih uang banyak. Karena tempat itu udah dua tahun ditutup tanpa penyebab yang jelas. Pasti auranya juga ga enak banget deh. Opa rasa Kalian paham kan maksud Opa...,” kata Erik.


“ Iya Pa...,” sahut Hanako dan Iyaz bersamaan.


“ Pengelolanya langsung pergi gitu aja setelah selesai masang pagar seng di sekeliling tempat itu. Keliatan buru-buru dan sedikit mencurigakan. Mungkin ada sesuatu di sana yang bikin pengelola memutuskan menutup tempat itu...,” kata Faiq.


“ Betul Yah. Ada makhluk ghaib yang tadi keliatan marah saat Matheo mau naik wahana di sana...,” sahut Iyaz.


“ Hmmm, keliatannya Kita perlu selidikin nih. Kok Ayah ngerasa kalo udah banyak korban jiwa di sana...,” kata Faiq.


“ Mungkin Yah. Soalnya kata teman-temanku, yang udah masuk ke sana ga bisa keluar hidup-hidup Yah...,” sahut Iyaz.


“ Tapi Kita kok bisa keluar dengan selamat dan hidup...,” sanggah Hanako hingga membuat Iyaz bingung menjawabnya.


“ Itu lah salah satu fungsi dzikir yang rutin Kalian baca. Sering dzikir artinya Kalian ingat Allah, makanya Allah melindungi Kalian dari bahaya tadi...,” sahut Erik.


“ Betul. Kan dijelaskan dalam surah Al Baqoroh ayat 152 yang artinya ‘Ingatlah Kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada Kalian’. Jadi kesimpulannya, kalo Kalian ingat sama Allah dimanapun dan dalam keadaan yang bagaimana pun, Allah juga ingat sama Kalian dan ga akan membiarkan Kalian dalam kesulitan...,” kata Faiq sambil membelai kepala Iyaz dan Hanako bergantian.

__ADS_1


“ Iya Yah...,” sahut Iyaz.


“ Jadi Kita bakal liat ke sana kapan Pa...?” tanya Hanako.


“ Insya Allah secepatnya. Kita harus ajak Ayah Kamu Ci, mungkin Kita perlu bantuan Polisi nanti...,” sahut Faiq.


“ Ok Pa...,” sahut Hanako antusias.


Tak lama kemudian Izar pun ikut bergabung dengan tangan dibalut perban. Faiq langsung mengulurkan tangannya dan membawa Izar duduk di atas pangkuannya. Ia juga membisikkan kalimat yang menenangkan Izar.


“ Izar hebat karena udah bantu menghalangi orang g*la itu supaya ga keluar dan melukai orang lain tadi. Gapapa, ini hanya luka kecil. Insya Allah bakal cepat sembuh...,” kata Faiq sambil mencium kepala Izar dengan sayang.


“ Ayah ga marah...?” tanya Izar sambil menatap kedua mata ayahnya.


Faiq menggeleng sambil tersenyum. Iyaz pun mendekat dan memeluk Izar dengan erat hingga membuat Erik, Faiq dan Hanako tersenyum.


\=====


Dua hari kemudian Faiq mengajak Heru dan Fatur untuk mengawal Hanako, Iyaz dan Izar masuk ke dalam taman


bermain itu. Mereka masuk ke sana saat malam hari usai menunaikan sholat Isya berjamaah.


Iyaz dan Izar memimpin di depan, sedangkan Hanako, Faiq, Fatur dan Heru mengikuti dari belakang.


“ Lewat sini aja Yaz, Aku liat ada jalan lain di sebelah sini...,” kata Izar sambil menyusuri jalan di samping arena bermain yang telah dipagari seng itu.


“ Ga salah Zar, kapan Kamu ngeliat ada jalan di sana...?” tanya Iyaz.


Keenam orang itu berhasil masuk ke dalam taman bermain yang tak beroperasi lagi itu dengan mudah. Saat tiba di


dalam mereka disambut oleh nyala lampu aneka warna dan penampakan makhluk halus yang merupakan arwah gentayangan dari korban wahana permainan itu. Salah satu diantaranya mendekati Izar seolah ingin minta Izar membantunya keluar dari sana.


Faiq menatap para makhluk halus di hadapannya itu dengan perasaan sedih dan iba. Bagaimana tidak. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak. Dan Faiq melihat kilasan peristiwa penyebab mereka meninggal dunia hingga menjadi arwah gentayangan yang berkeliaran dan mengganggu siapa pun yang memainkan permainan di sana.


Dari sekian banyak penampakan ada satu penampakan yang paling besar dan menyeramkan berwujud setengah manusia setengah hewan. Makhluk itu memiliki tubuh manusia besar namun bertangan dan berkepala babi hutan dengan taring mencuat di sela bibirnya. Makhluk itu menyeringai sambil menatap tajam kearah Faiq.


“ Apa yang Kamu liat Nak...?” tanya Heru pada Hanako.


“ Penampakan arwah gentayangan Yah. Jumlahnya lumayan banyak...,” sahut Hanako.


“ Kok bisa banyak gitu sih. Jangan-jangan ada pembunuhan massal di sini setelah wahana permainan ini ditutup...,” tebak Heru.


“ Kamu benar Her. Tapi pembunuhan ini dilakukan oleh arwah yang penasaran dan bukan oleh manusia biasa...,” kata Fatur.


“ Wah kalo gitu repot dong buat nangkap pelakunya dan penjarain dia Om...,” sahut Heru sambil menggaruk kepalanya hingga membuat Fatur tersenyum.


“ Para arwah penasaran itu sebenernya mau ngingetin orang-orang yang datang ke sini supaya keluar dari sini. Mereka juga ga mau orang lain jadi korban kaya mereka. Tapi sayangnya terlambat dan korban terus berjatuhan. Itu karena sebagian besar korban ga tau arti kemunculan arwah-arwah gentayangan itu di depan mereka...,” kata Faiq


sambil mengamati sekelilingnya.


Sementara itu Izar dan Iyaz tengah berdialog dengan arwah Gen yang meninggal di dalam wahana kora-kora. Hingga kini jenasahnya dan kedua temannya masih ada di sana dan telah mengering.

__ADS_1


“ Tolong bantu Aku keluar dari sini...,” pinta arwah Gen sambil menangis.


“ Insya Allah Kami akan bantu. Sabar yaa...,” sahut Izar.


“ Aku kesakitan dan kedinginan di sini. Aku mau pulang dan ketemu orangtuaku. Mereka pasti cemas nyariin Aku.


Kalo udah sampe rumah, Aku janji ga bakal nakal lagi dan nurutin semua perintah orangtuaku...,” kata Gen di sela isak tangisnya hingga membuat Iyaz dan Izar ikut sedih.


Kemudian Faiq mengarahkan keluarganya untuk duduk membuat lingkaran di tanah sambil melantunkan bacaan Al Qur’an dan berdzikir. Suasana pun memanas dan membuat lampu di semua wahana nampak berkedip karena telah terjadi benturan energi di sana.


“ Lampu udah nyala terang banget, pasti keliatan kan dari luar pagar. Tapi anehnya ga ada yang datang ke sini buat ngeliat...,” gumam Heru.


“ Mereka yang ada di luar ga tau karena emang kemeriahan itu tersaji khusus untuk calon korbannya yang udah terperangkap masuk di tempat ini dan hanya mereka yang bisa melihat nyala lampu itu Her...,” bisik Fatur menjawab kebingungan Heru.


Heru mengangguk tanda mengerti lalu melanjutkan dzikirnya yang terhenti. Tiba-tiba terdengar geraman hewan


buas dari salah satu sudut lahan. Fatur dan Faiq menoleh keasal suara dan melihat sosok babi hutan seukuran sapi limosin sedang menatap kearah mereka berenam dengan tatapan marah. Kakinya pun mengais tanah seolah sedang bersiap menyerang. Suara geraman hewan buas jadi-jadian itu membuat konsentrasi Hanako, Iyaz dan Izar terpecah.


“ Tetap fokus berdzikir dan pejamkan mata Kalian. Jangan buka mata meski pun banyak suara aneh yang bakal Kalian dengar nanti. Paham...?” kata Fatur tegas.


“ Siap Opa...!” sahut Hanako, Iyaz dan Izar bersamaan lalu melanjutkan dzikir mereka.


Kemudian Fatur memberi kode pada Heru untuk menjaga anak-anak sedangkan dia dan Faiq bersama-sama menghadapi siluman babi hutan itu.


Pertempuran sengit pun terjadi antara Fatur dan Faiq melawan siluman itu. Beberapa kali siluman itu terbanting


ke tanah dengan suara berdebum saat tendangan atau pukulan Fatur dan Faiq menghantam tubuhnya. Darah nampak mengalir keluar dari telinga, mulut dan hidung siluman itu pertanda jika ia sudah terluka dalam. Namun siluman babi hutan itu belum mau menyerah dan itu membuat Faiq geram.


Di sisi lain arwah-arwah korban wahana permainan hantu itu nampak meringkuk ketakutan. Mereka berharap Fatur


dan Faiq dapat mengalahkan siluman itu agar mereka bisa segera pergi ke tempat yang seharusnya.


“ Rupanya dia lah biang keladi semua kekacauan ini Iq...,” kata Fatur.


“ Betul Om. Dia juga yang udah menyandera arwah Anak-anak itu. Keliatannya ada yang melakukan pesugihan dan


menjadikan Anak-anak sebagai tumbalnya...,” sahut Faiq.


“ Kita bisa akhiri semua sekarang kan Nak...?” tanya Fatur.


“ Insya Allah bisa Om...,” sahut Faiq sambil melemparkan beberapa kantong plastik seukuran ¼ kg berisi air ruqyah yang telah ia siapkan tadi kearah siluman itu.


Saat mengenai tubuh siluman babi hutan itu kantong plastik pecah dan airnya membasahi seluruh kepala dan tubuh


siluman itu. Terdengar lolong kesakitan hingga membuat gerakan siluman itu makin liar. Faiq melompat ke atas tubuh siluman itu dan duduk di atas punggungnya. Lalu sambil membaca takbir Faiq memutar kepala siluman itu hingga lehernya patah.


“ Allahu Akbar..., Laa haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim...!” kata Faiq lantang.


Tubuh siluman babi hutan itu tersungkur jatuh ke tanah dengan kepala terkulai. Siluman itu pun mati dan membuat semua arwah yang tersandera itu bersorak sorai. Perlahan tubuh siluman itu lenyap menyisakan asap tipis yang lenyap tertiup angin malam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2